Putri Malu

Putri Malu

Etiquetas

Tampilkan postingan dengan label ABG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ABG. Tampilkan semua postingan

Jalan Pintas Demi Kenaikan Kelas

Written By Unknown on Kamis, 27 Maret 2014 | 21.24



Perkenalkan namaku Nindy, mulai sekarang aku akan menceritakan pengalamanku dalam dunia seks yang menurutku sangat fantastis. Aku saat ini berusia 16 tahun dan bersekolah di sebuah SMA Negeri Favorit di sebuah kota besar di Jawa Timur yang terkenal dengan klub bola Arema, gampang ditebak bukan?
Menurutku, penampilanku sendiri hanya tergolong biasa saja, ukuran bra 34B, tinggiku 165 cm dengan berat badan 51 kg. secara penampilan fisik tergolong biasa saja bukan? Mungkin yang menjadi daya tarikku adalah kelakuanku yang centil, apalagi aku termasuk aktif di ekstrakurikuler cheerleader (dimana di ekstrakurikuler inilah aku kehilangan keperawananku, tapi itu akan kuceritakan nanti).
Kali ini aku akan menceritakan pengalaman seksku dengan guruku sendiri yaitu saat ujian kenaikan kelas. Ya, waktu itu adalah ujian kenaikan kelas dari kelas XI menuju kelas XII, aku sendiri mengambil jurusan IPA. Sebenarnya aku merasa cukup memiliki kemampuan dalam mayoritas pelajaran, hanya saja yang menjadi momokku adalah pelajaran sejarah. Aneh bukan? Aku ada di jurusan IPA tapi masih mendapat pelajaran sejarah. Ya itulah kebijakan kurikulum di sekolahku. Mau tak mau aku tetap harus belajar sejarah.
Yang menjadi momok utama dalam pelajaran sejarah adalah hafalannya. Bayangkan saja aku harus menghafalkan tahun perang-perang kemerdekaan, tokoh-tokohnya serta prosesnya. Oh My God ! itu adalah momok buatku. Walaupun sebenarnya guru sejarah di sekolahku cukup kece. Namanya Pak Ahmad, baru berumur 27 tahun dan baru saja diangkat menjadi PNS. Orangnya mengajar sejarah dengan metode yang tepat, tapi karena memang aku sendiri dari awal tidak suka sejarah, tetap saja aku ngeblank.
Kembali ke topik utama, saat itu adalah hari Sabtu, hari terakhir ujian kenaikan kelas, dan tentunya menunya adalah mata pelajaran sejarah. Ujian sendiri dimulai pukul 10.00, bergantian dengan adik-adik kelas X, sementara kakak kelas XII sudah menyelesaikan UNAS nya. Sejak awal aku sudah merasa pasrah dengan ujian ini karena seberapa keras pun aku belajar, tetap saja semua materi tidak ada yang bisa kupahami, seakan ada tembok besar di otakku. Merasa sudah tidak bisa berkompromi lagi dengan otakku, aku pun akhirnya punya pikiran licik. Bagaimana jika menggunakan metode “gratifikasi seks”. Aku merasa metode ini memang beresiko, bagaimana jika ternyata Pak Ahmad bukan tipe yang mudah tergoda dan malah melaporkan aku ke kepala sekolah, bisa-bisa aku ditendang dari sekolah ini. Tapi jika aku tetap mengandalkan “otak dengan tembok besar” milikku, aku pun terancam tidak naik kelas yang menurutku tidak jauh beda artinya dengan drop out.
Akhirnya berbekal sebuah alamat, jam 7 pagi aku meluncur dengan mobilku menuju rumah Pak Ahmad. Sesampainya disana, aku pun segera mengetuk pintu rumahnya.
“selamat pagi” sahutku sambil mengetuk pintu rumahnya.
“ya, siapa disana?” terdengar suara Pak Ahmad menjawab.
“ini Nindy pak, saya ingin berkonsultasi sejenak masalah materi sejarah” sahutku dengan alasan yang kubuat-buat dan penuh dengan strategi.
“oh ya, silakan masuk Nindy” Pak Ahmad berkata sambil membuka pintu. Kulihat Pak Ahmad sudah memakai seragam warna krem khas PNS.
“mohon maaf Pak, saya pagi-pagi kesini, saya ingin bertanya sedikit tentang materi sejarah, saya masih bingung”
“oh ya silakan duduk dulu Nindy, materi mana yang masih bingung?”
“ini pak, materi tentang peristiwa kembalinya Belanda ke Indonesia sesudah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, sebenarnya apa maksud Belanda kembali ke Indonesia itu pak” aku pun mulai berbasa-basi menjelaskan kebingunganku yang sebenarnya kubuat-buat sembari aku mulai agak menaikkan rok seragam pramukaku sehingga menampakkan tato lumba-lumba di bagian pahaku.
“wah kamu punya tato lumba-lumba ya, mirip Luna Maya aja” Pak Ahmad nyeletuk ketika melihat tatoku.
“Pak Ahmad doyan bokep juga ya, kok bisa tahu kalo Luna Maya punya tato lumba-lumba pak, hehehe” Aku berkata sambil nyengir, ternyata Pak Ahmad sudah hampir terperangkap dalam strategiku.
“ah kamu bisa-bisa aja nin, cowok mana sih yang ga suka bokep Luna Maya, dia cantik lagi kan”
“kalo sama nindy cantik mana pak? Pasti cantik Nindy kan? Hehehe”
“emang apa untungnya bilang kamu cantik?”
“bapak maunya apa dong? Apa maunya bapak pasti Nindy turuti, tapi Nindy juga pengen bonusnya ya pak”
“bonus apaan Nin? Kalo kamu minta bonus saya juga minta bonus dong”
“hmm, Pak Ahmad gak mau kalah ya, kalo saya sih cuma minta nilai Sejarah saya bagus pak, saya sebenarnya masih tidak paham masalah Sejarah”
“ooh, gampang kalo masalah itu, sudah kamu pulang saja dulu sekarang, nanti sehabis ujian kamu ke ruang guru ya temui saya”
“oke pak”
Setelah itu, aku pun langsung pulang karena waktu masih menunjukkan pukul 07.30, masih terlalu pagi jika ke sekolah. Sebenarnya dalam hatiku masih bertanya-tanya apa maksud Pak Ahmad memanggilku setelah selesai ujian. Tapi ah biarlah, yang penting ujian sejarahku bisa dapat nilai bagus.
Waktu pun dengan cepat berlalu, ujian sejarah yang amat sangat susah itu pun selesai. Jam menunjukkan pukul 11.30 ketika aku beranjak keluar dari ruang ujian. Tanpa menunggu lama, aku pun menuju ke ruang guru dan mencari Pak Ahmad. Pak Ahmad waktu itu terlihat sedang membaca koran di ruang guru karena peraturan di sekolahku guru mata pelajaran yang bersangkutan dilarang menjaga saat ujian. Mungkin dikhawatirkan terjadi “main empat mata”, misalnya dengan memberi kunci jawaban pada anak didik kesayangannya. Akhirnya tanpa basa-basi aku pun menghampiri Pak Ahmad.
“maaf Pak Ahmad, ada apa memanggil saya kesini setelah ujian”
“oh kamu Nindy, lebih baik kita menyelesaikan masalah ini di ruang BP saja biar enak tanpa gangguan” kata Pak Ahmad sembari beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ruang BP di sebelah ruang guru. Kebetulan saat itu semua guru BP sudah pulang karena lagi-lagi peraturan di sekolahku tidak mengizinkan guru BP untuk menjaga saat ujian. Guru yang tersisa di ruang guru pun hanya sekitar 5 orang selain Pak Ahmad dan mereka pun juga terlihat sedang berkemas-kemas untuk segera pulang. Maklum hari ini adalah hari Sabtu dan sudah menjelang siang.
Pak Ahmad tampak bergegas memasuki ruang BP dan aku pun segera memasuki ruangan tersebut. Dalam hatiku aku masih bingung, apakah Pak Ahmad benar-benar sudah memasuki perangkapku atau Pak Ahmad berniat memberikan “wejangan khusus” kepadaku karena perlakuanku yang “agak tidak sopan” ketika aku berkunjung ke rumahnya tadi. Tapi pikiran yang terbelah itu pun seakan semakin mengerucut ke satu hal ketika aku melihat Pak Ahmad celingukan di luar kemudian mengunci pintu. Yess, aku yakin Pak Ahmad sudah masuk ke dalam perangkapku. Sebagai gambaran, ruang BP di sekolahku ini merupakan ruang tertutup tanpa jendela dengan dua buah ruang khusus yang sepertinya kedap suara di dalam ruang BP ini. Tentunya dua ruangan khusus itu digunakan para guru BP ketika memberikan “wejangan khusus” terhadap anak didik yang perlu diberikan pembinaan.
Dengan tidak sabar Pak Ahmad segera menarikku menuju salah satu ruangan kedap suara tersebut hingga aku merasa tanganku sedikit sakit.
“aduh pak, sakit pak, ada apa bapak kok tergesa-gesa begini?” aku berkata sambil agak meringis kesakitan. Pak Ahmad terlihat mengunci pintu ruangan ini dari dalam tanpa menjawab pertanyaanku ini. Seketika kemudian, Pak Ahmad segera meremas payudaraku.
“pak, ada apa ini?” aku berkata agak jual mahal.
“sudahlah Nindy jangan sok jual mahal, kamu mau nilai sejarah kamu bagus kan? Gampang, bisa aku kasih nilai sepuluh asalkan kamu menemani saya tidur 3x. Yang pertama tentu sekarang, oke sayang?”
Aku pun hanya terdiam saja membiarkan tangannya mulai bergerilya. Satu tangannya meremas payudaraku dan satu tangan lainnya meremas kemaluanku dari luar. Aku rasa Pak Ahmad ini orangnya sangat berpengalaman dalam urusan seks karena gerilya tangannya amat terampil dalam merangsang hingga aku pun mulai melenguh merasakan kenikmatan.
“ouuuchhh, pak teruskan pak, aku milikmu sekarang”
“hehe tenang saja nin, aku pasti memuaskanmu hari ini” Pak Ahmad berkata sambil sesaat kemudian mencium bibirku dengan buas. Tangan Pak Ahmad pun mulai bergerilya mencopoti kancing seragam pramukaku sementara aku pun tak tinggal diam, aku juga melepas kancing kemeja seragam PNS nya.
Ketika semua kancing bajuku sudah terlepas semua, Pak Ahmad tidak melepaskannya, tetapi ia justru kembali merangsang kemaluanku dari luar dengan agresif sehingga aku pun mulai melenguh lagi.
“aaaaah paaaaaak” aku pun berteriak ketika merasakan kenikmatan luar biasa itu. Pak Ahmad sungguh sangat terampil memancing nafsu seksku. Tak terasa vaginaku pun mulai basah oleh cairan cintaku.
Melihat aku yang mulai terangsang hebat, Pak Ahmad mengarahkan tanganku untuk meremas kemaluannya yang terasa sudah tegang. Sepertinya kemaluannya cukup besar jika kuraba.
“gimana sayang, sudah gak sabar pengen dimasukin kontol kan?”
Melihat aku hanya diam saja ketika ia bertanya seperti itu, ia pun memberikan sinyal agar aku berbaring di meja. Meja di ruangan khusus itu cukup besar sehingga ketika aku berbaring disitu pun kakiku masih bisa selonjor dengan nyaman.
Ketika aku sudah berbaring, Pak Ahmad pun mulai menyibakkan rokku ke atas dan mulai melepas celana dalamku yang basah oleh cairan cintaku.
“wow sayang, vaginamu sudah memanggil-manggil kontol papa untuk segera dimasukkan” Pak Ahmad berkata sambil melepas ikat pinggang, memelorotkan celanan kremnya hingga lutut dan mengeluarkan sang burung dari sangkarnya. Dan benar saja, kontol Pak Ahmad tampak cukup besar.
Sejurus kemudian Pak Ahmad menyodorkan kontolnya di depan mukaku, sepertinya berharap aku akan melakukan blow job di kontolnya.
“ayo sayang dikulum dulu dong kontol papa, biar gampang masuk goanya”
“ih papa, Nindy gak pernah blow job, kontol kan sarang bakteri, nanti kalo masuk mulut Nindy jadi penyakit dong, Nindy ludahin aja ya terus dikocok.” Aku berkata dengan sehormat mungkin agar Pak Ahmad tetap merasa nyaman. Aku memang belum pernah melakukan blow job selama aku ML, baik itu dengan Ricky cowokku maupun dengan Anton, kakakku (cerita seks dengan mereka berdua akan aku ceritakan di bagian lain).
“iya deh sayang, tp harus sampe keluar precum ya sayang”
Aku pun mulai meludahi kontol Pak Ahmad dan mulai mengocoknya. Aku memang tak pernah blow job, tapi masalah mengocok kontol, aku cukup ahli. Ricky pun pernah sampai orgasme hanya dengan kukocok dengan metode meludahi ini. Terbukti tak berapa lama Pak Ahmad mulai melenguh dan keluarlah cairan precum itu. Merasa kontolnya sudah terlayani dengan baik oleh tanganku dan sudah keluar precum, Pak Ahmad mulai mengarahkan kontolnya menuju guaku.
“sayang, papa masukin ke gua ya”
Aku pun hanya diam saja sambil memejamkan mata hingga mulai terasa kontol Pak Ahmad mulai berpenetrasi memasuki liang kenikmatanku. Memang aku sudah tidak perawan dan sudah sekitar 5x ML, tapi vaginaku masih cukup seret sehingga kontol Pak Ahmad masih cukup kesulitan untuk memasuki liang kenikmatanku.
“uh sempit banget lubang guanya sayang, papa suka ini”
Dengan beberapa kali percobaan, mulailah kontol Pak Ahmad masuk ke dalam gua milikku.
“uuggghh pak, pelan-pelan pak, terasa agak sakit”
“iya sayang, sabar ya, gua milikmu sempit banget sayang, kontol papa terasa diperes”
Dengan penuh kesabaran, Pak Ahmad melakukan penetrasi hingga semua batang kejantanannya masuk ke dalam vaginaku. Setelah semua batang penisnya masuk, Pak Ahmad diam sejenak.
“sayang, masih terasa sakit nggak? Kalo sudah nggak papa mulai goyang nih”
“uuugh, udah gak begitu sakit pak, cuma terasa penuh aja vaginaku”
“ya udah, papa genjot sekarang ya”
Tanpa menunggu jawaban dariku, Pak Ahmad mulai menggoyang pantatnya naik turun hingga batang penisnya keluar masuk dari liang kenikmatanku. Sungguh saat itu rasanya seperti terbang ke langit ketujuh. Apalagi Pak Ahmad menggoyang dengan sangat lembut, membuat aku merasakan kenikmatan berlapis.
“uuugghh, paaak, enaak bangeeet”
“sayaaang, memekmuu sereet bangeeet, kontol papaa kayaaak dipijaaat” Pak Ahmad berkata sambil terbata-bata, sepertinya ia juga merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Sekitar sepuluh menit Pak Ahmad menggoyang, aku pun mulai merasakan orgasme pertamaku dan berteriak dengan keras.
“aaaaaah paaaak, aku sampeeeeek”
“keluarkaan ajaa sayaaang”
Sejurus kemudian aku merasakan pipis, bukan sekedar pipis biasa, tapi disertai dengan rasa nikmat yang luar biasa.
Melihat aku mencapai orgasme pertamaku, Pak Ahmad pun berhenti dan mencabut kontolnya dari vaginaku.
“lho kok udahan pak?”
“sebentar sayang, papa mulai kegerahan meladeni kebinalan kamu, papa nyalakan AC dulu ya”
Terlihat Pak Ahmad memang berkeringat, sampai kemeja kremnya agak sedikit basah. Aku pun heran melihat Pak Ahmad melakukan aktivitas seks tanpa telanjang. Hanya membuka kancing kemeja dan memelorotkan celana panjangnya hingga selutut. Bahkan ia masih memakai sepatunya.
“pak, kok bajunya gak dilepas aja sih? Kan lebih enak kalo telanjang”
“papa habis ini buru-buru pulang sayang, ditunggu teman”
Setelah menyalakan AC, Pak Ahmad pun mulai melanjutkan aktivitas seksnya. Kali ini ia mulai dengan membuka braku dan melemparkannya. Dari tadi memang braku masih berada di tempatnya, hanya kancing kemejaku terbuka dan rokku tersingkap ke atas. Celana dalamku memang daritadi sudah dilepas oleh Pak Ahmad.
Setelah membuka braku, Pak Ahmad mulai menyusu dengan tak sabar di payudara kiriku, sementara payudara kananku diremas-remas oleh tangannya. Hal ini membuat aku kembali terangsang hebat.
“aaaaah paaaaak” aku hanya berteriak. Aku tak tahan dengan rangsangannya. Memang patut kuacungi jempol. Ia mampu membuat nafsu seksku bangkit dengan segera.
“paaaak, buruaaan masukiiin lagiii paaak”
Melihat aku merengek, Pak Ahmad pun segera memegang penisnya dan mulai mengarahkan ke vaginaku. Kali ini cukup lancar masuk karena vaginaku sangat basah oleh cairan orgasme pertamaku.
“aaah, paaak, goyaaang teruuuuss”
Pak Ahmad pun di ronde kedua ini tampak bersemangat sekali. Sepertinya tak sabar ingin segera menuntaskan permainan cinta ini. Aku pun merem melek merasakan kenikmatan. Kontol Pak Ahmad yang besar membuat gesekan antara batangnya dengan klitorisku terasa sangat sensasional. Hingga sekitar lima menit kemudian, aku pun mulai merasakan akan orgasme untuk kedua kalinya.
“paaaak, Nindy keluar lagiiiiii” aku berteriak diiringi keluarnya cairan cintaku untuk yang kedua kalinya.
Tapi kali ini Pak Ahmad tidak menghentikan goyangannya, justru ia makin agresif menggoyang hingga beberapa saat kemudian vaginaku terasa disiram oleh cairan hangat.
“aaaaah papaaa keluaaaaaar” Pak Ahmad berteriak sambil meremas-remas payudaraku. Terasa penisnya berkedut-kedut dan menyemprotkan cairan hangat berkali-kali.
Aku pun segera tersadar. Pak Ahmad rupanya mengeluarkan spermanya di dalam vaginaku.
“paaak, kok dikeluarin di dalem siiih? Kalo Nindy hamil gimana?” aku berteriak protes kepada Pak Ahmad yang ambruk di atasku. Aku sendiri tidak yakin apakah sekarang adalah masa suburku. Tetapi tetap saja sperma yang dikeluarkan di dalam vaginaku berpotensi membuahi sel telur.
“maaf sayang, papa hilang kesadaran, habisnya memek kamu seret banget” Pak Ahmad berkata dengan lembut dan dengan segera melumat bibirku. Aku pun tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya berharap spermanya mati semua sebelum bisa membuahi sel telur.
Setelah beberapa saat, Pak Ahmad beranjak sambil mengeluarkan penisnya dari vaginaku. Ketika aku melongok ke bawah, terlihat cairan putih keluar dari vaginaku dengan lumayan deras. Rupanya itulah kombinasi cairan cinta kami berdua. Melihat itu, Pak Ahmad segera mengambil celana dalamku dan mengusapkannya di lelehan cairan itu.
“paak, kok CD nya Nindy yang dipake bersihin?”
“gak papa sayang, buat kenang-kenangan aja, CD kamu papa ambil ya. Kamu pake CD papa aja nih, daripada memek kamu kedinginan” Pak Ahmad berkata sambil memelorotkan sepenuhnya CD nya dan melemparkannya ke arahku. CD ku ia pakai untuk mengelap kontolnya hingga bersih, kemudian ia pun memakai kembali celana panjangnya sambil merapikan kemejanya.
“lho pak, gak pake CD?”
“iya sayang, gakpapa kok, habis ini dipakai tempur lagi kontol papa. Untuk seks yang bagian kedua dan ketiga, nanti papa hubungi kamu lewat HP ya”
Aku masih agak tidak tersadar dengan ucapan Pak Ahmad. Aku pun segera bangun, memakai CD Pak Ahmad yang tentu saja kebesaran dan merapikan seragamku. Tak apalah CD nya agak kebesaran, yang penting vaginaku tidak kedinginan, hehehe.
Setelah merapikan diri masing-masing, kami pun segera keluar dari ruang BP, tentu saja dengan hati-hati agar tidak ketahuan. Untungnya sekolah sudah sepi. Kami pun berpisah di gerbang sekolah. Aku beranjak menuju parkir di samping gedung dan Pak Ahmad keluar dari gerbang menuju jalan raya. Sepintas aku lihat sesosok wanita berseragam PNS dihampiri oleh Pak Ahmad. Ah rupanya itu Bu Vonny. Aku pun mulai tersadar akan ucapan Pak Ahmad tadi. Sepertinya Pak Ahmad akan melanjutkan kegiatan percintaannya dengan Bu Vonny. Ah sudahlah, yang penting aku dapat bagian yang pertama.

tamat
21.24 | 0 komentar | Read More

Mbak Ine Yang Seksi I

Written By Unknown on Rabu, 26 Maret 2014 | 20.35



Pagi yang cerah itu Adi sendirian di rumah karena kuliahnya kosong hari itu, adiknya sudah berangkat sekolah, sedangkan orang tuanya pergi ke luar kota. Setelah bangun tidur (biasanya kalau libur dia bangun agak siang, kira-kira jam 9), Adi menuju kamar mandi. Segera disiramnya tubuhnya dengan air dingin yang segar. Selesai mandi dan berpakaian, dia menuju meja makan untuk sarapan. Setelah itu baca-baca koran sebentar, kemudian beranjak ke teras depan rumah. Sambil duduk-duduk, dia menatap ke rumah depan yang didiami oleh Mbak Ine dan suaminya Mas Anto, tetangganya yang sering bertandang ke rumah Adi untuk ngobrol-ngobrol bersama ibunya atau keluarganya.

Mbak Ine adalah wanita yang cantik berumur kira-kira 28 tahun. Dia adalah seorang ibu rumah tangga yang modern, yang selalu mengikuti mode, sedangkan suaminya Mas Anto adalah tipe pria pekerja yang kadang selalu lupa waktu dan keluarga. Mas Anto umurnya kira-kira 35 tahun. Mereka berdua belum dikaruniai anak dan di rumah itu hanya tinggal bertiga bersama seorang pembantu yang berusia kira-kira 20 tahun serta seekor anjing Dalmatian peliharaan Mbak Ine.

Mas Anto mempunyai perusahaan warisan orang tuanya yang cukup besar dan sukses, sehingga waktunya sering tersita untuk memikirkan perusahaannya daripada memikirkan istrinya yang cantik dan seksi kesepian di rumah yang cukup besar itu. Dia hanya ditemani pembantu dan anjing setianya. Adi sendiri adalah seorang mahasiswa komunikasi jurusan advertising di sebuah fakultas swasta terkenal.

Sambil melamun, Adi tiba-tiba ingat tugas fotografinya untuk mengambil obyek outdoor. Segera dia masuk ke kamarnya mengambil kamera dan kembali ke teras depan. Sambil berjalan di taman, dia mencari-cari obyek untuk dijepret, berharap ada kupu-kupu yang hinggap di atas bunga-bunga peliharaan ibunya. Nah, ada seekor kupu-kupu yang hinggap, segera dia pasang aksi seperti fotografer profesional untuk mengambil gambarnya. Baru asik-asiknya motret, Adi dikejutkan oleh sapaan Mbak Ine yang tiba-tiba saja sudah masuk ke dalam taman di rumahnya.
"Eeeh.. Dik Adi.. lho.. kok ngga kuliah..? Baru ngapain tuh, motret yah..? Mbok motret Mbak Ine aja yang cantik ini daripada motret kupu-kupu..!" sapa Mbak Ine.
"Aduh, saya kirain siapa.. bikin kaget aja Mbak Ine ini.. Anu Mbak, hari ini aku libur, eh.. Mbak Ine mau cari Ibu ya..? Baru ke luar kota tuh Mbak, pulangnya mungkin lusa." jawab Adi.

Sekilas Adi melihat dandanan Mbak Ine hari itu, cantik sekali dia dengan kaos you can see-nya yang memperlihatkan lengannya yang putih mulus dan rok mininya di atas lutut memperlihatkan kedua kaki jenjangnya yang berbetis indah dan berpaha putih mulus. Rambutnya yang panjang berwarna agak kemerahan digerai dengan bandana menghiasi kepalanya. Bibirnya yang seksi berwarna merah disapu lipstik merah tipis, pokoknya dahsyat deh dandanan Mbak Ine.

"Ahh.. enggak, Mbak cuma mau maen aja, abis bosen sendirian di rumah. Si Suli baru ke pasar, jadi Mbak nggak ada kegiatan apa-apa nih.."
"Lho.. Mas Anto apa udah berangkat Mbak..? Biasanya kan jam 10:00 baru ngantor..?" tanya Adi.
"Udah, tadi pagi-pagi sekali jam 8:00. Katanya mau meeting sama kliennya di kantor. Paling pulangnya juga baru ntar malem.." jawab Mbak Ine sambil menghela napas panjang.
"Dik Adi ngapain motret bunga segala..?" sambung Mbak Ine.
"Ini nih Mbak, buat tugas mata kuliah fotografi. Motret obyek outdoor..!" jawab Adi.
"Kalau gitu motret Mbak Ine aja, Mbak kan nggak kalah cantik sama model-model cover girl di majalah itu, ya nggak..?" sahut Mbak Ine.
"Iya deh, Adi percaya kok kalau Mbak cantik, seksi lagi.. tapi apa Mbak bersedia buat modelku. Kan ini nanti hasilnya untuk didiskusikan di depan kelas, Mbak.."
"Kenapa enggak.. siapa tau nanti ada produser atau talent scout atau dosenmu yang tertarik untuk mengontrak Mbak. Kan Mbak jadi terkenal.. hi.. hi.. hi.." canda Mbak Ine.
"Ngomong-ngomong kamu bilang tadi, Mbak seksi ya..? Apa bener githu..?" sambil tangan Mbak Ine mencubit pinggang Adi.
Adi hanya tersenyum, dan kemudian menarik tangan Mbak Ine untuk mengarahkan gayanya jadi model pemotretan.

Setelah 15 frame diambil Adi, sekarang Mbak Ine malah yang aktif merubah sendiri gayanya. Dia tundukkan badannya ke depan sambil tangannya menyangga tubuhnya di bebatuan kolam, rambutnya dibiarkan tergerai ke belakang. Tatapan matanya tajam ke depan menatap kamera, sedangkan bibirnya yang sensual terbuka sedikit. Adi mengambil posisi di depan Mbak Ine, dia terperangah memandang pose Mbak Ine sambil gemetar memegang kamera. Karena dari pose itu terlihat jelas gundukan payudara Mbak Ine yang kenyal dan indah itu menggantung di balik kaos you can see yang berpotongan leher rendah. Melihat keindahan duniawi itu, membuat Adi menelan ludah dan segera mengabadikannya sebanyak 5 frame.

Setelah ganti pose, sekarang Mbak Ine duduk di atas bebatuan kolam sambil mengangkangkan kakinya lebar-lebar tapi tangannya diletakkan di depan selangkangannya sehingga menutupi celana dalamnya. Kepalanya dimiringkan sedikit dan bibirnya terbuka, tatapannya sayu seakan mengajak untuk tidur. Disuguhi pemandangan seperti itu, Adi blingsatan sendiri. Paha Mbak Ine yang mulus sekali serta betisnya yang indah, membuat Adi yang penggemar betis indah cewek ini ingin mengelus dan mengecup serta menjilatinya. Celana dalam Mbak Ine yang mengintip nakal berwarna ungu, nampak menggembung indah menggambarkan bukit kemaluannya walaupun sedikit terhalang oleh tangan Mbak Ine. Payudara Mbak Ine yang mengkal berukuran 34B, tampak tercetak jelas dihimpit kaos ketatnya. Tanpa disuruh lagi, si Adi yunior di balik celana pendeknya menggeliat bangun.

Setelah beberapa kali mengambil gambar, Mbak Ine melontarkan usul, "Dik Adi gimana kalo kita ganti setting? Ke rumah Mbak aja.. kan nanti bisa di kolam renang segala. Entar Mbak bikinin spagheti kesukaan kamu deh.. gimana..?"
Adi terdiam sejenak, kemudian mengangguk setuju. Lalu Adi membereskan kameranya dan mengunci pintu rumah. Selanjutnya Adi mengikuti langkah Mbak Ine dari belakang. Sambil berjalan Adi menatap Mbak Ine yang berjalan di depannya, sungguh seksi sekali wanita ini. Cara berjalannya, lenggak-lenggok pinggulnya, pantatnya yang padat bulat tercetak ketat di rok mininya, paha mulusnya, betis indahnya, ooh, sungguh indah. Ingin rasanya Adi menikmatinya.

Setelah masuk di dalam rumah, Mbak Ine mempersilahkan Adi menganggap sebagai rumah sendiri dan meminta Adi menunggu sebentar untuk ganti pakaian. Adi pun duduk di ruang tengah sambil nonton siaran TV kabel yang tidak terdapat di rumahnya. Adi memandang kagum rumah besar yang dihiasi perabotan moderen itu yang menggambarkan kesuksesan bisnis Mas Anto. Siro, anjing Dalmatian Mbak Ine tampak berlari-lari kecil menghampiri Adi dan duduk tenang di sisi kaki Adi. Tidak lama, Suli pembantu Mbak Ine yang sudah pulang dari pasar, membawakan minum untuk Adi.
"Monggo lho Mas Adi.. diminum dulu airnya.. saya ke belakang dulu, mau masak."
"Ehm.. iya Sul.. makasih yaa.. kamu udah pulang to..?" jawab Adi.
Suli ini memang usianya tidak berbeda jauh dengan Adi, dua tahun lebih muda dari Adi. Suli berasal dari Jawa Tengah, manis orangnya, putih kulitnya dan bisa dibilang seksi juga. Kalau diberi nilai, yah.. 6 lah..! Adi sering juga mengintip si Suli ini kalau sedang menyiram taman dengan menggunakan celana pendek yang memamerkan paha mulusnya dan kaos ketat bekas pemberian Mbak Ine yang menampakkan gundukan payudaranya. Benar-benar terlihat masih murni dan belum terjamah lelaki.

Tidak lama kemudian, Mbak Ine turun dari kamarnya di lantai atas mengenakan jas kamar dan kemudian menghampiri Adi, lalu duduk di sebelahnya. Mbak Ine kemudian mengobrol sebentar dengan Adi, dan berkeluh kesah serta curhat tentang kesepiannya ditinggal oleh Mas Anto yang super sibuk. Hingga tidak disangka, Mbak Ine tanpa risih pun bercerita tentang kehidupan seksualnya bersama suaminya kepada Adi. Adi pun walaupun segan, tetap berusaha mendengarkan dan menghibur Mbak Ine. Sesekali sambil curhat, Mbak Ine duduk tidak beraturan hingga jas kamarnya tertarik dan tampaklah paha putih mulus yang dihiasi bulu-bulu halus. Adi pun menelan ludah melihat keindahan itu, yuniornya mulai berontak di dalam celananya.

Tiba-tiba Mbak Ine seperti tersadar kemudian berkata, "Aduh.. sory ya, Di.. Mbak kok malah jadi curhat. Padahal tadi kita kan mau pemotretan ya..? Ayo deh, kita langsung aja ke kolam renang di belakang," sambil menggeret tangan Adi menuju ke kolam renang.
Setelah sampai, Adi pun menyiapkan peralatannya, sementara Mbak Ine melepas jas kamarnya.
"Sudah siap Mbak..?" tanya Adi sambil membalikkan badan menatap Mbak Ine.
Adi terkesiap melihat Mbak Ine memakai bikini yang hanya menutupi sedikit payudaranya dan secarik celana dalam menutupi kemaluannya hingga bulu-bulu kemaluannya sedikit keluar dari celana yang bisa dibilang hanya seperti secarik kain itu. Kontan yunior Adi pun berteriak, "Merdekaa.." mengacungkan kepalannya, berdiri tegak di dalam celananya sehingga tampak sedikit menggembung bila dilihat dari luar.

Mbak Ine yang melihat Adi melongo memandangnya hanya senyam-senyum saja, apalagi ketika Mbak Ine melihat tonjolan di celana Adi akibat kepalan merdeka yunior Adi.
"Heh.. Di.. ati-ati, ada lalat masuk mulut kamu ntar.." Mbak Ine menyadarkan Adi.
"Ehh.. Ehhmm.. ii.. iiya.. ya.. Mbak.." jawab Adi gelagepan.
Mbak Ine sengaja jalan melenggak-lenggok di depan Adi dan kemudian merebahkan diri di sisi kolam renang sambil mengangkangkan kakinya untuk menggoda Adi. Adi hanya bisa melotot menyaksikan tubuh indah Mbak Ine.
"Di.. ayo cepetan doong.. dipotret. Kamu tuh kayak nggak pernah liat cewek pake baju renang aja..!"
"Iii.. ii.. iiyaa.. iyaa.. Mbak.." sambil tangannya gemetar memegang kamera dan menekan tombol.
Akhirnya, setelah satu rol film dihabiskan di kolam renang, Mbak Ine tanpa memakai jas kamarnya lagi, menarik tangan Adi ke dalam lalu dibawanya ke lantai atas masuk ke kamarnya.
"Eh.. Mbak mau kemana niih..?" tanya Adi.
"Ssst.. udah diem aja, nanti kamu tau sendiri..!" jawab Mbak Ine.

Bersambung . . . .
20.35 | 0 komentar | Read More

Lucky I



Melihat dari judul, mudah-mudahan anda tidak mengira bahwa aku akan mempromosikan keindahan kota Singapore karena itu hanyalah sebuah judul belaka. Namaku adalah Joe dan aku di Singapore bekerja sebagai agen asuransi. Para pembaca yang budiman, aku ingin menceritakan pengalamanku yang baru terjadi hari ini. Anda bisa menganggap ini hanya cerita fiksiku atau impianku, tetapi yang pasti aku baru saja mengalami kejadian ini.

Hari ini pimpinan perusahaan tempatku bekerja menyarankan agar aku kembali ke Jakarta untuk mencari client di Indonesia, tentunya keberangkatanku ke Singapore dibiayai oleh perusahaanku, makanya aku tidak ada masalah pergi ke Jakarta karena aku juga bisa bertemu dengan keluargaku di Jakarta. Setelah aku memesan tiket perjalanan ke Jakarta, aku kembali ke apartement-ku untuk menemui tante kost-ku. Aku menunggu tante kost-ku di apartement dan tiba-tiba ada ketukan di pintu kamarku. Ketika aku membuka pintunya, ternyata di depan ada 3 rekan kerjaku yang semuanya wanita. Aku sempat kaget karena aku merasa tidak pernah mengundang mereka. Mereka adalah Eunice, Jacelyn dan Lily. Rekan kerjaku semuanya telah menikah atau sudah memiliki kekasih, aku pun telah memiliki kekasih di Jakarta.

Mereka akhirnya masuk ke apartement-ku dan mereka mengatakan bahwa mereka ingin memberikan petunjuk dan nasehat selama aku di Jakarta. Aku mempersilakan mereka masuk ke kamarku dan supaya tidak menganggu teman seapartement-ku, aku mengunci pintu kamar.

Ketika mereka di kamarku, rupanya aku secara tidak sengaja menyalakan DVD karena letak saklar lampu, saklar DVD dan TV berdekatan satu sama lain. Aku sempat malu kepada mereka apalagi ketika aku menyalakan saklar itu, TV dan DVD langsung menyala dan muncullah gambar sepasang orang Jepang sedang bercinta. Percakapan kami langsung terhenti dan perhatian mereka bertiga langsung terfokus kepada TV yang sedang menyala sedangkan aku sudah tidak bisa mengeluarkan kata-kata karena aku malu sekali.

Tetapi aku sungguh sangat terkejut melihat perlakuan mereka bertiga karena setelah 10 menit mereka melihat film VCD porno tersebut, aku dapat melihat sebuah pemandangan yang sangat merangsang. Ketiga rekan kerjaku sedang mengelus-elus bagian kelamin mereka yang tertutup oleh celana dan rok mereka masing masing. Melihat kejadian ini, aku sungguh terangsang dan penisku langsung berdiri.

Tiba-tiba rekan kerjaku yang bernama Eunice mendekatiku dan langsung menabrakku yang sedang terbengong-bengong dan menciumku. Dengan secepat kilat, dia mengecup bibirku dan memainkan lidahnya di dalam bibirku. Naluriku secara refleks langsung memainkan lidahnya sementara tanganku langsung memainkan payudaranya yang lumayan besar. Setelah kami puas berciuman, aku langsung menggendong dia sambil mendekati Lily dan Jacelyn yang saat itu sedang saling melakukan posisi 69. Sungguh suatu pemandangan yang erotis.

Sementara aku dan Eunice sedang asyik berciuman dan kami dengan nafsunya saling menelanjangi satu sama lain. Setelah tubuh kami tanpa busana, aku langsung menciumi payudara Eunice yang sudah terpampang lepas sementara jari-jariku dengan aktifnya berada di sekitar klitoris Eunice dan memainkan klitorisnya. Hal ini membuat kamarku menjadi penuh dengan suara desahan 3 wanita muda yang haus akan seks. Kuteruskan tanganku bergerilya dan kugesek-gesekkan di clitorisnya, kira-kira 15 menit aku bermain di lubang dan bibir kemaluannya, sambil setengah sadar dia berkata, "Aduh.. gelii.. gelii.. Joee".

Tanpa kusadari tangan dan liang kemaluan Eunice sudah basah dan berlendir, tangannya rapat memegang pundakku dan mulut kami telah beradu, sambil saling mengulum. Keadaan masih seperti semula aku duduk sedangkan Eunice setengah membungkukkan badannya dan lidah kami saling menari, mendesah tanpa rasa canggung lagi sementara tanganku masih bergerilya di lubang kemaluannya. Kusuruh Eunice untuk memegang sambil mengelus-elus burungku secara perlahan, sementara aku sudah nafsu sekali sambil tetap kukulum mulutnya hingga turun ke leher kujilati semuanya sampai akhirnya ke puncak gunung kembarnya, Eunice mengerang keenakan. Tangan Eunice tetap meremas dan mengelus burungku.

Setelah agak lama aku menyusu, lalu kubisikkan kepadanya, "Eunice bagaimana kalau burungku masuk ke sangkarnya..?"
"Eunice belum pernah melakukannya Joee., Eunice takut.."
Tapi berhubung aku sudah tidak kuat lagi maka kusuruh Eunice untuk mengulum burungku, kuturunkan Eunice dari atas ranjang, jongkok di bawah ranjang sambil kubimbing mulutnya untuk mengulum burungku.

Pertama dia agak ragu-ragu karena menurut pengakuannya belum pernah Eunice melakukan oral sex. Kukatakan padanya bahwa tidak apa-apa asal air maninya jangan di telan. Akhirnya dengan perlahan bibirnya mengecup ujung burungku dan dengan sangat berhati-hati dimasukkannya burungku ke dalam mulutnya. Kusuruh ia bervariasi untuk menjilati batang kemaluan dari ujung lubang kemaluan sampai buah pelirku.

Kira-kira 15 menit Eunice mengulum burungku sambil kupegang kepalanya dan kadang kupelintir puting susunya sambil tiduran di lantai dan memelukku erat. Kuarahkan batang kemaluanku menuju lubang kenikmatannya yang masih basah, dengan sedikit tekanan, terasa secara perlahan batang kemaluanku memasuki lubang kenikmatannya yang hangat dan ketat. Terasa batang kemaluanku diremas-remas oleh otot-otot liang senggamanya. Kuayun maju mundur dan diikuti gerakan pinggul Eunice yang juga mengayun-ayun, kucium bibirnya yang indah, gerakanku dan Eunice semakin menggebu.

Kita berdua saling menindih dan berguling tanpa terlepaskan lagi, gerakan demi gerakan antara pinggul Eunice dan pinggulku terus bergulir, dan akhirnya terasa ujung batang kemaluanku mulai berdenyut-denyut tak tertahankan, "Eeeuchh..", kuteriakkan perasaanku yang tertahan selama ini, bersamaan teriakan klimaks Eunice yang semakin membuatku terangsang, kurasakan cairan spermaku memancar keluar dengan kerasnya dan terasa jepitan yang mengeras di sekeliling batang kemaluanku, serta getaran mengejang dari badan Eunice. Akhirnya kita berdua terkulai lemas, kuakhiri permainan cinta ini bersamanya dan dia mulai memakai kembali pakaian kerjanya dan minta izin untuk pergi ke kamar mandi yang tidak jauh dari kamarku.

Kudekati Lily dan Jacelyn setelah Eunice meninggalkanku sehingga aku leluasa menempatkan wajahku persis di depan liang kemaluan Lily, kulebarkan kedua pahanya, kusibakkan bulu halus warna hitam dan kutempatkan lidahku yang mulai basah persis di lubang kenikmatan Lily, kumasukkan sedikit, kugerak-gerakkan ujung lidahku, Lily menggelinjang, kemudian dengan tiba-tiba kusapu lidahku ke atas, ke arah biji kecil di atas lubang nikmat itu, Lily memekik, "Ooouuhh.. Joee.. sshh.." erangnya sambil terus mencium Jacelyn. Lututku sedikit sakit kerena bersimpuh, kemudian dengan lidah masih menyapu permukaan kemaluan Lily, kumiringkan posisi badanku sehingga lonjoran kedua kakiku menuju arah Jacelyn berada, terasa sekali barangku manggut-manggut memukul-mukul perutku.

Kedua tangan Lily menjambak rambutku, kuputar-putar lagi ujung lidahku di lubang kecil kemaluan Lily, kumainkan biji kecil di atas lubang kenikmatan Lily dengan tangan kiriku sedangkan tangan kananku meremas-remas buah dadanya. Lily, semakin keras menggelinjang, kadang kedua kakinya menjepit kepalaku. "Joee.. oohh.. lebih keras Joee.. sshh". Tiba-tiba terasa ada yang mengenggam batang kemaluanku, dan sesuatu yang hangat dan lembut menyapu kepala kemaluanku. Ternyata Jacelyn tak mampu hanya berdiam diri. Aku semakin giat memainkan lidahku di sekitar kemaluan Lily, begitu juga dengan Jacelyn yang sedang berusaha memasukkan seluruh batang kemaluanku ke dalam mulutnya, aku yakin Jacelyn tidak berhasil walaupun kurasakan ujung kepala kemaluanku menyentuh tenggorokan Jacelyn.

"Sekarang Joee.. ohh.. sekarang Joee.." kata Lily sambil menjauhkan wajahku dari barangnya, kemudian Lily tiduran di atas sofaku dengan kaki kanan dinaikkan di sandaran sofa dan kaki kirinya menjulur ke lantai. Aku masih belum bisa bangun karena Jacelyn masih sibuk dengan barangku. Akhirnya kuraih kepala Jacelyn dan mengangkatnya, kukecup bibirnya yang berlepotan air liurnya, kumainkan lidahku di dalam mulutnya, kuremas buah dadanya, Jacelyn memejamkan matanya. Cantik juga si Jacelyn ini, kataku dalam hati.

"Ayo Joee.. cepat.. sini", Kudengar Lily memohon kehadiranku. Melihat posisinya yang demikian, aku merasa kurang enak, kemudian kuhampiri Lily, kuraih tangannya untuk berdiri, kemudian kuputar badannya agar membelakangiku dengan lutut di atas sofa tapi masih belum pas, entah karena pahanya kepanjangan atau sofaku ketinggian, maka kulebarkan lagi kedua pahanya dengan demikian posisi liang kenikmatannya agak rendah.

Kuarahkan ujung barangku ke lubang kenikmatan Lily, kutekan, agak susah, kuambil air liurku dengan dua jariku, kuusapkan di sekitar liang senggama Lily, kutekan lagi batang kemaluanku, masuk sedikit kepalanya. "Ssshh.. pelan-pelan Joee.." Kata Lily. Aku tak menjawab, hanya kutekan lagi batang kemaluanku, masuk sudah semua kepala barangku, Lily mendesah lagi. "Ooohh.. Joee.. sshh.. aahh" Kutarik keluar seluruh batang kemaluanku hanya kepalanya saja yang sedikit menempel di permukaan kemaluan Lily, kumajumundurkan batang kemaluanku, agar semakin licin, itu membuat Lily semakin tak bisa diam.

Kemudian aku dipeluk dari samping oleh Jacelyn. Mulutnya menciumku pipiku, kemudian lidahnya dimainkan di telingaku, aku merinding geli. Tangan kiri Jacelyn memainkan pangkal barangku sambil mengusap-usap bulu lebat barangku sedangkan tangan kanannya mengusap-usap bongkahan pantatku. Nikmat sekali rasanya. Akhirnya setelah aku merasa benar-benar licin barangku, maka kutekan terus, kutekan lagi. Lily tersentak, "Joee.. pelan-pelan Joee.. aahh" Aku tidak perduli kutekan terus, Aku tak tahan, aku hampir keluar, kutarik setengah barangku, kemudian dengan tiba-tiba kutekan seluruh barangku sambil tanganku menarik pinggul Lily.

Lily berteriak "Aaahh.. sakiitt.." Jeritnya. Kutarik seluruh barangku dari dalam liang kemaluan Lily, kuminta Jacelyn untuk mengocoknya. "Kocok Jass.. yah.. begitu.. yah.. oohh.. terus Jass.. oohh" Sofaku berlepotan air nikmatku, aku tak peduli. "Aku belum dapat Joe.." Protes Lily sambil berbalik ke belakang dengan meringis karena liang kenikmatannya masih terasa perih. "Bikin barangku berdiri lagi" Tantangku pada Lily. Jacelyn membersihkan tangannya yang berlepotan air nikmatku dengan celana dalamku. Kemudian Jacelyn membersihkan barangku dengan tangannya "Uuh, lengket sekali Joe", kata Jacelyn, sambil mendekatkan mulutnya ke arah barangku. Aku merasa ngilu sekali. Aku ingin protes tapi, kubatalkan. Aku minta Jacelyn untuk menyetop kegiatannya.

Kemudian aku telentang di atas lantai karpet, kuminta Lily untuk menghisap lagi barangku. Sedangkan Jacelyn kusuruh untuk mengangkangkan liang kenikmatannya di atas wajahku. Kusapu liang kemaluan Jacelyn, dengan lembut sambil berusaha untuk melihat wajahnya. Wajah Jacelyn penuh kenikmatan "Ssshh.. uuhh", rintihnya. Sedangkan Lily menaikturunkan mulutnya terhadap barangku, setelah dia yakin barangku sudah cukup keras, maka Lily memasukkan barangku dari atas, terasa sedikit seret karena kemaluan Lily sudah mulai kering. Kuminta Lily untuk membasahi lagi barangku dengan air liurnya.

Setelah itu aku benar-benar merasakan gesekan yang begitu nikmat dari liang kenikmatan Lily terhadap batang kemaluanku. Tanganku meraih kedua buah dada Jacelyn yang menggeleng-gelengkan kepalanya, karena lidahku membuat nikmat tak terkira padanya. Gerakan naik turun Lily semakin cepat, "Aaacchh.. aahh" Rintihnya semakin cepat lagi, semakin cepat lagi dengan sedikit kasar kudorong tubuh Jacelyn agar telentang dengan kemaluannya berada ke arahku, kutusuk-tusukkan dua jariku ke dalam liang kenikmatan Jacelyn. Jacelyn mencabutnya, katanya sakit. Kemudian hanya satu jari saja yang kutusuk-tusukkan.

"Terus.. Joee.. terus.. oh.. oh.. terus.. oh .. oh.." Rintih Jacelyn. Bijiku terasa sedikit sakit karena hantaman pantat Lily yang semakin gila naik turun di atasku. "Aku.. aku.. aacch.. aku.. keluarr.. Joee.. oohh" Rintihnya. Akupun keluar, walaupun tidak banyak lagi air maniku hanya nikmat sedikit ngilu kurasakan pada barangku yang masih di dalam liang kenikmatan Lily. Jacelyn pun menarik tanganku agar jariku semakin dalam menusuk liang senggamanya. "Aaahh.. sshh" Desis Jacelyn pada puncaknya. "Kenapa kau biarkan aku keluar di dalammu?" Tanyaku pada Lily. Lily tidak menjawab karena masih mencoba merasakan sisa-sisa kenikmatan. Tak lama direbahkan tubuhnya di atasku sehingga aku dan Lily saling mendekap. Hening beberapa waktu. Kurasakan barangku semakin kecil di dalam liang kenikmatan Lily, semakin kecil lagi, kecil lagi, kemudian keluarlah barangku dari dalam liang kenikmatan Lily, sempat kurasakan geli yang nikmat seketika bersamaan keluarnya barangku dari Lily, begitu juga kudengar desis lemah dari mulut Lily. Aku sudah merasa berat dengan tubuh Lily, dengan perlahan kugeser tubuhnya ke samping.

Setelah Lily dan Jacelyn roboh tidak berdaya, kemudian datanglah Eunice dan aku menanyakan kenapa dia lama sekali dan dia memberitahuku bahwa dia sedang masturbasi di kamar mandi sewaktu aku sedang bercinta dengan Lily dan Jacelyn, tetapi dia belum mendapatkan klimaksnya karena dia tidak bisa puas hanya dengan masturbasi. Kemudian Eunice mendekatiku.

Bersambung . . . .
08.20 | 0 komentar | Read More

Linda, Marketing Manager Yang Menggairahkan



Perkenalkan namaku Roni (samaran). Aku adalah seorang WNI Keturunan yang berdomisili di kota D di pulau B. Umurku 30 tahun. Saat ini aku sudah mempunyai seorang istri tapi belum dikaruniai seorang anak. Aku dulu sangat suka bercinta dengan perempuan, tapi hanya terbatas pada orang yang aku kenal. Dan hanya hubungan ONE NIGHT STAND, alias cinta semalam. Salah satu pengalamanku ingin kubagikan pada para penggemar situs Rumah Seks. Dan kisah ini benar-benar aku alami. Akan aku coba menceritakannya.

Cerita ini dimulai dari kepindahanku ke Kota D di pulau B dari Kota S di Pulau J pada tahun 1997. Waktu itu aku baru berumur 25 tahun. Karena alasan untuk mengisi kekosongan di cabang perusahaan, aku dipindah tugaskan. Saat itu aku bekerja di salah satu perusahaan garment terbesar di Indonesia. Dan tugasku adalah sebagai marketing yang tugasnya mengorder atau menawarkan barang baru ke toko-toko besar maupun kecil termasuk departement store seperti Matahari, dll.

Suatu hari aku menawarkan order ke sebuah dept store yang cukup populer di kota D tersebut. Untuk menemui bagian pembelian aku harus melewati bagian resepsionist terlebih dahulu. Pada hari itu aku terkejut karena yang menjaga bagian tersebut tidak kukenal (karena biasanya adalah orang lain). Orangnya cantik, berwajah oval, manis, berkulit kuning langsat dan sangat mulus. Bodinya yang sangat bahenol, pinggang yang ramping, berpantat besar, dengan payudara berukuran kira-kira 36C. Berambut hitam panjang. Siapapun lelaki yang melihatnya pasti(aku jamin) menelan ludah dengan sex appealnya yang tinggi dan sangat memikat itu.
"Selamat siang", sapaku.
"Oh ya, selamat siang," jawabnya dengan suara yang halus.
"Saya ingin bertemu dengan Bapak Andrie di bagian pembelian,"
Kataku selanjutnya sambil mataku memandang tanpa berkedip ke wajah cantik dan dadanya, kebetulan waktu itu dia memakai blazer dengan kaus dalam yang berleher sangat rendah sehingga saya bisa melihat belahan payudaranya yang besar itu.
"Baik tunggu sebentar," jawabnya sambil tersenyum manis, kemudian dia menelepon bagian pembelian.
Sambil menunggu itu tidak henti-hentinya aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Sementara dia, sepertinya merasa kuperhatikan, jadi sesekali tersenyum sambil menulis sesuatu di buku di hadapannya. Tak lama kemudian telepon berdering dan aku dipersilahkan masuk.

Setelah selesai urusan tersebut, aku keluar melewati meja resepsionist, dan kulihat cewek (sebut saja Ayu) seperti biasa menjaga meja tersebut.
"Hallo Yu," sapaku.
"Eh, Pak Roni, dari tadi, Pak?" sahutnya.
"Iya. Ini sudah selesai order. Eh Yu, tadi yang jaga meja ini siapa sih?" tanyaku langsung.
Kami sudah cukup akrab karena keseringanku ke tempat ini.
"Oh, itu tadi Ibu Linda, Pak, Manager Marketing yang baru, kenapa sih? Kok nanya-nanya?" tanyanya sambil tersenyum.
Belum sempat kujawab, Si Cantik Linda muncul. Aku jadi sedikit salah tingkah. Apalagi..
"Bu, ini lho ditanyain sama Pak Roni," Ayu langsung nyerocos sampai wajahku terasa panas.

Singkat cerita kami berkenalan dan saling memanggil nama karena kemudian kuketahui umurnya hanya terpaut setahun lebih tua dariku dan sudah menikah dengan orang yang usianya terpaut jauh darinya. Ayu sempat mengatakan kalau Linda baru saja berulang tahun. Dan sambil bercanda aku mengatakan kalau aku mau diajak makan-makan. Dan dia menyanggupinya.

Pertemuan kami selanjutnya hanya di sekitar pekerjaan dan ngobrol masalah-masalah ringan. Suatu hari, saat suaminya berdinas di Jakarta, aku diundang ke rumahnya. Setelah aku tanya alamatnya, malam harinya aku datang ke rumahnya. Aku disambutnya dengan memakai baju kaus tipis tanpa lengan dan celana yang super pendek, hingga lekuk tubuhnya terlihat jelas, apalagi belahan pantat di bawah celananya makin merangsangku. Kaget juga melihat penampilannya yang seseksi itu, walaupun dia terlihat memakai BH, tak urung membuat nafsu dan adik kecilku merinding. Di rumahnya saat itu hanya dia sendiri ditemani pembantunya yang lebih sering berada di dapur seperti saat itu.

Setelah sekian menit mengobrol, kami mulai saling mendekatkan diri. Sampai dadanya yang besar dan kenyal itu menyentuh dadaku. Dan mulai berpelukan dan saling mencium pipi, kemudian aku lanjutkan dengan mencium lehernya.
"Kamu ternyata nakal juga ya, Ron," katanya sambil tertawa kecil saat saya ciumi leher jenjangnya.
"Habis kamu sangat menggairahkan dan menggemaskan," jawabku sambil melancarkan serangan.
Aku berusaha menembus daerah dadanya, tapi ditepisnya. Dan katanya jangan nanti nggak enak, kan dia sudah menikah. Jadinya aku harus menahan nafsuku malam itu walaupun pada saat penisku sudah sangat keras aku sempat menggesek-gesekkan ke perutnya sambil kami berdiri berpelukan. Malam itu aku pulang dengan hampa dan menahan gejolak nafsuku. Sesampainya aku di rumah, aku langsung bermasturbasi sambil membayangkan bersetubuh dengannya.

Sejak hari itu, bila bertemu sikap kami biasa saja, hanya saling menyapa, bahkan kurasakan dia agak menjauhiku. Dan hal ini berlangsung cukup lama sampai kira-kira delapan bulan lamanya. Aku sudah hampir melupakan niatku untuk bercinta dengannya sampai suatu saat ada berita di pagerku (saat itu aku belum punya Hp) berupa undangan ke rumahnya untuk menepati janjinya waktu itu dia mengajakku makan merayakan ulang tahunnya. Aku telepon dia dan membuat janji (waktu itu suaminya bertugas ke luar kota).

Malam itu pkl.10.00 aku datang ke rumahnya. Kembali aku disambut dengan pakaian yang menggairahkan berupa kaus tipis tanpa lengan dan rok pendek yang memperlihatkan cetakan pantat dan celana dalamnya. Dari pengalamanku yang lalu aku tidak ingin ceroboh lagi.
"Kok sepi-sepi saja, Lin? Suamimu berapa hari tugas ke Jakarta?" tanyaku setelah beberapa lama berbasa-basi.
"Empat hari. Eh, mau minum, Ron?"tanyanya.
"Boleh," jawabku.
"Aku tadi dapat pinjaman VCD dari temanku di kantor, dan aku belum nonton. Kamu sudah pernah nonton nggak?"
Tanyanya sambil meletakkan minuman dan kemudian melangkah ke almari dekat kursi tamu.
"Mana sih, aku lihat dulu judulnya," jawabku.
Setelah diserahkannya, aku teliti ketiga VCD tersebut, dan aku agak terkejut karena salah satunya merupakan film mandari yang XX alias semi.
"Yang dua sudah nonton sih, juga yang mandarin ini, Cuma waktu itu belum selesai. Kamu pengen nonton yang mana? Kalau aku yang mandarin ini aja," jawabku sambil berpikir untuk mencumbunya.
"Boleh aja, tapi VCD playernya ada di kamarku,"jawabnya.
Pikirku, wah kesempatan, nih. "Gak apa-apa kan, emangnya nggak boleh?" tanyaku memancing.
"Boleh sih, yuk, kita ke kamarku," jawabnya sambil ngeloyor ke kamarnya di dekat ruang tamu.

Setibanya di dalam, kami berdua duduk manis di depan TV-nya sambil menonton. Lalu aku mencoba untuk melingkarkan tanganku ke pundaknya. Dia tidak bereaksi. Lalu aku makin berani untuk membelai kepala dan rambutnya yang panjang dan lembut. Dia Cuma tersenyum saja aku perlakukan demikian. Lalu kusibakkan rambut di sekitar lehernya dan aku cium perlahan sambil menjilatnya pelan.
"Ih, geli, Ron"katanya sambil bergidik.
"Tenang aja, kamu nikmati ya,"jawabku.
Aku mencumbunya dengan sangat pelan. Mulai dari lehernya, kemudian aku turun ke pangkal lengannya. Aku terus mencium dan menjilatinya perlahan sementara tanganku tetap membelai rambutnya dan yang satu membelai tangannya, tanpa aku berusaha untuk membuka pertahanannya yang manapun. Linda makin lama makin menggelinjang karena kegelian dan nafsunya yang perlahan mulai naik.
"Ron, aku matikan saja ya VCD-nya? Toh juga nggak ditonton, sekalian lampunya ya,"katanya sambil sedikit terengah.
"Oke,"jawabku.

Lalu dia mematikan VCD, TV, dan lampu kamar tersebut, sehingga situasi remang, dan hanya diterangi oleh lampu teras. Walau demikian aku masih bisa melihat jelas semuanya. Setelah itu aku kembali melanjutkan aksiku. Aku menciumi bibirnya sambil membuka bajunya, sehingga dia hanya memakai BH dan roknya. Kemudian setelah beberapa lama;
"Ron, kita buka aja semua yuk," ajaknya.
"Ayuk,"jawabku, kemudian kami mulai melepas busana kami satu-satu sambil berdiri di tempat tidurnya.
Terpampanglah pemandangan indah di depanku. Linda yang tersenyum manis, dengan payudara berbentuk bulat sempurna dan terlihat sangat kenyal serta bentuk tubuh yang mirip gitar spanyol, ramping, pinggul yang besar, dan terutama daerah kemaluannya yang tidak terlalu lebat, namun terlihat berbulu sangat halus. Kemudian aku mulai mencium bibirnya lembut sekali. Kunikmati ciuman-ciuman itu. Kemudian aku mulai turun menciumi leher jenjangnya yang mulus sambil tangan kiriku mulai memainkan susunya yang kenyal dan mulai mengeras, meremas dan memutar-mutar putingnya, sementara tangan kananku meraba bagian pantatnya yang juga besar dan padat.

Setelah beberapa lama dia mulai bereaksi dengan membelai tubuhku dari punggung sampai kemudian berhenti di kemaluanku. Linda mulai membelai-belai adikku sambil mengocoknya perlahan. Wah, sensasinya sangat luar biasa.
"Ron, burungmu keras sekali,"katanya sambil mendesah.
Aku tidak menjawabnya karena sibuk mencumbunya. Kemudian perlahan-lahan aku rebahkan dia di tempat tidur. Dan aku mulai mencium dan menjilat turun dari bibir, leher sampai pada bagian susunya yang kuhisap dan kujilati perlahan. Aku menikmati susunya yang besar dan mulus banget. Aku jilatin daerah sekitar putingnya, sambil menyedot. Cukup lama aku menikmati susunya sambil aku remas-remas. Rasanya aku ingin menelan semuanya bulat-bulat. Linda menggelinjang sambil mengeluarkan suara erangan dan desisan dari mulutnya. Sambil menikmati cumbuanku, tangannya tak lepas dari penisku, membelainya lembut.

Perlahan aku makin turun sampai pada perutnya, kemudian ke selangkangannya. Aku mulai mencari daerah pribadinya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam, lembut dan tidak terlalu lebat. Aku terus menjilati sampai pada kemaluannya. Linda makin menggelinjang dan mendesis.
"Oh..terus, Ron,..enak sekali..teruskan..,"desisnya.
Maka aku makin menjilati kemaluannya sampai pada klitorisnya, kurasakan tubuhnya makin menegang. Kuhisap lembut klitoris dan kemaluannya yang berbau khas, hingga makin menaikkan gairahku. Kemaluan itu makin lama makin basah, mengeluarkan lendir yang aku jilat sampai puas. Pahanya mulai bergerak menjepit kepalaku, sehingga aku merasakan kemulusannya membelai pipiku. Tak lupa aku juga sebentar-sebentar enjilat paha dan daerah di sekitar vaginanya itu. Kemudian aku sedikit mengangkat pantatnya agar aku bisa menjilati lubang anusnya. Sementara itu, tangannya bergerak-gerak menggapai kepalaku sambil menekan makin dalam. Kembali aku mainkan lidahku di lubang vaginanya itu, masuk dan keluar. Linda makin menggelinjang dan kurasakan badannya makin mengejang.

Setelah aku puas memainkan kemaluannya, aku memintanya ganti mencumbuku. Maka aku direbahkan dengan posisi dia di atasku. Linda mulai menciumiku dari bibir, leher, dan akhirnya ke susuku sambil tangannya membelai lembut penis dan testisku. Ciuman lembutnya sangat merangsangku sehingga adikku makin keras dan memanjang. (Oh ya, penisku tidak terlalu besar, tapi sangat kencang dan keras). Cukup lama dia menciumi daerah dadaku, kemudian dia semakin turun, dan tidak disangka (karena aku menikmati sambil memejamkan mata) dia mulai menjilat lembut kepala penisku. Aku sempat kaget karena tidak menyangka dia akan melakukannya.

Aku nikmati saja jilatan-jilatan lembutnya. Kemudian dia mulai mengulum penisku juga sangat lembut. Wah, rasa dan sensasinya sangat luar biasa. Aku bagai terbang tinggi ke awan. Tidak sampai di situ, dia juga menjilati testisku yang makin merangsangku. Cukup lama dia menjilati penisku, sampai ada sedikit cairan yang keluar dan dia menjilatinya sampai habis. Kemudian dia perlahan bangun dan duduk di atas penisku. Pelan-pelan dia menggesek-gesekkan vaginanya di atas penisku. Vaginanya yang lembut dan licin serasa memijit penisku yang keras.
"Oh,..enaknya..ss.ss.ss,"erangnya.
Tak lama kemudian tubuhnya terlihat mengejang dan roboh ke dadaku.
"Luar biasa, Ron, aku sampai bisa keluar,"bisiknya sambil terengah.

Kemudian kami bercumbu lagi, dan dia mengulangi hal yang sama sampai dua kali, dan dalam waktu singkat dia mengalami orgasme kembali, sementara aku belum merasa ingin keluar. Maka aku nikmati saja permainannya, sampai kemudian..
"Aku masukin ya adikku,"kataku.
"Ya, tapi pelan-pelan ya, "jawabnya.
Maka aku mulai memasukkan penisku ke lubang senggamanya perlahan sampai semuanya masuk. Kemudian aku mulai menggoyang perlahan-lahan, makin lama makin cepat. Sementara dia mengerang dan mengejang Di antara desahan dan deru napasnya aku makin mempercepat gerakanku, sampai akhirnya..
"Lin..aku..mau..kell..luar," dan tersemburlah spermaku ke liangnya.
Kemudian aku lemas. Aku biarkan penisku berada di vaginanya beberapa lama sambil merasakan denyutan-denyutannya yang menggairahkanku.

Kami mengulangi permainan kami beberapa kali malam itu. Sampai waktu menunjukkan pukul 02.00 pagi. Dan aku pulang dengan kepuasan dan sedikit penyesalan (maklum istri orang). Keesokan siang, aku kembali ke rumahnya, dan bercinta sampai malam. Kemudian kami pergi makan malam seperti yang dijanjikannya.

Setelah kejadian itu, kami bersikap biasa bila bertemu, karena kami tidak ingin orang lain tahu perbuatan kami.

TAMAT
08.01 | 0 komentar | Read More

Lia Yang Supel



Di kampusku ada seorang cewek cakep yang selalu jadi perbincangan di antara teman-teman cowokku, Lia namanya. Sebenarnya dia tidak terlalu cakep banget, tetapi bodynya.., wow.., sungguh ideal, seksi dan sialnya dia tahu kelebihannya tersebut. Lia sering (atau mungkin suka) berpakaian ketat, sehingga memancarkan daya tariknya itu. Tak heran jika banyak cowok yang mencoba mendekatinya dan mengajaknya berkencan, apalagi dia orangnya juga supel, tapi selama ini belum pernah ada yang berhasil. Saya sebagai lelaki normal, sering juga menggodanya, tapi belum pernah mengajaknya kencan, kecuali hanya sebagai teman bercanda. Padahal kata teman-temanku, dia suka menanyakan bahkan mengirim salam kepada saya jika saya kebetulan tidak berada di kampus.

Waktu terus berjalan, dan di antara teman-teman, yang bisa dekat dengannya hanya saya. Saya sendiri tidak tahu mengapa. Tapi jika dirunut, sebenarnya justru dialah yang selalu mencoba dekat denganku. Bukannya saya ge-er. Pernah saya mencoba bertanya kepadanya tentang hal ini, jawabnya adalah karena saya ini orangnya sedikit cuek dan enak untuk diajak bertukar pendapat. Hatiku berbunga juga mendengar jawaban itu, dan kedekatan ini berjalan semakin erat, bahkan boleh dibilang seperti pacaran. Sering dia minta ditemani, beli buku, pakaian, bahkan sampai ke acara resmi, seperti ulang tahun dan pernikahan teman-temannya. Memang cukup berkesan juga kedekatan itu bagiku, akan tetapi ada satu peristiwa yang sampai benar-benar sangat mengesankan dan sampai sekarang tak akan pernah kulupakan.

Suatu saat aku diminta menemani mengantar neneknya ke Jakarta. Saya sih oke saja, tapi pada saat itu kebetulan saya tidak memiliki ongkos. Lia mengatakan bahwa keluarganyalah yang akan menanggung (saya memang dekat dengan keluarganya). Akhirnya saya berangkat menemani dia dan neneknya dengan menggunakan kendaraan dari agen travel.

Di dalam kendaraan, kami duduk bertiga, saya, Lia dan neneknya. Selepas luar kota, tiba-tiba kantukku datang, di tengah suasana lampu dalam kendaraan yang remang-remang. Mungkin juga disebabkan karena saya kelelahan karena mengikuti kegiatan di kampus siangnya. Sebelum tertidur sempat kulihat Lia dan neneknya telah terpejam lebih dulu.

Tengah malam aku terbangun, karena aku merasa tanganku ada yang menjepit. Kubuka mataku, aku terkejut, karena tanganku telah dipeluk Lia hingga tanganku menekan buah dadanya yang padat dan kenyal (kata teman-temanku) di balik kaos ketatnya. Lebih terkejut lagi, setelah aku mengetahui bahwa tangan kirinya ternyata telah berada di antara selangkanganku. Kucoba melepaskan tanganku, karena risih takut jika dilihat oleh orang (selama ini saya belum pernah sedekat ini dengan cewek, apalagi cewek seksi). Tapi dia seakan-akan menahan tanganku, tak mau melepaskannya. Tiba-tiba ia tersenyum, sambil berbisik, "Nggak apa-apa, Lia suka kamu", sambil merapatkan buah dada kirinya ke tanganku, hingga dapat kurasakan goncangan buah dadanya seiring goncangan kendaraan. Tiba-tiba ia mencium belakang telingaku cukup lama, sampai penisku menegang. Tahu bahwasanya penisku telah mengeras, ia malah menyelusupkan tangan kirinya ke balik kaosku, kebawah, dan mencoba masuk ke celana jeansku yang agak longgar, dan akhirnya.., digenggamnya penisku. "Besar sekali.., gemes aku", bisiknya sambil memejamkan matanya. Dan aku kembali memejamkan mata untuk tidur sambil menahan gejolak yang ada di dada.

Menjelang subuh, kami bertiga tiba di tempat neneknya dengan disambut oleh kakeknya. Setelah berbasa-basi sebentar, saya diantar ke kamar yang ada di belakang dan berdekatan dengan kamar Lia. Dan akhirnya kurebahkan badanku, kelelahan dan tertidur.

Pagi hari, antara sadar dan tidak, kucium bau segar orang habis mandi. Kucoba membuka mata dan kulihat Lia sedang sibuk membuka ransel carrier-ku. Bawaanku dan bawaan Lia dijadikan satu untuk menghemat barang bawaan. Kuingat-ingat lagi, ternyata sebelum tidur saya lupa mengunci pintu, hingga ia bisa dengan mudah masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Dia hanya memakai kemeja putih longgar yang bersih dan tipis sampai sebatas paha. Lia tampak segar, rambutnya masih basah sehabis mandi. Kulihat aktivitasnya dari tempat tidur, agaknya dia belum tahu kalau mataku sudah terbuka dan dia membungkuk ke arahku. Sempat kulihat buah dadanya yang selama ini jadi tebakan ukurannya oleh teman-temanku dari belahan bajunya dan ternyata ia tidak memakai BH. Tampak putih bersih, mengkal, dengan puting berwarna kemerahan, bergoyang-goyang. Kurasakan ada yang menyodok dari balik celana pendekku.

"Eh.., udah bangun, bantuin buka tasnya dong..", katanya ketika menoleh ke arahku. Aku tersenyum, bangun, dan meraih segelas teh yang sudah ada di atas meja. Lalu aku berjongkok di depan Lia, sambil membantunya membuka ranselku. Kulirik kedua kakinya yang putih bersih sampai ke pangkal pahanya. Gejolakku timbul memberontak dan desakan penisku kurasakan semakin keras.

"Nih udah, mau ambil apa?", tanyaku. "Mau ngambil BH-ku", jawabnya sambil menunduk hingga aku dapat melihat dari dekat buah dadanya yang padat dari tempatku berjongkok. Tiba-tiba ia memalingkan mukanya ke arahku, beradu pandang sejenak denganku, dan.., tanpa kuduga ia mengecup bibirku sesaat. Segar kurasa bibirnya. Kuberanikan diri untuk membalasnya dan ditanggapinya dengan hangat. Dijulurkan lidahnya dan diadu dengan lidahku. Kalau boleh aku katakan Lia memang cewek yang agresif dan berani.

Sesaat lamanya kami melakukan french kiss, sampai akhirnya dia merebahkan badannya ke tempat tidur, sambil menarik tanganku. Akupun jatuh di atas tubuhnya. Tubuh Lia gemetar. Buah dadanya mulai mengeras, berhimpit dengan dadaku. Kulumat habis bibirnya. Kujilati seluruh wajahnya. Lia hanya mendesah pendek, sambil mengangkat kedua kakinya menjepit tubuhku. Kualihkan jilatanku ke lehernya, sambil kugesekkan penisku yang terbungkus celana ke selangkangannya. "Ekkhh.., sstt..", desahnya pendek.

Kusibakkan kemejanya yang tidak dikancingkan bagian atasnya. Buah dadanya yang besar tapi ideal, nampak menjulang dengan puting merahnya telah mengeras. Kujilati buah dadanya kanan kiri secara bergantian. Lia menggelinjang kenikmatan sambil membusungkan dadanya. "Eeerrgghh..", erangnya ketika kugigit-gigit puting dan kuremas-remas buah dadanya.

Aku beralih ke telinga, kuciumi, kukulum dan kujilati, sambil kubisikkan, "Susumu besar dan mengkal, berapa sih ukurannya?", "36.., errgghh..", jawabnya sambil menahan nikmat. Tangannya mulai menyusup ke celana dalamku, memegang penisku dan meremasnya. Tiba-tiba.., tangannya meremas kuat penisku, tubuhnya mengejang, dan akhirnya melemas. Tampaknya Lia sudah mengalami orgasme untuk yang pertama kalinya.

Aku membuka kaus dan celanaku hingga aku telanjang bulat. Dia pun membuka kemeja dan melepas celana dalamnya. Vaginanya yang merah berbulu tak terlalu lebat, tampak mengkilap berair. "Udah banjir yaa..", godaku. Lia hanya tersenyum sambil tiduran mengangkang lebar-lebar.

Kucium lututnya, ke atas, ke paha. Lia hanya bisa menggerakkan kakinya menjepit kepalaku. Klitorisnya tampak menyembul di antara celah vaginanya. Kuhampiri dan kujilati dengan penuh perasaan. Semakin keras jepitan kakinya. Lia pasrah dan hanya bisa menggerakkan pinggul ke atas, kanan, dan kiri. Kusibakkan bibir vaginanya, kujilati vagina bagian dalamnya yang sudah basah. Kugoyangkan kepalaku, sambil menjulurkan lidahku kedalam. Terdengar bunyi gemericik air vaginanya, dan "Ss.., aarrghh.., ekh.., Andi, aku.., nggak tahaan.., lagii..". Dan keluarlah air kewanitaannya.

Aku merangkak menciumi seluruh tubuhnya hingga berakhir di bibirnya. Matanya terpejam, sementara tangannya mengusap-ngusap pinggulku dan meraih penisku. Ditariknya penisku, kurasakan hangat bibir vaginanya. "Dorong.., Andi.., sshh..". Tak segera kulakukan, hanya kugesekkan saja. Kucoba menggodanya dan Lia tersenyum karena tahu kugoda. Dibimbingnya lagi penisku ke vaginanya. Dan kudorong pelan-pelan. Lia tersentak, kedua tangannya ke samping menarik seprei. Dia tampaknya menahan nikmat yang luar biasa. Sungguh sulit penisku masuk, karena sempitnya lubang vaginanya. Kudorong kuat-kuat.., dan akhirnya.., slepp.., penisku masuk setengahnya.., dan kudorong lagi.., slepp.., masuk semuanya. Hangat kurasa di dalam vaginanya, seakan tak rela kulepaskan. Terdiam kami berdua, seakan saling menikmati surgawi ini. Lia dengan pelan-pelan menggoyangkan pinggulnya. Akupun tak mau kalah, kudorong penisku maju mundur, sambil melumat bibirnya, dan kuremas buah dadanya. Kaki Lia terjuntai ke atas, merangkul dan menekan pinggulku dan kami bersatu dalam kenikmatan.

Setelah beberapa lama, kugulingkan badanku, hingga Lia berada diatas. Ditegakkannya tubuhnya yang berkeringat dan digerakkan naik turun. Kunikmati gerakan payudaranya yang bergoyang-goyang. Lia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengerang kenikmatan. Dia memegang lenganku keras sekali.., dan mengerang tertahan, "Eeaargghh..". Kurasakan cairan hangat membanjiri penisku di vaginanya. Puncak yang kedua sudah Lia peroleh, dan tubuhnya kembali melemas.

Dengan tanpa melepas penis dari vaginanya, kubopong dia. Aku berdiri, sementara Lia merangkulku, dengan kaki menjepit pinggul, sehingga posisinya menggantung di tubuhku. Kudorong maju mundur penisku sambil kuguncang tubuhnya. "Pyek.., pyek..", terdengar dari vaginanya yang basah, seiring gerakanku. Payudara yang kenyal tersebut juga bergoyang-goyang sehingga menambah rangsanganku.

Kembali kurebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan kembali ke posisi konvensional tanpa melepas penisku. Tangannya memeluk pinggulku, menarik badanku hingga menambah nafsuku untuk semakin menghunjamkan penis dengan lebih keras dan cepat. Lia memberi variasi, dengan menggigit dan melepas penisku dengan bibir vaginanya. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa hingga, "Lia.., eerghh.., aku nggak tahan.., arrgghh.., mau keluarr..", "Aku .., erghh.., sshh.., jugaa..". Dan akhirnya, "Cret.., crett..", penisku mengejang-ngejang menyemprotkan air mani, seiring dengan tubuh Lia yang mengejang orgasme.

Tubuhku seperti dilolosi tulangnya, jatuh di atas tubuh Lia. Kukulum bibirnya dan kukecup mesra dan Lia berkata, "Kamu sungguh hebat..", diiringi dengan senyuman bahagianya. Kukecup pula bibirnya dengan mesra dan bahagia.

TAMAT
07.47 | 0 komentar | Read More

Kost Si Dimas II



Sini Mbak bukain bajunya, biar enakan, ayo.. jangan malu-malu disini semua bugil kok!" kulucuti pakaiannya tanpa menunggu responnya, dia masih malu-malu menutupi penisnya dengan tangan.
Kutepis tangannya dan kugenggam penis yang masih setengah tegang itu, aku berlutut di depannya dan mulai menjilati benda itu, kemasukkan bagian kepalanya ke mulutku dan kuemut pelan. Aku melirik ke atas melihat reaksi wajahnya dengan mata merem-melek dan menelan ludah memperhatikan aku mengoralnya. Makin kukocok benda itu terasa makin keras dan besar, memang nggak jumbo size sih, namanya juga ABG, tapi kerasnya lumayan.
"Hmmhh.. Mbak.. geli Mbak!" erangnya gemetaran.
"sudah jangan cerewet, dikasih enak gratisan malah bawel, nanti juga ketagihan kok" jawabku.

Tiba-tiba terdengarlah suara musik heavy metal mengalun di kamar ini, sambil terus menyepong kulirikkan bola mataku ke arah suara. Ternyata si Dimas menyalakan MP3 di komputernya dan menyetel volume suaranya untuk meredam suara kami. Kemudian mereka yang tadinya melongo memperhatikanku mengerjai anak muda sudah mulai lagi dengan kesibukan mereka. Kini Dimas menaikkan kedua tungkai Indah ke bahunya dan kembali melesakkan penisnya ke vaginanya. Setelah beberapa kumainkan dalam mulutku, penis itu mulai berkedut-kedut, pemiliknya juga mendesah makin tak karuan. Akupun semakin dalam menelan benda itu hingga menyentuh daging lunak di tenggorokanku.
"Mbak.. ohh.. enakk banget Mbak.. aahh!" desahnya panjang bersamaan dengan spermanya yang ngecret di dalam mulutku.
Pipiku sampai kempot mengisap dan menelan cairan itu dengan nikmat, tak setetes pun tertinggal. Kemudian akupun bangkit berdiri sambil tetap menggenggam penisnya yang masih ngaceng tapi agak berkurang tegangnya.

"Gimana Dan, pernah diginiin nggak sama cewek sebelumnya, rasanya gimana?" tanyaku dengan senyum nakal.
"Baru pertama kali Mbak.. he-eh emang enak banget," katanya masih dengan nafas terengah-engah.
"Ini baru pemanasan Dan, masih banyak yang lebih enak kok, yuk sini deh!" kataku seraya menaikkan pantat ke meja belajar dan mengangkangkan kedua belah paha mulusku.

Kubimbing penisnya ke arah vaginaku yang terkuak lebar, setelah tepat sasaran kusuruh dia menggerakkan pinggulnya ke depan. Bless.. terbenamlah penis itu ke dalamku diiringi desahan nikmat kami. Tanpa kuajari lagi dia mulai menggerak-gerakkan pinggulnya maju-mundur, sodokannya walaupun terasa makin mantap tapi rasanya masih ada yang kurang yaitu dia tidak memberi rangsangan pada bagian sensitifku lainnya, maklumlah namanya juga perjaka, masih amatiran. Aku harus terus berinisiatif mengajarinya, maka kutarik kepalanya mendekati payudaraku yang membusung, kusuruh dia mengeyotnya sepuas hati. Barulah dia mulai berani menjilati dan mengulum payudaraku, bahkan tangan satunya kini aktif menggerayangi payudaraku yang lain.

Entah karena terlalu nafsu atau kelepasan dia gigit putingku yang kanan dengan cukup keras, sampai aku menjerit.
"Aakkhh.. Dan sakit, jangan keras-keras dong!"
Di seberang sana Indah sudah dibuat orgasme entah yang keberapa kalinya. Tak sampai lima menit berikutnya Dimas pun mendesah panjang mencapai klimaksnya, dia mencabut penisnya dari vagina Indah dan menumpahkan isinya diatas perut rata Indah. Merekapun roboh bersebelahan, Indah mengusap-ngusapkan sperma itu ke tubuhnya dan menjilati sisa-sisanya di jari. Dadan masih terus menyodokku dari depan, gairahku makin memuncak saja, vaginaku terasa makin panas akibat gesekan dengan penisnya, suara erangan kami terlarut bersama dengan dentuman musik rock dari komputer. Bosan dengan posisi ini, dia memintaku ganti gaya. Sekarang kami melakukannya dengan gaya berdiri, aku berpegangan pada tepi meja sambil disodok dari belakang, dengan posisi demikian tangannya lebih bebas menggerayangi payudaraku yang bergantung, putingku dipencet dan dipilin-pilin terkadang agak kasar sampai benda itu mencuat tegang.

"Dan.. tambah cepet dong.. Mbak sudah mau nih..!!" aku mengerang lirih saat kurasakan klimaks sudah diambang.
"Ooohh.. ahh.. saya juga.. kok rasanya tambah.. enak Mbak" sahutnya dengan menambah goyangannya.
"Keluarin di.. dalam.. jangan cabut penis kamu.. ahh" kataku dengan suara bergetar.
Kamipun mencapai orgasme bersama, tubuhku menggelinjang hebat, aku berteriak seolah mengiringi lagu di komputer, kepalaku terangkat dan mataku merem-melek. Si Dadan juga mendesah nikmat merasakan orgasme pertamanya bersama seorang wanita. Spermanya menyembur banyak sekali di dalam rahimku, cairan hangat dan kental itu juga membasahi daerah selangkanganku serta sebagian meleleh turun ke pahaku. Tubuhku lemas bersimbah peluh dan jatuh terduduk di kursi terdekat. Kubentangkan pahaku lebar-lebar agar bagian itu mendapat angin segar, soalnya rasanya panas banget setelah begitu lama bergesekan. Liang kenikmatanku nampak menganga dan sisa-sisa cairan persengamaan masih menetes sehingga membasahi kursi di bawahnya.

"Saya mau lagi dong Mbak, abis vagina Mbak legit banget sih, lagi yah Mbak!" pintanya sambil menggenggam penisnya yang masih tegang itu di dekat wajahku.
"Iyah, tapi nanti yah, Mbak istirahat sebentar," jawabku sambil mengelap keringat di wajahku dengan tisu.
Kulihat Dimas bangkit dan mendekatiku, senjatanya sudah dalam posisi siap tempur lagi setelah cukup istirahat. Dia belai rambutku dan meraih tanganku untuk digenggamkan pada penisnya.
"Yuk, Cit.. sambil kumpulin tenaga, kasih senjata gua amunisi dulu dong!" pintanya.
Akupun memijati benda itu diselingi jilatan. Melihat si Dadan yang bengong aku pun menarik tangannya menyuruh berdiri di sisi kananku. Maka dihadapanku sekarang mengacunglah dua batang senjata yang saling berhadapan dan masing-masing kugenggam dengan kedua tanganku. Kugerakkan tangaku mengocok keduanya, mulutku juga turut melayani silih berganti.

Merasa cukup dengan pemanasan, Dimas menyuruhku berhenti, dan menyuruhku bangun dulu, lalu dia duduki kursi itu baru menyuruhku duduk lagi di pangkuannya (sepertinya mau gaya berpangkuan deh). Dengan agak kasar dia menyuruh Dadan menyingkir
"Heh, sana lo.. kali ini giliran gua tahu, jangan ganggu lagi!"
"Eee.. sudah jangan galak ah, gitu-gitu juga dia kan yang bantu-bantu kamu orang di sini" sahutku mengelus lengan Dimas.
"Dan kamu minta Mbak yang itu aja buat ngajarin kamu," lanjutku, "Ndah mau yang ajarin dia bentar kan, masih pemula nih."

Sekarang Dadan tidak segrogi saat pertama main denganku barusan, dia menindih tubuh Indah yang masih terbaring. Indah mengajarinya teknik berciuman, nampaknya Dadan cepat dalam mempelajari teknik-teknik bercinta yang kami ajarkan, sebentar saja dia sudah nampak beradu lidah dengan panasnya bersama Indah, tangannya juga kini lebih aktif menjelajahi lekuk-lekuk tubuh Indah memberi rangsangan. Indah yang gairahnya sudah bangkit lagi merespon dengan tak kalah hebat. Dia berguling ke samping sehingga dia kini di atas Dadan, lidahnya tetap bermain-main dengan lidah lawannya sementara tangan lembutnya meraih penis pemuda tanggung itu serta mengocoknya, Dadan mendesah-desah tak karuan menghadapi keliaran Indah. Indah membimbing penis itu memasuki vaginanya, dengan posisi berlutut dia turunkan tubuhnya hingga penis itu melesak masuk ke dalamnya. Kemudian mulailah dia menaik-turunkan tubuhnya dengan gencar membuat pemuda tanggung itu kelabakan. Kedua tangan Dadan mencengkram kedua payudara Indah dan meremasinya dengan bernafsu.

Di tempat lain aku sedang asyik menggoyangkan tubuhku di pangkuan Dimas. Vaginaku dihujam penisnya yang sekeras batu itu. Otot-otot kemaluanku serasa berkontraksi makin cepat memijati miliknya. Tangannya yang mendekapku dari belakang terus saja menggerayangi payudaraku dengan variasi remasan lembut dan kasar. Kutengokkan wajahku agar bisa berciuman dengannya, lidah kami saling membelit dan beradu dengan panasnya. Beberapa menit kemudian mulutnya merambat ke telingaku, dengusan nafasnya dan jilatannya membuatku merinding dan makin terbakar birahi. Mulutnya terus mengembara ke tenguk, leher, dan pundakku meninggalkan bekas liur maupun bercak merah. Tanpa terasa goyangan tubuh kami semakin dahsyat sampai kursinya ikut bergoyang, kalau saja bahannya jelek mungkin sudah patah tuh kursi. Posisi ini berlangsung 20 menit lamanya karena kami begitu terhanyut menikmatinya. Selama itu terdengar dua SMS yang masuk ke ponselku namun tak kuhiraukan agar tak merusak suasana.

Akhirnya akupun tak bisa menahan orgasmeku, tubuhku kembali menggelinjang dahsyat, pandanganku serasa berkunang-kunang. Mengetahui aku akan segera keluar, dia makin bergairah, tubuhku ditekan-tekan sehingga penisnya menusuk lebih dalam, tangannya pun semakin kasar meremasi payudaraku.
"Aaahhkk..!" jeritku bersamaan dengan lagu mp3 yang hampir berakhir.

Kugenggam erat lengan Dimas dan menggigit bibir merasakan gelombang dahsyat itu melanda tubuhku. Aku merasakan cairan cinta yang mengalir hangat pada selangkanganku. Akupun akhirnya bersandar lemas dalam dekapannya, penisnya tetap menancap di vaginaku, nafas kami tersenggal-senggal dan keringatpun bercucuran dengan derasnya. Kemudian dia angkat tubuhku hingga penisnya tercabut, tangan satunya menyelinap ke lipatan pahaku. Diangkatnya tubuhku dengan kedua lengan, aku menjerit kecil saat dia tiba-tiba menaikkanku ke lengannya karena kaget dan takut jatuh. Dibawanya aku ke ranjang lalu diturunkan di sana, nafasku belum teratur sehingga nampak sekali dadaku turun naik seperti gunung mau meletus. Tepat disebelah kami Dadan sedang menindih tubuh telanjang Indah dengan gerak naik-turun yang cepat. Indah hanya bisa menggelinjang dan mendesah, rambut panjangnya sudah kusut tak karuan, matanya menatap kosong pada kami.

"Lagi yah Ci, dikit lagi tanggung gua belum keluar nih," pinta Dimas sambil merenggangkan kedua pahaku.
Aku hanya pasrah saja mengikuti apa maunya. Dengan lancar penisnya yang sudah basah dan licin itu meluncur ke dalam vaginaku, aku mendesis dan meremas sprei saat dia hentakkan pinggulnya hingga seluruh penisnya masuk. Lagu dari komputer entah sudah berganti berapa kali, kali ini yang mengalun adalah lagunya Aerosmith yang dipakai soundtrack film 'Armageddon'nya Bruce Willis. Lagu ini mengiringi permainan kami dalam babak ini. Perkasa juga si Dimas ini, dia masih sanggup menggenjotku dengan frekuensi tinggi sampai tubuhku terguncang hebat, padahal sebelumnya dia sudah membuatku dan Indah orgasme, kekuatannya jauh lebih meningkat dibanding ketika pertama kali one night stand denganku setahun lalu. Aku menggenggam tangan Indah dan bertatapan wajah dengannya
"Sudah berapa kali Ndah?" tanyaku bergetar
"Nggak tahu.. sudah aahh.. keenakan.. nggak hitung.. lagi," jawabnya dengan mata merem melek.

Aku makin tak terkontrol, kepalaku kugelengkan ke kiri-kanan, sesekali aku menggigit jari saking nikmatnya kocokan Dimas. Dia mempermainkan birahiku dengan sengaja tidak menyentuh payudaraku membiarkannya bergoyang-goyang seirama badanku, sehingga aku sendiri yang berinisiatif meraih tangannya dan meletakkannya di payudaraku, barulah dia mulai memencet-mencet putingku membuatku semakin terbakar. Akhirnya akupun sudah tidak kuat lagi, perasaan itu kuekspresikan dengan sebuah erangan panjang dan menarik sprei di bawahku hingga berantakan.
"Sudah dulu dong, Mas.. gua gimana bisa kuliah ntar!" pintaku dengan terengah-engah.
Tubuhku basah seperti mandi saja, habis AC kamarnya lagi rusak sih, sementara ini cuma ada kipas angin berukuran sedang, sedangkan iklim di Jakarta tahu sendiri kan seperti apa gerahnya. Paham dengan kondisiku, dia biarkan aku beristirahat, dikecupnya bibirku dengan lembut disertai sedikit kata-kata manis dan pujian, setelah itu dia beralih ke Indah untuk menuntaskan hajatnya yang tinggal sedikit lagi. Kuseka dahiku yang bercucuran keringat lalu kulirikkan arlojiku, 20 menit lagi jam tiga, harus segera siap-siap kembali ke kampus.

Indah yang sedang dalam posisi dogie digarap dari dua arah oleh mereka. Dadan yang menyodoknya dari belakang akhirnya klimaks, dia mengeluarkan penisnya dan menyiramkan isinya di punggung dan pantat Indah. Si Dimas yang sedang menyetubuhi mulut Indah juga tak lama kemudian menyusul, dia mengerang sambil menahan kepala Indah pada penisnya. Indah sendiri hanya bisa mengerang tertahan dan matanya merem melek menerima semprotan sperma Dimas, nampak cairan putih itu meleleh sedikit di pinggir bibir mungilnya. Dimas ambruk di sisiku dengan memeluk Indah yang menyandarkan kepalanya ke dada bidangnya, si Dadan terduduk lemas di bawah ranjang (karena ranjang sudah penuh sesak). Setelah tubuhku cukup stabil, pelan-pelan aku bangkit menuju kamar mandi dengan langkah gontai. Disana aku mencuci muka, dan membersihkan ceceran sperma di tubuhku dengan air. Indah masuk ketika aku sedang duduk di toilet buang air kecil.
"Huh.. ngagetin aja kamu Dah, rambut acak-acakan kaya kuntilanak gitu lagi!" ujarku.
"Kuntilanak bajunya putih oi, nggak bugil gini," jawabnya asal, lalu menyalakan kran wastafel.

Setelah selesai berbenah diri, kami mengenakan kembali pakaian kami untuk kembali kuliah. Saat itu jam sudah menunjukkan hampir pukul tiga, maka itu kami agak terburu-buru sampai aku melupakan ponselku sehingga pulang kuliah aku harus balik lagi ke sini untuk mengambilnya. Kami berlari-lari kecil ke kampus, mana ruang kuliahku di lantai tiga lagi, aku sampai ke kelas terlambat lima menit, untung belum melebihi toleransi keterlambatan. Di kelas pun aku tidak bisa fokus karena selain masih lelah, dosennya, Pak Iwan ngomongnya juga slow motion, bikin ngantuk saja sehingga beberapa kali aku menguap. Temanku di sebelah bahkan bertanya
"Baru bangun tidur kamu Ci? Kok kusut gitu" karena make up ku memang agak luntur waktu cuci muka tadi.
"Iyah nih masih ngantuk tadi di kost temen belum cukup tidurnya," jawabku tersenyum dipaksa.
Lelah sekali hari itu sehingga begitu sampai di rumah aku langsung tiduran dan bangun jam tujuh malam, baru mandi untuk bersiap-siap menunggu jemputan Verna dan lainnya untuk nge-dugem di salah satu tempat favorit kami 'Seribu Satu'

TAMAT
07.39 | 0 komentar | Read More

Kost Si Dimas I



Dua mingguan setelah peristiwa 'Akibat Main Mobil Goyang' aku sedang makan di kantin mahasiswa bersama Ratna. Kami ngerumpi sambil menunggu jam kuliah berikutnya, saat itu jam 12.00 jadi kantin sedang penuh-penuhnya. Waktu sedang larut dalam canda tawa, tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang dan orang itu langsung duduk di sebelah kiriku.

"Hallo girls, gabung yah, penuh nih!" sapa orang itu yang ternyata si Dimas, salah satu playboy kampusku yang dua minggu lalu terlibat 'bercinta' denganku (baca Akibat Main Mobil Goyang).
"Penuh apa alasan buat bisa deketin kita, heh?" goda Ratna padanya.
"Iya nih, dasar, itu tuh disana aja kan ada yang kosong, hus.. hus..!!" kataku dengan nada bercanda.
"Maunya sih.. cuma kalau saya disana takutnya ada yang merhatiin saya, jadi mendingan saya deketin sekalian" kelakarnya dengan gaya khas seorang playboy.
"Gila nggak tahu malu amat, jijay loe!" sambil kucubit lengannya.

Kami bertiga menikmati makan dan obrolan kami semakin seru dengan datangnya pemuda ini. Harus kuakui Dimas memang pandai berkomunikasi dengan wanita dan menarik perhatian mereka. Dalam empat sekawan geng-ku saja dia sudah pernah menikmati petualangan sex dengan tiga diantaranya (termasuk aku), tinggal si Indah yang belum dia rasakan.
"Kuliah jam berapa lagi nih kalian?" tanyanya
"Saya sih masih lama, jam tiga nanti, pulang tanggung" jawabku.
"Kalau saya sih sebentar lagi jam satu masuk, BT deh kuliahnya Bu Dinah yang killer itu" jawab Ratna sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
"Halo Ci.. hai Nana (Ratna)!" sapa Indah yang tiba-tiba nongol dari keramaian orang lalu duduk di sebelah Ratna.
Hari itu Indah tampil dengan penampilan barunya yaitu rambutnya yang panjang itu dicat coklat sehingga nampak seperti cewek indo. Dia terlihat begitu menawan dengan baju pink yang bahunya terbuka dipadu celana panjang putih.

Kuperkenalkan Dimas pada Indah, berbeda dengan kami bertiga yang dari fakultas yang sama, Sastra Inggris, Indah berasal dari Fakultas Ekonomi sehingga dia belum mengenal Dimas. Begitu kenal dengan Indah, Dimas langsung beraksi dengan kata-kata dan pujian gombalnya. Dengan sifat Indah yang gaul itu mereka cepat akrab dan omongannya nyambung.
"Dasar aligator darat," begitu gumamku dalam hati sambil menyedot minumanku.
Tak lama kemudian HP Ratna berdering lalu dia pamitan karena ada janji mau mengerjakan tugas kelompok dengan temannya di perpustakaan. Jadi sekarang tinggallah kami bertiga.
"Ngapain yah enaknya sambil nunggu, bosen kan disini terus?" kata Indah setelah menghabiskan kentang goreng dan minumnya. Ternyata dia sedang menunggu kuliah jam tiga juga.
"Ke kost saya gimana? Saya sih sudah beres nggak ada apa-apa lagi," usul Dimas.
Kami pun mengiyakan daripada menunggu dua jam lebih di kampus, di kostnya kan banyak film jadi bisa nonton dulu. Kami pun berjalan ke gerbang samping yang menuju ke kostnya setelah membayar makan.

Hanya dalam lima menit kami sudah tiba di tujuan. Kostnya cukup besar dan bagus karena termasuk kost yang mahal di daerah sini, terdiri dari dua tingkat dengan kamar mandi di kamar masing-masing. Penghuninya campur pria-wanita, tapi menurut Dimas lebih dari setengahnya wanita, makannya dia betah di sini.
"Welcome to my room, sori yah rada berantakan," dia membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk ke kamarnya di tingkat dua.
Ini bukan pertama kalinya aku ke sini, aku bahkan pernah 'bercinta' disini saat one night stand dengannya. Pada temboknya terpampang beberapa poster pemain sepak bola, juga ada sebuah poster anime Kenshin. Foto pacarnya yang kuliah di luar negeri dipajang diatas meja belajarnya yang sedikit acak-acakan. Kami ngobrol-ngobrol sambil menikmati snack hingga akhirnya obrolan kami mulai menjurus ke masalah seks. Dimas tanpa basa-basi menawarkan nonton film bokep koleksinya, dipilihnya salah satu vCD bokep Jepang favoritnya. Aku tidak ingat judulnya, yang pasti adegannya membuatku merinding. Kami bertiga hening menatapi layar komputer seakan terhanyut dalam adegan yang pemerkosaan masal seorang wanita oleh beberapa pria, sperma pria-pria itu berhamburan membasahi si wanita.

Darahku serasa memanas dan selangkanganku mulai basah. Indah di sebelahku juga mulai gelisah, dia terlihat menggesek-gesekkan kedua pahanya. Dan, si Dimas.. oh dia meremas-remas tangan Indah, dia juga mulai berani mengelus lengannya. Melihat reaksi Indah yang malu-malu mau dan sudah terangsang berat, Dimas makin berani mendekatkan mulutnya ke pundak Indah yang terbuka. Indah menggelinjang kecil merasakan hembusan nafas Dimas pada leher dan pundaknya. Karena sudah merasa horny, ditambah lagi Dimas dan Indah mulai beraksi, akupun tidak malu-malu lagi mengekspresikan nafsuku pada Indah yang duduk paling dekat denganku. Tanganku merayap lewat bagian bawah bajunya dan terus menyelinap ke balik bra-nya. Aku dapat merasakan putingnya makin mengeras ketika kumain-mainkan dengan jariku. Mulutku saling berpagutan dengannya, lidah kami saling beradu dan bertukar ludah. Sementara di sebelah sana, Dimas mulai menjilati leher dan pundaknya, disibakkannya rambut panjang itu lalu dihirupnya wangi tubuhnya sebelum cupangannya berlanjut ke leher dan belakang telinganya.

Indah mendesah tertahan menikmati perlakuan ini, tangannya mulai bergerak meraih penis Dimas yang masih tertutup celana jeansnya, diraba-rabanya benda yang sudah mengeras itu dari luar. Ciuman Dimas menurun lagi ke bahu Indah sambil menurunkan pakaian dengan bahu terbuka itu secara perlahan-lahan, suatu cara profesional dan erotis dalam menelanjangi seorang wanita. Aku juga ikut menurunkan pakaian Indah dari sebelah kiri sehingga pakaian itu sekarang menggantung di perutnya. Dengan cekatan Dimas menurunkan cup BH kanannya dan langsung melumatnya dengan rakus. Indah melenguh merasakan payudaranya dihisap kuat oleh Dimas. Aku sekarang melepaskan pakaianku sendiri hingga bugil lalu mendekati Dimas yang sudah merebahkan tubuh Indah di ranjangnya. Kupeluk pinggangnya dari belakang dan melepaskan sabuknya disusul resleting celananya. Dimas berhenti sejenak untuk membiarkanku melucuti dirinya, disaat yang sama Indah juga melepasi pakaiannya. Kini kami bertiga sudah telanjang bulat. Kami menyuruh Dimas rebahan di ranjang agar bisa menservis penisnya. Penis yang sudah mengeras kukocok dan kujilati, lalu kumasukkan ke mulutku.

Bersama dengan Indah, kami bergantian melayani 'adik' Dimas dengan jilatan dan emutan. Indah melakukan aktivitasnya dengan terngkurap diatas tubuh Dimas dengan kata lain mereka dalam posisi 69, jadi Dimas bisa menikmati vagina Indah sementara kami berdua menikmati penisnya. Dimas sangat menikmati vagina Indah, hal ini nampak dari cara dia menjilat dan menyedot liang itu, terkadang suara hisapannya terdengar jelas sehingga membuat Indah mengerang pendek. Beberapa menit kemudian Indah mengerang lebih panjang dan suara seruput Dimas terdengar lebih jelas, ternyata Indah sudah mencapai orgasme pertama. Dimas mengganti posisi, Indah disuruh telungkup di ranjang dan pantatnya diangkat menungging, Dimas sendiri mengambil posisi di belakangnya dan mengarahkan senjatanya ke vagina Indah. Indah merintih sambil meremas sprei menikmati penis Dimas melesak masuk membelah bibir bawahnya. Ketika penis itu masuk sebagian, Dimas menghentakkan pinggulnya dengan bertenaga sehingga penisnya amblas seluruhnya dalam vagina Indah. Tubuhnya tersentak pelan dengan mata membelalak diikuti dengan erangan nikmatnya.

Dimas memompa Indah dengan gerakan-gerakan yang mantap dan erotis sehingga Indah tidak sanggup berkata apa-apa selain mengap-mengap keenakan. Kedua tangannya menjelajahi payudara Indah yang berukuran sedang tapi padat, kedua putingnya dipencet-pencet atau dipelintir. Aku sendiri yang tidak tahan hanya menonton mengambil posisi berselonjor di depan Indah, kedua pahaku kubuka lebar dan kudekatkan ke wajah Indah.
"Ndah.. jilatin punya saya yah.. nggak tahan nih!"
Indah mulai menjilati paha dan vaginaku, lidahnya menari-nari menggelikitik klitorisku yang sudah menegang sementara tangannya meraih payudaraku dan mencubit-cubit putingku. Lidah Indah memberi rangsangan tak terkira pada kemaluanku sehingga aku tidak tahan untuk tak mendesah. Desahan kami bertiga pun terdengar memenuhi kamar ini. Kami berganti posisi menjadi woman on top, Indah bergoyang di atas penis Dimas dan aku naik ke wajah Dimas berhadapan dengan Indah, kini vaginaku dilayani oleh Dimas dengan lidahnya.

Sambil terus bergoyang aku berciuman dengan Indah, aku kembali menikmati lidah sesama jenisku, kami bercipokan sambil mengeluarkan desahan-desahan tertahan. Ciuman Indah terus turun ke leherku hingga berhenti di payudara kananku, sebuah gigitan kecil disertai hisapan pada daerah itu membuatku menggeliat, disusul tangan Dimas menjulur dari bawah mencaplok yang kiri. Ooohh.. sepertinya bagian sensitifku diserang semua, lidah Dimas yang dikeraskan itu melesak masuk lebih dalam dan bergoyang menggelikitik dinding kemaluanku, tangannya yang satu meremas dan sesekali menepuk pantatku yang sekal. Aku semakin erat mendekap Indah sambil satu tanganku meremas payudaranya. Tak lama kemudian aku merasa sesuatu yang mendesak keluar dari bawah sana, ahh.. aku tak sanggup lagi menahan cairan cinta yang mulai membasahi vaginaku. Hal yang sama juga dialami Indah tak lama kemudian, dia melepas emutannya pada putingku, nafasnya makin memburu dan dia menaik-turunkan tubuhnya dengan lebih cepat.

Tubuh kami berdua mengejang hebat dan erangan klimaks keluar dari mulut kami. Dimas menusuk-nusukkan jarinya ke vaginaku membuat cairan itu makin membanjir dan tubuhku makin tak terkendali, aku mendesah panjang tanpa mempedulikan rasa sakit dari kuku Indah yang mencakar lenganku. Cairanku diseruput Dimas dengan rakusnya, vagina Indah juga mengeluarkan banyak cairan sehingga menimbulkan bunyi kecipak air. Goyangan kami mulai mereda, kami berpelukan menikmati sisa-sisa orgasme barusan, kami menghimpun nafas kami yang kacau balau, keringat seperti embun membasahi dahi dan tubuh kami. Akhirnya kujatuhkan diriku ke samping dan Indah jatuh di dekapan Dimas. Dimas menoleh ke samping bertatapan muka denganku lalu mengembangkan senyum, nampak mulutnya masih basah oleh cairan cintaku. Hebat juga dia, bisa membuat dua wanita klimaks dalam waktu hampir bersamaan, begitu pujiku dalam hati.

"Gimana girls, ready for next round? Saya belum keluar nih," katanya sambil mengelus rambut panjang Indah.
"Hhh.. kamu duaan aja dulu deh, saya kumpul tenaga dulu. Heh sialan kamu Ndah, pakai cakar-cakaran segala sakit tahu, nih!" omelku memperlihatkan bekas cakaran di lengan kiriku yang sedikit berdarah sambil mencubit lengannya.
"Hihihi.. sory dong Ci, tadi kan kita lagi lupa daratan lagi, yang penting kan enjoy juga," jawabnya santai sambil tersenyum kecil.
Sebentar kemudian Dimas sudah membalikkan tubuh Indah menjadi telentang dibawahnya, lalu kembali penisnya dimasukkan ke vagina Indah diiringi desahannya. Ranjang ini sudah mulai bergetar lagi oleh goyangan tubuh mereka. Sambil menggenjot Dimas meraih payudaraku dan memencetnya lembut sebagai sinyal mengajakku segera bergabung.
"Ntar yah, saya mau minum dulu nih, haus," kataku sambil bangkit berdiri dan mengambil sebuah gelas, aku membuka kran dispenser yang terletak di dekat jendela untuk mengisi air.

Ketika sedang meneguk air tiba-tiba aku mendengar suara kresek-kresek di pintu. Kutajamkan pendengaranku dan melihat ada seperti bayangan di celah bawah pintu, pasti seseorang mengintip kami pikirku. Aku tadinya bermaksud memberitahu mereka, tapi sebaiknya kuselidiki sendiri karena mereka sedang sibuk berpacu dengan nafsu sampai tidak begitu menghiraukanku. Kusingkap sedikit tirai jendela untuk melihat siapa di luar sana, ada seseorang pria sedang menempelkan telinganya pada pintu, dia juga berusaha mencari-cari lubang untuk mengintip, tapi wajahnya tidak jelas. Dalam pikiranku terbesit sebaiknya kuajak saja dia untuk meramaikan, mumpung aku dari tadi belum dimasuki penis karena Dimas sedang asyik menggumuli Indah. Maka sebelumnya aku melihat dulu sekeliling apa ada orang lain lagi selain dia, letak kamar ini cukup strategis agak ujung dan jauh dari keramaian, setelah yakin tidak ada siapapun lagi selain pengintip ini kuberanikan diri membuka pintu mengejutkannya. Pelan-pelan gagang pintu kuputar dan.. hiya.. orang itu terdorong masuk karena sedang menyandarkan tubuhnya pada pintu, dengan cekatan pintu kembali kututup. Orang itu benar-benar terkejut, bingung, dan terangsang melihat sekelilingnya bugil dan ada yang bersenggama pula.

Dimas dan Indah yang sedang berasyik-masyuk kontan ikut terkejut, Indah menyambar guling untuk menutupi tubuhnya dan menjerit kecil. Belakangan aku tahu dia adalah kacung di kost ini, namanya Dadan, usianya masih 17 tahun, anaknya tinggi kurus dan berkulit sawo matang. Tadinya dia cuma mau mengambil barang di gudang yang kebetulan harus lewat kamar ini, ketika itulah dia mendengar suara-suara aneh dan terpancing untuk mendengar dan mengintipnya. Dia langsung tertunduk-tunduk minta maaf berkali-kali karena dimarahi Dimas yang merasa gusar diintip olehnya. Namun ketika Dimas merenggut kerah baju pemuda itu dan hendak memukulnya buru-buru aku mencegah dan menenangkan si Dimas yang bertemperamen tinggi.
"Ehh.. sudah-sudah, dia kan nggak sengaja tadi, kita juga yang salah terlalu keras suaranya.. sudah kamu sana aja terusin pestanya sama Indah, biar dia, saya yang urus, lagian di sini kurang cowoknya," bujukku mengedipkan sebelah mata pada Dimas.
Kuelus-elus dada Dimas dan berusaha menenangkannya, setelah kubujuk-bujuk akhirnya dia mundur juga.
"Tenang Mas, kamu orang terusin aja, biar saya urus yang ini"

Akupun tersenyum padanya mencoba mengajak bicara sambil memegangi kedua lengannya, kurasakan tubuhnya masih agak gemetar dan tertunduk, entah karena tegang, kaget, atau malu.
"Nama kamu Dadan ya?" tanyaku dengan lembut dan dijawab dengan anggukan kepalanya.
"kamu tadi sudah ngeliat apa aja Dan?" tanyaku lebih lanjut
"Belum liat apa-apa kok Non, sumpah.. saya cuma denger suara-suara terus saya cari tahu" jawabnya terbata-bata
"Terus kamu tahu apa yang kita kerjain barusan itu?" dijawab lagi dengan anggukan kepala.
"Kamu pernah ngerasain ngentot sebelumnya?"
"Nggak pernah Non, paling cuma liat di VCD sambil coli"
"Ya sudah Dan, berhubung kamu sudah disini gimana kalau Mbak ajarin kamu soal gituan," aku tersenyum lagi dan mengangkat wajahnya yang tertunduk, walaupun gugup tapi matanya terus ke arah tubuhku yang polos, sebentar-sebentar juga melihat ke arah Indah.

Bersambung...
07.37 | 0 komentar | Read More
 
berita unik