ALIN SEX SHOP

Cerita ABEGE

Etiquetas

Terjebak Nafsu

Written By duniamesumkoplax on Senin, 14 April 2014 | 07.33



Yayuk telah mulai bersiap-siap untuk kembaji ke ibukota setelah seminggu berada di desa kelahirannya. Telah bulat tekadnya bahwa kedatangannya ke desa kelahirannya kaji ini adalah yang terakhir kaji, bukan karena Yayuk telah menjadi angkuh dan lebih senang di kota besar, melainkan ada sebab lainnya. Telah terpenuhi tugasnya sebagai putri yang berbakti yaitu menghadiri dan mendampingi ibu kandungnya disaat-saat terakhir sakit dan sampai menutup mata serta dimakamkan.

Yayuk yang berwajah cantik itu adalah seorang jururawat dengan kedudukan cukup mantap dan baik di sebuah rumah sakit terkenal di ibukota. Ia telah menikmati pendidikan sebagai jururawat bukan saja di Jakarta, namun telah dilanjutkannya di Amsterdam, Belanda dan memperoleh ijazah perawat internasional. Oleh karena itulah setelah kembaji dan memperoleh pekerjaan di Jakarta, hanya dalam waktu singkat Yayuk - dengan nama lengkap sebenarnya Ayu Diah Purnamasari, telah menduduki jabatan kepala dari seluruh team perawat, termasuk bagian operasi dan juga ICU/CCU - meskipun usianya baru 26 tahun dan belum berkeluarga karena sibuk dengan tugasnya sehari-hari di tempat kerja. Telah banyak dokter-dokter muda yang mengincarnya namun belum ada satupun yang dapat merebut hati si perawat cantik ini.

Ibu kandungnya yang tetap tinggal di desa telah menikah lagi beberapa tahun lalu karena suaminya telah meninggal dunia akibat kecelakaan. Sebagai "janda kembang" berusia awal empat puluhan dan masih terlihat anggun menarik, tak mudah hidup di desa pedalaman, selalu dijadikan bahan pergunjingan. Yayuk sebenarnya tak begitu senang bahwa ibu kandungnya menikah lagi - apalagi ketika diketahuinya bahwa ayah tirinya adalah Kades Dollah yang terkenal "hidung belang" dan sering main gila dengan istri orang lain. Dollah telah tiga kaji menikah dan semua pernikahannya kandas karena perselingkuhannya.

Terbukti pada saat duduk di pelaminan bersama dengan ibunya, terlihat sering sekaji mata Dollah mampir ke arah Yayuk anak tirinya seolah ingin menelanjangi tubuhnya, membuat Yayuk resah dan tak betah.

Oleh karena itu pula Yayuk jarang pulang ke desa kelahirannya karena segan bertemu dengan ayah tiri yang mata keranjang itu, justru sang ibu yang lebih sering datang ke kota mengunjungi putrinya dan selalu menanyakan kapan kiranya putri semata wayangnya itu akan menikah dan mempunyai keturunan.

Sebelum keinginan mempunyai cucu dari putrinya tercapai terjadilah musibah tak terduga: desa kecil itu mengalami wabah demam berdarah - dan salah satu korbannya adalah ibu kandung Yayuk. Entah karena memang daya tahan tubuhnya kebetulan sedang lemah atau ada faktor lain, maka proses sakit ibu Yayuk itu sangat cepat dan hanya dalam waktu tak ada 2 hari langsung meninggal akibat pendarahan hebat.

Kesedihan Yayuk tak dapat diuraikan dengan kata-kata, namun sebagai seorang yang taat beragama maka Yayuk menerima tabah percobaan yang menimpanya. Semua acara adat dan tradisi desa diikuti oleh Yayuk dengan patuh, semua kebiasaan ritual yang sangat melelahkan dijalankannya pula.

Selama upacara sampai dengan pemakaman selesai, Yayuk selalu memakai chadar tipis berwarna hitam dan demikian pula j****b dengan warna serupa. Dihadapan semua yang hadir sebelum jenazah ibunya dimakamkan, Yayuk berjanji akan selalu memakai j****b putih selama satu tahun - juga selama menunaikan tugasnya di RS sekembajinya di ibukota , ini sebagai tanda penghormatan dan juga masih berkabung.

Dengan dajih bahwa masih ada sedikit warisan dan peninggalan pribadi ibunya almarhum yang masih harus diurus dan setelah itu disimpan sendiri oleh Yayuk, maka sang ayah tiri Dollah dan putra kandungnya (kakak tiri Yayuk) bernama Ghazaji dengan nama panggilan aji meminta agar Yayuk tak langsung keesokannya kembaji ke ibukota, melainkan menginap satu dua malam lagi setelah acara duka cita dengan penduduk desa selesai.

Sebetulnya Yayuk telah ingin segera meninggalkan ayah dan kakak lelaki tirinya secepat mungkin, tapi dengan muslihat kata-kata keduanya mengemukakan bahwa apalah pandangan penduduk desa jika putri satu-satunya langsung meninggalkan desa kelahiran sementara tanah pemakaman ibunya masih basah.

Akhirnya Yayuk mengalah dan menelpon RS tempatnya bekerja bahwa ia baru akan kembaji bekerja dua hari kemudian - sebuah kesalahan yang tak dapat dibayar atau ditebus kembaji dengan apapun.

***

Di sore hari itu hujan turun dengan amat deras - disertai suara petir dan guntur silih berganti, karena itu jalanan diluar sepi tak ada tukang jualan. Setelah makan malam bersama ayah dan kakak laki tirinya, Yayuk dengan sopan santun mengundurkan diri masuk kamar tidurnya dan mulai membenahi pakaian di kopernya. Karena malam minggu maka para pembantu pun diizinkan Dollah pulang ke rumah masing-masing.

Dollah dan aji juga berpamitan dengan Yayuk dan mengatakan bahwa mereka masih harus selesaikan pelbagai urusan kantor di kelurahan yang juga ada hubungannya dengan persoalan catatan sipil. Tanpa curiga dan bahkan merasa lega, Yayuk melepaskan kedua laki-laki itu dan melihat mereka menghilang di tikungan sudut jalan dengan mengendarai motor masing-masing di tengah arus hujan lebat. Sangat naif sekaji Yayuk mengira bahwa keduanya betul-betul pergi - padahal mereka hanya naik motor sekitar tiga menit, menyembunyikan motor mereka di belakang ruangan sholat pelataran jual pompa bensin, lalu dengan memutar jalan kaki sedikit telah kembaji lagi memasuki kebun belakang rumah.

Hujan yang sangat deras disertai bunyi petir dan guntur memudahkan dan menutup semua bunyi langkah kaki mereka ketika memasuki pekarangan rumah dari belakang. Bahkan bunyi terputarnya kunci pintu belakang sama sekaji tak dapat didengar oleh Yayuk yang merasa aman seorang diri di rumah dan sedang bersiap untuk mandi menghilangkan kepenatan tubuhnya. Baju tidur telah digantungnya di kamar mandi, demikian pula celana dalam bersih putih berbentuk segitiga kecil, sedangkan bh-nya yang berukuran 34B serta celana dalam yang dipakainya telah dilepaskan dan terletak di ranjang.

Hanya j****b hitamnya masih menutup rambutnya yang bergelombang melewati bahu, sedangkan badan yang langsing namun sintal menggairahkan setiap lelaki dibalut dengan kain batik kemben. Sebagaimana pada umumnya wanita pedesaan yang akan mandi di sungai, maka kain kemben itu dibawah menutup setengah betis sedangkan bagian atas pas-pasan dilipat di tengah melindungi tonjolan buah dada.

Dengan hanya terlindung balutan kain kemben itu Yayuk keluar dari kamar tidurnya untuk berjalan lima meter memasuki kamar mandi namun merasa aneh bahwa lampu di gang mati padahal dua menit lalu masih menyala ketika ia membawa celana dalam bersih, baju tidur dan handuk ke kamar mandi itu.

Disaat Yayuk meraba-raba dinding untuk mencari tombol lampu, tiba-tiba ia merasa tubuhnya disergap dari belakang dan sebelum ia sempat berteriak, mulutnya juga dibekap dan disumbat oleh seseorang. Meskipun sangat kaget, Yayuk langsung berontak sekuat tenaga dan berusaha menendang ke kiri dan ke kanan, namun pukulan tinju keras menghantam ulu hati, membuatnya kehilangan nafas dan menjadi lemas lunglai.

Kesempatan ini segera dipakai oleh salah satu lelaki penyergapnya yaitu Dollah untuk menggendong dan membawa Yayuk ke kamar tidurnya sendiri yang memang letaknya pajing dekat dengan kamar mandi.

Sementara itu aji mengencangkan kembaji sekring listrik yang tadi sengaja dikendorkan sehingga tak ada ajiran listrik, kemudian kembaji ke kamar Yayuk untuk membantu ayahnya menikmati mangsa mereka. Lampu yang telah menyala kembaji kini memberikan cahaya cukup, menampilkan dengan jelas apa yang sedang terjadi di kamar tidur : Yayuk si cantik direbahkan di tengah ranjangnya sendiri yang cukup besar. Tubuhnya nan ramping namun sintal menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri dari tindihan ayah tirinya, Dollah, yang penuh kerakusan sedang melumat bibir Yayuk dengan mulut besarnya yang berbau rokok.

Dollah tahu bahwa putri tirinya ini sangat benci terhadap lelaki merokok - oleh karena itu ia senang sekaji saat ini dapat melumat mulut Yayuk dengan bibir manisnya hingga membuatnya membuka dan menerima uluran lidah penuh ludah berbau rokok miliknya. Terlihat Yayuk berusaha selama mungkin menahan nafas agar tak mencium bau yang sangat tak disenanginya itu, namun akhirnya terpaksa menerima limpahan ludah sang ayah tiri serta lidahnya yang berusaha mengelak kini telah ditekan dan disapu-sapu oleh lidah ayahnya yang kasar itu.

Akibat rontaan Yayuk maka kain batik kemben yang menutup tubuhnya hanya sampai batas atas dada itupun terlepas dan dengan mudah ditarik ke bawah oleh Dollah dan aji, kemudian diloloskan melewati pinggul Yayuk yang bergeser menggeliat ke kanan dan ke kiri dengan tidak teratur sehingga kini tubuhnya polos bugil tanpa tertutup sehelai benangpun, menyebabkan kedua lelaki durjana itu makin bernafsu melihatnya.

Yayuk mulai mengajirkan air mata karena sadar nasib apa yang akan segera menimpanya dan menyesaji dirinya sendiri kenapa mau dibujuk untuk menginap lagi dua malam di rumah yang dihuni dua srigala itu.

Dollah tak perduli akan tangisan putri tirinya karena nafsu birahi yang selama ini tertahan sudah naik ke ubun-ubunnya, didudukinya perut datar Yayuk hingga gadis itu jadi sukar bernafas dan kembaji diciumi berulang-ulang bibir ranum Yayuk, kembaji dijarahnya rongga mulut Yayuk yang hangat dengan lidah kasarnya.

"Eeeehmmm, emang dasar perawat dari kota, mulut atasnya aja harum begini, gimana mulut bawahnya… sebentar lagi abah mau nyicipin, nyerah aja ya nduk, percuma teriak enggak ada yang denger," demikian celoteh Dollah sambil berulang-ulang meneteskan ludah yang bau, membuat Yayuk merasa amat mual.

"Iya, percuma berontak, pasti cuma akan makin pegel dan sakit badannya. Ikut aja nikmati permainan kita berdua, pasti belon pernah ngalami ginian kan di kota?" ujar aji menyebabkan Yayuk semakin takut.

Sementara itu aji tak mau kalah dan ikut beraksi : kedua kaki Yayuk yang menendang kesana-sini, ke kiri dan ke kanan, dengan sigap ditangkap dan dicekalnya di pergelangan sehingga Yayuk jadi sukar berontak lagi. Tak hanya sampai disini saja : telapak kaki Yayuk yang halus licin dan peka diciumi dan dijilat-jilatnya, membuat Yayuk terkejut dan semakin menggelinjang kegelian. Apalagi ketika satu persatu jari kakinya dikulum oleh aji, celah jari kakinya juga dijilat-jilat, membuat ronta kegelian Yayuk semakin sukar dikendajikan, dan ini menambah nafsu birahi Dollah yang tengah menindih tubuhnya.

Kedua pergelangan tangan Yayuk direjangnya diatas kepala yang masih tertutup j****b sehingga tampak ketiak tercukur licin yang menjadi sasaran ciuman dan gigitan Dollah sehingga mulai muncul cupangan-cupangan merah disana.

Yayuk yang kini lepas dari ciuman buas ayah tirinya berteriak sekuat tenaga, namun deras hujan angin disertai dentuman petir dan guntur menutup teriakan minta tolong memelas hati itu.

Dollah merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Yayuk diatas kepalanya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya kini mulai meremas-remas bukit gunung kembar di dada putri tirinya yang amat menggemaskan itu. Buah dada putih montok kebanggaan Yayuk yang sampai saat ini tak pernah disentuh lawan jenisnya kini menjadi sasaran Dollah : selain diremas dan dipijit dengan kasar, putingnya yang berwarna merah tua kecoklatan itu juga diraba dan diusap-usap, sesekaji juga ditarik, dipilin bahkan dipelintir ke pelbagai arah oleh Dollah, mengakibatkan rasa geli dan sekajigus juga ngilu tak terkira bagi Yayuk.

Yayuk tetap berusaha berontak sambil menangis sesenggukan, wajah cantiknya terlihat semakin ayu manis tetap di bawah j****b hitamnya, tapi dirasakannya daya tahannya untuk melawan semakin berkurang.

Dollah yang telah sering menggarap banyak perempuan entah yang telah bersuami, maupun janda dan bahkan juga perawan di desa sekitar situ merasakan bahwa perlawanan Yayuk mulai menurun.

"Hehehe, mulai lemes ya, Nduk? Gitu donk, pinter banget nih anak manis, ntar lagi diajak ngerasain apa itu surga dunia, tapi sekarang belajar dulu gimana ngisep sosis desa alamiah. Nih sosis makin diisep makin jadi gede, ntar malahan bisa keluarin sari jamu awet muda, mau nyoba kan?" seringai Dollah.

Yayuk tidak langsung mengerti maksud kata-kata Dollah, ia merasakan tubuh ayah tirinya yang hampir delapan puluh kilo itu kini tak menduduki perutnya, melainkan bergeser ke atas dan meletakkan kedua lututnya hampir setinggi lipatan ketiaknya, sehingga dalam posisi ini wajah cantik Yayuk langsung berhadapan dengan selangkangan Dollah.

Dengan tetap merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Yayuk ke kasur dengan satu tangan kiri saja, Dollah kini dengan sigap melepaskan ikat pinggang serta ritsluiting celananya. Sebagai wanita dewasa dan jururawat, Yayuk kini paham apa kemauan Dollah dan dengan penuh ketakutan berusaha mati-matian meronta. Tercium bau tak menyenangkan dari celana dalam ayah tirinya yang mungkin hari itu belum diganti - yang mana segera diturunkan pula oleh Dollah dan bagaikan ular Cobra yang mencari mangsanya, keluarlah rudal kebanggaan Dollah.

Kemaluan Dollah yang besar panjang berurat-urat serta di-khitan itu kini mengangguk-angguk di depan wajah Yayuk yang berusaha melengos ke samping. Reaksi penolakan semacam ini sudah biasa dialami dan ditunggu Dollah. "Hehehe, biasa tuh perempuan, selalu malu-malu ngeliat barang lelaki, padahal dalam hati kecil udah pingin ngerasain ya. Tapi sebelumnya bikin si Otong makin binal, ayooh buka tuh bibir lebar-lebar, kulum, isep dan jilat dulu nih sosis alam sampe ngeluarin pejuh obat awet muda."

Yayuk merasa amat jijik melihat penis Dollah dan tak mau menyerah begitu saja, namun ayah tirinya sudah berpengalaman bagaimana mengatasi penolakan perempuan - dicubitnya puting susu Yayuk yang telah tegak mengeras dengan memakai kukunya sehingga Yayuk menjerit kesakitan atas perlakuan sadis ini.

Kesempatan ini telah dinantikan ayah tirinya : segera alat kelelakiannya yang memang telah bersiap di depan wajah Yayuk ditempelkan ke bibirnya yang tentu saja Yayuk segera menutupnya kembaji. Dollah menyeringai sadis dan kini jari-jarinya yang sedang mencubit puting susu Yayuk dipindahkan untuk memencét hidung mancung bangir milik putri tirinya sehingga Yayuk kelabakan megap-megap mencari udara, otomatis tanpa dikehendaki mulutnya kembaji membuka. Kaji ini tanpa ada ampun lagi kejantanan Dollah menerobos masuk diantara kedua bibir basah merekah dan memasuki rongga mulut Yayuk yang hangat basah.

Yayuk merasa sangat jijik dan ingin mengeluarkan kemaluan yang sedang memerawani mulutnya itu, namun apalah dayanya sebagai perempuan lemah dikeroyok dua laki laki perkasa, apalagi kini ayah tirinya kembaji merejang kedua tangan ke atas kepalanya yang masih tertutup j****b, sedangkan tangan satunya tetap memencét hidungnya hingga mulutnya tetap terpaksa untuk terbuka untuk mencari nafas.

Dollah kini mulai memaju-mundurkan penisnya di mulut Yayuk, setiap gerakan maju selalu lebih dalam daripada sebelumnya, menyebabkan Yayuk tersedak setiap kajinya, ingin batuk tapi tidak bisa.

"Hehehe... nah, gimana rasanya, Nduk, dirajah dan diperkosa mulutnya, enak kan? Abah enggak bohong lan! Iyaaa... mulai pinter nyepongnya, teruuus... iyaaa... gituuuu... kulum nyang bener! Aaaaaah... pinteer emang putri abah satu ini! Ayo, iseeeep nyang kuaaat... jilaaaat... iyaaa... abah udah mau keluaar nih, ooaaah!!!" akhirnya Dollah hanya berhasil memasukkan sekitar setengah dari penisnya ke mulut Yayuk.

Ujung kemaluan Dollah kini menyentuh, memukul-mukul dinding rahang Yayuk di ujung kerongkongannya, menyebabkan Yayuk berkaji-kaji tersedak menahan rasa mual ingin muntah. Rasa ingin muntah itu mengalami puncaknya ketika alat kejantanan Dollah terasa semakin membesar dan berdenyut-denyut, hingga akhirnya...

"Aaaaaah... iyaaaaaaa... nduuuuuk... ini abah keluaaaaar! Pinter banget, Nduuk... ayo, jangan ada yang dibuang! Teguk, abisin semuanya, Nduuuk... aaaah... iyaaaaa!!" Dollah menggeram bagai binatang buas disaat ia dengan penuh nikmat menyemprotkan lahar panasnya ke mulut Yayuk.

Berbeda dengan Dollah yang sedang dilanda orgasme, Yayuk merasa sangat terhina dan terpaksa menghirup sperma ayah tiri yang saat itu sangat dibencinya. Cairan kental hangat itu bagai tak henti menyembur dari lubang di puncak kemaluan Dollah, memenuhi kerongkongan Yayuk, terasa sepat agak asin dengan bau khas sperma laki-laki. Pertama kaji merasakannya membuat perawat cantik berkudung ini tersedak ingin muntah. Namun Dollah bukan anak kemarin sore yang baru masuk usia belasan - kedua tangannya dengan sangat kuat segera memegangi kepala Yayuk yang berj****b sehingga Yayuk jadi tak berkutik sama sekaji, penis Dollah yang memang besar tetap memenuhi rongga mulut mangsanya dengan sempurna sehingga tak ada ruangan bagi Yayuk untuk melepehkan cairan yang dirasakannya sangat menjijikkan itu.

Yayuk hanya dapat mencakar-cakar lemah kaki Dollah dengan kukunya yang rapih terawat karena lengan atasnya telah ditindih dan ditekan ke kasur dengan kasar oleh lutut ayah tirinya sehingga tidak banyak dapat digerakkannya untuk melawan. Teguk demi teguk air mani Dollah terpaksa harus ditelannya karena jika tidak maka pasti akan masuk memenuhi dan mencekik jalan nafasnya. Yayuk mengharapkan agar nasibnya dijarah kedua lelaki itu telah berakhir disini, namun dugaannya itu sia-sia belaka - ini baru babak pertama penderitaannya.

Setelah sang ayah tiri menarik penisnya dari rongga mulutnya, maka kini giliran sang kakak tiri menagih bagiannya dengan tentunya mendapat bantuan dari sang ayah. Dollah berlutut di samping kiri badan Yayuk dan tetap mencekal menekan kedua nadi putri tirinya yang langsing diatas kepalanya yang masih tertutup j****b dengan tangan kanannya ke kasur, sementara tangan kirinya kembaji mengusap-usap buah dada korbannya, Dollah meremas-remas, memijit-mijit dan menyentil-nyentil puting Yayuk.

Serangan bertubi-tubi ini kembaji menunjukkan hasilnya karena bagaimanapun Yayuk berusaha menekan gejolak birahinya, namun tubuhnya yang bahenol penuh dengan hormon kewanitaan kembaji mulai mengkhianatinya. Kedua putingnya yang memang selalu mencuat ke atas dirasakannya semakin hangat gatal dan geli menginginkan ada tangan yang meremasnya. Namun karena tangannya sendiri di rejang ke kasur, maka yang dapat dilakukannya secara tanpa disadari adalah melentingkan tubuh bagian atasnya sehingga buah dadanya semakin membusung keatas.

"Hehehe, nikmat ya, Nduk? Enggak usah malu-malu deh, enak ya pentilnya dirangsang, ntar lagi abah sama aji pingin ngerasain susu asli, nih abah bantuin supaya keluar susunya," Dollah bersenyum cabul lalu menundukkan kepalanya dan mulai menyusu di bongkahan payudara Yayuk, mulutnya menyedot-nyedot sambil sesekaji menggigit puting susu Yayuk yang begitu merangsang.

"Aaah, auuw, oooh, udah dong abaah... jangan diterusin, enggak mauu... jangaaaan, lepasiiin, iieeempppphh, eeehhmmmp, jangaaan!" keluh si gadis cantik tanpa daya sambil terus menggeliat-geliat penuh keputus-asaan. Namun itu semua hanya makin memacu nafsu birahi dan kebuasan kedua lelaki pemerkosanya.

Sementara itu, aji telah menempatkan diri diantara kedua paha Yayuk yang begitu halus mulus dengan kulit putih kuning langsat. Kedua tangannya tak henti-henti mengusap-usap betis belalang Yayuk - menyentuh dengan mesra kemudian meneruskan elusannya semakin naik ke arah paha, naik dan terus naik menuju ke arah selangkangan Yayuk. Nafas kedua lelaki jahanam itu semakin berat mendengus-dengus melihat indahnya bukit kemaluan Yayuk - bukit intim itu ternyata licin karena selalu dirawat dan dicukur tandas oleh sang empunya.

"Wuuiiih, memang lain ya perawat dari kota, memeknya kelimis begini, pasti sering diurut dan mandi spa ya?! Abang pengen nyicipi air celah perawan, pasti manis madunya, betul enggak, Neng?" goda aji.

Tanpa menunggu jawaban, aji merebahkan diri diantara kedua paha Yayuk dan mendekatkan wajahnya ke arah selangkangan yang begitu merangsang nafsu setiap lelaki yang melihat itu. aji menelungkupkan diri di antara kedua paha mulus yang dipaksa untuk dibuka lebar, betapapun Yayuk berusaha mengatupkannya, namun tenaganya kalah dengan kedua lengan aji yang sangat berotot.

"Emmmhhhh... emang bener, harum banget nih mémék, pake sabun apa sih, Neng? Atau selalu diolesin minyak wangi ya?" tanya aji sambil mulai mengecup dan menciumi bukit kemaluan Yayuk. Lidahnya yang kasar tak kalah dengan sang bapak mulai menjelajahi bukit gundul kemaluan Yayuk, aji menjilat dan membasahinya dengan ludahnya, telaten ia menelusuri celahnya yang masih rapat karena belum pernah diterobos siapapun. Bibir kemaluan luar pelindung celah kewanitaan Yayuk mulai dibuka oleh jari-jari aji disertai dengan jilatan naik turun, sesekaji berputar, merintis jalan memasuki bagian dalam yang berwarna kuning kemerahan.

"Jangaaan, udaaaaah, sialaaaan, anjiing semuanya, enggak malu dua lelaki main keroyokan dengan perempuan!! Oooooh, udaaaah, stoooop, jangan diterusin, aaaaaah!" Yayuk semakin menggeliat geli dan menahan gejolak naluri kewanitaannya yang semakin lemah menginginkan penyerahan total.

"Baguuus amat nih mémék, haruuuum, enggak ada bau pesing sedikitpun, enggak seperti punya lonte desa, rejeki banget bisa ngerasain yang kaya begini," aji menjilat semakin ganas sambil menceracau tak karuan. Gerakan paha mulus Yayuk yang mengatup membuka tak teratur tak dipedulikannya karena penjelajahannya kini semakin dalam sampai lidahnya menemukan tonjolan daging kecil berwarna merah jambu yang tersembunyi diantara lipatan bibir kemaluan Yayuk bagian dalam.

"Ini dia yang gue cari dari tadi, horeeee akhirnya ketemu juga butir jagung pajing lezat... eeeemh, cuppp, cupppp, legitnya nih daging... si neng rupanya enggak disunat ya, jadi ngumpet tuh butir jagung. Tapi udah ketemu nih, jadi perlu diberikan pelayanan extra ya, Neng." demikian sindir aji yang kemudian tak berkata-kata lagi karena asyik menjilati kelentit Yayuk yang semakin terlihat menonjol keluar.

"Aaaaaah, lepaaaaas, lepaaaaaskan, jangaaaan, enggaaaak mauuuuu, oooooooohh, emmmppfhhhh," suara teriakan putus asa Yayuk menggema di malam yang dingin itu, namun tetap dikalahkan oleh bisingnya suara hujan menimpa atap rumah, ditambah pula semakin seringnya gema petir dan guntur yang menggelegar menakutkan.

Dollah yang kembaji tak sanggup menahan syahwatnya melihat tubuh Yayuk yang telanjang bulat putih mulus meronta-ronta tak berdaya berusaha melawan rangsangan kakak tirinya yang dengan asyik melumat dan menggigit-gigit kelentitnya yang semakin lama semakin memerah, kembaji mendekap dan menciumi mulut putri tirinya itu sehingga teriakan Yayuk segera teredam.

Sementara itu aji terus meningkatkan rangsangannya terhadap klitoris Yayuk - dijepitnya daging mungil amat peka itu diantara bibirnya yang tebal dan dowér, kemudian dijilatinya dengan penuh nafsu dan semangat sambil sesekaji digosok-gosoknya kelentit yang semakin membengkak itu dengan kumis baplangnya dan juga janggutnya. Terutama janggutnya yang hanya tumbuh beberapa milimeter, bagaikan sapu ijuk kaku sehingga sentuhannya dirasakan oleh Yayuk ibarat klitorisnya sedang digosok dengan sikat - itu tak dapat ditahan lagi oleh pusat susunan syaraf Yayuk yang kini sedang dipenuhi oleh hormon birahi kewanitaannya.

Jutaan bintang kini meledak dihadapan matanya mengiringi gelombang orgasme bagaikan angin taufan menghempas tubuhnya yang melambung ke atas, Yayuk mengejang beberapa menit ibarat terkena ajiran listrik tegangan tinggi, jeritan yang seharusnya melengking, tertahan oleh mulut dan lidah Dollah, hingga akhirnya badan Yayuk melemas dan terhempas kembaji ke atas ranjang , menggelepar bagaikan orang sekarat.

Inilah saat yang telah dinantikan oleh kedua lelaki itu - sampai taraf ini mereka akan meruntuhkan pertahanan Yayuk : dari perempuan ajim berj****b yang belum pernah disentuh lelaki menjadi wanita binal mendambakan kehangatan tubuh lelaki.

Sesudah itu mereka akan bergantian dan juga sekajigus menikmati tubuh Yayuk namun dengan cara lebih mesra dan hanya dimana perlu akan sedikit saja dikasari secara halus. Mereka telah telah merencanakan siapa lebih dahulu menikmati lubang yang mana, bahkan mereka sebelumnya telah melakukan undian. Dalam undian itu Dollah akan pertama merajah mulut atas Yayuk dan memaksa menikmati air maninya, sedangkan aji mengoral mulut bawah sehingga gadis malang itu mengalami orgasme pertamanya.

Setelah itu mereka akan bergantian tempat - aji memaksa Yayuk mengoralnya dan menikmati lagi pejuh lelaki kedua dalam hidupnya sementara Dollah akan merebut kegadisan putri tiri yang memang sudah diidamkannya sejak lama.

Dan babak terakhir mereka berdua akan threesome mengajarkan Yayuk untuk di"sandwich" : Dollah tetap berada di bawah dan menikmati kehangatan celah kewanitaan yang baru direnggutnya , sedangkan aji akan merenggut keperawanan Yayuk yang kedua dengan menembus lubang bulat kecil di belahan pantatnya.

Dalam pelaksanaan maksud jahat mereka itu, keduanya telah sepakat bahwa Yayuk akan mereka telanjangi terkecuaji j****b di kepalanya - ini akan memberikan lebih rasa kebanggaan dan ego yang tersendiri : mereka berhasil menjarah seorang gadis ajim dan taat tata susila, merebut keperawanannya dan diakhir pergulatan mereka akhirnya si gadis menjadi wanita dewasa yang ke arah dunia luar tetap terlihat ajim berj****b namun di dalam tubuhnya telah terbangun nafsu birahi bergejolak, membuatnya menjadi wanita binal.

Kedua lelaki ayah dan anak itu sajing berpandangan penuh kepuasan melihat korban mereka tergelimpang lemah lunglai dilanda kenikmatan. Untuk beberapa saat bahkan keduanya tak perlu memegang, merejang atau bahkan menindih tubuh Yayuk, karena si gadis yang telah mandi keringat akibat orgasme pertamanya itu sedang "menderita" kelemasan. Tubuh Yayuk yang sedemikian sintal dan bahenol hanya kejang-kejang lemah tanpa busana disertai sesenggukan tangisnya - saat itu tak sadar harus melindungi auratnya yang sedang dijadikan kepuasan mata para pemerkosanya.

Kini aji dan Dollah menukar posisi mereka untuk memulai babak kedua aksi mereka : aji dalam posisi rebah setengah menyamping di sisi kiri Yayuk, memegangi kedua tangan Yayuk di atas kepala yang masih terhias j****b satin hitam. Tangan kiri aji kini mendapat kesempatan untuk ekspedisi naik turun gunung daging putih yang disana sini agak merah akibat jamahan kasar Dollah tadi. Sesuai dengan rencana maka aji kini mempermainkan buah dada mangsanya dengan lebih halus daripada ayahnya.

aji meraba dan membelai payudara berkulit halus itu dengan penuh kemesraan ; ibarat seorang ahli benda purbakala sedang menilai cawan porselen dynasti Ming yang sangat langka, mengusap-usap dengan sangat hati-hati. Jari-jari tangan aji menaiki lerengnya yang terjal dan dengan lembut menuju ke arah puncaknya yang berwarna merah kecoklatan, ia menyentuhnya sedemikian perlahan dan halus seolah ingin menambah kemancungan dan ketinggiannya. Dan memang Yayuk mulai mendesah mengeluh perlahan dengan mata masih setengah tertutup karena merasakan buah dadanya mengalami godaan yang sangat berbeda dengan kekasaran yang dialaminya tadi oleh Dollah.

"Wah, ini tedoy emang betul yahud, legit dan kenyal banget. Bisa dijadikan guling nih, sambil nyusu anget, pasti lebih sehat dari susu kaleng. Enggak tahan lagi nih, mau néték dulu ah, boleh ya?" celoteh aji sambil meremas kedua buah dada dan bergantian menyedot menggigit kedua puting merah mencuat milik Yayuk, menyebabkan Yayuk semakin menggelinjang meronta tapi semua sia sia saja.

Sementara itu Dollah telah menempatkan diri diantara paha Yayuk - mulutnya dengan bibir tebal berkilat karena berulang kaji dibasahi oleh lidahnya sendiri ibarat ular python telah menemukan mangsa.

Yayuk masih di dalam keadaan setengah ekstase akibat orgasme menyadari apa yang akan segera dialaminya, ia berusaha lagi memberontak sekuat tenaga tapi tetap tak berdaya menghadapi kedua lawan yang demikian kuat dan sedang dipenuhi oleh hawa nafsu dan bisikan iblis.

Dollah kini berusaha menekan nafsu iblisnya dan bertindak seolah seorang suami di malam pengantin akan merenggut mahkota kegadisan istrinya. Diciuminya secara bergantian telapak kaki Yayuk, jari-jari kakinya, betis langsing halus mulus, paha licin putih, naik melusur ke atas ke arah selangkangan Yayuk yang tercukur rapi.

Kini Yayuk mulai merasakan malu sehingga tak terasa pipinya yang basah airmata merona merah, malu karena tubuhnya tanpa dikehendaki dan diluar kemauannya sendiri mulai merasakan pengaruh rangsangan dari ayah dan saudara tirinya. Selangkangan Yayuk yang masih terasa pegal kaku karena tadi dipaksa membuka oleh aji, kini kembaji dipaksa menguak. Kedua pahanya yang sekuat tenaga ingin dirapatkan, telah dipaksa lagi dipengkang sehingga terasa ngilu. Kedua lutut Yayuk menekuk dan diletakkan di bahu kiri kanan Dollah - sementara mulut dowérnya semakin mendekati mengendus-endus lipatan paha Yayuk sampai akhirnya menempel di bukit Venus putri tirinya itu.

"Duuuuh, sialaaan! Ini mémék emang buatan alam kelas satu, enggak pernah ngeliat bukit gundul licin kayak gini. Pinter banget ngerawatnya, hmmh... kalo mau tetep tinggal disini, ntar abah cukurin tiap hari, terus langsung dijilatin. Mau ya, Nduk? Mmmmmh, udah keluar madu lagi, duuuh manisnya, Nduk!" Dollah berceloteh sendiri sambil mulai menjilati kemaluan Yayuk. Lidahnya yang kasar menyapu dan menyelinap diantara celah bibir kewanitaan Yayuk, menjilati dinding yang telah licin akibat madu pelumas disaat orgasme beberapa menit lalu, ditelusurinya bibir bagian dalam vagina kemerah-merahan itu, menuju lipatan atas dan akhirnya menemukan apa yang dicarinya.

Kembaji Yayuk diterpa rasa kegelian yang tak terkira, klitorisnya yang beberapa saat lalu menjadi sasaran lidah aji sehingga memaksanya naik ke puncak orgasme, kini dilanjutkan dan diulang kembaji. Ibarat seorang yang baru dipaksa mendaki, akhirnya mencapai puncak gunung, tapi tak diberikan waktu istirahat untuk menuruni tebing ke bawah - kini mulai lagi diseret dan dipaksa sekaji lagi mendaki ke arah puncak. Yayuk tak rela diperlakukan seperti ini, dikutuknya kelakuan kedua lelaki yang sedang menjarahnya itu, namun apalah daya seorang wanita dalam keadaan seperti ini.

Yayuk berusaha menekan semua perasaan nikmat yang semakin menguasai tubuhnya, badannya yang sejak tadi meliuk meronta, kini dibiarkannya lemas lunglai, ia berharap bahwa dengan memperlihatkan reaksi "dingin" itu kedua pemerkosanya akan bosan dan menghentikan kegiatan mereka. Sayang sekaji lawan yang dihadapinya - terutama Dollah bukan lelaki sembarang dan ingusan, ia telah mempunyai pengalaman cukup banyak dan tahu bagaimana memaksa bangun gairah seorang wanita yang sedang dikuasainya.

Bibir Dollah yang tebal kini mengecup dan melekat di kelentit idamannya, tak dilepaskannya sasaran utamanya itu, dicakupnya daging kecil berwarna merah jambu milik Yayuk diantara bibirnya, dipilinnya ke kiri dan ke kanan, ditekan dan dijepitnya dengan gemas diantara bibirnya, dilepaskannya sebentar dan digantinya dengan sapuan lidah ampuhnya, demikian terus menerus dan berulang-ulang.

Diserang dengan cara sangat ampuh seperti ini, Yayuk akhirnya harus mengakui kekalahannya - rambutnya yang hitam bergelombang menjadi kebanggaannya telah acak-acakan tergerai, hanya j****b penutupnya yang masih belum terlepas, disertai rintihan putus asa, tubuh sintal bahenolnya kembaji kejang di orgasme keduanya.

"Toloooong, lepaaaaas, janggaaaan diterusiiiiiin, aaaauuuuuwww, aaaiiiihh, enggggggak maaauuu, tolooong, oooouuuuuuuw, eeemmmppffffhh!" kembaji Yayuk melenguh menjerit putus asa berusaha menembus bisingnya deraian hujan menimpa atap rumah, dan kembaji mulutnya tertutup oleh bibir aji yang berusaha sejauh mungkin mencium mulut adik tirinya dengan penuh kemesraan.

Dollah merasa puas melihat hasil rangsangannya - ia tahu bahwa di saat ini Yayuk sedang dilanda badai orgasme lagi - dan saat ini adalah saat yang terbaik untuk menembus celah vaginanya. Tak ada rasa yang lebih nikmat bagi Dollah ketika menembus keperawanan seorang gadis pada saat otot-otot dinding vaginanya berdenyut berkontraksi karena orgasme. Saat itu adalah saat pajing membahagiakan bagi pria berpengalaman : merasakan penisnya menembus liang kewanitaan wanita yang seolah dipijit diurut-urut oleh dinding nan licin basah namun masih sangat sempit dan penuh kehangatan. Semuanya itu disertai dengan wajah si wanita yang seolah-olah tak percaya dengan apa yang terjadi : nikmat sakit, sakit tapi nikmat.

Dollah kini telah berhasil menempatkan kepala penisnya yang keras, tegang berwarna hitam, dihiasi oleh pembuluh darah yang melingkar-lingkar menghiasi sepanjang batangnya. Kepala penisnya yang gundul bagaikan topi baja serdadu terlihat sangat gagah dengan lobang di tengah agak membuka seperti mulut ikan, mulai memasuki vagina putri tirinya. Mili demi mili, sang penis maju menusuk membelah celah yang belum pernah dijarah oleh lelaki manapun itu - disertai rasa kepuasan Dollah namun penderitaan bagi Yayuk yang menangis tersedu-sedu, menjerit, merintih memilukan hati mengiringi kehilangan miliknya yang selama ini sangat dijaga dan diharapkannya akan diberikan kepada suami tercintanya kelak.

Habislah harapan muluk Yayuk untuk memasuki malam perkawinan dengan kesucian yang utuh, punah sudah impiannya untuk meneteskan air mata kebahagiaan di dalam pelukan kekasih dan suaminya ketika dengan penuh kerelaan ia mempersembahkan mahkota kegadisannya.

Sesuai dengan rencana maka saat ini Dollah tak memperlakukan Yayuk dengan kasar, ia tidak menusuk secara brutal membabi buta ke dalam vagina sang putri, melainkan agak diputar-putarnya gerakan maju mundur sang penis.

"Nikmaaat tenaaaan, Nduk... begeuuuuur teuuuiiiing no bahenoool, abaaah dikasiiiih hadiaaaah begini enaaak, ntar abah ajariiiin yang lebiiiiih mantaaaab lagi. Ayooooh goyaaaangin tuh pinggul, jangan dieeem aja. Abaaah cobaa masuuuk dalemaaaaan lagi, Neng... jangan berontaaak ya, ntaar sakit, terima pasraaah aja!!" dengus Dollah sambil dengan yakin memaju-mundurkan pinggulnya, ibarat pompa air berusaha mencari sumber di tempat yang semakin dalam. Sesekaji disodoknya ke arah atas, kiri, kanan, bawah, lalu diulangnya lagi dari awal.

Gerakan ini menyebabkan dinding tempik Yayuk yang sedang mengalami penjarahan pertama seolah diaduk - diulek dan digesek dengan penuh kemesraan.

Sementara aji tetap memegangi kedua nadi Yayuk sambil mulutnya tak kunjung berhenti menyusu di puting kiri kanan Yayuk yang tetap mengeras bagaikan batu kerikil. Kedua lelaki itu penuh kepuasan mengamati wajah Yayuk yang telah mendongak ke atas namun tetap menggeleng ke kiri dan ke kanan. Wajah cantik Yayuk semakin terlihat kuyu dan lemas, hidung bangirnya kembang kempis mendengus dan bernafas semakin cepat, sementara bibirnya yang mengkilat basah setengah terbuka.

"Auuummph, aaaaaoooohh, eeemmmpppph, eeeeeengghhh, aaaaaauuuww, ssssshhhhhh, udaaaah doong, aaaahhhh, udaaaaah, saaakiiiiiiit, ngiluuuuuu, ouuuuhhh, eeemmpphh, iiyyyaaaa, auuuuw, iyaaaaa," tak sadar lagi Yayuk mengeluarkan suara khas wanita yang sedang dilanda kenikmatan birahi.

Dollah dan aji yang rupanya telah beberapa kaji mengerjai wanita secara bersama, kembaji sajing berpandangan dan yakin bahwa pertahanan Yayuk telah hancur luluh dan kini tinggal dilanjutkan permainan seksual ini untuk mengubah Yayuk dari gadis ajim menjadi wanita dewasa yang bukan saja hilang rasa malunya bersenggama, namun sebajiknya bahkan tak segan segan menagih jatah untuk selalu dipuaskan.

Merasakan bahwa Yayuk telah tak sanggup melawan, maka mereka berdua mengganti lagi posisi badan mereka : aji kini setengah terlentang dengan penis telah berdiri mengacung ke udara, Yayuk diangkat oleh Dollah dan diatur berlutut sambil menungging untuk "memanjakan" penis aji, sedangkan dari belakang sang ayah tiri kembaji mendorong dan memasukkan penisnya ke vagina Yayuk.

Meskipun telah demikian licin basah, namun karena baru saja diperawani maka tetap terasa perih sakit disaat penis ayah tirinya mulai masuk sehingga Yayuk tak sadar memekik dan melepaskan penis aji yang sedang dikulumnya sambil menggoyang pinggul seolah ingin melepaskan diri dari penetrasi Dollah.

Namun Dollah telah memegangi pinggang Yayuk yang ramping sehingga pinggulnya tak dapat digeser ke samping - sementara aji juga dengan mantab menjambak j****b putih dan menekan kembaji kepala Yayuk untuk melakukan "service" ke rudalnya yang berukuran tak kalah dengan milik ayah tirinya.

Ketika Dollah semakin dalam mendorong penisnya maka Yayuk kembaji merasa perih ngilu kesakitan, mungkin karena bagian selaput daranya yang beberapa menit lalu sobek kembaji terbuka lukanya.

Yayuk berusaha mencakar paha sang pemerkosa dibelakang pinggulnya dengan kuku-kuku kedua tangannya, namun Dollah sudah siap dan terbiasa dengan reaksi perlawanan wanita dalam posisi sepertiini. Kedua tangan Yayuk yang menggapai ingin menyakar itu lekas ditangkap, dicekal pergelangan nadinya dan lalu ditelikung ke belakang.

Dalam kedua tangannya berada dipunggung dan ditelikung maka Yayuk tak dapat menunjang lagi badan bagian atasnya, namun ini justru memudahkan aji yang sedang disepong untuk menjambak j****b dan rambut Yayuk, lalu dengan ritmis diturun-naikkan dengan irama yang sangat memuaskan "otong"nya.

Dengan satu tangan Dollah tetap menelikung nadi mangsanya sehingga Yayuk tak dapat mencakar, sementara tangannya yang lain meremas-remas buah dada Yayuk yang menggantung indah dan memilin serta memijit-mijit putingnya.

Tubuh Yayuk kembaji mengkhianati : rasa ngilu, sakit, nyeri dan nikmat berkumpul lagi menjadi satu dan melanda semua bagian peka yang sedang dirangsang oleh Dollah dan aji, memacu pusat orgasme di otaknya kembaji bekerja.

Dollah merasakan dinding vagina Yayuk kembaji mulai berdenyut, semakin lama menjadi semakin cepat, mantap memijit kemaluannya, dan dengan sangat tak terduga oleh Yayuk, mendadak jari tengah Dollah yang baru saja memilin putingnya, pindah merantau menusuk masuk ke lubang anusnya.

Teriakan kaget dan kesakitan Yayuk teredam oleh penis aji yang menancap di mulutnya, yang disaat sama berdenyut-denyut pula sambil menyemburkan lahar panas ke arah kerongkongannya. Kembaji Yayuk merasakan tubuhnya bagai meledak mengalami orgasme untuk kesekian kajinya, terutama disaat bersamaan Dollah juga menyemprotkan sperma hangatnya ke dalam rahimnya.

Ketiga insan itu dalam waktu hampir bersamaan mengalami orgasme secara bersama-sama - ketiganya merasakan tubuh mereka mengejang beberapa menit sebelum terkulai lemas penuh dengan keringat beberapa saat kemudian.

Sementara Yayuk masih lemas setengah pingsan, aji yang termuda, dalam waktu singkat, hanya seperempat jam, telah mulai pulih kembaji tenaganya, terutama ketika melihat tubuh Yayuk yang putih mulus, yang telanjang bulat setengah telungkup diatas tubuh ayah tirinya. Betapa kontras warna kedua tubuh itu, Dollah yang agak gemuk berisi berkulit hitam legam dekil, sedangkan Yayuk bertubuh ramping langsing berkulit putih kuning langsat. Namun yang menarik perhatian aji adalah bongkahan pantat Yayuk yang begitu sempurna, besar bulat tanpa cacat sedikitpun. Membayangkan betapa sempitnya lubang yang tersembunyi diantara belahan itu menyebabkan si ayam jago di selangkangan aji mulai bangun dan siap untuk kukuruyuk kembaji.

aji menyentuh kaki Dollah sehingga sang ayah membuka matanya, diberikannya tanda agar Dollah memeluk Yayuk secara ketat untuk mencegah jangan sampai gadis itu dapat berontak. Dollah segera mengerti apa maksud aji, ia langsung meletakkan tubuh Yayuk diatas tubuhnya sendiri dengan sempurna, kemudian dipeluknya pinggang putri tirinya yang langsing itu dengan kedua lengannya yang berotot sehingga Yayuk tak mungkin bergeser kemanapun.

aji dengan perlahan mendekati tubuh Yayuk dari belakang, ditariknya pinggul Yayuk ke atas sehingga menjadi posisinya sekarang menjadi berlutut menungging tinggi dan sekajigus kedua paha Yayuk yang masih gemetar halus akibat sisa orgasme dibukanya lebar-lebar dan ditahan di kiri kanan oleh paha ayah tirinya. Kini terpampang dengan jelas celah diantara belahan pantat Yayuk yang di bagian tengahnya terlihat cekungan berwarna coklat muda kemerahan dihiasi kerut-kerutan halus tipis menandakan masih sempurnanya tegangan otot lingkar yang melindungi anus Yayuk.

aji mengolesi telapak tangannya dengan ludah lalu diratakannya ke ujung kepala penisnya sehingga benda itu jadi terlihat licin mengkilat, selanjutnya ia meneteskan ludahnya di cekungan anus Yayuk. Penuh kepuasan aji melihat bahwa cekungan itu mulai berdenyut dan "menelan" tetesan ludahnya seolah ada sedotan kuat yang menarik ke dalam. Kejantanan aji yang semula masih terlihat agak menggantung kini menjadi tegak penuh kegagahan karena sang empunya telah membayangkan betapa perlawanan sia-sia dari otot lingkar pelindung itu, namun jika telah ditembus dikalahkan maka justru secara alamiah akan menarik menyedot kemaluannya semakin dalam.

Dengan kedua tangannya aji memegang dan agak menarik bongkahan pantat Yayuk ke kiri dan ke kanan, lalu mulailah ia menekan kepala penisnya di pintu gerbang pajing intim dari Yayuk, adik tirinya itu. Bagaikan disengat oleh hewan berbisa, Yayuk melonjak meronta dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Dollah yang kuat, anusnya terasa sangat panas dan perih bagai disayat pisau saat ada barang keras berusaha untuk masuk ke dalam sana.

"Aaaaaah, auuuuuuuuww, jangaaaan! Aduuuuuuh, jangaaaan! Sialaaaan! Ampuuuuuun, sakiiiiiiiiit, lepaaaas, tolooong lepaskan! Mmmphh, auuuuuuuuuww! Tolong, Bang, kasihani saya, saya enggak mau disodomi! Sakiiiiiit, Bang, udaaah!" Yayuk menjerit dan berteriak sekuat nafas yang dapat dikeluarkan dari paru-parunya, namun semua sia-sia dan terlambat karena tanpa rasa kasihan, aji terus mendorong kemaluannya untuk menembus keperawanan Yayuk yang kedua.

Selama ini Yayuk hanya mendengar dari teman-teman dekatnya yang telah menikah bahwa suami mereka kadang menginginkan variasi dalam ML dengan memakai jalan belakang. Semuanya menceritakan secara sembarang saja apa yang dirasakan saat itu - namun Yayuk tak pernah membayangkan betapa sakit dan penderitaan yang dialami disaat ini. Berbeda dengan aji yang diawal penetrasi juga merasakan betapa susah dan peretnya memasuki lubang anus adik tirinya, namun kini mulai terbiasa dan secara ritmis memaju mundurkan pinggulnya untuk lebih menikmati penjarahannya itu.

Dollah melihat penuh kepuasan wajah cantik Yayuk yang kini dibasahi oleh air mata dan dari celah bibir mungilnya yang terbuka terdengar rintihan dan keluhan tiada henti menimbulkan iba. Suara rintihan Yayuk semakin lama semakin sesuai dan sinkron dengan dengusan aji yang kini makin mempercepat gerakan pinggulnya. Dirasakannya bahwa semua lahar yang berkumpul di pelirnya makin mendidih dan akhirnya menyemburkan membasahi bagian dalam anus Yayuk yang sudah sedemikian peka sehingga dengan jeritan putus asa kesekian kajinya, Yayuk jatuh pingsan kembaji dan ambruk diatas tubuh ayah tirinya.
07.33 | 0 komentar | Read More

Griya Vimax

Written By duniamesumkoplax on Senin, 31 Maret 2014 | 16.40

www.griyavimaxherbal.com @copasajaa jual pembesar penis Obat Kuat @NgachengID whatsapp/sms +6285712222622 Ready stok..


Sent from my BlackBerry Nicky Sinten
16.40 | 0 komentar | Read More

Alin Shop

Go Follow~> @alinsexsualII http://t.co/82XjzOZ08K Oshop terpercaya #sextoys #obatkuatsex SMS|WA|WECHAT +6281212506380
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network
08.00 | 0 komentar | Read More

Tanteku yang Seksi Sekali

Written By duniamesumkoplax on Minggu, 30 Maret 2014 | 16.55



"Kriing.." jam di meja memaksa aku untuk memicingkan mata.

"Wah gawat, telat nih" dengan tergesa-gesa aku bangun lalu lari ke kamar mandi.

Pagi itu aku ada janji untuk menjaga rumah tanteku. Oh ya, tanteku ini orangnya cantik dengan wajah seperti artis sinetron, namanya Ria. Tinggi badan 168, payudara 34, dan tubuh yang langsing. Sejak kembali dari Bandung, aku sering main ke rumahnya. Hal ini aku lakukan atas permintaan tante Ninik, karena suaminya sering ditugaskan ke luar pulau. Oh ya, tante Ria mempunyai dua anak perempuan Latifaah dan Tya. Latifaah sudah kuliah di semester 4 dengan tubuh yang langsing, payudara 36B, dan tinggi 165. Sedangkan Tya mempunyai tubuh agak bongsor untuk gadis SMP kelas 3, tinggi 168 dan payudara 36. Setiap aku berada di rumah tante Latifaah aku merasa seperti berada di sebuah harem. Tiga wanita cantik dan seksi yang suka memakai baju-baju transparan kalau di rumah. Tapi kali ini aku akan ceritakan pengalamanku dengan tante Ria di kamarnya ketika suaminya sedang tugas dinas luar pulau untuk seminggu.

Hari Senin pagi, aku memacu motorku ke rumah tante Ria. Setelah perjalanan 30 menit, aku sampai di rumahnya. Langsung aku parkir motor di teras rumah.

"Met pagi semua" aku ucapkan sapaan seperti biasanya.
"Pagi, Mas Ricky. Lho kok masih kusut wajahnya, pasti baru bangun ya?" Tya membalas sapaanku.
"Iya nih kesiangan" aku jawab sekenanya sambil masuk ke ruang keluarga.

Tante Ria masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama, setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku hentikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur. Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Ria tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya. Ternyata tante Ria sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya bergantian kiri dan kanan.

Terdengar suara desahan lirih, "Hmm, ohh, arhh".

Kulihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina. Rupanya tante Ria ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya. Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh molek tante Ria, membuatku tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Ria berhubungan badan denganku.

"Lho Ric, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho." Tiba-tiba suara tante Ria mengagetkan aku.
"Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya." Celetuk tante Ria sambil masuk kamar.

Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Ria berangkat kerja, aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur.

"Hmm.. geli ah" Aku terbangun dan terkejut, karena tante Ria sudah berbaring di sebelahku sambil tangannya memegang penis ku dari luar sarung.
"Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun." Kata tante sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat penis ku menegang 90%.
"Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok, dengan alasan sakit. Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang." Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja.
"Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, gedhe juga ya penis mu" Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya.
"Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian Ricky tahu kok kalau tante yang seksi ini tadi pagi masturbasi di kamar mandi" celetukku sekenanya.
"Lho, jadi kamu.." Tante kaget dengan mimik setengah marah.
"Iya, tadi Ricky ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan?" agak takut juga aku kalau dia marah.

Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang 10 menit. Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan penisku di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku. Aku jadi salah tingkah.

"Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini.." dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya.
"Iya sayang, Ricky sudah lama inginkan itu." celetukku sekenanya.
"Ya sudah peganglah sayang?" kata tanteku yang seksi itu.
Sambil aku tarik bahu tante ke tempat tidur, sehingga tante terjatuh di atas tubuhku.

Langsung aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan.

"Eh, nakal juga kamu ya.. ihh geli Ric." tante Ria merengek perlahan.
"Hmm..shh" tante semakin keras mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya.

Rok yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal CD yang menutupi gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Ria. Tangan kiriku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab. Ciuman tetap kami lakukan dibarengi dengan rabaan di setiap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan tante masuk ke sela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras.

"Hmm, boleh juga nih. Sepertinya lebih besar dari punyanya om kamu deh." tante mengagumi penisku yang belum pernah dilihatnya.
"Ya sudah dibuka saja tanteku sayang." pintaku.

Lalu tante melepas celanaku, dan ketika tinggal CD yang menempel, tante terbelalak dan tersenyum.

"Wah, rupanya tante punya penis lain yang lebih gedhe." Gila tante Ria ini, padahal penisku belum besar maksimal karena terhalang CD.

Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia sudah berhasil melepas CD ku, dan sekarang sedang terperangah melihat penisku yang berdiri dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya.

"Sayang.. ngapain berhenti?" aku beranikan diri bertanya ke tante, dan rupanya ini mengagetkannya.
"Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..?" agak tergagap juga tante merespon pertanyaanku.
"Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin tante merinding" sambil tersenyum dia ngoceh lagi.

Tante masih terkesima dengan penisku yang mempunyai panjang 13 cm dengan diameter 4 cm.

"Emangnya punya om gak segini? ya sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama penisku." Aku ingin agar tante memulai ini secepatnya.
"Hmm, iya deh." Lalu tante mulai menjilat ujung penis.

Ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal penis

"Ahh.. enak sayang, terusin hh." aku mulai meracau.

Lalu aku tarik kepala tante Ria sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas CD tante Ria. Akhirnya sambil menggigit-gigit kecil puting susunya, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu. Tiba-tiba, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga.

"Ayo sayang, gantian kamu boleh melakukan apa saja terhadap ini." Sambil tangan tante mengusap vaginanya.
"OK sayang" aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vagina tante yang bersih.
"Shh.. ohh" tante mulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitorisnya dengan ujung lidahku.
"Hh.. mm.. enak sayang, terus Ric.. yaa.. shh" tante mulai berbicara tidak teratur.

Semakin dalam lidahku menelusuri liang vagina tante. Semakain kacau pula omongan tante Ria. "Ahh..Sayang..shh..sayang aku mau keluar." tante mengerang dengan keras.

"Ahh.." erangan tante keras sekali, sambil tubuhnya dilentingkan ke kebelakang.

Rupanya tante sudah mencapai puncak. Aku terus menghisap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan perasaan enaknya.

"Hmm..kamu pintar sayang. Gak rugi tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalau om kamu lagi luar kota. Mau kan?" dengan manja tante memeluk tubuhku.
"Ehh, gimana ya tante.." aku ngomgong sambil melirik ke penisku sendiri.
"Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya" tante sadar kalau penis ku masih berdiri tegak dan belum puas.

Dipegangnya penisku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut tante mulai mengocok penisku. Setelah lebih kurang 15 menit tante berhenti mengocok.

"Ric, kok kamu belum keluar juga. Wah selain besar ternyata kuat juga ya." tante heran karena belum ada tanda-tanda mau keluar sesuatu dari penisku.

Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh tante Ria, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus. Bergantian kiri-kanan, sampai akhirnya dipangkal paha. Dengan tiba-tiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot. Tante menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan. Setelah vagina tante basah, tante melebarkan kedua pahanya. Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya. Aku gesek-gesekkan ujung penisku ke vaginanya dari atas ke bawah dengan pelan. Perlakuanku ini membuat tante semakin bergerak dan meracau tidak karuan.

"Tante siap ya, aku mau masukin penisku" aku memberi peringatan ke tante.
"Cepetan sayang, fvck me sayang, ayo.. tante sudah gak tahan nih." tante langsung memohon agar aku secepatnya memasukkan penisku.

Dengan pelan aku dorong penisku ke arah dalam vagina tante Ria, ujung kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahan aku dorong lagi hingga separuh penisku sekarang sudah tertancap di vaginanya. Aku hentikan aktifitasku ini untuk menikmati moment yang sangat enak. Pembaca cobalah lakukan ini dan rasakan sensasinya. Pasti Anda dan pasangan akan merasakan sebuah kenikmatan yang baru.

"Sayang, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh" tante berbicara sambil merasa keenakan.
"Ahh.. shh mm, tanteku sayang ini cara Ricky agar tante juga merasa enak" Aku membalas omongan tante.

Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa penisku ke dalam vagina tante.

"Ahh.." kami berdua melenguh.

Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi tante rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. Vagina tante Ria ini masih kencang, pada saat aku menarik penisku bibir vaginanya ikut tertarik.

"Plok.. plok.. plokk" suara benturan pahaku dengan paha tante Ria semakin menambah rangsangan.
Sepuluh menit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tiba-tiba tante mengerang keras "Ahh.. sayang tante nyampai lagi"

Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan penisku masih menancap dan dijepit Vagina yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Ria, kami melanjutkan aksi. Lima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di penisku.

"Sayang, aku mau keluar nih, di mana?" aku bertanya ke tante.
"Di dalam aja sayang, tante ingin merasakan sperma kamu sayang, dan tante juga mau lagi nih" sahut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun.

Urutan vaginanya yang rapat dan ciuman-ciumannya akhirnya pertahananku mulai bobol.

"Arghh.. sayang aku nyampai".
"Aku juga sayang.. ahh" tante juga meracau.

Aku terus semprotkan cairan hangat ke vagina tante. setelah delapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan mesra.

"Sayang, kamu hebat." puji tante Ria.
"Sayang juga, vagina sayang rapet sekali" aku balas memujinya.
"sayang, kamu mau kan nemani tante selama om pergi" pinta tante.
"Mau dong sayang, tapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam?" aku balik bertanya.
"Gak apa-apa sayang, tante ingin punya anak dari kamu sayang. Jangan kuatir ya sayang" Tante membalas sambil tangannya mengelus penisku.
"Ih.. sayang nakal ya." sambil aku menggigit kecil payudaranya yang sangat menantang.

Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat sekali. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami raih. Lalu kami mandi bersama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi.
Kejadian ini terus kami lakukan dimana saja, bila ada waktu kosong. Hingga tante Ria mengandung benih yang telah aku keluarkan ke rahimnya, dan aku telah mencicipi perawan anaknya dua-duanya, tapi akan kuceriatakan lain kali.
16.55 | 0 komentar | Read More

Si Tukang Koran



Terus terang tak pernah aku berpikir bisa berbuat seperti ini sebelumnya. Di kalangan masyarakat komplek perumahan yang kutinggali, aku termasuk ibu rumah tangga yang alim dan terhormat. Aku sangat mencintai suamiku, Mas Wardi, yang berusia 38 tahun, cukup ganteng, punya jabatan pula, dia adalah seorang insinyur dan manager dari sebuah perusahaan konstruksi.

Aku sendiri Ani, 32 tahun, cukup cantik, bahkan menurut tetanggaku aku sangat cantik, hingga mereka bilang aku mirip Annisa Trihapsari, itu lho artis cantik mantan istri Adjie Pangestu yang sekarang berj****. Sama seperti dia, setiap keluar rumah, aku selalu memakai j**** panjang yang tersampir hingga ke pinggang, lengkap dengan jubah panjang yang menutupi seluruh tubuhku. Aku pun aktif di pengajian-pengajian yang sering diadakan di sekitar rumahku.

Memang kuakui aku agak kesepian. Sejak 5 tahun perkawinan, kami belum juga dikaruniai anak. Saat-saat suami tak di rumah, aku sering khawatir dan cemburu, takut dia mencari perempuan lain yang bisa memberikan anak. Demikian pula saat suami sedang sibuk atau lelah dan tak banyak ngomong, aku sudah cepat curiga dan cemburu pula. Aku sering membesarkan hati sendiri, bahwa tak ada yang kurang dari diriku. Pakaian islami, tubuh sintal, kulit putih, ukuran payudara 36B, pantat pun masih montok, tak mungkinlah suamiku mencari wanita lain di luar sana.

Demikianlah pada suatu ketika karena aku ada sedikit gangguan kesehatan, aku pergi berobat ke sebuah poliklinik posyandu yang tidak jauh dari rumahku. Biasanya suamiku sendiri yang mengantar ke RS Medika Kuningan, tetapi karena sedang tugas keluar kota jadi aku harus ke dokter sendiri. Hari itu aku memakai jubah panjang yang berwarna putih serta j**** berwarna merah muda yang juga panjang.

Saat aku turun dari angkot, nampak di ruang tunggu posyandu sudah penuh orang. Tetapi aku santai saja karena memang tak ada urusan yang menunggu sehingga harus buru-buru. Mas Wardi, keluar kota untuk 1 minggu sejak kemarin pagi. Aku juga tak perlu masak memasak. Kami berlangganan makanan dari tetangga yang mengusahakan catering.

Sesudah beberapa saat menunggu, aku berasa kepingin ke toilet untuk kencing. Sesudah melalui lorong poliklinik yang cukup panjang dan kemudian deretan pintu toilet untuk lelaki aku sampai ke toilet perempuan. Pada saat inilah peristiwa itu terjadi hingga melahirkan cerita ini.

Tanpa sengaja, saat melewati toilet lelaki, aku menengok ke sebuah toilet yang pintunya menganga terbuka. Aku langsung tertegun dan sangat kaget, seakan tersengat listrik. Kusaksikan seorang lelaki sedang berdiri kencing dan kulihat jelas pancuran kencingnya yang keluar dari kemaluannya yang nampak tidak tersunat. Yang membuat aku tertegun adalah kemaluan lelaki itu, sungguh luar biasa gede dan panjang.

Dalam pandangan yang singkat itu aku sudah berkesimpulan, dalam keadaan belum ngaceng saja sudah nampak sebesar pisang tanduk. Aku tak mampu membayangkan sebesar apa kalau kemaluan itu dilanda birahi dan ngaceng. Aku masih tertegun saat lelaki itu menengok keluar dan melihat aku sedang mengamatinya. Entah sengaja atau tidak, dia menggoyang-goyangkan kemaluannya itu. Mungkin untuk menuntaskan kencingnya, atau juga untuk memamerkannya padaku. Entahlah...

Aku cepat melengos. Aku malu dikira sengaja untuk melihatinya. Dan aku juga malu pada diriku sendiri, sebagai istri ataupun wanita sebagaimana yang aku gambarkan di atas tadi. Tetapi entahlah. Barangkali lelaki tadi telah sempat melihat mataku yang setengah melotot melihat kemaluannya. Aku sendiri jadi resah. Hingga sepulang berobat itu perasaanku terus terganggu.

Aku akui, oleh sebab peristiwa itu, selama aku menunggu panggilan dari petugas poliklinik, pikiranku terus melayang-layang. Aku tak mampu menghilangkan ingatanku pada apa yang kusaksikan tadi. Mungkin aku tergoda. Dan tidak sebagaimana biasanya, libidoku terganggu. Bayangan akan seandainya kemaluan sebesar itu menembusi vaginaku terus mengejar pikiranku. Jantungku terus berdegup kencang dan cepat. Entah apa yang kumaui kini. Kenapa aku jadi begini?! Seorang Ani Nurul Hidayah yang cantik, terhormat, dan alim tak boleh berpikir seperti ini!

Tapi aku malah mulai mencari-cari, siapa sebenarnya lelaki itu. Kutengok-tengok di antara pengunjung yang berada di ruang tunggu dan juga sepintas yang ada di teras dan halaman kebun, namun aku tak pernah menjumpainya lagi. Khayalanku bahkan terus bergerak menjadi demikian jauh. Kubayangkan seandainya kemaluan macam itu berdiri tegak macam Tugu Monas. Dan aku berada di dekatnya hingga hidungku disergap aroma kelelakiannya sambil aku membayangkan menjilati kemaluan tegak itu. Ahh.. Tanpa sengaja tanganku memilin puting susu dari balik j**** panjangku. Rasa gatal kurasakan pada ujung-ujung pentilku, begitu hebat.

Dua hari kemudian. aku sedang menyirami kembang di halaman saat aku dengar tukang pengumpul koran lewat depan rumahku, "Koran bekas.. Koraan..." teriakannya yang khas kudengar. Sudah lebih dari 3 bulan koran bekas numpuk dekat lemari buku. Aku pikir kujual saja untuk mengurangi sampah di rumah.

Tanpa banyak pikir lagi, "Bang, tunggu, saya punya koran bekas, tuhh..." sambil aku beranjak memasuki rumah untuk mengambilnya. Namun ternyata koran sebanyak itu cukup berat. Kuputuskan, biar si Abang itu saja yang mengambilnya. Kusuruh dia masuk sambil sekalian bawa timbangannya. Sesudah mengikatnya dengan rapi dan menimbangnya, dia memberikan Rp. 10.000, padaku untuk harga koran itu.

"Terima kasih, Bu.." Dan aahh.. Kurang ajar bener nih Abang. Saat menyerahkan uang di ruang tamu rumahku itu, tangannya setengah meraih dan kurasakan hendak meremas tanganku. Aku tarik secepatnya dan.. Aku kaget. Bukankah ini lelaki yang kulihat di poliklinik kemarin?!! Orang yang telah membuat jantungku berdebar keras-keras.

Semula aku hendak marah, namun kini ragu. Hatiku bicara lain. Bukankah dia yang telah mampu membuat aku resah gelisah. Bu Ani yang alim ini kini tertegun penuh birahi di hadapan seorang kuli pengumpul koran bekas. Tak terelakkan mataku mencari-cari. Mataku menyapu pandang pada tubuhnya. Berbaju kaos oblong sisa kampanye Pilpres I yang berlogo salah satu calon presiden itu, aku memperhatikan gundukan menggunung pada selangkangannya yang bercelana jeans kumel. Namun bila dilihat lebih jelas lagi, ternyata Abang ini bersih dan.. Sangat jantan!

"Hahh... rasanya saya pernah lihat Abang ini, deh," begitu aku berpura kelupaan. Dia melihati aku dengan pandangannya yang tajam menusuk. Terus terang, aku jadi takut dan bergidik. Mau apa dia?

Dan yang terjadi adalah langkah pasti seorang pejantan, "Yaa.. kita ketemu di poliklinik, bu. Waktu itu ibu menengok saya yang sedang kencing?!"

Aku nggak setuju dengan tuduhannya itu. Namun apa sih artinya. Toh terbukti dia telah menggetarkan jiwaku. Dan dengan penuh percaya diri yang disertai senyumannya yang mesum, dia mendesah berbisik. "Aku sering berselingkuh dengan perempuan di luar istriku, Bu. Aku tahu kebanyakan perempuan suka dengan apa yang aku punya. Aku sangat tahu, Bu," dengan bisik desah serak-seraknya, tanpa ragu dia membanting dan merobek-robek harga diriku.

Dan yang lebih hebat lagi. "Nih, Ibu mau lihat?" tanpa ragu lagi dia cepat membuka celananya dan mengeluarkan kemaluannya yang masih belum tegak berdiri.

Namun aku sekarang menjadi sangat ketakutan. Bagaimana seandainya dia bukan hanya menarik hati saja tetapi juga berbuat jahat atau kejam atau sadis padaku. Apa jadinya? Ahh, dia telah melumpuhkan pertahanan diriku yang berj**** panjang ini.

"Nggak, Bang. Cukup. Terima kasih. Sudah, tinggalkan saya. Tinggalkan rumah ini," kataku panik, cemas, takut dan rasanya pengin nangis atau minta tolong tetangga. Tetapi semuanya itu langsung musnah ketika tanpa terasa tanganku telah berada dalam genggamannya dan menariknya untuk disentuhkan dan digenggamkan ke batang kemaluannya yang kini telah bangkit membusung, dengan sepenuh liku ototnya, dengan semengkilat bening kepalanya, dengan searoma lelaki yang menerpa dan menusuk sanubariku.

"Lihat dulu, Bu. Jangan takut. Saya nggak akan menyakiti ibu, kok," bisiknya setengah bergetar, terdengar begitu penuh pengalaman dan sangat menyihir. Dan aku benar-benar menjadi korban tangkapannya seperti rusa kecil dalam terkaman singa pemangsanya.

"Lihat dulu, Bu..." sekali lagi diucapkannya. Kali ini dengan tangannya sambil meraih kemudian menekan bahuku untuk bergerak merunduk atau jongkok. Dan sekali lagi aku menjadi begitu penurut. Aku berjongkok. Dan kusaksikan apa yang memang sangat ingin kusaksikan dalam 2 hari terakhir ini.

Aku yang masih mengenakan j**** panjang berwarna hitam ini kini tengah berhadapan langsung dengan kemaluan seorang pria yang bukan suamiku, dan aku tengah terangsang. Ini bukan saja pesona. Ini merupakan sensasi bagi aku, Ibu Ani yang santun dan alim, istri manager yang juga insinyur itu.

Kini aku bergetar. Dengan jantungku yang berdegup-degup memukul-mukul dada, mataku nanar menatap kemaluan lelaki lain. Sungguh aku terpesona. Kemaluan itu nampak sangat keras bak laras meriam yang lobangnya mengarah ke wajahku. Aku menyaksikan lubang kencingnya yang menyihir libidoku. Aku menyaksikan kontol yang dahsyat itu. Aku langsung lumpuh dan luluh. Aku terjerat pesonanya.

Demikian pula saat kusaksikan ujung meriam itu mendekat, mendekat, dan makin mendekat hingga menyentuh pipiku, hidungku dan bibirku. Yang kemudian kudengar adalah sepertinya 'suara jauh dari angkasa' yang penuh vibrasi, "Jilat, Bu j****, Hisap kontol saya. Banyak kok ibu-ibu pengajian yang sudah menikmati ini juga. Hisap kontolku, Bu. Aku ingin merasakan bibir Bu j**** yang sangat cantik dan seksi ini. Aku ingin merasakan hisapan mulut ibu yang pake j**** panjang ini."

Tangan kanannya menekan kepalaku yang masih berbalut j**** dan tangan kirinya mengasongkan kontolnya ke mulutku. Bagaimana aku mampu mengelak sementara aku sendiri merasa lumpuh, sendi-sendiku tak bisa digerakkan. Aku merasakan ada asin-asin di lidahku. Aku tersadar. Aku jadi sepenuhnya sadar, namun segalanya sudah terlambat. Hisapan itu tengah berlangsung. Aku tak mampu menghindar, baik dari kekuatan fisikku maupun dari tekad yang dikuasai rasa bimbang.

Tidak lama. Mungkin baru berlangsung sekitar 1 atau 2 menit saat kontol itu terasa semakin mengeras dan memanas. Mulutku penuh dijejali bongkol kepalanya yang menebar rasa asin itu. Sambil berdiri mengangkangi aku yang jongkok di depannya, si Abang dengan sangat kuat mendorong-dorong kepalaku dan menggoyangkan pinggulnya mendorong dan menarik kontolnya ke mulutku. Lagi, lagi, dan lagi. Hingga nyaris membuatku tersedak. Rasanya ujung kontol itu telah merangsek maju mundur ke gerbang tenggorokanku. Kedutan-kedutan besar yang disertai semprotan-semprotan lendir kental yang hangat penuh muncrat ke haribaan mulutku. Aku tahu persis, si Abang telah menumpahkan air maninya ke mulutku!!

Dan kemudian yang tak kuduga sebelumnya adalah saat dia memencet hidungku hingga dengan ngap-ngapan aku terpaksa menelan tuntas seluruh cairan kentalnya dan membasahi tenggorokanku. Sepertinya aku minum dan makan kelapa muda yang sangat muda. Lendirnya itu demikian lembut memenuhi mulut untuk kukunyahi dan terpaksa menelannya. Bahkan pada suamiku aku tak pernah merasakan macam ini. Rasanya aku akan jijik dan tak akan pernah melakukannya pada Mas Wardi.

Aku masih tertegun dan setengah bengong oleh rasa yang memenuhi rongga mulutku saat dia menggelandangku ke kamar tidurku. Dengan tenaga kelelakiannya, dia angkat dan baringkan tubuhku ke ranjang pengantinku. Entah kekuatan apa, aku tak mampu mengelakkan apa yang si Abang ini perbuat padaku. Dia lepasi busanaku. Dia tarik hingga robek jubahku. Demikian pula pakaian dalamku. Namun yang aneh, dia menyisakan balutan j**** panjang berwarna hitam, tetap menempel di kepalaku. Dia renggut BH-ku seketika hingga aku juga yakin kancing-kancingnya lepas. Dan tak ayal pula direnggutnya celana dalamku. Dia ciumi celana itu sambil menebar senyuman birahi dari gelora syahwatnya yang sedang terbakar gairah. Kemudian ia rebah menindih tubuh telanjangku.

"Bu muslimah, biar saya buat ibu ketagihan yaa. Nikmati kontolku, Bu. Mahal nih. Gak sembarang ibu-ibu bisa merasakannya. Saya pilih-pilih orangnya," begitu suara orang yang dilanda prahara birahi sambil tangannya meremasi pinggul kemudian bokongku, sementara bibirnya yang demikian tak terawat nyosor untuk melumat bibirku.

Aku berusaha menolaknya. Rasa jijik dan enggan menderaku. Namun sasaran berikutnya benar-benar membuat aku menyerah. Dia kemot-kemot pentil susuku. Dia gigiti dagingnya. Entah berapa lama dia hisep dan jilat seluruh tubuhku hingga meninggalkan cupang-cupang kotor pada seluruh permukaan kulit buah dadaku, leherku, bahuku, bahkan ketiakku. Kemudian ciumannya turun ke perut, ke selangkangan, ke pahaku. Dan adduuhh.. Ini sungguh sangat keterlaluan. Dia menjilati liang vaginaku! Tapi aku tidak bisa menolak, karena aku juga menikmatinya. Rasanya sungguh geli, tapi sangat enak. Suatu kenikmatan hubungan seksual yang belum pernah aku dapatkan dari suamiku.

Dan ketika puncak birahinya datang, si Abang ini naik merangsek dan menindih kembali tubuhku. Kurasakan kontolnya mulai menggosok-gosok paha dan selangkanganku. Aku sudah benar-benar terbius. Dorongan nafsu birahiku sudah berada di ambangnya. Aku sudah tak mampu lagi menahannya. Kini desah, rintih, jerit tertahan keluar dari mulutku dan memenuhi kamar pengantinku yang sempit ini.

"Tolong, Bang.. Ayo, Bang.. Aku sudah nggak tahan.. Toloong.. Enak banget, Bang.. Aku cinta kontol abang.. Biar aku minum lagi pejuh abang nanti ya..." kuraih kemaluan besar itu dengan cepat dan kutuntun untuik menembusi kemaluanku yang sudah sangat menantinya.

Masih dalam upaya penetrasi, dimana ujung kontol dahsyat itu sedang menerpa-terpa bibir kemaluanku ketika aku meraih orgasme pertamaku. Aku kembali menjerit dan mendesah tertahan. Kulampiaskan nafsu syahwatku. Kurajam pundak si Abang dengan cakarku. Kuhunjamkan kukuku ke dagingnya. Rasanya kemaluanku demikian mencengkeram untuk mempersempit kepala kemaluan itu menembusinya. Namun rasa gatal ini sangat dahsyat. Si Abang cepat menerkam bibirku sambil mendesakkan kontolnya dengan kuat ke lubangku. Dan bless..! Aku langsung diterpa orgasme keduaku. Ahh.. Inikah yang disebut orgasme beruntun? Hanya selang 10 detik aku mendapatkan kembali orgasmeku. Ternyata memang inilah dia.

Dalam hujan keringat yang menderas dari tubuhku dan tubuhnya selama dua jam hingga jam 4 sore, aku mendapatkan orgasme beruntunku hingga sekitar 10 atau 12 kali. Aku tak mungkin melupakan kenikmatan macam ini. Aku tertidur karena puas dan lelah yang kudapatkan.

Aku terbangun saat kupingku mendengar telpon berdering. Aku bangun dan lari untuk mengangkatnya, "Sayang, apa kabar? Sehat? Aku sedang berada di pusat kerajinan di Balikpapan, nih. Banyak barang-barang artistik disini. Pasti kamu senang. Mau dibeliin apa?" demikanlah kebiasaan suamiku kalau bertugas keluar kota. Dia selalu menyempatkan diri mencari barang-barang kerajinan asli setempat. Dia tahu aku sangat menyenangi barang-barang macam itu.

Kasihan, sementara dia bekerja keras jauh dari rumahnya, dia telah kehilangan permatanya. Ternyata dengan gampang aku telah meninggalkannya dalam selingkuhku dengan si Abang. Masih pantaskah aku menjadi istri yang alim dan terhormat?Kulihat si Abang telah pergi. Mungkin sebelum aku terbangun tadi.

Tumpukan koran itu telah dibawanya. Kulihat barang-barangku yang lain tak ada yang berubah dari tempatnya. Ah, terkadang kita cepat curiga dengan orang lain yang kelasnya seakan di bawah kita.

Aku masih termangu hingga sore mengendap dan menggelap. Bibir dan dinding kemaluanku masih terasa pedih. Aku nggak tahu. Aku ini menyesal atau tidak atas selingkuh yang telah aku perbuat. Bahkan aku juga lupa Mas Wardi mau belikan apa tadi?! Yang aku mencoba mengingatnya hanyalah sekitar 5 atau 6 kali aku telah meraih orgasme dalam berasyik masyuk sepanjang 2 jam dengan Abang pengumpul koran bekas tadi. Mungkin itu akan menjadi rekor seumur hidupku.
16.51 | 0 komentar | Read More

Lima Perampok



Rumah itu tampak sepi saat Doni pergi meninggalkannya untuk pergi beranglat kerja ke kantor. Dia tidak pernah tahu bahwa ada lima orang begundal tengah mengamatinya dari dalam mobil box yang terparkir di ujung gang.

"Gimana, Bang, kita serbu sekarang?" tanya Botak.

"Tunggu, jangan keburu nafsu. Lihat situasi dulu, bego loe!" kata Mamat, pemimpin gank perampok tersebut.

"Biasanya jam segini, hansip suka lewat pake sepeda. Kita tunggu sebentar, Bang." kata Tatto yang sudah seminggu mengamati rumah itu.

Bener kata Tatto, lima menit kemudian, dua orang hansip melewati jalan itu dengan mengayuh sepeda mereka. Kelima orang itu segera berpura-pura tengah menganti ban mobil box yang sama sekali tidak bocor.

Setelah hansip itu berlalau, Mamat langsung bertanya, "Gimana, sekarang?"

"Oke, Bang. Hansip itu cuma lewat, lalu nongkrong di pos ujung sana, main gaple," terang Tatto.

"Oke, kita siap beroperasi. Botak, elo sama si Bedu masuk dulu. Beresin korban kita," perintah Mamat.

Kedua orang itu segera bergerak cepat, mereka melompati pagar dan tanpa kesulitan masuk ke dalam rumah yang pintu utamanya tidak dikunci itu. Nyaris tak terdengar, mereka bergerak dengan cekatan melumpuhkan pembantu setengah tua yang memergoki aksi mereka. Kedua begundal itu kemudian mengendap pelan menuju ke kamar tidur utama dan membuka pintunya.

Hajar, seorang ibu muda berj****b yang saat itu sedang asyik bersolek, kontan terkejut dengan kehadiran mereka. "Siapa kalian? Mau apa kalian kemari?" hardiknya setengah takut.

Mereka tersenyum menyeringai. Secepat kilat Botak telah memeluk tubuh Hajar lalu membekap mulutnya. Bedu menggunakan lakband yang dibawanya untuk membungkam mulut wanita cantik itu. Setelah si Nyonya rumah berhasil dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti, Botak segera keluar untuk membuka pintu pagar. Dengan anggukan kepala ia memberi kode kepada ketiga temannya agar cepat menyusul masuk. Mobil box segera bergerak masuk ke dalam garasi. Tatto, Joki dan Mamat meloncat turun dari mobil dan segera mengikuti Botak masuk ke dalam rumah.

"Hei tunggu, dia punya anak. Satu lima tahun, satunya masih orok." terang Tatto.

"Gak ada, gua udah periksa sekeliling rumah," jawab Botak.

"Udah, gak usah peduli, cuma anak kecil aja. Ambil harta di rumah ini, cepat!" perintah Mamat.

Mereka pun segera berpencar untuk mencari segala benda berharga yang mungkin bisa dibawa, mulai dari setrika murahan hingga TV layar datar yang ada di ruang keluarga. Tak lupa juga lemari Hajar yang ada di kamar diobrak-abrik oleh mereka. Mamat mendapatkan sejumlah uang dan perhiasan. Ia juga menggondol surat-surat berharga yang ada disana. Tak sampai setengah jam, harta benda di rumah itu telah berpindah ke dalam mobil box.

"Ayo, jalan." kata Tatto.

"Tunggu, gimana kalau kita senang-senang dulu. Nih cewek cakep juga, gua mau cobain," kata Mamat sambil memandangi Hajar yang hari itu mengenakan busana terusan panjang berwarna hijau dan j****b putih lebar sedada.

Hajar meronta dalam ikatannya saat perlahan Mamat mulai mendekatinya, yakin sesuatu yang buruk akan segera menimpa dirinya. Hajar langsung menjerit begitu Mamat membuka lakban yang menyumpal di mulutnya, "Tolong!! Rampok!!"
.
Plak! Dengan sadis sebuah tamparan Mamat hinggap di pipi wanita berj****b tersebut. Hajar meringis kesakitan, apalagi saat tiba-tiba Mamat mengeluarkan sepucuk pistol dan menempelkan di lehernya. Rasa dingin langsung menjalar di seluruh tubuh Hajar.

"Elo mau gua bunuh?" ancam Mamat.

"Jangan, ampun... ampun, Bang." Hajar menghiba.

Tiba-tiba Mamat menjulurkan lidahnya untuk menjilat wajah perempuan cantik itu. Hajar meronta, jijik dia rasakan. Tapi Mamat sepertinya tidak peduli,sambil memegang kepala Hajar, ia melumat bibir ibu muda beranak dua itu dengan penuh nafsu. Mamat mendorong lidahnya masuk ke dalam mulut Hajar yang terus meronta.

"Ampun, Bang. Saya sudah punya suami, jangan perlakukan saya seperti ini," rintih Hajar.

"Huahaha... sama, gua juga sudah punya bini. Bini gua tiga malah, hahaha..." ejek Mamat. Dengan cepat tangannya terulur untuk meremas buah dada Hajar yang berada di balik baju terusan hijaunya.

Hajar meringis akibat remasan keras itu. Saat itu timbul lagi keberaniannya. Dia dengan keras mendorong tubuh Mamat dan berusaha untuk lari. Tapi apa daya, seorang wanita yang barusan melahirkan melawan lima orang pria yang kasar. Tatto dengan sigap menangkap tangannya lalu menyeretnya kembali ke atas ranjang. Dibantingnya tubuh montok Hajar hingga wanita berj****b ini terbaring telentang di atas tempat tidur. Botak dan Bedu segera memegangi kedua tangan Hajar erat-erat agar takbisa lari lagi.

Joki memberikan sebilah belati tajam pada Mamat. Mamat menyeringai saat menerimanya, kembali ia mengancam Hajar. "Loe mau mampus yah?" hardiknya berang.

Hajar menggeleng, "Jangan! Ampun! Tolong… " ia kembali menghiba.

Dengan belati yang ada di genggamannya, Mamat merobek pakaian Hajar, mereka tercengang menatap buah dada Hajar yang lumayan besar terburai keluar. Kini tubuh wanita itu hanya ditemani j****b putihnya yang lebar dan celana dalam warna kremnya.Tapi itu pun juga tidak akan bertahan lama. Wajah Hajar terlihat memerah, belum pernah dalam hidupnya dia merasa terhina dan malu seperti ini. Tubuhnya yang separuh bugil dinikmati oleh mata mata liar para perampok itu. Kembali Mamat memainkan belati itu di hadapan mukanya.

"Ampun, Bang, jangan sakiti saya..." Hajar meminta.

"Dengar yah, gua cuma mau senang-senang sama elo. Jadi kalau elo nurut, tentu gua gak akan sakitin elo." kata Mamat.

Hajar terlihat pasrah. Ketiga anak buah Mamat yang lain hanya diam menatap dirinya dengan nafsu, mereka tak berani bertindak sebelum diperintah bosnya yang terkenal kejam itu. Tangan Mamat tiba-tiba meremas buah dada Hajar dengan keras. Hajar tentu saja merintih dibuatnya. Begitu kerasnya remasan itu hingga mendesak ASI yang ada di dalamnya hingga muncrat keluar. Mamat tersenyum, dengan penuh nafsu dia segera menjilati ASI Hajar yang meleleh keluar. Kasar disedotnya puting susu Hajar dengan rakus bagai bayi yang kelaparan. Tangannya terus memencet, sementara mulutnya terus menghisap dengan ganas. Kedua-dua susu Hajar mendapat perlakuan seperti itu hingga membuat keduanya jadi begitu basah dan memerah.

“Jangan dihabiskan, Bang. Ini ASI buat anak saya.” Hajar mengingatkan.

Mamat tertawa mendengarnya, begitu juga dengan keempat anak buahnya. Puas dengan payudara Hajar, Mamat menurunkan jilatannya ke bawah, ia kini bermain di pusar Hajar dan terus menuju ke arah selangkangan perempuan cantik itu. Mamat dengan penuh nafsu mengendus aroma vagina Hajar yang baru melahirkan, membuat tubuh Hajar menggelinjang karenanya. Walaupun sehari-harinya dia adalah seorang ibu rumah tangga yang alim dan pemalu, tapi Hajar tetaplah seorang manusia, seorang wanita yang mempunyai nafsu birahi. Diperlakukan seperti ini oleh Mamat, tanpa bisa dicegah, perlahan birahinya mulai muncul dan meningkat, meninggalkan jejak basah dan lembab di celana dalam kremnya.

Mamat yang mengetahui korbannya mulai jinak, terus menggesekkan hidungnya ke selangkangan Hajar. Diendusnya kelamin itu sambil lidahnya terus merangsek disana. Sedikit demi sedikit celana dalam Hajar mulai tersingkap. Hingga selanjutnya, tanpa perlu melepasnya, Mamat sudah bisa menjilati lubang vagina Hajar yang mengintip malu-malu dari celahnya. Diserang seperti itu membuat Hajar mulai mendesah nikmat. Apalagi ditambah rangsangan yang diberikan Tatto dengan remasan-remasan lembut di atas buah dadanya, sementara putingnya yang mungil disedot bergantian oleh Botak dan Bedu sambil tetap memegang erat kedua tangannya.

"Tolong... jangan… tolong..." erang Hajar saat merasakan tangan Mamat mulai berusaha menurunkan celana dalamnya.

Mamat hanya tersenyum mendengarnya. Ia sama sekali tidak peduli dengan rintihan perempuan cantik berj****b lebar itu. Tangannya terus menurunkan celana dalam Hajar hingga benda itu teronggok di lantai. Tak berkedip Mamat memandangi vagina Hajar yang terawat rapi tanpa bulu kemaluan, ia terlihat sangat menyukainya.

"Wah, memek elo bagus banget..." puji Mamat sambil berusaha membuka lebar kedua kaki Hajar. Dengan dua jarinya, ia membelah bibir kemaluan Hajar. Mamat bisa melihat dengan jelas, ada tahi lalat sebesar kismis di sebelah kiri bibir vagina perempuan cantik itu.

"Wah, biasanya cewek ada tai lalat di memeknya gini tandanya nafsunya besar." ujar Mamat. Ucapan itu tentu saja semakin membuat Hajar malu. Dia pun berusaha merapatkan kedua kakinya, tapi Mamat segera menahannya. Lidah Mamat dengan penuh nafsu menjilati klitoris Hajar yang kini terbuka lebar.

"Aahhhh…" erangan panjang Hajar terdengar. Lidah kasar Mamat dengan buas menggelitik klitorisnya yang tentu saja membuat wanita berj****b itu menjadi birahi. Liang vaginanya mulai mengeluarkan lendir birahi.

Mamat terus menyedot-nyedot klitoris Hajar dengan penuh nafsu. Sesakali ia juga mencucupi belahan memek Hajar yang tampak baru sembuh dari luka melahirkan. Perbuatan itu makin membuat Hajar menggelinjang kegelian, dia sudah tak mampu lagi menyembunyikan gairahnya. Apalagi saat lidah Mamat terus menari, makin lama makin cepat menyapu klitoris dan cairan yang keluar dari liang vaginanya, hingga sesaat kemudian tubuh wanita imut itu mengejang, Hajar tak dapat lagi menahan birahinya, dia memekik dan orgasme oleh jilatan lidah Mamat!

"Hahaha... enak kan?" goda Mamat dengan mulut belepotan oleh cairan. Hajar hanya bisa memejamkan matanya sebagai jawaban.

Mamat sekarang ganti menyodorkan penis besar dan hitamnya di depan wajah Hajar. "Isep kontol gua!" perintahnya kejam. Tentu saja Hajar menolak. Dia segera merapatkan mulut dan membuang mukanya, tidak mau memandang benda yang menurutnya menjijikkan itu.

Mamat tertawa, "Hahaha... kenapa, loe gak suka kontol gua yah?" sambil berkata, dia mulai mendesakkan ujung penisnya ke bibir Hajar, tapi Hajar dengan hati bulat tetap merapatkan mulutnya sekuat tenaga.

Tangan Mamat tiba-tiba meremas keras buah dada Hajar sampai-sampai air susunya muncrat keluar. Perbuatannya itu tentu saja membuat Hajar menjerit kesakitan. "Ahhhh… sakit!" pekik Hajar dengan mulut terbuka lebar.

Saat itulah, tanpa permisi, Mamat mendorong penis besarnya masuk ke dalam mulut Hajar. Hajar yang sama sekali tak siap, tidak bisa berbuat apa-apa. Mulutnya kini disumpal sepenuhnya oleh kontol besar Mamat, membuatnya jadi ingin batuk dan tersengal-sengal. Apalagi saat penis itu mulai bergerak keluar masuk dengan cepat, Hajar makin tersiksa saja dibuatnya. Tapi dia sama sekali tidak bisa menolak karena kedua tangannya masih setia dipegangi dengan erat oleh Botak dan Bedu.

"Ohh... ahh… mulut elo enak juga yah," erang Mamat sambil terus mengocok penisnya di mulut manis Hajar. Sedang Hajar hanya bisa mengerang, dia sama sekali tidak bisa bersuara karena mulutnya tertahan oleh penis besar laki-laki itu. Benda itu terus bergerak dan mendorong-dorong hingga ke dalam tengorokannya. Agar tidak tersedak, terpaksa Hajar mulai menjilatinya meski dengan hati tidak rela.

”Nah, gitu dong. Isep terus kontol gue!” kata Mamat, tampak begitu menikmati apa yang dilakukan oleh Hajar. Tak perlu waktu lama, ia mulai dekat ke puncak birahinya. Terlihat dari gerakan pinggulnya yang semakin kasar, juga dengus nafasnya yang semakin berat. Mamat menghentak-hentakkan penisnya keras-keras, menyodok kerongkongan Hajar dalam-dalam. Lalu, "Ahhhh… gua keluar!" erang Mamat dengan tubuh bergetar dan sedikit kelojotan. Penisnya dengan deras menyemburkan cairan panas ke dalam mulut Hajar.

Di bawah, Hajar menerimanya dengan sedikit kalap. Tidak ingin menelan cairan itu, ia berusaha meronta untuk memuntahkan sperma Mamat. Tapi Mamat dengan sekuat tenaga menahan penisnya, ia terus menancapkan benda itu di mulut Hajar, bahkan dia sedikit mendorongnya dalam-dalam hingga tidak ada satupun cairan maninya yang tumpah keluar.

"Telan peju gua, goblok!!" bentak Mamat pada wanita berj****b itu.

Hajar tetap tidak mau, dia terus meronta dan melawan sekuat tenaga hingga akhirnya dengan sengaja Mamat menjepit hidungnya. Hajar kelabakan, dia kehabisan nafas. Dengan hidung tersumbat dan mulut dijejali penis besar Mamat, dengan cepat tubuhnya jadi lemas. Kalau tetap mau hidup, mau tak mau Hajar harus menelan sebagian sperma Mamat. Maka jadilah dengan berat hati ia melakukannya. Rasanya yang menjijikkan sempat membuat Hajar ingin muntah, tapi sumbatan penis besar Mamat pada mulutnya membuat ia mengurungkan niat.

Puas melihat Hajar menghabiskan semua spermanya, Mamat menarik keluar penisnya. Hajar yang mendesah lega, sebisa mungkin memuntahkan sperma Mamat yang tertinggal di mulutnya. Para perampok itu tertawa-tawa melihat ulahnya.

"Nah, sekarang elo-elo boleh mainin wanita ini, tapi jangan dientot dulu, itu bagian gua, hahaha..." kata Mamat pada anak buahnya.

Keempat orang yang sudah dari tadi menunggu sang bos selesai, segera berhamburan mengerubung tubuh montok Hajar yang berbaring tak berdaya di atas ranjang. j****b putih yang menutupi kepalanya sudah terlihat acak-acakan, tapi bukannya membuat jelek, j****b itu justru makin menambah pesona kecantikan wanita beranak dua itu. Keempat perampok dengan tidak sabar menggerayangi tubuh molek Hajar. Dua orang dengan bernafsu meremas-remas keras buah dadanya. Air susu Hajar sampai muncrat-muncrat keluar tak terkendali karenanya. Sementara dua yang lain menggarap di bagian bawah.

"Ampun... sakit… hentikan..." erang Hajar pilu.

Tatto yang sedari tadi membantu bosnya memegangi tangan Hajar agar tak meronta, kini meminta Hajar untuk menservis penisnya. Sedang Joki yang berperawakan besar, asyik menyodok-nyodok vagina Hajar dengan dua jari. Mamat yang sudah orgasme tersenyum melihat kerakusan anak buahnya. Sambil menghisap rokok kreteknya, dia keluar kamar dan mencari lemari es besar yang tak dapat ia bawa dengan mobil boxnya. Mamat membuka pintu kulkas tersebut, mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya. Rasanya capek juga setelah mengerjai tubuh Hajar. Saat itulah, matanya melihat ada beberapa buah mentimun besar di sana. Tersenyum senang, Mamat lalu mengambilnya dan membawanya ke tempat tidur.

"Ahh… sakit… sudah…" terdengar erangan Hajar yang mengiba. Terlihat Joki sedang mengorek-ngorek liang vaginanya dengan dua jari. Sementara di atas, Botak dan Bedu masih terus asyik menyusu pada putingnya.

"Eh, pake ini..." kata Mamat sambil memberikan mentimun di tangannya.

Joki menoleh dan menerimanya dengan senang hati. Dia segera mengarahkan ketimun itu ke liang vagina Hajar. Ketiga temannya melihat sambil bersorak-sorak seru.

"Iya, .. ayo sodok, Jok." kata Botak dengan tangan terus menggerayangi susu besar Hajar.

"Jangan... jangan... tolong… jangan…" pinta Hajar memelas. Tapi tidak ada yang mempedulikan teriakannya. Bahkan yang ada adalah rasa panas yang tiba-tiba menyerang buah dadanya. Kontan Hajar memekik kaget!

"Ahhhh… panasss… perih..." jeritnya ketika Mamat dengan sadis menyundut bara rokok ke puting buah dadanya yang montok karena berisi ASI.

"Badan loe punya gua sekarang, jangan teriak-teriak... guoblok!" bentak Mamat kejam.

Tapi Hajar menjerit kembali ketika mentimun besar yang ada di belahan selangkangan didorong dengan kuat secara tiba-tiba oleh Joki. Begitu besarnya benda itu hingga seakan-akan merobek liang vaginanya. "Aghhh… sakit… hentikan..." erang Hajar menyedihkan.

Tak peduli, Joki mulai menggerakkan mentimun itu secara kasar. Dia menyodokkannya keluar masuk di liang vagina Hajar yang masih kelihatan sempit meski baru saja melahirkan. Bagai sebuah vibrator, Joki menggunakan mentimun itu untuk menyetubuhi Hajar. Erangan kesakitan perempuan cantik itu sama sekali tidak ia hiraukan.

Bedu dan Botak yang tidak mau kalah, kembali asyik meremas-remas dan menghisapi buah dada Hajar. Mereka menyedot putingnya yang mungil kemerahan keras-keras hingga air susu Hajar tumpah keluar. Dengan gemas mereka lalu menjilat dan menelannya. Semua perlakuan itu sangat melecehkan Hajar dan menyakiti tubuhnya, namun apa daya, ia sama sekali tidak bisa menolak. Jangankan menolak, untuk berteriak pun dia tidak bisa karena sekarang Tatto sudah kembali menjejali mulut Hajar dengan penisnya yang besar dan panjang, ia menyuruh Hajar untuk mengulum dan menghisapnya. Takut disundut rokok lagi, Hajar pun melakukannya. Jadilah ia merelakan seluruh tubuhnya yang selama ini cuma diberikan pada sang suami untuk dinikmati oleh keempat perampok bejat itu.

Lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara dering telepon genggam yang berbunyi nyaring. Mamat segera mencarinya. Ternyata itu dari HP Hajar yang berada di tumpukan baju. Mamat menatap layarnya dan menyeringai. Disitu tertera tulisan ’CINTAKU’. Ia segera menoleh pada keempat anak buahnya dan berkata. "Stop dulu," Mamat memberi perintah kepada mereka agar menghentikan kegiatannya sejenak.

Berbekal belati mengkilap yang ada di tangannya, ia berjalan mendekati Hajar dan menempelkan belati itu ke leher Hajar yang jenjang. "Angkat telepon ini, tapi jangan macem macem. Bilang kamu baik-baik saja atau gua gorok leher elo!!" ancam Mamat bengis.

Tahu kalau laki-laki itu bersungguh-sungguh, Hajar tidak berani berbuat macam-macam. Selain takut pada keselamatannya sendiri, ia juga takut dengan nasib kedua buah hatinya kalau sampai membuat Mamat marah. Jadi, dengan suara dibuat senormal mungkin agar suaminya tidak curiga, Hajar menerima telepon itu. "Hallo, Mas…" katanya.

Suasana sunyi sejenak. Hajar tampak konsentrasi mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang suami. Sementara di sekelilingnya, Mamat beserta anak buahnya menatap tajam sambil terus mengelus-ngelus tubuh montoknya.

"Ohh... ehh... tidak, tidak apa-apa." Hajar mendesah saat Botak dan Bedu kembali berebutan menghisap puting susunya. Di bawah, Joki kembali menggerakkan mentimun yang ada di genggaman tangannya ke dalam memek sempit Hajar.

"Enggak kok, cuma pusing sedikit... tapi aku gak apa-apa kok, Mas." Hajar berbohong pada sang suami. Mamat menyeringai senang mendengarnya. Dia mengangguk sebagai tanda persetujuan.

Tatto yang tidak bisa memakai mulut Hajar untuk mengulum penisnya, kini ganti meminta Hajar untuk mengocok penisnya menggunakan tangannya yang bebas, yang tidak memegang HP. Hajar menurutinya, sambil mendengarkan suara sang suami, ia mulai mengurut kontol besar itu.

Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu sampai akhirnya pembicaraan Hajar selesai, "Yah... baik, Mas, baik..." kata Hajar lalu menutup teleponnya.

"Hahaha... lanjut!!" kata Mamat pada keempat anak buahnya.

Kembali tubuh Hajar dikeroyok oleh mereka. Joki terus menyodok-nyodok liang vaginanya semakin keras menggunakan mentimun. Sedang Botak dan Bedu sudah menjadikan susunya seperti adonan roti, mereka memencet dan memijitinya kuat-kuat hingga benda itu jadi tidak berbentuk lagi. Payudara Hajar jadi sedikit penyok dan merah-merah akibat ulah mereka. Yang paling mengenaskan adalah putingnya, sekarang sudah tidak ada lagi ASI yang keluar dari sana. Botak dan Bedu sudah menghabiskannya. Entah dengan apa Hajar akan menyusui anaknya nanti. Sementara Tatto yang sejak tadi sudah tak sabar, segera memperkosa mulut Hajar kembali hingga perempuan cantik berj****b lebar jadi tidak bisa mengeluh dan bersuara sama sekali. Mamat dengan santai duduk di kursi meja rias menyaksikan ulah keempat anak buahnya sambil menghisap rokok kreteknya kuat-kuat.

Tidak lama, terdengar erangan nikmat Tatto, "Ohh… ahh… gua mau keluar nih... yang enak ngemutnya!" Dengan kasar ia terus menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam mulut Hajar yang mungil.

”Ah, payah loe. Bentar aja udah keluar!” ejek Joki. Tangannya masih dengan setia menyodok-nyodok memek Hajar menggunakan mentimun.

”Loe belum ngerasain sih gimana enaknya mulut nih cewek.” balas Tatto, tak mau dikatakan lemah. Sambil terus menggerakkan penisnya cepat di mulut Hajar, ia pun orgasme. Tatto melepaskan spermanya di mulut Hajar. Tapi karena begitu banyaknya, sebagian tumpah membasahi wajah cantik Hajar yang masih tertutup j****b lebar. Hajar kembali harus menelannya kalau tidak mau tersedak.

Mamat yang saat itu sudah kembali birahi, berjalan mendekat ke arah ranjang. Penisnya yang hitam panjang tampak sudah mengacung tegak. Sambil mengelus-elusnya, ia berkata pada Joki. "Eh, Jok, geser loe. Gua mau cobain memeknya."

Sebagai anak buah, Joki tidak bisa membantah. Meski masih ingin mengobel vagina Hajar lebih lama lagi, ia terpaksa menggeser tubuhnya. Ia bertukar tempat dengan Tatto yang sekarang sudah duduk keenakan di lantai. Joki menusukkan penisnya ke mulut Hajar dan meminta wanita cantik itu untuk mengulumnya. Tidak bisa menolak, lagi-lagi Hajar melakukannya. Mulutnya dengan sigap mulai mengelomoti kontol besar Joki. Sementara di bawah, Mamat sedang berusaha membuka kedua kakinya agar vagina Hajar terpampang lebih jelas lagi. Memposisikan tubuhnya, Mamat kemudian mengarahkan penisnya yang sudah kembali keras ke arah lubang sempit itu.

Hajar berusaha meronta sebisa mungkin saat ujung kontol Mamat mulai terasa mendesak masuk ke celah bibir vaginanya. Diperkosa di mulut, mungkin ia masih bisa menerima. Tapi ditusuk di kemaluan, Hajar sama sekali tidak bisa menoleransi. Sekuat tenaga, ia berusaha untuk memberontak. Tapi apalah daya seorang wanita melawan tenaga lima orang lelaki, dengan cepat mereka meringkus Hajar dan menghadiahinya sebuah pukulan keras di perut untuk membuatnya diam. Merintih kesakitan, Hajar langsung berhenti meronta.

"Diam! Bego loe..." ancam Botak. Rupanya dia yang barusan menghantam perut Hajar.

Tersengal-sengal, Hajar menganggukkan kepalanya takut-takut. Di bawah, begitu Hajar sudah tenang, dengan satu kali dorongan keras, Mamat menyodokkan penis besarnya memasuki liang vagina perempuan cantik itu.

Kontan Hajar menjerit keras, "Arghh... sakit! Hentikan... jangan… ampun..." merintih-rintih, ia kembali meronta. Tapi apa daya, itu tidak bisa menghentikan perbuatan Mamat yang terus asyik memperkosa dirinya. Malah Mamat terlihat menikmati segala jeritan dan rontaan Hajar. Ia menyeringai setiap kali Hajar menjerit kesakitan. Bahkan ia melarang saat Botak ingin memukul Hajar lagi untuk membuatnya terdiam.

”Jangan! Lebih enak begini!” mendengus-dengus, Mamat menggenjotkan penisnya semakin keras. Memek Hajar yang sempit terasa mencekik batangnya, tapi bukannya sakit, Mamat justru sangat menikmatinya. Vagina seperti inilah yang ia cari sejak dulu. Mamat tak pernah menyangka kalau akan mendapatkannya dari Hajar, wanita alim berj****b yang sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya.

Melihat sang boss bertindak kesetanan, perampok yang lain jadi ikut tergoda untuk menyakiti tubuh molek Hajar. Mereka dengan suka cita mencubit, meremas, mengigit, dan menampar-nampar seluruh tubuh Hajar secara bergantian. Hajar yang menjerit-jerit penuh permohonan sama sekali tidak mereka hiraukan. Berlomba bersama Botak, Bedu terus memainkan buah dada Hajar dengan menghisapi putingnya kuat-kuat sambil sesekali menarik dan menggigitnya penuh nafsu dengan menggunakan gigi mereka yang tonggos dan tidak rata.

"Aahhh... ampun! Ahhhh... sakit… hentikan..." jerit Hajar pilu. Di atas, penis besar Joki menampari wajahnya, juga pipi dan hidungnya hingga membuat Hajar jadi sedikit kesulitan bernafas. Ia terus mengerang kesakitan, tapi keempat perampok yang mengerubunginya sama sekali tidak menunjukkan rasa kasihan. Mereka terus menyerang dan membelai tubuhnya penuh nafsu. Bahkan sekarang Botak ikut meniru Joki dengan mengolesi muka Hajar mengginakan ujung penisnya. Bedu yang mendapat jatah kedua bukit kembar Hajar terlihat senang sekali. Ia tersenyum gembira dan langsung menelusupkan mukanya di belahannya yang empuk, sambil jari-jarinya tak henti memijit dan menarik-narik putingnya.

Tubuh Hajar mengejang. Dua penis besar milik Botak dan Joki sekarang bergantian masuk ke dalam mulutnya. Hajar hanya bisa pasrah dengan membuka mulutnya lebar-lebar. Jika dia melawan, tubuhnya akan memar menjadi sasaran pukulan mereka. Beberapa menit kemudian, jeritan Hajar hanya tinggal menyisakan erangan dan rintihan pelan.

Di bawah, Mamat terus memperkosanya tanpa henti, tubuhnya terus bergerak semakin cepat untuk menusuk memek sempit Hajar. Setelah lama kemudian, saat Hajar sudah benar-benar lemas, barulah laki-laki itu menarik penisnya hingga hampir terlepas, lalu sambil mengerang, mendorongnya maju secepat mungkin dan menusukkannya sekuat tenaga ke belahan vagina Hajar.

Kepala Hajar sampai terdongak menerimanya. Jeritan melengking kembali terdengar dari mulutnya. Hajar melolong panjang dan terkejang-kejang. Di atasnya, Mamat ikut menggeram dan bergetar. Tubuhnya mengejang beberapa kali sebelum akhirnya terdiam lemas tak lama kemudian. Hanya Hajar yang tahu apa yang terjadi. Di dalam vaginanya, penis besar Mamat meledak dan menyemburkan spermanya yang hangat dan kental. Ketika perlahan laki-laki itu menarik keluar penisnya yang telah melayu, pejuh putih kental tampak ikut mulai mengalir dari liang vagina Hajar. Mamat terduduk lemas, tapi terlihat sangat puas. Dengan terengah-engah ia menyaksikan Botak dan Joki yang asik memperkosa mulut Hajar.

"Ohhh... gua udah gak tahan nih!" erang Joki, lalu melepas spermanya. Cairan itu muncrat membasahi wajah cantik Hajar, juga j****b putih yang ia kenakan yang kini sudah terlihat begitu lusuh dan lecek.

Tatto tertawa melihatnya. ”Benerkan apa yang gue katakan? Enak banget kan mulutnya?” dia berkata pada Joki.

Joki mengangguk mengiyakan sambil terduduk lemas di tepi ranjang. Dia menunjuk pada Botak yang juga hampir ejakulasi, ”Kuat juga si Botak, bisa tahan menghadapi mulut kayak gitu!” gumam Joki.

Botak tersenyum bangga sambil membenamkan penisnya dalam-dalam ke mulut manis Hajar. ”Siapa dulu dong, gue!” Selesai berkata, dia menyemburkan spermanya tepat di kerongkongan Hajar. Dan sekali lagi, tanpa perlu disuruh, Hajar langsung menelannya. Rasanya dia sudah kenyang gara-gara terus-terusan meminum sperma para begundal itu, padahal masih ada satu orang lagi yang belum mendapat giliran, yang sekarang sedang asyik menyusu pada payudaranya.

Hajar memejamkan mata, berharap ini semua hanya mimpi buruk saat Bedu mulai mengambil posisi dengan merangkak di atas tubuh sintalnya, perlahan mulai menindih dan menusukkan penisnya. Tidak bisa berbuat apa-apa, Hajar hanya bisa pasrah saat Bedu mulai menyetubuhinya. Ia dapat merasakan bagaimana bibir vaginanya perlahan membuka dan penis Bedu yang besar sedikit demi sedikit mulai menerobos masuk ke dalamnya. Kegetiran kembali tercermin di wajah Hajar, tak menyangka kalau akan mengalami nasib begini buruk, pagi-pagi sudah diperkosa oleh lima orang begundal yang sama sekali tidak dikenalnya.

Tubuhnya seperti dirobek-robek saat Bedu mulai menggenjot tubuhnya naik turun perlahan-lahan. Begitu juga dengan harga dirinya. Tanpa terasa, air mata mulai meleleh di pipi Hajar. "Aghhh… sakit… aghhh…" ia merintih diantara isakannya.

"Lo jangan belagu deh! Kalo lo nggak suka sama punya gue atau punya temen gue tadi, kenapa baru sekarang ngomongnya! Terlambat tau!" bentak Bedu.

Perkataan itu membuat Hajar tersadar. Iya, kenapa baru sekarang? Sebagai istri yang solehah, seharusnya ia sudah menangis sejak tadi, bukan cuma meronta-ronta tapi tetap membiarkan diri menikmati perlakuan mereka. Hajar merasa begitu bersalah. Ia merasa sudah mengkhianati sang suami. Berpikir seperti itu, Hajar berniat untuk memberontak dan melawan kelima perampok. Ia tidak ingin diperlakukan seperti ini lagi!

Tapi baru saja ingin menggerakkan tangannya, Hajar merasa ada yang salah pada tubuhnya. Tangan itu tidak mau menuruti perintah otaknya. Bukannya mendorong Bedu menjauh, Hajar malah merangkul pria itu dan menariknya agar lebih menempel pada tubuhnya. Goyangan Bedu yang lembut dan sopan membuat Hajar terlena, ia bagaikan bercinta dengan suaminya saat menerima tusukan kontol Bedu. Tanpa sadar, Hajar malah menginginkannya alih-alih mengusirnya.

Hajar juga berpikir, dari tadi dia berusaha melawan, tapi tidak pernah berhasil. Dia tidak akan pernah bisa mengalahkan kelima orang itu. Kalau sudah begini, apalagi yang bisa ia lakukan selain melayani mereka. Dan daripada melakukannya dengan berat hati, bukankah lebih baik ia menyerahkan dirinya dengan ikhlas, toh hasilnya juga akan sama saja, mereka akan tetap memperkosanya secara bergiliran. Sekarang saja Tatto dan Botak sudah kembali mengerubunginya dengan penis mengacung tegak ke depan. Hajar menelan ludah saat melihatnya.

Ya, sepertinya hanya itu pilihan yang ia punya. Hajar cuma berharap ia bisa selamat dari musibah ini dan berharap tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ia alami. Di bawah, Bedu terus bermain dengan lembut, beda dengan Mamat yang kasar dan berangasan. Hajar menyukainya. Walau hatinya didera rasa takut, tapi karena perlakuan Bedu yang sopan, birahinya perlahan mulai naik. Hajar pun mulai memejamkan matanya untuk menikmati gesekan penis Bedu pada dinding-dinding vaginanya. Cairan cintanya yang tadinya mampet perlahan mengalir keluar, membuat persetubuhan mereka menjadi kian nikmat dan panas.

Mendengus keenakan, Bedu terus menggerakkan penisnya keluar masuk. Dia juga menciumi bibir Hajar yang berbau sperma teman-temannya sambil tangannya tak henti meremas dan memenceti payudara Hajar yang membulat indah, yang terus bergoyang-goyang seiring genjotan pinggulnya. "Nah, gini kan enak... daripada loe melawan, tak ada gunanya." ujar Bedu sambil terus menggerakkan penisnya dengan lembut.

Hajar memejamkan matanya, berusaha menikmati permainan pria itu. Terasa vaginanya mulai berdenyut pelan, tanda kalau ia akan segera orgasme tidak lama lagi. Bedu yang bisa merasakan kalau mangsanya sudah mulai birahi, terus menggoyangkan pinggulnya dengan lembut, ia berniat untuk memancing hasrat Hajar agar melenting lebih tinggi lagi. Bedu memang berpengalaman dalam menaklukkan wanita, jadi dia tahu bagaimana cara mengantarkan Hajar menuju ke puncak klimaks persetubuhan.

"Aghhh… aghhh… aghhh..." erang Hajar penuh kenikmatan, dibiarkannya mulut Bedu yang terus menjilati putingnya dengan lembut. Apa yang dilakukan laki-laki itu membuat birahinya semakin terlontar dan naik menuju langit.

Tatto dan Botak yang menonton permainan mereka, dengan setia menunggu sambil mengocok penis masing-masing. Di lantai, tenaga Mamat dan Joki tampaknya juga sudah pulih kembali. Penis mereka perlahan membesar dan mengacung tegak meski belum terlalu keras. Terutama Mamat, setelah keluar dua kali, dia jadi kesulitan untuk mengembalikan penisnya ke ukuran yang semula, padahal dia masih ingin mencicipi tubuh montok Hajar untuk yang terakhir kali.

"Sayang, loe sudah mau keluar yah?" tanya Bedu sambil terus menggerakkan penisnya di liang vagina Hajar dengan lembut.

"Ahhh... ahhh… ahhh..." hanya itu yang bisa keluar dari mulut Hajar sebagai jawaban.

Bedu mengerti, inilah saat yang tepat untuk menaikkan ritme goyangannya. Jadi, sambil berpegangan pada payudara Hajar yang bulat besar, ia pun melakukannya. Disodoknya vagina perempuan cantik itu dengan kecepatan dua kali lipat dari semula.

"Ahhh… ahhh… ahhh..." Hajar yang menerimanya menjerit semakin keras. Sesaat kemudian tubuhnya kembali kejang. Kali ini bukan karena semprotan sperma Bedu di dalam liang rahimnya, tapi karena ia benar-benar mendapat orgasmenya. Tanpa bisa ditahan, Hajar menyemprotkan cairan kewanitaannya, banyak sekali, juga sedikit kusam dan kental.

Bedu menahan genjotannya, memberi kesempatan pada Hajar untuk menikmati masa orgasmenya. Setelah dirasanya semprotan memek Hajar mulai sedikit mereda, ia pun kembali bergerak cepat, membuat Hajar kembali merintih dan mengerang-erang penuh kenikmatan. "Ahhhh… ahhh… pelan-pelan…" seru perempuan cantik itu.

Tapi Bedu tak peduli, dia terus bergerak cepat karena ia juga merasa akan melepaskan birahinya sebentar lagi. Menggeram keenakan, sambil menyusupkan mukanya di belahan payudara Hajar, Bedu menusukkan penisnya dalam-dalam dan menembakkan semua isinya disana. Hajar terkejang-kejang saat liang vaginanya kembali menerima sperma kental dari lelaki yang bukan suaminya itu.

Botak yang penisnya sudah pulih, segera menggantikan posisi Bedu. Laki-laki berkepala plontos itu segera merangkak ke atas tubuh Hajar, ia sama sekali tidak memberi kesempatan pada Hajar untuk beristirahat. Hajar yang sudah kehabisan tenaga menangis dan memohon agar mereka berhenti sejenak dan memberinya waktu untuk sekedar menarik nafas.

"Sebentar saja... tolonglah... ahh... s-saya sudah gak kuat lagi… ahhh... sakit!" rintih Hajar memelas.

Tapi Botak yang sudah terlanjur bernafsu sama sekali tidak menggubrisnya. Ia terus menindih Hajar dan meremas-remas buah dada perempuan cantik itu keras-keras hingga membuat Hajar menjerit kesakitan. "AHHGGG… sakit! Hentikan… tolong…" setelah persetubuhan lembut dengan Bedu, Hajar sama sekali tidak bisa menikmati kelakuan Botak yang kasar.

Tidak peduli, Botak malah menggigit dan menarik puting Hajar kuat-kuat. "AGHH... sakit… ampunnn…" membuat Hajar merintih semakin keras dan memilukan.

"Jangan berisik! Loe bikin gue gak mood aja!" bentak Botak tak sabar.

"Sudah, saya mohon... hentikan... ampun..." iba Hajar.

"Wah, loe dikasih ati minta ampela yah?" geram Botak. Dia lalu membalik tubuh Hajar hingga posisi wanita berj****b lebar itu sekarang menungging di atas ranjang. Botak memposisikan diri di belakangnya sambil kedua tangannya membelah pantat mulus Hajar yang masih perawan. Satu jarinya menusuk masuk ke dalam lubang anus Hajar yang masih sangat peret dan sempit.

Menyadari apa yang akan terjadi, Hajar langsung berusaha untuk meronta, tapi gerakannya sangat lemah karena tubuhnya memang sudah begitu kelelahan. Botak dengan mudah saja meringkusnya.

"Ahhhhgggg..." jerit memilukan keluar dari mulut Hajar, mengisi ruang tidur yang tidak seberapa besar itu saat Botak menusukkan penisnya dalam-dalam untuk merobek liang anusnya. Begitu kasarnya ia berbuat hingga liang Hajar sampai terluka dan berdarah. Tapi Botak sama sekali tidak mempedulikannya, ia malah terlihat sangat menikmatinya karena jepitan erat anus Hajar yang seperti memek perawan.

”Ughh...” Botak mendesah, ia benar-benar merasa nikmat. Dengan penuh nafsu ia menggerakkan penisnya dengan cepat keluar masuk di lubang anus Hajar yang kini sudah mulai sedikit terkuak lebih lebar.

Hajar menangis, merintih, pedih terasa di anusnya, tapi Botak sama sekali tidak peduli. Dia terus memperkosa Hajar dengan begitu buas. Tubuh Hajar yang sudah sangat kelelahan menjadi semakin lemah jadinya. Perempuan itu merintih kesakitan, tapi suaranya terdengar parau. Saat Botak ejakulasi dalam anusnya, barulah Hajar bisa bernafas lega, tapi tetap saja hatinya meringis pedih.

Botak mencabut penisnya dari anus Hajar, menyisakan spermanya yang bercampur dengan darah segar dari liang anus Hajar yang terluka. "Wah, gua udah puas, enak banget! Cobain deh!" ia berkata kepada Tatto yang dengan setia menunggu di tepi ranjang.

Tatto tertawa sambil menggeleng. "Enggak deh, gua mending entot memeknya." katanya menyahut.

"Oke, loe cepatan deh. Sudah dua jam kita di sini, nanti ketahuan orang." kata Mamat sebagai pemimpin para perampok itu. Laki-laki itu sudah menyerah, dia sudah tidak bisa ngaceng lagi, jadi buat apa berada disini lama-lama. Lebih baik mereka segera pergi sebelum ada yang curiga.

Tatto pun merangkak menghampiri Hajar yang sudah terlihat sangat lemah. Segera ditindahnya tubuh wanita cantik itu dan menusukkan penisnya ke liang vagina Hajar yang sempit. "Aahhh…" erang Hajar lemah, sama sekali tidak melawan.

Tatto mulai menggerakkan penisnya, menggesek vagina Hajar naik turun dengan penuh nafsu. Sekali lagi, Hajar hanya bisa mengerang lemah menerimanya. Jangankan menolak, membuka mata saja rasanya sudah snagat berat sekali baginya. Saat itulah, Mamat sengaja mengambil HP Hajar, meredial nomer HP suaminya. Setelah terdengar nada sambung, Mamat segera mendekatkan HP itu ke telinga Hajar.

"Hallo... haloo…" terdengar suara sang suami.

Hajar tak mampu menjawab, hanya bisa mengerang lemah.

Saat itu, Joki yang kembali bergairah ikut naik ke atas ranjang. Ia ingin memanfaatkan lubang anus Hajar yang kosong di kesempatan yang sempit ini. Dengan pelan Joki memasukinya sambil tetap membiarkan Tatto menggenjot dari atas. Tubuh mereka bertindihan seperti roti lapis, dengan Hajar terjepit berada di tengah-tengah.

"Aaaghhhh…" suara Hajar melengking tinggi saat Joki dan Tatto mulai menggerakkan alat kelamin mereka.

"Hallo, kamu kenapa, Sayang... ada apa?" tanya suaminya bingung dari seberang sana.

"T-tolong... tolong, Mas... a-aku diperkosa!!" kata Hajar dengan suara lemah.

Joki yang mendengarnya bergerak semakin liar, dari bawah ia menghentak-hentak keras liang anus Hajar, memberinya rasa pedih dan sakit yang tiada tara. "Ahhh… sakit... perih… ampun… sudah… kumohon..." erang Hajar pilu.

"Bilang jangan, tapi memek loe jadi banjir begini... dasar munafik!!" ujar Tatto yang terus memperkosa memek Hajar dengan kasar.

"Hallo… hallo… tunggu, Sayang... aku segera pulang…" kata suaminya panik mendengar suara erangan kesakitan Hajar.

Joki terus mengoyang batang penisnya di liang anus Hajar, membuat perempuan berj****b putih itu semakin tak mampu menahan rasa sakitnya. Di atas, Tatto juga bergerak semakin liar sampai akhirnya menyemburkan cairan kentalnya di memek sempit Hajar.

"Hahaha, gua seneng banget sama nih cewek." ujar Tatto penuh kepuasan.

Joki menyusul tak lama kemudian, sambil meremas kuat-kuat susu montok Hajar, ia menembakkan spermanya di lubang anus perempuan cantik itu.

Tertawa puas, kelima orang itu pun segera membenahi pakaian masing-masing dan bersiap pergi meninggalkan rumah Hajar. Waktu sudah semakin mepet. Suami Hajar pasti sudah dalam perjalanan pulang kemari. Mamat mengambil mentimun besar yang tergeletak di lantai. Dua mentimun, satu dimasukkan ke liang vagina Hajar dengan paksa dan satu lagi di anusnya. Hajar merintih kesakitan, tapi sama sekali tidak bisa menolak. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk berbuat apapun.

"Itu gua jadikan kenang-kenangan buat laki loe." kata Mamat sambil tertawa. "Biar laki eloe yang cabut tuh mentimun, hahaha…" tambahnya sambil berlalu dari kamar tanpa menutup pintunya.

Tak sampai dua menit, mobil box mereka pun berlalu. Kendaraan itu keluar dari garasi rumah Hajar dan berjalan pelan meninggalkan tempat itu dengan membawa barang-barang jarahan mereka. Di ujung gang, ketika mobil hendak keluar dari komplek perumahan, Mamat melihat sebuah sedan berjalan cepat diikuti sebuah mobil polisi dengan raungan suara sirine yang amat keras.

"Hahaha, gua yakin itu mobil suaminya." ujar Mamat pada anak buahnya. Kawanan perampok itu pun tertawa-tawa, merayakan keberhasilan mereka…
16.48 | 0 komentar | Read More
 
berita unik