Putri Malu

Putri Malu

Etiquetas

Tampilkan postingan dengan label Crito. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Crito. Tampilkan semua postingan

Si Tukang Koran

Written By Unknown on Minggu, 30 Maret 2014 | 16.51



Terus terang tak pernah aku berpikir bisa berbuat seperti ini sebelumnya. Di kalangan masyarakat komplek perumahan yang kutinggali, aku termasuk ibu rumah tangga yang alim dan terhormat. Aku sangat mencintai suamiku, Mas Wardi, yang berusia 38 tahun, cukup ganteng, punya jabatan pula, dia adalah seorang insinyur dan manager dari sebuah perusahaan konstruksi.

Aku sendiri Ani, 32 tahun, cukup cantik, bahkan menurut tetanggaku aku sangat cantik, hingga mereka bilang aku mirip Annisa Trihapsari, itu lho artis cantik mantan istri Adjie Pangestu yang sekarang berj****. Sama seperti dia, setiap keluar rumah, aku selalu memakai j**** panjang yang tersampir hingga ke pinggang, lengkap dengan jubah panjang yang menutupi seluruh tubuhku. Aku pun aktif di pengajian-pengajian yang sering diadakan di sekitar rumahku.

Memang kuakui aku agak kesepian. Sejak 5 tahun perkawinan, kami belum juga dikaruniai anak. Saat-saat suami tak di rumah, aku sering khawatir dan cemburu, takut dia mencari perempuan lain yang bisa memberikan anak. Demikian pula saat suami sedang sibuk atau lelah dan tak banyak ngomong, aku sudah cepat curiga dan cemburu pula. Aku sering membesarkan hati sendiri, bahwa tak ada yang kurang dari diriku. Pakaian islami, tubuh sintal, kulit putih, ukuran payudara 36B, pantat pun masih montok, tak mungkinlah suamiku mencari wanita lain di luar sana.

Demikianlah pada suatu ketika karena aku ada sedikit gangguan kesehatan, aku pergi berobat ke sebuah poliklinik posyandu yang tidak jauh dari rumahku. Biasanya suamiku sendiri yang mengantar ke RS Medika Kuningan, tetapi karena sedang tugas keluar kota jadi aku harus ke dokter sendiri. Hari itu aku memakai jubah panjang yang berwarna putih serta j**** berwarna merah muda yang juga panjang.

Saat aku turun dari angkot, nampak di ruang tunggu posyandu sudah penuh orang. Tetapi aku santai saja karena memang tak ada urusan yang menunggu sehingga harus buru-buru. Mas Wardi, keluar kota untuk 1 minggu sejak kemarin pagi. Aku juga tak perlu masak memasak. Kami berlangganan makanan dari tetangga yang mengusahakan catering.

Sesudah beberapa saat menunggu, aku berasa kepingin ke toilet untuk kencing. Sesudah melalui lorong poliklinik yang cukup panjang dan kemudian deretan pintu toilet untuk lelaki aku sampai ke toilet perempuan. Pada saat inilah peristiwa itu terjadi hingga melahirkan cerita ini.

Tanpa sengaja, saat melewati toilet lelaki, aku menengok ke sebuah toilet yang pintunya menganga terbuka. Aku langsung tertegun dan sangat kaget, seakan tersengat listrik. Kusaksikan seorang lelaki sedang berdiri kencing dan kulihat jelas pancuran kencingnya yang keluar dari kemaluannya yang nampak tidak tersunat. Yang membuat aku tertegun adalah kemaluan lelaki itu, sungguh luar biasa gede dan panjang.

Dalam pandangan yang singkat itu aku sudah berkesimpulan, dalam keadaan belum ngaceng saja sudah nampak sebesar pisang tanduk. Aku tak mampu membayangkan sebesar apa kalau kemaluan itu dilanda birahi dan ngaceng. Aku masih tertegun saat lelaki itu menengok keluar dan melihat aku sedang mengamatinya. Entah sengaja atau tidak, dia menggoyang-goyangkan kemaluannya itu. Mungkin untuk menuntaskan kencingnya, atau juga untuk memamerkannya padaku. Entahlah...

Aku cepat melengos. Aku malu dikira sengaja untuk melihatinya. Dan aku juga malu pada diriku sendiri, sebagai istri ataupun wanita sebagaimana yang aku gambarkan di atas tadi. Tetapi entahlah. Barangkali lelaki tadi telah sempat melihat mataku yang setengah melotot melihat kemaluannya. Aku sendiri jadi resah. Hingga sepulang berobat itu perasaanku terus terganggu.

Aku akui, oleh sebab peristiwa itu, selama aku menunggu panggilan dari petugas poliklinik, pikiranku terus melayang-layang. Aku tak mampu menghilangkan ingatanku pada apa yang kusaksikan tadi. Mungkin aku tergoda. Dan tidak sebagaimana biasanya, libidoku terganggu. Bayangan akan seandainya kemaluan sebesar itu menembusi vaginaku terus mengejar pikiranku. Jantungku terus berdegup kencang dan cepat. Entah apa yang kumaui kini. Kenapa aku jadi begini?! Seorang Ani Nurul Hidayah yang cantik, terhormat, dan alim tak boleh berpikir seperti ini!

Tapi aku malah mulai mencari-cari, siapa sebenarnya lelaki itu. Kutengok-tengok di antara pengunjung yang berada di ruang tunggu dan juga sepintas yang ada di teras dan halaman kebun, namun aku tak pernah menjumpainya lagi. Khayalanku bahkan terus bergerak menjadi demikian jauh. Kubayangkan seandainya kemaluan macam itu berdiri tegak macam Tugu Monas. Dan aku berada di dekatnya hingga hidungku disergap aroma kelelakiannya sambil aku membayangkan menjilati kemaluan tegak itu. Ahh.. Tanpa sengaja tanganku memilin puting susu dari balik j**** panjangku. Rasa gatal kurasakan pada ujung-ujung pentilku, begitu hebat.

Dua hari kemudian. aku sedang menyirami kembang di halaman saat aku dengar tukang pengumpul koran lewat depan rumahku, "Koran bekas.. Koraan..." teriakannya yang khas kudengar. Sudah lebih dari 3 bulan koran bekas numpuk dekat lemari buku. Aku pikir kujual saja untuk mengurangi sampah di rumah.

Tanpa banyak pikir lagi, "Bang, tunggu, saya punya koran bekas, tuhh..." sambil aku beranjak memasuki rumah untuk mengambilnya. Namun ternyata koran sebanyak itu cukup berat. Kuputuskan, biar si Abang itu saja yang mengambilnya. Kusuruh dia masuk sambil sekalian bawa timbangannya. Sesudah mengikatnya dengan rapi dan menimbangnya, dia memberikan Rp. 10.000, padaku untuk harga koran itu.

"Terima kasih, Bu.." Dan aahh.. Kurang ajar bener nih Abang. Saat menyerahkan uang di ruang tamu rumahku itu, tangannya setengah meraih dan kurasakan hendak meremas tanganku. Aku tarik secepatnya dan.. Aku kaget. Bukankah ini lelaki yang kulihat di poliklinik kemarin?!! Orang yang telah membuat jantungku berdebar keras-keras.

Semula aku hendak marah, namun kini ragu. Hatiku bicara lain. Bukankah dia yang telah mampu membuat aku resah gelisah. Bu Ani yang alim ini kini tertegun penuh birahi di hadapan seorang kuli pengumpul koran bekas. Tak terelakkan mataku mencari-cari. Mataku menyapu pandang pada tubuhnya. Berbaju kaos oblong sisa kampanye Pilpres I yang berlogo salah satu calon presiden itu, aku memperhatikan gundukan menggunung pada selangkangannya yang bercelana jeans kumel. Namun bila dilihat lebih jelas lagi, ternyata Abang ini bersih dan.. Sangat jantan!

"Hahh... rasanya saya pernah lihat Abang ini, deh," begitu aku berpura kelupaan. Dia melihati aku dengan pandangannya yang tajam menusuk. Terus terang, aku jadi takut dan bergidik. Mau apa dia?

Dan yang terjadi adalah langkah pasti seorang pejantan, "Yaa.. kita ketemu di poliklinik, bu. Waktu itu ibu menengok saya yang sedang kencing?!"

Aku nggak setuju dengan tuduhannya itu. Namun apa sih artinya. Toh terbukti dia telah menggetarkan jiwaku. Dan dengan penuh percaya diri yang disertai senyumannya yang mesum, dia mendesah berbisik. "Aku sering berselingkuh dengan perempuan di luar istriku, Bu. Aku tahu kebanyakan perempuan suka dengan apa yang aku punya. Aku sangat tahu, Bu," dengan bisik desah serak-seraknya, tanpa ragu dia membanting dan merobek-robek harga diriku.

Dan yang lebih hebat lagi. "Nih, Ibu mau lihat?" tanpa ragu lagi dia cepat membuka celananya dan mengeluarkan kemaluannya yang masih belum tegak berdiri.

Namun aku sekarang menjadi sangat ketakutan. Bagaimana seandainya dia bukan hanya menarik hati saja tetapi juga berbuat jahat atau kejam atau sadis padaku. Apa jadinya? Ahh, dia telah melumpuhkan pertahanan diriku yang berj**** panjang ini.

"Nggak, Bang. Cukup. Terima kasih. Sudah, tinggalkan saya. Tinggalkan rumah ini," kataku panik, cemas, takut dan rasanya pengin nangis atau minta tolong tetangga. Tetapi semuanya itu langsung musnah ketika tanpa terasa tanganku telah berada dalam genggamannya dan menariknya untuk disentuhkan dan digenggamkan ke batang kemaluannya yang kini telah bangkit membusung, dengan sepenuh liku ototnya, dengan semengkilat bening kepalanya, dengan searoma lelaki yang menerpa dan menusuk sanubariku.

"Lihat dulu, Bu. Jangan takut. Saya nggak akan menyakiti ibu, kok," bisiknya setengah bergetar, terdengar begitu penuh pengalaman dan sangat menyihir. Dan aku benar-benar menjadi korban tangkapannya seperti rusa kecil dalam terkaman singa pemangsanya.

"Lihat dulu, Bu..." sekali lagi diucapkannya. Kali ini dengan tangannya sambil meraih kemudian menekan bahuku untuk bergerak merunduk atau jongkok. Dan sekali lagi aku menjadi begitu penurut. Aku berjongkok. Dan kusaksikan apa yang memang sangat ingin kusaksikan dalam 2 hari terakhir ini.

Aku yang masih mengenakan j**** panjang berwarna hitam ini kini tengah berhadapan langsung dengan kemaluan seorang pria yang bukan suamiku, dan aku tengah terangsang. Ini bukan saja pesona. Ini merupakan sensasi bagi aku, Ibu Ani yang santun dan alim, istri manager yang juga insinyur itu.

Kini aku bergetar. Dengan jantungku yang berdegup-degup memukul-mukul dada, mataku nanar menatap kemaluan lelaki lain. Sungguh aku terpesona. Kemaluan itu nampak sangat keras bak laras meriam yang lobangnya mengarah ke wajahku. Aku menyaksikan lubang kencingnya yang menyihir libidoku. Aku menyaksikan kontol yang dahsyat itu. Aku langsung lumpuh dan luluh. Aku terjerat pesonanya.

Demikian pula saat kusaksikan ujung meriam itu mendekat, mendekat, dan makin mendekat hingga menyentuh pipiku, hidungku dan bibirku. Yang kemudian kudengar adalah sepertinya 'suara jauh dari angkasa' yang penuh vibrasi, "Jilat, Bu j****, Hisap kontol saya. Banyak kok ibu-ibu pengajian yang sudah menikmati ini juga. Hisap kontolku, Bu. Aku ingin merasakan bibir Bu j**** yang sangat cantik dan seksi ini. Aku ingin merasakan hisapan mulut ibu yang pake j**** panjang ini."

Tangan kanannya menekan kepalaku yang masih berbalut j**** dan tangan kirinya mengasongkan kontolnya ke mulutku. Bagaimana aku mampu mengelak sementara aku sendiri merasa lumpuh, sendi-sendiku tak bisa digerakkan. Aku merasakan ada asin-asin di lidahku. Aku tersadar. Aku jadi sepenuhnya sadar, namun segalanya sudah terlambat. Hisapan itu tengah berlangsung. Aku tak mampu menghindar, baik dari kekuatan fisikku maupun dari tekad yang dikuasai rasa bimbang.

Tidak lama. Mungkin baru berlangsung sekitar 1 atau 2 menit saat kontol itu terasa semakin mengeras dan memanas. Mulutku penuh dijejali bongkol kepalanya yang menebar rasa asin itu. Sambil berdiri mengangkangi aku yang jongkok di depannya, si Abang dengan sangat kuat mendorong-dorong kepalaku dan menggoyangkan pinggulnya mendorong dan menarik kontolnya ke mulutku. Lagi, lagi, dan lagi. Hingga nyaris membuatku tersedak. Rasanya ujung kontol itu telah merangsek maju mundur ke gerbang tenggorokanku. Kedutan-kedutan besar yang disertai semprotan-semprotan lendir kental yang hangat penuh muncrat ke haribaan mulutku. Aku tahu persis, si Abang telah menumpahkan air maninya ke mulutku!!

Dan kemudian yang tak kuduga sebelumnya adalah saat dia memencet hidungku hingga dengan ngap-ngapan aku terpaksa menelan tuntas seluruh cairan kentalnya dan membasahi tenggorokanku. Sepertinya aku minum dan makan kelapa muda yang sangat muda. Lendirnya itu demikian lembut memenuhi mulut untuk kukunyahi dan terpaksa menelannya. Bahkan pada suamiku aku tak pernah merasakan macam ini. Rasanya aku akan jijik dan tak akan pernah melakukannya pada Mas Wardi.

Aku masih tertegun dan setengah bengong oleh rasa yang memenuhi rongga mulutku saat dia menggelandangku ke kamar tidurku. Dengan tenaga kelelakiannya, dia angkat dan baringkan tubuhku ke ranjang pengantinku. Entah kekuatan apa, aku tak mampu mengelakkan apa yang si Abang ini perbuat padaku. Dia lepasi busanaku. Dia tarik hingga robek jubahku. Demikian pula pakaian dalamku. Namun yang aneh, dia menyisakan balutan j**** panjang berwarna hitam, tetap menempel di kepalaku. Dia renggut BH-ku seketika hingga aku juga yakin kancing-kancingnya lepas. Dan tak ayal pula direnggutnya celana dalamku. Dia ciumi celana itu sambil menebar senyuman birahi dari gelora syahwatnya yang sedang terbakar gairah. Kemudian ia rebah menindih tubuh telanjangku.

"Bu muslimah, biar saya buat ibu ketagihan yaa. Nikmati kontolku, Bu. Mahal nih. Gak sembarang ibu-ibu bisa merasakannya. Saya pilih-pilih orangnya," begitu suara orang yang dilanda prahara birahi sambil tangannya meremasi pinggul kemudian bokongku, sementara bibirnya yang demikian tak terawat nyosor untuk melumat bibirku.

Aku berusaha menolaknya. Rasa jijik dan enggan menderaku. Namun sasaran berikutnya benar-benar membuat aku menyerah. Dia kemot-kemot pentil susuku. Dia gigiti dagingnya. Entah berapa lama dia hisep dan jilat seluruh tubuhku hingga meninggalkan cupang-cupang kotor pada seluruh permukaan kulit buah dadaku, leherku, bahuku, bahkan ketiakku. Kemudian ciumannya turun ke perut, ke selangkangan, ke pahaku. Dan adduuhh.. Ini sungguh sangat keterlaluan. Dia menjilati liang vaginaku! Tapi aku tidak bisa menolak, karena aku juga menikmatinya. Rasanya sungguh geli, tapi sangat enak. Suatu kenikmatan hubungan seksual yang belum pernah aku dapatkan dari suamiku.

Dan ketika puncak birahinya datang, si Abang ini naik merangsek dan menindih kembali tubuhku. Kurasakan kontolnya mulai menggosok-gosok paha dan selangkanganku. Aku sudah benar-benar terbius. Dorongan nafsu birahiku sudah berada di ambangnya. Aku sudah tak mampu lagi menahannya. Kini desah, rintih, jerit tertahan keluar dari mulutku dan memenuhi kamar pengantinku yang sempit ini.

"Tolong, Bang.. Ayo, Bang.. Aku sudah nggak tahan.. Toloong.. Enak banget, Bang.. Aku cinta kontol abang.. Biar aku minum lagi pejuh abang nanti ya..." kuraih kemaluan besar itu dengan cepat dan kutuntun untuik menembusi kemaluanku yang sudah sangat menantinya.

Masih dalam upaya penetrasi, dimana ujung kontol dahsyat itu sedang menerpa-terpa bibir kemaluanku ketika aku meraih orgasme pertamaku. Aku kembali menjerit dan mendesah tertahan. Kulampiaskan nafsu syahwatku. Kurajam pundak si Abang dengan cakarku. Kuhunjamkan kukuku ke dagingnya. Rasanya kemaluanku demikian mencengkeram untuk mempersempit kepala kemaluan itu menembusinya. Namun rasa gatal ini sangat dahsyat. Si Abang cepat menerkam bibirku sambil mendesakkan kontolnya dengan kuat ke lubangku. Dan bless..! Aku langsung diterpa orgasme keduaku. Ahh.. Inikah yang disebut orgasme beruntun? Hanya selang 10 detik aku mendapatkan kembali orgasmeku. Ternyata memang inilah dia.

Dalam hujan keringat yang menderas dari tubuhku dan tubuhnya selama dua jam hingga jam 4 sore, aku mendapatkan orgasme beruntunku hingga sekitar 10 atau 12 kali. Aku tak mungkin melupakan kenikmatan macam ini. Aku tertidur karena puas dan lelah yang kudapatkan.

Aku terbangun saat kupingku mendengar telpon berdering. Aku bangun dan lari untuk mengangkatnya, "Sayang, apa kabar? Sehat? Aku sedang berada di pusat kerajinan di Balikpapan, nih. Banyak barang-barang artistik disini. Pasti kamu senang. Mau dibeliin apa?" demikanlah kebiasaan suamiku kalau bertugas keluar kota. Dia selalu menyempatkan diri mencari barang-barang kerajinan asli setempat. Dia tahu aku sangat menyenangi barang-barang macam itu.

Kasihan, sementara dia bekerja keras jauh dari rumahnya, dia telah kehilangan permatanya. Ternyata dengan gampang aku telah meninggalkannya dalam selingkuhku dengan si Abang. Masih pantaskah aku menjadi istri yang alim dan terhormat?Kulihat si Abang telah pergi. Mungkin sebelum aku terbangun tadi.

Tumpukan koran itu telah dibawanya. Kulihat barang-barangku yang lain tak ada yang berubah dari tempatnya. Ah, terkadang kita cepat curiga dengan orang lain yang kelasnya seakan di bawah kita.

Aku masih termangu hingga sore mengendap dan menggelap. Bibir dan dinding kemaluanku masih terasa pedih. Aku nggak tahu. Aku ini menyesal atau tidak atas selingkuh yang telah aku perbuat. Bahkan aku juga lupa Mas Wardi mau belikan apa tadi?! Yang aku mencoba mengingatnya hanyalah sekitar 5 atau 6 kali aku telah meraih orgasme dalam berasyik masyuk sepanjang 2 jam dengan Abang pengumpul koran bekas tadi. Mungkin itu akan menjadi rekor seumur hidupku.
16.51 | 1 komentar | Read More

Lima Perampok



Rumah itu tampak sepi saat Doni pergi meninggalkannya untuk pergi beranglat kerja ke kantor. Dia tidak pernah tahu bahwa ada lima orang begundal tengah mengamatinya dari dalam mobil box yang terparkir di ujung gang.

"Gimana, Bang, kita serbu sekarang?" tanya Botak.

"Tunggu, jangan keburu nafsu. Lihat situasi dulu, bego loe!" kata Mamat, pemimpin gank perampok tersebut.

"Biasanya jam segini, hansip suka lewat pake sepeda. Kita tunggu sebentar, Bang." kata Tatto yang sudah seminggu mengamati rumah itu.

Bener kata Tatto, lima menit kemudian, dua orang hansip melewati jalan itu dengan mengayuh sepeda mereka. Kelima orang itu segera berpura-pura tengah menganti ban mobil box yang sama sekali tidak bocor.

Setelah hansip itu berlalau, Mamat langsung bertanya, "Gimana, sekarang?"

"Oke, Bang. Hansip itu cuma lewat, lalu nongkrong di pos ujung sana, main gaple," terang Tatto.

"Oke, kita siap beroperasi. Botak, elo sama si Bedu masuk dulu. Beresin korban kita," perintah Mamat.

Kedua orang itu segera bergerak cepat, mereka melompati pagar dan tanpa kesulitan masuk ke dalam rumah yang pintu utamanya tidak dikunci itu. Nyaris tak terdengar, mereka bergerak dengan cekatan melumpuhkan pembantu setengah tua yang memergoki aksi mereka. Kedua begundal itu kemudian mengendap pelan menuju ke kamar tidur utama dan membuka pintunya.

Hajar, seorang ibu muda berj****b yang saat itu sedang asyik bersolek, kontan terkejut dengan kehadiran mereka. "Siapa kalian? Mau apa kalian kemari?" hardiknya setengah takut.

Mereka tersenyum menyeringai. Secepat kilat Botak telah memeluk tubuh Hajar lalu membekap mulutnya. Bedu menggunakan lakband yang dibawanya untuk membungkam mulut wanita cantik itu. Setelah si Nyonya rumah berhasil dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti, Botak segera keluar untuk membuka pintu pagar. Dengan anggukan kepala ia memberi kode kepada ketiga temannya agar cepat menyusul masuk. Mobil box segera bergerak masuk ke dalam garasi. Tatto, Joki dan Mamat meloncat turun dari mobil dan segera mengikuti Botak masuk ke dalam rumah.

"Hei tunggu, dia punya anak. Satu lima tahun, satunya masih orok." terang Tatto.

"Gak ada, gua udah periksa sekeliling rumah," jawab Botak.

"Udah, gak usah peduli, cuma anak kecil aja. Ambil harta di rumah ini, cepat!" perintah Mamat.

Mereka pun segera berpencar untuk mencari segala benda berharga yang mungkin bisa dibawa, mulai dari setrika murahan hingga TV layar datar yang ada di ruang keluarga. Tak lupa juga lemari Hajar yang ada di kamar diobrak-abrik oleh mereka. Mamat mendapatkan sejumlah uang dan perhiasan. Ia juga menggondol surat-surat berharga yang ada disana. Tak sampai setengah jam, harta benda di rumah itu telah berpindah ke dalam mobil box.

"Ayo, jalan." kata Tatto.

"Tunggu, gimana kalau kita senang-senang dulu. Nih cewek cakep juga, gua mau cobain," kata Mamat sambil memandangi Hajar yang hari itu mengenakan busana terusan panjang berwarna hijau dan j****b putih lebar sedada.

Hajar meronta dalam ikatannya saat perlahan Mamat mulai mendekatinya, yakin sesuatu yang buruk akan segera menimpa dirinya. Hajar langsung menjerit begitu Mamat membuka lakban yang menyumpal di mulutnya, "Tolong!! Rampok!!"
.
Plak! Dengan sadis sebuah tamparan Mamat hinggap di pipi wanita berj****b tersebut. Hajar meringis kesakitan, apalagi saat tiba-tiba Mamat mengeluarkan sepucuk pistol dan menempelkan di lehernya. Rasa dingin langsung menjalar di seluruh tubuh Hajar.

"Elo mau gua bunuh?" ancam Mamat.

"Jangan, ampun... ampun, Bang." Hajar menghiba.

Tiba-tiba Mamat menjulurkan lidahnya untuk menjilat wajah perempuan cantik itu. Hajar meronta, jijik dia rasakan. Tapi Mamat sepertinya tidak peduli,sambil memegang kepala Hajar, ia melumat bibir ibu muda beranak dua itu dengan penuh nafsu. Mamat mendorong lidahnya masuk ke dalam mulut Hajar yang terus meronta.

"Ampun, Bang. Saya sudah punya suami, jangan perlakukan saya seperti ini," rintih Hajar.

"Huahaha... sama, gua juga sudah punya bini. Bini gua tiga malah, hahaha..." ejek Mamat. Dengan cepat tangannya terulur untuk meremas buah dada Hajar yang berada di balik baju terusan hijaunya.

Hajar meringis akibat remasan keras itu. Saat itu timbul lagi keberaniannya. Dia dengan keras mendorong tubuh Mamat dan berusaha untuk lari. Tapi apa daya, seorang wanita yang barusan melahirkan melawan lima orang pria yang kasar. Tatto dengan sigap menangkap tangannya lalu menyeretnya kembali ke atas ranjang. Dibantingnya tubuh montok Hajar hingga wanita berj****b ini terbaring telentang di atas tempat tidur. Botak dan Bedu segera memegangi kedua tangan Hajar erat-erat agar takbisa lari lagi.

Joki memberikan sebilah belati tajam pada Mamat. Mamat menyeringai saat menerimanya, kembali ia mengancam Hajar. "Loe mau mampus yah?" hardiknya berang.

Hajar menggeleng, "Jangan! Ampun! Tolong… " ia kembali menghiba.

Dengan belati yang ada di genggamannya, Mamat merobek pakaian Hajar, mereka tercengang menatap buah dada Hajar yang lumayan besar terburai keluar. Kini tubuh wanita itu hanya ditemani j****b putihnya yang lebar dan celana dalam warna kremnya.Tapi itu pun juga tidak akan bertahan lama. Wajah Hajar terlihat memerah, belum pernah dalam hidupnya dia merasa terhina dan malu seperti ini. Tubuhnya yang separuh bugil dinikmati oleh mata mata liar para perampok itu. Kembali Mamat memainkan belati itu di hadapan mukanya.

"Ampun, Bang, jangan sakiti saya..." Hajar meminta.

"Dengar yah, gua cuma mau senang-senang sama elo. Jadi kalau elo nurut, tentu gua gak akan sakitin elo." kata Mamat.

Hajar terlihat pasrah. Ketiga anak buah Mamat yang lain hanya diam menatap dirinya dengan nafsu, mereka tak berani bertindak sebelum diperintah bosnya yang terkenal kejam itu. Tangan Mamat tiba-tiba meremas buah dada Hajar dengan keras. Hajar tentu saja merintih dibuatnya. Begitu kerasnya remasan itu hingga mendesak ASI yang ada di dalamnya hingga muncrat keluar. Mamat tersenyum, dengan penuh nafsu dia segera menjilati ASI Hajar yang meleleh keluar. Kasar disedotnya puting susu Hajar dengan rakus bagai bayi yang kelaparan. Tangannya terus memencet, sementara mulutnya terus menghisap dengan ganas. Kedua-dua susu Hajar mendapat perlakuan seperti itu hingga membuat keduanya jadi begitu basah dan memerah.

“Jangan dihabiskan, Bang. Ini ASI buat anak saya.” Hajar mengingatkan.

Mamat tertawa mendengarnya, begitu juga dengan keempat anak buahnya. Puas dengan payudara Hajar, Mamat menurunkan jilatannya ke bawah, ia kini bermain di pusar Hajar dan terus menuju ke arah selangkangan perempuan cantik itu. Mamat dengan penuh nafsu mengendus aroma vagina Hajar yang baru melahirkan, membuat tubuh Hajar menggelinjang karenanya. Walaupun sehari-harinya dia adalah seorang ibu rumah tangga yang alim dan pemalu, tapi Hajar tetaplah seorang manusia, seorang wanita yang mempunyai nafsu birahi. Diperlakukan seperti ini oleh Mamat, tanpa bisa dicegah, perlahan birahinya mulai muncul dan meningkat, meninggalkan jejak basah dan lembab di celana dalam kremnya.

Mamat yang mengetahui korbannya mulai jinak, terus menggesekkan hidungnya ke selangkangan Hajar. Diendusnya kelamin itu sambil lidahnya terus merangsek disana. Sedikit demi sedikit celana dalam Hajar mulai tersingkap. Hingga selanjutnya, tanpa perlu melepasnya, Mamat sudah bisa menjilati lubang vagina Hajar yang mengintip malu-malu dari celahnya. Diserang seperti itu membuat Hajar mulai mendesah nikmat. Apalagi ditambah rangsangan yang diberikan Tatto dengan remasan-remasan lembut di atas buah dadanya, sementara putingnya yang mungil disedot bergantian oleh Botak dan Bedu sambil tetap memegang erat kedua tangannya.

"Tolong... jangan… tolong..." erang Hajar saat merasakan tangan Mamat mulai berusaha menurunkan celana dalamnya.

Mamat hanya tersenyum mendengarnya. Ia sama sekali tidak peduli dengan rintihan perempuan cantik berj****b lebar itu. Tangannya terus menurunkan celana dalam Hajar hingga benda itu teronggok di lantai. Tak berkedip Mamat memandangi vagina Hajar yang terawat rapi tanpa bulu kemaluan, ia terlihat sangat menyukainya.

"Wah, memek elo bagus banget..." puji Mamat sambil berusaha membuka lebar kedua kaki Hajar. Dengan dua jarinya, ia membelah bibir kemaluan Hajar. Mamat bisa melihat dengan jelas, ada tahi lalat sebesar kismis di sebelah kiri bibir vagina perempuan cantik itu.

"Wah, biasanya cewek ada tai lalat di memeknya gini tandanya nafsunya besar." ujar Mamat. Ucapan itu tentu saja semakin membuat Hajar malu. Dia pun berusaha merapatkan kedua kakinya, tapi Mamat segera menahannya. Lidah Mamat dengan penuh nafsu menjilati klitoris Hajar yang kini terbuka lebar.

"Aahhhh…" erangan panjang Hajar terdengar. Lidah kasar Mamat dengan buas menggelitik klitorisnya yang tentu saja membuat wanita berj****b itu menjadi birahi. Liang vaginanya mulai mengeluarkan lendir birahi.

Mamat terus menyedot-nyedot klitoris Hajar dengan penuh nafsu. Sesakali ia juga mencucupi belahan memek Hajar yang tampak baru sembuh dari luka melahirkan. Perbuatan itu makin membuat Hajar menggelinjang kegelian, dia sudah tak mampu lagi menyembunyikan gairahnya. Apalagi saat lidah Mamat terus menari, makin lama makin cepat menyapu klitoris dan cairan yang keluar dari liang vaginanya, hingga sesaat kemudian tubuh wanita imut itu mengejang, Hajar tak dapat lagi menahan birahinya, dia memekik dan orgasme oleh jilatan lidah Mamat!

"Hahaha... enak kan?" goda Mamat dengan mulut belepotan oleh cairan. Hajar hanya bisa memejamkan matanya sebagai jawaban.

Mamat sekarang ganti menyodorkan penis besar dan hitamnya di depan wajah Hajar. "Isep kontol gua!" perintahnya kejam. Tentu saja Hajar menolak. Dia segera merapatkan mulut dan membuang mukanya, tidak mau memandang benda yang menurutnya menjijikkan itu.

Mamat tertawa, "Hahaha... kenapa, loe gak suka kontol gua yah?" sambil berkata, dia mulai mendesakkan ujung penisnya ke bibir Hajar, tapi Hajar dengan hati bulat tetap merapatkan mulutnya sekuat tenaga.

Tangan Mamat tiba-tiba meremas keras buah dada Hajar sampai-sampai air susunya muncrat keluar. Perbuatannya itu tentu saja membuat Hajar menjerit kesakitan. "Ahhhh… sakit!" pekik Hajar dengan mulut terbuka lebar.

Saat itulah, tanpa permisi, Mamat mendorong penis besarnya masuk ke dalam mulut Hajar. Hajar yang sama sekali tak siap, tidak bisa berbuat apa-apa. Mulutnya kini disumpal sepenuhnya oleh kontol besar Mamat, membuatnya jadi ingin batuk dan tersengal-sengal. Apalagi saat penis itu mulai bergerak keluar masuk dengan cepat, Hajar makin tersiksa saja dibuatnya. Tapi dia sama sekali tidak bisa menolak karena kedua tangannya masih setia dipegangi dengan erat oleh Botak dan Bedu.

"Ohh... ahh… mulut elo enak juga yah," erang Mamat sambil terus mengocok penisnya di mulut manis Hajar. Sedang Hajar hanya bisa mengerang, dia sama sekali tidak bisa bersuara karena mulutnya tertahan oleh penis besar laki-laki itu. Benda itu terus bergerak dan mendorong-dorong hingga ke dalam tengorokannya. Agar tidak tersedak, terpaksa Hajar mulai menjilatinya meski dengan hati tidak rela.

”Nah, gitu dong. Isep terus kontol gue!” kata Mamat, tampak begitu menikmati apa yang dilakukan oleh Hajar. Tak perlu waktu lama, ia mulai dekat ke puncak birahinya. Terlihat dari gerakan pinggulnya yang semakin kasar, juga dengus nafasnya yang semakin berat. Mamat menghentak-hentakkan penisnya keras-keras, menyodok kerongkongan Hajar dalam-dalam. Lalu, "Ahhhh… gua keluar!" erang Mamat dengan tubuh bergetar dan sedikit kelojotan. Penisnya dengan deras menyemburkan cairan panas ke dalam mulut Hajar.

Di bawah, Hajar menerimanya dengan sedikit kalap. Tidak ingin menelan cairan itu, ia berusaha meronta untuk memuntahkan sperma Mamat. Tapi Mamat dengan sekuat tenaga menahan penisnya, ia terus menancapkan benda itu di mulut Hajar, bahkan dia sedikit mendorongnya dalam-dalam hingga tidak ada satupun cairan maninya yang tumpah keluar.

"Telan peju gua, goblok!!" bentak Mamat pada wanita berj****b itu.

Hajar tetap tidak mau, dia terus meronta dan melawan sekuat tenaga hingga akhirnya dengan sengaja Mamat menjepit hidungnya. Hajar kelabakan, dia kehabisan nafas. Dengan hidung tersumbat dan mulut dijejali penis besar Mamat, dengan cepat tubuhnya jadi lemas. Kalau tetap mau hidup, mau tak mau Hajar harus menelan sebagian sperma Mamat. Maka jadilah dengan berat hati ia melakukannya. Rasanya yang menjijikkan sempat membuat Hajar ingin muntah, tapi sumbatan penis besar Mamat pada mulutnya membuat ia mengurungkan niat.

Puas melihat Hajar menghabiskan semua spermanya, Mamat menarik keluar penisnya. Hajar yang mendesah lega, sebisa mungkin memuntahkan sperma Mamat yang tertinggal di mulutnya. Para perampok itu tertawa-tawa melihat ulahnya.

"Nah, sekarang elo-elo boleh mainin wanita ini, tapi jangan dientot dulu, itu bagian gua, hahaha..." kata Mamat pada anak buahnya.

Keempat orang yang sudah dari tadi menunggu sang bos selesai, segera berhamburan mengerubung tubuh montok Hajar yang berbaring tak berdaya di atas ranjang. j****b putih yang menutupi kepalanya sudah terlihat acak-acakan, tapi bukannya membuat jelek, j****b itu justru makin menambah pesona kecantikan wanita beranak dua itu. Keempat perampok dengan tidak sabar menggerayangi tubuh molek Hajar. Dua orang dengan bernafsu meremas-remas keras buah dadanya. Air susu Hajar sampai muncrat-muncrat keluar tak terkendali karenanya. Sementara dua yang lain menggarap di bagian bawah.

"Ampun... sakit… hentikan..." erang Hajar pilu.

Tatto yang sedari tadi membantu bosnya memegangi tangan Hajar agar tak meronta, kini meminta Hajar untuk menservis penisnya. Sedang Joki yang berperawakan besar, asyik menyodok-nyodok vagina Hajar dengan dua jari. Mamat yang sudah orgasme tersenyum melihat kerakusan anak buahnya. Sambil menghisap rokok kreteknya, dia keluar kamar dan mencari lemari es besar yang tak dapat ia bawa dengan mobil boxnya. Mamat membuka pintu kulkas tersebut, mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya. Rasanya capek juga setelah mengerjai tubuh Hajar. Saat itulah, matanya melihat ada beberapa buah mentimun besar di sana. Tersenyum senang, Mamat lalu mengambilnya dan membawanya ke tempat tidur.

"Ahh… sakit… sudah…" terdengar erangan Hajar yang mengiba. Terlihat Joki sedang mengorek-ngorek liang vaginanya dengan dua jari. Sementara di atas, Botak dan Bedu masih terus asyik menyusu pada putingnya.

"Eh, pake ini..." kata Mamat sambil memberikan mentimun di tangannya.

Joki menoleh dan menerimanya dengan senang hati. Dia segera mengarahkan ketimun itu ke liang vagina Hajar. Ketiga temannya melihat sambil bersorak-sorak seru.

"Iya, .. ayo sodok, Jok." kata Botak dengan tangan terus menggerayangi susu besar Hajar.

"Jangan... jangan... tolong… jangan…" pinta Hajar memelas. Tapi tidak ada yang mempedulikan teriakannya. Bahkan yang ada adalah rasa panas yang tiba-tiba menyerang buah dadanya. Kontan Hajar memekik kaget!

"Ahhhh… panasss… perih..." jeritnya ketika Mamat dengan sadis menyundut bara rokok ke puting buah dadanya yang montok karena berisi ASI.

"Badan loe punya gua sekarang, jangan teriak-teriak... guoblok!" bentak Mamat kejam.

Tapi Hajar menjerit kembali ketika mentimun besar yang ada di belahan selangkangan didorong dengan kuat secara tiba-tiba oleh Joki. Begitu besarnya benda itu hingga seakan-akan merobek liang vaginanya. "Aghhh… sakit… hentikan..." erang Hajar menyedihkan.

Tak peduli, Joki mulai menggerakkan mentimun itu secara kasar. Dia menyodokkannya keluar masuk di liang vagina Hajar yang masih kelihatan sempit meski baru saja melahirkan. Bagai sebuah vibrator, Joki menggunakan mentimun itu untuk menyetubuhi Hajar. Erangan kesakitan perempuan cantik itu sama sekali tidak ia hiraukan.

Bedu dan Botak yang tidak mau kalah, kembali asyik meremas-remas dan menghisapi buah dada Hajar. Mereka menyedot putingnya yang mungil kemerahan keras-keras hingga air susu Hajar tumpah keluar. Dengan gemas mereka lalu menjilat dan menelannya. Semua perlakuan itu sangat melecehkan Hajar dan menyakiti tubuhnya, namun apa daya, ia sama sekali tidak bisa menolak. Jangankan menolak, untuk berteriak pun dia tidak bisa karena sekarang Tatto sudah kembali menjejali mulut Hajar dengan penisnya yang besar dan panjang, ia menyuruh Hajar untuk mengulum dan menghisapnya. Takut disundut rokok lagi, Hajar pun melakukannya. Jadilah ia merelakan seluruh tubuhnya yang selama ini cuma diberikan pada sang suami untuk dinikmati oleh keempat perampok bejat itu.

Lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara dering telepon genggam yang berbunyi nyaring. Mamat segera mencarinya. Ternyata itu dari HP Hajar yang berada di tumpukan baju. Mamat menatap layarnya dan menyeringai. Disitu tertera tulisan ’CINTAKU’. Ia segera menoleh pada keempat anak buahnya dan berkata. "Stop dulu," Mamat memberi perintah kepada mereka agar menghentikan kegiatannya sejenak.

Berbekal belati mengkilap yang ada di tangannya, ia berjalan mendekati Hajar dan menempelkan belati itu ke leher Hajar yang jenjang. "Angkat telepon ini, tapi jangan macem macem. Bilang kamu baik-baik saja atau gua gorok leher elo!!" ancam Mamat bengis.

Tahu kalau laki-laki itu bersungguh-sungguh, Hajar tidak berani berbuat macam-macam. Selain takut pada keselamatannya sendiri, ia juga takut dengan nasib kedua buah hatinya kalau sampai membuat Mamat marah. Jadi, dengan suara dibuat senormal mungkin agar suaminya tidak curiga, Hajar menerima telepon itu. "Hallo, Mas…" katanya.

Suasana sunyi sejenak. Hajar tampak konsentrasi mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang suami. Sementara di sekelilingnya, Mamat beserta anak buahnya menatap tajam sambil terus mengelus-ngelus tubuh montoknya.

"Ohh... ehh... tidak, tidak apa-apa." Hajar mendesah saat Botak dan Bedu kembali berebutan menghisap puting susunya. Di bawah, Joki kembali menggerakkan mentimun yang ada di genggaman tangannya ke dalam memek sempit Hajar.

"Enggak kok, cuma pusing sedikit... tapi aku gak apa-apa kok, Mas." Hajar berbohong pada sang suami. Mamat menyeringai senang mendengarnya. Dia mengangguk sebagai tanda persetujuan.

Tatto yang tidak bisa memakai mulut Hajar untuk mengulum penisnya, kini ganti meminta Hajar untuk mengocok penisnya menggunakan tangannya yang bebas, yang tidak memegang HP. Hajar menurutinya, sambil mendengarkan suara sang suami, ia mulai mengurut kontol besar itu.

Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu sampai akhirnya pembicaraan Hajar selesai, "Yah... baik, Mas, baik..." kata Hajar lalu menutup teleponnya.

"Hahaha... lanjut!!" kata Mamat pada keempat anak buahnya.

Kembali tubuh Hajar dikeroyok oleh mereka. Joki terus menyodok-nyodok liang vaginanya semakin keras menggunakan mentimun. Sedang Botak dan Bedu sudah menjadikan susunya seperti adonan roti, mereka memencet dan memijitinya kuat-kuat hingga benda itu jadi tidak berbentuk lagi. Payudara Hajar jadi sedikit penyok dan merah-merah akibat ulah mereka. Yang paling mengenaskan adalah putingnya, sekarang sudah tidak ada lagi ASI yang keluar dari sana. Botak dan Bedu sudah menghabiskannya. Entah dengan apa Hajar akan menyusui anaknya nanti. Sementara Tatto yang sejak tadi sudah tak sabar, segera memperkosa mulut Hajar kembali hingga perempuan cantik berj****b lebar jadi tidak bisa mengeluh dan bersuara sama sekali. Mamat dengan santai duduk di kursi meja rias menyaksikan ulah keempat anak buahnya sambil menghisap rokok kreteknya kuat-kuat.

Tidak lama, terdengar erangan nikmat Tatto, "Ohh… ahh… gua mau keluar nih... yang enak ngemutnya!" Dengan kasar ia terus menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam mulut Hajar yang mungil.

”Ah, payah loe. Bentar aja udah keluar!” ejek Joki. Tangannya masih dengan setia menyodok-nyodok memek Hajar menggunakan mentimun.

”Loe belum ngerasain sih gimana enaknya mulut nih cewek.” balas Tatto, tak mau dikatakan lemah. Sambil terus menggerakkan penisnya cepat di mulut Hajar, ia pun orgasme. Tatto melepaskan spermanya di mulut Hajar. Tapi karena begitu banyaknya, sebagian tumpah membasahi wajah cantik Hajar yang masih tertutup j****b lebar. Hajar kembali harus menelannya kalau tidak mau tersedak.

Mamat yang saat itu sudah kembali birahi, berjalan mendekat ke arah ranjang. Penisnya yang hitam panjang tampak sudah mengacung tegak. Sambil mengelus-elusnya, ia berkata pada Joki. "Eh, Jok, geser loe. Gua mau cobain memeknya."

Sebagai anak buah, Joki tidak bisa membantah. Meski masih ingin mengobel vagina Hajar lebih lama lagi, ia terpaksa menggeser tubuhnya. Ia bertukar tempat dengan Tatto yang sekarang sudah duduk keenakan di lantai. Joki menusukkan penisnya ke mulut Hajar dan meminta wanita cantik itu untuk mengulumnya. Tidak bisa menolak, lagi-lagi Hajar melakukannya. Mulutnya dengan sigap mulai mengelomoti kontol besar Joki. Sementara di bawah, Mamat sedang berusaha membuka kedua kakinya agar vagina Hajar terpampang lebih jelas lagi. Memposisikan tubuhnya, Mamat kemudian mengarahkan penisnya yang sudah kembali keras ke arah lubang sempit itu.

Hajar berusaha meronta sebisa mungkin saat ujung kontol Mamat mulai terasa mendesak masuk ke celah bibir vaginanya. Diperkosa di mulut, mungkin ia masih bisa menerima. Tapi ditusuk di kemaluan, Hajar sama sekali tidak bisa menoleransi. Sekuat tenaga, ia berusaha untuk memberontak. Tapi apalah daya seorang wanita melawan tenaga lima orang lelaki, dengan cepat mereka meringkus Hajar dan menghadiahinya sebuah pukulan keras di perut untuk membuatnya diam. Merintih kesakitan, Hajar langsung berhenti meronta.

"Diam! Bego loe..." ancam Botak. Rupanya dia yang barusan menghantam perut Hajar.

Tersengal-sengal, Hajar menganggukkan kepalanya takut-takut. Di bawah, begitu Hajar sudah tenang, dengan satu kali dorongan keras, Mamat menyodokkan penis besarnya memasuki liang vagina perempuan cantik itu.

Kontan Hajar menjerit keras, "Arghh... sakit! Hentikan... jangan… ampun..." merintih-rintih, ia kembali meronta. Tapi apa daya, itu tidak bisa menghentikan perbuatan Mamat yang terus asyik memperkosa dirinya. Malah Mamat terlihat menikmati segala jeritan dan rontaan Hajar. Ia menyeringai setiap kali Hajar menjerit kesakitan. Bahkan ia melarang saat Botak ingin memukul Hajar lagi untuk membuatnya terdiam.

”Jangan! Lebih enak begini!” mendengus-dengus, Mamat menggenjotkan penisnya semakin keras. Memek Hajar yang sempit terasa mencekik batangnya, tapi bukannya sakit, Mamat justru sangat menikmatinya. Vagina seperti inilah yang ia cari sejak dulu. Mamat tak pernah menyangka kalau akan mendapatkannya dari Hajar, wanita alim berj****b yang sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya.

Melihat sang boss bertindak kesetanan, perampok yang lain jadi ikut tergoda untuk menyakiti tubuh molek Hajar. Mereka dengan suka cita mencubit, meremas, mengigit, dan menampar-nampar seluruh tubuh Hajar secara bergantian. Hajar yang menjerit-jerit penuh permohonan sama sekali tidak mereka hiraukan. Berlomba bersama Botak, Bedu terus memainkan buah dada Hajar dengan menghisapi putingnya kuat-kuat sambil sesekali menarik dan menggigitnya penuh nafsu dengan menggunakan gigi mereka yang tonggos dan tidak rata.

"Aahhh... ampun! Ahhhh... sakit… hentikan..." jerit Hajar pilu. Di atas, penis besar Joki menampari wajahnya, juga pipi dan hidungnya hingga membuat Hajar jadi sedikit kesulitan bernafas. Ia terus mengerang kesakitan, tapi keempat perampok yang mengerubunginya sama sekali tidak menunjukkan rasa kasihan. Mereka terus menyerang dan membelai tubuhnya penuh nafsu. Bahkan sekarang Botak ikut meniru Joki dengan mengolesi muka Hajar mengginakan ujung penisnya. Bedu yang mendapat jatah kedua bukit kembar Hajar terlihat senang sekali. Ia tersenyum gembira dan langsung menelusupkan mukanya di belahannya yang empuk, sambil jari-jarinya tak henti memijit dan menarik-narik putingnya.

Tubuh Hajar mengejang. Dua penis besar milik Botak dan Joki sekarang bergantian masuk ke dalam mulutnya. Hajar hanya bisa pasrah dengan membuka mulutnya lebar-lebar. Jika dia melawan, tubuhnya akan memar menjadi sasaran pukulan mereka. Beberapa menit kemudian, jeritan Hajar hanya tinggal menyisakan erangan dan rintihan pelan.

Di bawah, Mamat terus memperkosanya tanpa henti, tubuhnya terus bergerak semakin cepat untuk menusuk memek sempit Hajar. Setelah lama kemudian, saat Hajar sudah benar-benar lemas, barulah laki-laki itu menarik penisnya hingga hampir terlepas, lalu sambil mengerang, mendorongnya maju secepat mungkin dan menusukkannya sekuat tenaga ke belahan vagina Hajar.

Kepala Hajar sampai terdongak menerimanya. Jeritan melengking kembali terdengar dari mulutnya. Hajar melolong panjang dan terkejang-kejang. Di atasnya, Mamat ikut menggeram dan bergetar. Tubuhnya mengejang beberapa kali sebelum akhirnya terdiam lemas tak lama kemudian. Hanya Hajar yang tahu apa yang terjadi. Di dalam vaginanya, penis besar Mamat meledak dan menyemburkan spermanya yang hangat dan kental. Ketika perlahan laki-laki itu menarik keluar penisnya yang telah melayu, pejuh putih kental tampak ikut mulai mengalir dari liang vagina Hajar. Mamat terduduk lemas, tapi terlihat sangat puas. Dengan terengah-engah ia menyaksikan Botak dan Joki yang asik memperkosa mulut Hajar.

"Ohhh... gua udah gak tahan nih!" erang Joki, lalu melepas spermanya. Cairan itu muncrat membasahi wajah cantik Hajar, juga j****b putih yang ia kenakan yang kini sudah terlihat begitu lusuh dan lecek.

Tatto tertawa melihatnya. ”Benerkan apa yang gue katakan? Enak banget kan mulutnya?” dia berkata pada Joki.

Joki mengangguk mengiyakan sambil terduduk lemas di tepi ranjang. Dia menunjuk pada Botak yang juga hampir ejakulasi, ”Kuat juga si Botak, bisa tahan menghadapi mulut kayak gitu!” gumam Joki.

Botak tersenyum bangga sambil membenamkan penisnya dalam-dalam ke mulut manis Hajar. ”Siapa dulu dong, gue!” Selesai berkata, dia menyemburkan spermanya tepat di kerongkongan Hajar. Dan sekali lagi, tanpa perlu disuruh, Hajar langsung menelannya. Rasanya dia sudah kenyang gara-gara terus-terusan meminum sperma para begundal itu, padahal masih ada satu orang lagi yang belum mendapat giliran, yang sekarang sedang asyik menyusu pada payudaranya.

Hajar memejamkan mata, berharap ini semua hanya mimpi buruk saat Bedu mulai mengambil posisi dengan merangkak di atas tubuh sintalnya, perlahan mulai menindih dan menusukkan penisnya. Tidak bisa berbuat apa-apa, Hajar hanya bisa pasrah saat Bedu mulai menyetubuhinya. Ia dapat merasakan bagaimana bibir vaginanya perlahan membuka dan penis Bedu yang besar sedikit demi sedikit mulai menerobos masuk ke dalamnya. Kegetiran kembali tercermin di wajah Hajar, tak menyangka kalau akan mengalami nasib begini buruk, pagi-pagi sudah diperkosa oleh lima orang begundal yang sama sekali tidak dikenalnya.

Tubuhnya seperti dirobek-robek saat Bedu mulai menggenjot tubuhnya naik turun perlahan-lahan. Begitu juga dengan harga dirinya. Tanpa terasa, air mata mulai meleleh di pipi Hajar. "Aghhh… sakit… aghhh…" ia merintih diantara isakannya.

"Lo jangan belagu deh! Kalo lo nggak suka sama punya gue atau punya temen gue tadi, kenapa baru sekarang ngomongnya! Terlambat tau!" bentak Bedu.

Perkataan itu membuat Hajar tersadar. Iya, kenapa baru sekarang? Sebagai istri yang solehah, seharusnya ia sudah menangis sejak tadi, bukan cuma meronta-ronta tapi tetap membiarkan diri menikmati perlakuan mereka. Hajar merasa begitu bersalah. Ia merasa sudah mengkhianati sang suami. Berpikir seperti itu, Hajar berniat untuk memberontak dan melawan kelima perampok. Ia tidak ingin diperlakukan seperti ini lagi!

Tapi baru saja ingin menggerakkan tangannya, Hajar merasa ada yang salah pada tubuhnya. Tangan itu tidak mau menuruti perintah otaknya. Bukannya mendorong Bedu menjauh, Hajar malah merangkul pria itu dan menariknya agar lebih menempel pada tubuhnya. Goyangan Bedu yang lembut dan sopan membuat Hajar terlena, ia bagaikan bercinta dengan suaminya saat menerima tusukan kontol Bedu. Tanpa sadar, Hajar malah menginginkannya alih-alih mengusirnya.

Hajar juga berpikir, dari tadi dia berusaha melawan, tapi tidak pernah berhasil. Dia tidak akan pernah bisa mengalahkan kelima orang itu. Kalau sudah begini, apalagi yang bisa ia lakukan selain melayani mereka. Dan daripada melakukannya dengan berat hati, bukankah lebih baik ia menyerahkan dirinya dengan ikhlas, toh hasilnya juga akan sama saja, mereka akan tetap memperkosanya secara bergiliran. Sekarang saja Tatto dan Botak sudah kembali mengerubunginya dengan penis mengacung tegak ke depan. Hajar menelan ludah saat melihatnya.

Ya, sepertinya hanya itu pilihan yang ia punya. Hajar cuma berharap ia bisa selamat dari musibah ini dan berharap tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ia alami. Di bawah, Bedu terus bermain dengan lembut, beda dengan Mamat yang kasar dan berangasan. Hajar menyukainya. Walau hatinya didera rasa takut, tapi karena perlakuan Bedu yang sopan, birahinya perlahan mulai naik. Hajar pun mulai memejamkan matanya untuk menikmati gesekan penis Bedu pada dinding-dinding vaginanya. Cairan cintanya yang tadinya mampet perlahan mengalir keluar, membuat persetubuhan mereka menjadi kian nikmat dan panas.

Mendengus keenakan, Bedu terus menggerakkan penisnya keluar masuk. Dia juga menciumi bibir Hajar yang berbau sperma teman-temannya sambil tangannya tak henti meremas dan memenceti payudara Hajar yang membulat indah, yang terus bergoyang-goyang seiring genjotan pinggulnya. "Nah, gini kan enak... daripada loe melawan, tak ada gunanya." ujar Bedu sambil terus menggerakkan penisnya dengan lembut.

Hajar memejamkan matanya, berusaha menikmati permainan pria itu. Terasa vaginanya mulai berdenyut pelan, tanda kalau ia akan segera orgasme tidak lama lagi. Bedu yang bisa merasakan kalau mangsanya sudah mulai birahi, terus menggoyangkan pinggulnya dengan lembut, ia berniat untuk memancing hasrat Hajar agar melenting lebih tinggi lagi. Bedu memang berpengalaman dalam menaklukkan wanita, jadi dia tahu bagaimana cara mengantarkan Hajar menuju ke puncak klimaks persetubuhan.

"Aghhh… aghhh… aghhh..." erang Hajar penuh kenikmatan, dibiarkannya mulut Bedu yang terus menjilati putingnya dengan lembut. Apa yang dilakukan laki-laki itu membuat birahinya semakin terlontar dan naik menuju langit.

Tatto dan Botak yang menonton permainan mereka, dengan setia menunggu sambil mengocok penis masing-masing. Di lantai, tenaga Mamat dan Joki tampaknya juga sudah pulih kembali. Penis mereka perlahan membesar dan mengacung tegak meski belum terlalu keras. Terutama Mamat, setelah keluar dua kali, dia jadi kesulitan untuk mengembalikan penisnya ke ukuran yang semula, padahal dia masih ingin mencicipi tubuh montok Hajar untuk yang terakhir kali.

"Sayang, loe sudah mau keluar yah?" tanya Bedu sambil terus menggerakkan penisnya di liang vagina Hajar dengan lembut.

"Ahhh... ahhh… ahhh..." hanya itu yang bisa keluar dari mulut Hajar sebagai jawaban.

Bedu mengerti, inilah saat yang tepat untuk menaikkan ritme goyangannya. Jadi, sambil berpegangan pada payudara Hajar yang bulat besar, ia pun melakukannya. Disodoknya vagina perempuan cantik itu dengan kecepatan dua kali lipat dari semula.

"Ahhh… ahhh… ahhh..." Hajar yang menerimanya menjerit semakin keras. Sesaat kemudian tubuhnya kembali kejang. Kali ini bukan karena semprotan sperma Bedu di dalam liang rahimnya, tapi karena ia benar-benar mendapat orgasmenya. Tanpa bisa ditahan, Hajar menyemprotkan cairan kewanitaannya, banyak sekali, juga sedikit kusam dan kental.

Bedu menahan genjotannya, memberi kesempatan pada Hajar untuk menikmati masa orgasmenya. Setelah dirasanya semprotan memek Hajar mulai sedikit mereda, ia pun kembali bergerak cepat, membuat Hajar kembali merintih dan mengerang-erang penuh kenikmatan. "Ahhhh… ahhh… pelan-pelan…" seru perempuan cantik itu.

Tapi Bedu tak peduli, dia terus bergerak cepat karena ia juga merasa akan melepaskan birahinya sebentar lagi. Menggeram keenakan, sambil menyusupkan mukanya di belahan payudara Hajar, Bedu menusukkan penisnya dalam-dalam dan menembakkan semua isinya disana. Hajar terkejang-kejang saat liang vaginanya kembali menerima sperma kental dari lelaki yang bukan suaminya itu.

Botak yang penisnya sudah pulih, segera menggantikan posisi Bedu. Laki-laki berkepala plontos itu segera merangkak ke atas tubuh Hajar, ia sama sekali tidak memberi kesempatan pada Hajar untuk beristirahat. Hajar yang sudah kehabisan tenaga menangis dan memohon agar mereka berhenti sejenak dan memberinya waktu untuk sekedar menarik nafas.

"Sebentar saja... tolonglah... ahh... s-saya sudah gak kuat lagi… ahhh... sakit!" rintih Hajar memelas.

Tapi Botak yang sudah terlanjur bernafsu sama sekali tidak menggubrisnya. Ia terus menindih Hajar dan meremas-remas buah dada perempuan cantik itu keras-keras hingga membuat Hajar menjerit kesakitan. "AHHGGG… sakit! Hentikan… tolong…" setelah persetubuhan lembut dengan Bedu, Hajar sama sekali tidak bisa menikmati kelakuan Botak yang kasar.

Tidak peduli, Botak malah menggigit dan menarik puting Hajar kuat-kuat. "AGHH... sakit… ampunnn…" membuat Hajar merintih semakin keras dan memilukan.

"Jangan berisik! Loe bikin gue gak mood aja!" bentak Botak tak sabar.

"Sudah, saya mohon... hentikan... ampun..." iba Hajar.

"Wah, loe dikasih ati minta ampela yah?" geram Botak. Dia lalu membalik tubuh Hajar hingga posisi wanita berj****b lebar itu sekarang menungging di atas ranjang. Botak memposisikan diri di belakangnya sambil kedua tangannya membelah pantat mulus Hajar yang masih perawan. Satu jarinya menusuk masuk ke dalam lubang anus Hajar yang masih sangat peret dan sempit.

Menyadari apa yang akan terjadi, Hajar langsung berusaha untuk meronta, tapi gerakannya sangat lemah karena tubuhnya memang sudah begitu kelelahan. Botak dengan mudah saja meringkusnya.

"Ahhhhgggg..." jerit memilukan keluar dari mulut Hajar, mengisi ruang tidur yang tidak seberapa besar itu saat Botak menusukkan penisnya dalam-dalam untuk merobek liang anusnya. Begitu kasarnya ia berbuat hingga liang Hajar sampai terluka dan berdarah. Tapi Botak sama sekali tidak mempedulikannya, ia malah terlihat sangat menikmatinya karena jepitan erat anus Hajar yang seperti memek perawan.

”Ughh...” Botak mendesah, ia benar-benar merasa nikmat. Dengan penuh nafsu ia menggerakkan penisnya dengan cepat keluar masuk di lubang anus Hajar yang kini sudah mulai sedikit terkuak lebih lebar.

Hajar menangis, merintih, pedih terasa di anusnya, tapi Botak sama sekali tidak peduli. Dia terus memperkosa Hajar dengan begitu buas. Tubuh Hajar yang sudah sangat kelelahan menjadi semakin lemah jadinya. Perempuan itu merintih kesakitan, tapi suaranya terdengar parau. Saat Botak ejakulasi dalam anusnya, barulah Hajar bisa bernafas lega, tapi tetap saja hatinya meringis pedih.

Botak mencabut penisnya dari anus Hajar, menyisakan spermanya yang bercampur dengan darah segar dari liang anus Hajar yang terluka. "Wah, gua udah puas, enak banget! Cobain deh!" ia berkata kepada Tatto yang dengan setia menunggu di tepi ranjang.

Tatto tertawa sambil menggeleng. "Enggak deh, gua mending entot memeknya." katanya menyahut.

"Oke, loe cepatan deh. Sudah dua jam kita di sini, nanti ketahuan orang." kata Mamat sebagai pemimpin para perampok itu. Laki-laki itu sudah menyerah, dia sudah tidak bisa ngaceng lagi, jadi buat apa berada disini lama-lama. Lebih baik mereka segera pergi sebelum ada yang curiga.

Tatto pun merangkak menghampiri Hajar yang sudah terlihat sangat lemah. Segera ditindahnya tubuh wanita cantik itu dan menusukkan penisnya ke liang vagina Hajar yang sempit. "Aahhh…" erang Hajar lemah, sama sekali tidak melawan.

Tatto mulai menggerakkan penisnya, menggesek vagina Hajar naik turun dengan penuh nafsu. Sekali lagi, Hajar hanya bisa mengerang lemah menerimanya. Jangankan menolak, membuka mata saja rasanya sudah snagat berat sekali baginya. Saat itulah, Mamat sengaja mengambil HP Hajar, meredial nomer HP suaminya. Setelah terdengar nada sambung, Mamat segera mendekatkan HP itu ke telinga Hajar.

"Hallo... haloo…" terdengar suara sang suami.

Hajar tak mampu menjawab, hanya bisa mengerang lemah.

Saat itu, Joki yang kembali bergairah ikut naik ke atas ranjang. Ia ingin memanfaatkan lubang anus Hajar yang kosong di kesempatan yang sempit ini. Dengan pelan Joki memasukinya sambil tetap membiarkan Tatto menggenjot dari atas. Tubuh mereka bertindihan seperti roti lapis, dengan Hajar terjepit berada di tengah-tengah.

"Aaaghhhh…" suara Hajar melengking tinggi saat Joki dan Tatto mulai menggerakkan alat kelamin mereka.

"Hallo, kamu kenapa, Sayang... ada apa?" tanya suaminya bingung dari seberang sana.

"T-tolong... tolong, Mas... a-aku diperkosa!!" kata Hajar dengan suara lemah.

Joki yang mendengarnya bergerak semakin liar, dari bawah ia menghentak-hentak keras liang anus Hajar, memberinya rasa pedih dan sakit yang tiada tara. "Ahhh… sakit... perih… ampun… sudah… kumohon..." erang Hajar pilu.

"Bilang jangan, tapi memek loe jadi banjir begini... dasar munafik!!" ujar Tatto yang terus memperkosa memek Hajar dengan kasar.

"Hallo… hallo… tunggu, Sayang... aku segera pulang…" kata suaminya panik mendengar suara erangan kesakitan Hajar.

Joki terus mengoyang batang penisnya di liang anus Hajar, membuat perempuan berj****b putih itu semakin tak mampu menahan rasa sakitnya. Di atas, Tatto juga bergerak semakin liar sampai akhirnya menyemburkan cairan kentalnya di memek sempit Hajar.

"Hahaha, gua seneng banget sama nih cewek." ujar Tatto penuh kepuasan.

Joki menyusul tak lama kemudian, sambil meremas kuat-kuat susu montok Hajar, ia menembakkan spermanya di lubang anus perempuan cantik itu.

Tertawa puas, kelima orang itu pun segera membenahi pakaian masing-masing dan bersiap pergi meninggalkan rumah Hajar. Waktu sudah semakin mepet. Suami Hajar pasti sudah dalam perjalanan pulang kemari. Mamat mengambil mentimun besar yang tergeletak di lantai. Dua mentimun, satu dimasukkan ke liang vagina Hajar dengan paksa dan satu lagi di anusnya. Hajar merintih kesakitan, tapi sama sekali tidak bisa menolak. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk berbuat apapun.

"Itu gua jadikan kenang-kenangan buat laki loe." kata Mamat sambil tertawa. "Biar laki eloe yang cabut tuh mentimun, hahaha…" tambahnya sambil berlalu dari kamar tanpa menutup pintunya.

Tak sampai dua menit, mobil box mereka pun berlalu. Kendaraan itu keluar dari garasi rumah Hajar dan berjalan pelan meninggalkan tempat itu dengan membawa barang-barang jarahan mereka. Di ujung gang, ketika mobil hendak keluar dari komplek perumahan, Mamat melihat sebuah sedan berjalan cepat diikuti sebuah mobil polisi dengan raungan suara sirine yang amat keras.

"Hahaha, gua yakin itu mobil suaminya." ujar Mamat pada anak buahnya. Kawanan perampok itu pun tertawa-tawa, merayakan keberhasilan mereka…
16.48 | 1 komentar | Read More

Enaknya Jadi Tukang Pijit



namaku Tio biasa dipanggil yoyo, 28 tahun. aku bekerja disebuah perusahaan swasta di kota S.
aku tinggal disebuah desa B, daerah pinggiran kota S, kisah ini berawal dari ketidak sengajaanku memijit suami mbak siti, mbak siti sendiri adalah buruh pabrik garment yang tak jauh dari rumahnya. mbak siti menikah setahun yang lalu, namun belum juga dikaruniai momongan, suaminya mas budi bekerja sebagai sopir angkutan barang yang sering keluar kota.

sore itu, aku main kerumah mas budi. kebetulan mas budi habis pulang dari luar kota.
" lagi, nyantai mas ?" tanyaku.
" iya nih, yo habis dari surabaya, capek banget" jawabnya sambil tiduran didepan tivi
" sini, tak pijitin mas, ada minyak buat pijit ndak? " tanyaku
" boleh juga, yo. mah, ambilin minyak buat pijit " ucapnya sambil teriak kepada mbak siti
" ini, yah " ucap mbak siti sambil memberikan minyak pijitnya.
langsung saja ku mulai memijit mas budi, dari betis sampai ke punggungnya.
"mah, ternyata pijitan tio enak juga, pinter banget mijitnya" ucap mas budi kepada mbak siti yang saat itu duduk di sofa depan kami.
"ah, itu cuma akal akalan ayah aja biar dapt pijitan gratis" jawab mbak siti
" sumpah, mah. badan ayah jadi enak nih, kalau gak percaya mamah cobain aja sendiri pijitan tio" jawab mas budi.
" ah, enak banget yo, makasih ya, tuh pijitin mbak mu juga biar tau rasanya pijitan mu. ini yo, buat kamu" ucapnya sambil ngasih uang 50ribu.
"lho lho, kok malah dibayar tho mas ? tanyaku
" udah, jangan ditolak yo" jawabnya sambil tiduran
" sini mbak, aku pijitin" ucapku kepada mbak siti
" serius nih, kebetulan lagi capek juga, hehhehe" ucap mbak siti sambil merebahkan tubuhnya diatas tikar.
awalnya kupijit dari betisnya yg mulus, turun ke telapak kakinya.
"ouh... dit" teriak mbak siti
" gimana mah, enakkan.." sahut mas budi yg sudah mulai tertidur
" iya pah, enak banget " jawab mbak siti
pijitanku mulai naik keatas lututnya, mulai menyingkap daster mbak siti,
" maaf ya mbak" ucapku sambil memasukkan tanganku kealam dasternya
" iya yo, ndak apa apa. biasa aja" jawabnya.
kulihat mas budi sudah terlelap, tidurnya.
" mbak, punggungnya dipijit juga apa ndak ?" tanyaku
" iya yo, tanggung nih, terlanjur enak nih" jawabnya pelan
" anu mbak, pakaian.." ucapku grogi
" buka aja yo, tapi kancing dulu pintunya" sahut mbak siti
"iya.. mbak" jawabku sambil mengunci pintunya
segera ku hampiri mbak siti yang masih terbaring di ruang tamu.
" maaf, ya mbak" ucapku sambil melepas dasternya sehingga nampak CD dan BH warna putih.
langsung ku pijit punggungnya, sepertinya tali BH nya sedikit mengganggu tanganku. perlahan ku buka sendiri kancing BHnya, mbak siti hanya diam saja. pijitanku turun ke pinggangnya, dan turun lagi ke pantatnya yang padat dan kencang. akhirnya bisa juga menjamah pantat mbak siti, perlahan kulepas CDnya, mbak sitipun hanya terdiam dan menikmati pijitan di pantatnya.
"mbak..." aku terkejut karena tiba tiba mbak siti membalikkan badannya.
busyet... sempurna.... tubuhnya mulus tanpa cacat, payudaranya meskipun Tocil, tapi padat berisi, sementara *****nya ditumbuh'i rambut jagung, tipis dan jarang jarang, sehingga nampak jelas belahan *****nya. aku tak tau apa yang harus kuperbuat lagi, menyaksikan pemandangan indah sementara si pemiliknya sedang tidur disampingnya.
" kok bengong ? pijit dong yo" ucapnya pelan sambil menuntun tanganku kepayudaranya.
jantungku berdebar kencang, saat menjamah dua bukit kembar milik mbak siti.
" ough... " erangan mbak siti saat kedua tanganku mulai memijitnya, kedua matanya mulai terpejam, bibirnya menganga, sementarta kedua kakinya mulai menjepiku ditengah" pahanya.
kurapatkan perlahan bibirku, saat kedua bibirkami menempel, mbak siti mulai melumatku, kedua tangannya merangkulku erat. kuturunkan kepalaku tepat di pucuk bukit kembarnya, kumainkan puting kanannya, sementara tangan kananku memintir puting kirinya.
"oh... yo... " desahannya pelan namun kedua tangannya menjambak rambutku seakan membenamkan kedadanya. perlahan jemari tangan kananku mulai bergerilnya menyusuri liang vaginanya yang sudah basah, dan kudapatkan klitorisnya, kumainkan dengan jari tengahku.
"ogh dit..., gak kuat..." ucapnya pelan, dan saat lidahku menempel di bibir *****nya, pas keluar juga cairan kental dan hangat. kebetulan aku pakai celana kolor, sehingga dalam sekejab sudah lepas, dan rupanya si'imin' sudah siap tempur.
langsung saja ku benamkan perlahan kedalam *****nya yang sempit itu.
" ough... yo... ,enak banget kont*lmu" bisiknya pelan
tanganku meremas kedua payudaranya sambil kuayunkan pantatku maju mundur, mbak siti terlihat menikmatinya. ku balikan badannya, dengan posisi d*gystyle, mbak siti berpegangan pada sofa.
posisi yang ketiga mbak siti diatas, karena kelelahan akhirnya kubaringkan lagi, dan ku hajar mekinya yang jarang dipakai mas budi itu. "oug... yo... gak kuat lagi.... " rintihnya sambil memelukku erat... "Crooot" akhirnya si'imin' memuntahkan cairannya kedalam rahim mbak siti.
sambil ku genjot pelan pelan, mbak siti tersenyum dan berbisik " makasih yo, enak banget, mau dong dipijit tiap hari"
"tapi mbak, kalau mbak siti hamil gimana ? " tanyaku pelan,
" ndak apa, yo. aku malah pingin cepet hamil dari benihmu ini, yo. kebetulan inikan malam jum'at yo" ucapnya sambil mencium keningku.
" makasih ya mbak, semenjak putus dengan pacarku, setahun yang lalu aku ndak pernah ML lagi"
ucapku sambil berbaring disamping mbak siti, sementara mas budi masih tidur nyenyak.
"pantes, kamu liar banget, yo." ucapnya sambil mencolek penisku.
" tapi, enakkan mbak?, kalau mas budi gimana ? bisikku ditelinganya
" jauh, gak ada apa apanya, kalau pulang kerja pasti tidur, katanya capek terus" jawabnya pelan sambil memelukku.
" mbak, udah jam 10 malem nih, tak pulang dulu, ntar kacau kalau ketiduran disini, mbak" ucapku sambil memakai kembali pakaianku,
"hm... tio..." ucapnya seakan gak rela aku tinggal pulang. sifat manjanya membuat kau kembali terangsang, si'imin' kembali mengeras. langsung saja ku rebahkan dan ku hajar lagi ***** mbak siti.
"ough.. ough... ough...sssttt " desahannya pelan.
sampai akhirnya kami klimaks lagi. waktu semakin cepat berlalu, jam 10.45.
mbak siti sudah terlihat lemas, setelah ronde ke 2. kuangkat dan kubaringkan kedalam kamarnya, birahiku semakin menggila saat melihat mbak siti terlentang diatas kasur. dan terpaksa ronde ke 3 pun aku mulai lagi, "yo, aku ndak kuat lagi..." ucapnya lemas seperti orang pingsan. akhirnya crot yang ke 3 pun masuk kedalam rahimnya.
kupakaikan kembali dasternya sementara aku segera pulang lewat pintu belakang, dan langsung menuju rumahku.
ke esokan harinya, " yo..." teriakan mas budi membangunkanku, aku takut kalau mas budi tau tentang kejadian semalam.
" ya mas, ada apa ? " jawabku sambil membuka pintu
"kamu pasti capek ya. yo. ini sarapan buat kamu, biar tambah tenaga, makan yg bergizi. oh, iya titip mbak siti, aku mau keluar kota lagi nih" ucapnya
"oh.. ok makasih banyak mas, tenang aja mas, mbak siti tak jagain."
hari itu, karena hari jum'at, aku pulang lebih awal, langsung kerumah mbak siti,
" mbak...." ucapku sambil mengetok pintu
" ya, mas. nyari siapa ?" jawab seorang gadis muda berseragam SMA
"e... mbak siti ada" jawabku
"oh, mbak siti pulang jam 4 mas" jawabnya.
" ya, nanti tak kesini lagi aja" ucapku... sambil melangkah pulang.
sore harinya,
"yo, capek nih.. pijitin lagi dong" smsnya
"siap, mbak" balasku dan langsung ke TKP
namun di rumahnya ada rahma, adik mbak siti, yang masih duduk di bangku SMA kelas 3. dia biasa menemani mbak siti kalau mas budi keluar kota.

"kenalin ini rahma, adikku, yo, dan ini tio, tetangga sebelah biasa mijitin mbak kalau lagi capek" ucap mbak siti
setelah dikenalkan dengan adiknya, ritual pijit pun, dimulai lagi, seperti biasa, posisi wenak ya didepan tivi, kali ini disaksikan rahma. untuk menutupinya, aku pakai sarung tanpa celana sementara mbak siti pakai daster tanpa CD.
setelah selesai memijit kaki dan pantatnya, dengan posisi kakiku terbuka, kunaikkan pangkal paha mbak siti, diatas pangkuanku, sehingga posisi mr P dan Ms V nya mbak siti menempel dan bisa ML, dengan sedikit goyangan pelan sambil kupijit punggung dan sesekali payudaranya, kami ML didepan rahma, 'sensasi beda' ketegangan inilah yang membuat kami puas, seakan hasratku dan mbak siti sama, setelah posisi telungkup, mbak siti kembali membalikkan badannya, terlentang sementara aurat kami masih trtutup, kali ini aku pijit payudaranya sampil menggenjot pangkal paha mbak siti. sepertinya rahma mulai memperhatikan tanganku yang memijit payudara kakaknya. "ough.." rintihan pelan keluar dari bibit mbak siti.
tangannya dengan kuat menarikku dan membuat aku semain menindihnya, sepertinya mbak siti sudah hampir klimaks, jadi kucepatkan goyanganku. "crot crot" akhirnya si'imin' keluar lagi.
malamnya kami tidur bertiga, awalnya mbak siti ada di tengah, aku disamping kanan, rahma disamping kiri, karena mbak siti tertidur pulas, akhirnya, tanganku mulai bergerilya, kali ini bukan lagi ditubuh mbak siti, melainkan ditubuh rahma. perlahan kutidur ditengah tengah mbak siti dan rahma, saat aku mulai memegang salah satu payudaranya, rahma bergerak dan malah memelukku, busyet, kedua payudaranya menempel ditubuhku sementara kakinya menindihku. lumayan nih, kesempatan dalam kesempitan, apalagi rahma pakai baju tidur yang tipis, kunaikkan sarungku dan kulakukan penetrasi ke vaginanya, jantungku mulai berdetak kencang. dan sepertinya rahma mulai terjaga dan merasakan tusukan dibagian selangkangannya, tangannya meraba bagian penisku, sementara aku pura pura tertidur. tangannya kini memegang penisku dan dia terbangun dan duduk mendekatkan pandangannya kearah penisku. penasaran itu pasti, apalagi penisku sudah tegak dan keras. aku merasakan penisku sedikit dikocok, enak sekali rasanya. "rahma, kamu ngapain?" tanya mbak siti kaget.
"ndak apa mbak, tadi mimpi aja kok" jawabnya sambil menutup tangannya yang masih memegang penisku dengan sarungku dan melepasnya perlahan. "tidur lagi, masih malam" ucap mbak siti sambil memelukku.
"iya mbak" jawab rahma sembari tidur.
setelah dilepas rahma, penisku kini dikocok mbak siti perlahan, tak lama kemudian, mbak siti duduk dan memasukkan penisku kedalam *****nya di iringi goyangan maju mundur, "ougg...tio... ssttt,... " desahannya pelan, kulihat rahma mengintip dari balik selimutnya. setelah mbak siti puas dan lemas, kupeluk kembali rahma, tak kuduga, rahma juga membalas pelukanku. sampai pagi menjelang, mbak siti mulai berangkat kerja dan membangunkan rahma yang masih aku peluk, "bangun, udah siang", ucapnya...
" aduh mbak, capek nih, ngantuk banget..., libur kerja dulu mbak" jawabku.
" rahma, bangun ayo sekolah?" ucap mbak siti sambil membangunkan rahma.
setelah beberapa saat mbak siti dan rahma berangkat,
"mas, tio... bukain dong" bisik rahma pelan dari luar jendela.
"kamu bolos, ma? " ucapku sambil membuka jendela kamar
"ssttt, males sekolah mas, lagi gak mod nih, pijitin dong mas, kayak mbak siti" jwabnya
"iya sini" jawabku, tanpa membuka seragam sekolahnya, kupijit dari kaki naik ke paha dan sampai akhirnya kujamah semua tubuhnya, tanpa sadar, rahma sudah terbujur bugil didepanku. dan tak kuasa lagi menahan 'imin'ku
"ough,... mas.... perih..." rintih rahma... tapi tanggung udah terlanjur masuk... "jleb" bobol juga perawannya, lebih sempit dari pada mbak siti, lebih legit.
sampai akhirnya, tanpa disadari darah perawannya menodai ranjang mbak siti. seprei warna putihnya ternoda darah perawan rahma yang mengucur deras dari vaginanya.
siang itu, ternyata mbak siti kerja setengah hari, setelah melihat kami masih bugil di kamarnya dan darah masih diseprei, "PLAK" tamparan mendarat di pipi kami berdua, mbak siti menangis. tapi apa daya, perawan rahma sudah terlanjur terkoyak. akhirnya mbak siti mau mengerti dan bahkan sampai saat ini kami malah main ber tiga, saat mas budi keluar kota
16.43 | 0 komentar | Read More

Perjalanan Mudik 4

Written By Unknown on Jumat, 28 Maret 2014 | 21.51



Dalam Mengarungi deraan nikmat dipuncak birahi, Ida merasakan kejantanan siremaja yang semakin kokoh tertanam, sekarang seolah- olah mengejek si liang kemaluan yang telah takluk, dengan berkedut- kedut. Anton dengan teknik kegelnya, membimbing kakaknya tetap bertahan dalam orgasmenya melalui denyutan-denyutan kejantanannya. Bagi Ida yang setengah mati liang kewanitaannya disesaki sitongkat jantan, kedutan itu bagai memeras dari dalam seluruh dinding kewanitaanya. Ida hanya mampu meresapi nikmat orgasme berkepanjangan dengan terengah-engah mendekap tubuh seremaja.

Anton yang tengah mempelajari teknik sex Tao, merasakan puncak kepuasan saat Ida menarungi orgasmenya yang panjang. Anton tidak memerlukan ejakulasi untuk itu. Kebahagiaan wanita telanjang yang didekapnya adalah kepuasannya. Dinikmatinya berlama-lama denyutan kejantanannya dalam kehangatan kewanitaan. Dengan penuh rasa empati kembali didekapnya tubuh telanjang Ida dalam pangkuannya, seolah-olah berbisik, ayo istirahat sayang

Tak rela melepaskan keindahan, Ida terlena, dan tertidur, telanjang dalam pangkuan siremaja. Anton dengan puas menikmati hal tersebut, menikmati setiap senti kulitnya yang bersentuhan dengan tubuh telanjang. Sampai pagi.

Seminggu dikampung, Indro telah diperkenalkan ke seluruh keluarga besar Hindun. Hindun bangga karena banyak yang mengagumi suaminya yang berkududukan lumayan kerja dikantoran di Jakarta. Bahkan Ada beberapa yang meminta bantuan anak atau keponakannya dibantu dicarikan kerja di Jakarta. Indro tak kuasa menolak, bahkan terlajur menyanggupi membantu Tara seorang keponakannya, yang sudah lulus D3 ekonomi tiga tahun lebih tapi tidak juga memperoleh kerja. Akhirnya diputuskan Tara ikut ke Jakarta, setelah mudik. Tara cukup ayu menawan, sehingga menjadi alasan Indro membawanya, untuk diupayakan melamar sebagai resepsionis di kantornya. Kalo penampilan kurang menarik, sulit untuk jadi petugas front office. Awalnya Hindun senang saja Indro bisa menolong sanak keluarganya, Orang tua Tara sepupu dekatnya sangat berterima kasih dan memohon padanya agar membimbing gadis itu sebagai ganti orang tua.

Suatu saat Indro sekeluarga melancong ke air terjun yang berjarak 6km dari kampung, Tara sebagai penunjuk jalan. Ternyata menjelang tiba dilokasi kedua anaknya sudah kelelahan dan tidak melanjutkan ke lokasi, karena harus sedikit memanjat. Indro yang merasa tanggung memilih meneruskan perjalanan bersama Tara. Hindun menemani kedua anaknya bermain air disungai. Kembali dari lokasi air terjun perasaan Hindun tidak enak, dia menduga terjadi sesuatu diantara keduanya, tapi dipendamnya erat- erat, karena tidak ada bukti, apalagi keduanya menunjukkan sikap yang wajar. Hindun berpikir keras, bagaimana mencegah bibit bencana ini. Dirinya kadung sudah janji, tapi tinggal bersama dengan anak gadis yang demikian ayu, sedikit banyak merupakan potensi keretakan rumah tangga. Hindun teringat Anton dan Pak supir. Kesan Hindun kepada keduanya sangat baik, keduanya telah menolong dirinya terhindar dari aib. Apakah mereka bisa meberi saran? Timbul masalah, Tara tidak punya tiket, dan sangat sulit mencari tiket dadakan saat lebaran.

Melalui percakapan di HP, Hindun dengan penuh perhatian menanyakan ‘kesehatan’ Anton, yang dijawab dengan geli ‘Sudah banyak sembuhnya’. Hindun sangat berharap bisa mengulangi terapi, sabagai rasa tanggung jawabnya. Hindun juga mencurahkan masalah, kekhawatiran suaminya tergoda oleh gadis cantik yang akan dibawa ke Jakarta, dia curiga telah terjadi sesuatu diantara suaminya dan Tara. Hindun juga menanyakan kemungkinan pesan tiket bis pulang tambahan. Rupanya bis Anton masih di luar kota dalam perjalanan kembali dari Jakarta.

Otak encer Anton berputar keras, bagaimana caranya dia bisa bersama Hindun, Bang Ridwan dipersembahkannya cewe cantik, sehingga dirinya selain tetap sebagai kenek yang merangkap supir serep juga merangkap suami serep. Setelah mematangkan rencana, Anton menghubungi Hindun, dan memintanya datang ke pool bersama cewe itu, Anton menjanjikan Abangnya, bang Ridwan ’sang supir’ punya rencana jitu. Melalui HP, Anton menguraikan rencana yang katanya ide Bang Ridwan

‘Mas Indro, saya ditemani Tara ke kota mesan tiket bus pulang, abang jaga anak-anak. Mudah-mudahnya kenalan kita kenek yang kemarin bisa bantu’ Hindun memperkirakan bis Anton sudah masuk lagi ke kota…’ Indro setuju saja. Lebih enak main ama anak dari pada kepasar.

Dalam perjalanan berdua Tara, Hindun menjalankan skenario yang dipaparkan Anton via HP ‘Tara, kamu mau merantau ke Jakarta punya simpenan ilmu tidak?’ Bagi orang daerah sana, hal tersebut sudah lumrah. ‘Eee tidak kak, kenapa?’ ‘Wah berat juga kalo tidak, persaingan di Jakarta sangat ketat, jaman sekarang tidak cukup lagi dengan suap dan koneksi, banyak yang main ilmu bahkan jual diri’ ‘Ooo, jadi gimana kak’ Tara memahami. ‘Lebih baik sebelum berangkat ke Jakarta kamu cari bekal ilmu’ ‘Wah Tara tidak paham kak, juga waktunya kan sudah mepet’ ‘Kebetulan kakak ada kenalan orang pintar, nanti kita temui saja’ ‘Ma kasih kak’

DIpool bis, karena ada Tara disisinya Hindun bersikap normal kepada Anton yang sudah menunggunya di kantor pool. ‘Pak kami sudah punya tiket 4, tapi perlu tambahan satu lagi, masih bisa?’ ‘Wah sudah habis sejak dua bulan lalu, dipesan orang’ Sahut Anton akting cuek. ‘Sama langganan tidak bisa dibantu? ‘Coba nanti ketemu Supirnya dibelakang, Kalau mau bangku darurat, bicarakan saja’ ‘Oh iya, Pak supir kan sistennya orang pintar, ini adik saya mau konsultasi’ ‘Nanti sekaligus saja, yuk saya antar’

Didepan pintu kamar untuk para supir ‘Tunggu sebentar, saya bujuk dulu yaa’ Ridwan sudah menunggu didalam: ‘Bang pacar saya yang kemarin saya ceritakan sudah datang. Abang pura- pura jadi asistennya orang pintar, ngasih pengobatan minyak pengasih, seperti yang saya ajarin kemarin, abang nurut aja deh, pasti sukses’ “Rumit kali cara kau, apa nggak bisa yang lebih simpel seperti yang dulu’ ‘Bang ini kan pacar aku, masih baru, ingin segera kubagi sama abang, seperti abang ngebagi. Tapi karena masih baru perlu sedikit muter- muter biar aman, kalo tidak saya langsung diputusin’ ‘Ok lah, kau jangan jauh-jauh yaa, disebelah aja’

‘Pak kami perlu tambahan satu tiket untuk adik saya ini yang mendadak perlu ikut, mengejar batas akhir lowongan kerja, kata adik kenek tadi bapak bisa mengupayakan bangku darurat’ Hindun menahan jengahnya, teringat kejadian seminggu berselang ‘Bisa sih, tapi adik harus bergantian dengan kenek atau saya kalau sedang istirahat’. Ridwan juga kebingungan, Pacar simonyet yang mana sigadis cantik atau kakaknya yang ayu. ‘Oh tidak apa-apa’ Tara menyambut gembira

‘Ngomong-ngomong saya dengar Bapak punya kenalan orang pintar, apa bisa membantu sehingga adik saya ini dapat segera diterima kerja, maklum saja kata suami saya pesaingnya banyak, pintar-pintar, masing- masing punya beking dan yang parah sebenarnya sudah terlambat’ Hindun menguraikan masalah Tara

“Oh iya… orang pintar perusahaan kami sangat hebat, dan untuk urusan begitu perlu waktu, tidak bisa dadakan, lagipula dia diluar kota’ ‘Tolonglah pak’ ‘Eee sebenarnya ada cara lain, yaitu dengan minyak pengasih, kebetulan memang kami punya stok untuk bis-bis kami yang puluhan jumlahnya. Minyak itu sudah dimanterai oleh beliau, saya bisa memberikan ke adik…siapa namanya?…Tara? “Bagaimana caranya pak’ Tara menyahut sedikit curiga, maklumlah banyak beredar berita dukun cabul’ ‘Begini, adik mandi membersihkan diri, nanti diolesi minyak pengasih. Kebetulan ada kakaknya, biar dia yang ngolesi. Nanti saya membacakan manteranya’ Susah payah Ridwan melaksanakan skenario dari Anton. “Ooo, kayaknya bukan dukun cabul, kan kak Hindun yang ngolesi’ Tara berpikir positif, dan menyahut ‘Tergantung kakak, ngerepotin atau tidak’ ‘Gitu aja kok repot kok dik, kita harus berterima kasih kepada Pak Supir yang sudah mau membantu, kursi darurat dan minyak pengasih, bagaimana balas budinya ini pak?’ Respek Hindun kepada supir ini kembali meningkat. “Ah ibu, nasihat guru saya, kita hidup didunia mencari teman’ Ridwan berimprovisasi.

Ketiganya tidak sadar menjadi korban ‘grand skenario’ Anton sianak kecil

“Adik mandi sebersih-bersihnya didalam sana, setelah itu hanya mengenakan sarung ini, berbaring disitu, nanti mbak yang ngolesi, saya yang ngasih aba-aba sambil baca mantera. Saya menyiapkan minyak dan menyiapkan diri dulu’

Tara Keluar dari kamar mandi dengan rambut basah terurai dan hanya mengenakan sarung, tergulung sebatas dada, sungguh sangat menawan bak dewi venus turun dari kayangan. Menggairahkan dengan sebagian paha tak tertutup kain, yang menampakkan keindahan kaki langsing nan indah. Ridwan pura-pura tidak melihatnya, hanya melirik melalui ekor matanya’ ‘Wah hebat nian Anton mencari pacar secantik ini’

Hindun memperhatikan kecantikan Tara, menghela nafas dalam-dalam menahan kecemburuannya,’bibit masalah ini tidak boleh dibiarkan, bagaimanapun caranya Indro tidak boleh digaet olehnya, mudah-mudahan cara Anton bisa berhasil’

‘Pakaian dalamnya sudah dilepas? …silahkan telungkup dibale-bale, santai saja. Mbak duduk disampingnya, Ini minyaknya, siap-siap mengoleskan sesuai aba-aba, saya bersila dilantai, membelakangi, tidak usah malu, saya duduk menghadap kesana membelakangi jadi sama sekali tidak melihat. Lagi pula ruangan agak gelap, lampu saya matikan, hanya sebatang lilin untuk membantu saya konsentrasi.

“Oleskan mulai dari kepala, keleher,’ Ridwan bergumam seolah baca mantera, wesssewesssewesss “Oleskan ke..’Ridwan memerintah sambil pura-pura komat-kamit.

‘Sudah ujung jarinya? Adik berbalik berbaring, mbak lakukan lagi seperti tadi mulai dari rambut turun kedahi dan seterus’ Ridwan berkomat-kamit

Ketika olesan Hindun sampai diarea segitiga kewanitaan, sesusai skenario Ridwan menjerit tersentak kebelakang, seolah dihantam sesuatu ‘Hegg….aduhh’

Hindun dan Tara kaget, Tara sontak bangun duduk, Hindun berbalik, keduanya menatap Ridwan meringkuk dilantai seolah kesakitan ‘Kenapa Pak? Hindun bereaksi, Menjalankan skenario, sambil terengah-engah kesakitan Ridwan menjawab, ‘Adik tidak bersih, minyak pengasihannya menolak masuk ketubuh adik dan berbalik menghantam saya’ Tara terkesima ‘Maksud bapak?’ “Adik dalam tiga hari ini baru berhubungan dengan lelaki, yang parah lelaki ini tidak sah, di anu adik masih ada sisa lelaki, yang menjadi kotor karena tidak sah’ Anton merancang skenario ini setelah menyerap keluh kesah Hindun atas kecurigaannya di air terjun. Ridwan mengerenyitkan mata seolah menahan rasa sakit.

Tara kaget, ‘Oh betul kemarin lusa di air terjun dirinya merelakan Indro menyetubuhinya, hebat sekali orang ini’ Hindun meluap amarahnya menahan benci ‘Ooo betul kecurigaanku kemarin, berani mereka macam-macam padahal kami berada tidak jauh, hebat juga Bapak ini bisa menebak kejadian yang tidak dilihatnya’ Hormat Hindun sekarang pangkat tiga.

“Jadi bagaimana pak?’ Tara cemas, cemas karena gagalnya pengasihan, tapi lebih cemas lagi skandalnya diketahui Kak Hindun, mudah-mudahan dia tidak sadar, tapi kan tiga hari ini saya kan bersama keluarga mereka terus, waduh gimana ini? ‘Agghh panas…, mbak tolong cari Anton suruh dia menghubungi orang pintar lewat telepon agar membantu saya mengatasi masalah ini, mudah- mudahan bisa dari jauh, barangkali dia dikamar sebelah’ ‘Baik pak’ Hindun patuh keluar kamar. Adegan babak pertama berakhir dengan sukses.

“Sekarang terserah adik, ritual dilanjutkan atau tidak, tetapi sekarang situasinya sulit, kalau guru saya ada disini tidak masalah, tapi karena tidak ada jadi agak berabe’ ‘Berabe gimana pak? Tara agak lega Hindun pergi khawatir dia curiga. ‘Ritualnya menjadi sulit karena kotoran dalam tubuh adik menolak, sedangkan mantera sudah dilepaskan, harus ada yang kalah’ ‘Ya sudah, saya nurut saja kata bapak’ ‘Itu yang berabe dik, ritualnya menjadi berat, ilmu saya masih cetek sehingga harus kontak fisik. Kalau tidak ada masalah, saya mampu, tapi sekarang gimana yaa? Lumayan juga akting Ridwan sebagai dukun alim. ‘Saya nurut saja, tapi mohon pak jangan bilang sama kakak, saya berhubungan dengan lelaki tidak sah dalam tiga hari ini, tolong pak’ ‘Wah, adik ini benar-benar merepotkan, masa saya harus bohong? ‘Tolong pak, saya takut dimarahi’ ‘Ya sudah lihat nanti’

‘Sekarang lampu saya nyalakan, saya perlu melihat agar jelas masalahnya, kontak fisik tidak bisa dihindarkan’ ‘Iya pak’ Tara sudh pasrah ‘Yesss suksesssss’ Ridwan bersorak dalam hati, hebat nian si Anton, luar biasa rencananya’ ‘glegghhh’ Tak sadar dia menelan ludah, wuihhh dua kali dia dikasih cewe alim, cantik-cantik lagi.

“Dik saya ulangi ritualnya ya, kalau nanti terasa ada gejolak dari dalam tubuh jangan ditahan, mudah-mudahan kotoran bisa keluar lewat pori-pori’ Ridwan duduk bersimpuh disisi tubuh yang berbaring telentang lurus. “Cantik sekali wajah yang terpejam malu ini, betapa halus kulit remajanya, putih mulus. Betapa indah tubuh ramping yang hanya terbalut sarung, lekuk-lekuk tubuhnya tak mampu disembunyikan kain tipis. Pandangan matanya melahap kaki jenjang telanjang sampai dipertengahan paha, betapa beruntung dirinya’ Dibalurkan minyak itu kekedua telapak tangannya, dibalurkannya mulai dari kepala, kedahi, seputar mata, keseluruh bagian wajah yang cantik terpejam’ Tidak lupa Ridwan berkomat-kamit tidak karuan, wessewesssewsss.

Dilulurkan minyak oleh tangan perempuan dan tangan lelaki sungguh jauh berbeda. Muka Tara terasa panas, malu wajahnya disentuh tangan kasar. Dadanya mulai berdebar. Ada sedikit kecurigaannya orang ini dukun cabul, tetapi dari tadi dia kan memang tidak mau kontak fisik, dan dia sangat hebat bisa tahu dirinya baru bersetubuh dengan lelaki. Oh memang dirinyalah yang menimbulkan masalah.

Terasa minyak habis menyerap, dibalurkannya lagi, digosokkannya dengan lembut dikedua sisi telinga sang gadis, diperhatikannya mata terpejam itu sedikit berkejap, memang benar bagi kebanyakan wanita daerah telinga termasuk paling peka. Balurannya turun kekulit halus dileher jenjang, terus menurun ke sebelah tangan, dilihatnya leher gadis itu bergerak menelan ludah. Ridwan ingat benar-benar instruksi Anton, harus sabar dan disiplin, dipatuhinya seperti isi kitab suci. Dijangkaunya lengan gadis yang satunya, yang membuat dirinya terpaksa beringsut lebih merapat. Terasa kering tangannya, dituangkan lagi minyak, kembali dibalurkan dipangkal lengan, yang segera dirasakan ditumbuhi bulu-bulu halus. Ridwan menahan nafas, karena daerah itu merupakan salah satu daerah favoritnya, tidak sabar dia ingin melumatnya, tapi ditahannya, karena ingin sukses. Terasa jemari kasar itu menyentuh pangkal lengannya yang juga pangkal payudaranya, Tara tertahan nafasnya oleh munculnya gejolak birahi. ‘Ohh telapak tangan kasar itu meraba seluruh dadanya yang telanjang tidak terbalut kain, ohhh’ Sungguh berbeda saat tadi dibaluri oleh tangan halus Hindun’ Tara memejamkan matanya lebih kuat, tangannya mencengkeram bale-bale yang terasa keras dibawah punggungnya. Setengah berharap tangan itu agak sedikit kurang ajar. Ridwan yang sangat cermat memantau perkembangan, memahami bahasa tubuh tersebut, tetapi dia tetap disiplin. Balurannya pindah ke ujung kaki ‘Ahh sial…’ Tara sedikit gemas, padahal dia yakin susunya akan segera disentuh. ‘Bapak ini memang benar-benar sopan’ Tara mengatur nafasnya pelan-pelan mencoba tidak ketahuan, gejolak birahinya yang tadi meletup sekarang agak mereda. Dinikmatinya baluran minyak oleh tangan kasar menjalari telapak kaki, pergelangan, betis, naik kelutut. Berpindah kekaki sebelahnya, terasa badan supir ini semakin merapat karena harus menjangkau kaki sebelahnya. Tara segera menyadari bahwa silelaki sudah rapat disisi tubuhnya yang terbaring lurus. Saat mulai menjangkau daerah diatas lututnya, kembali dada Tara bergemuruh didera birahi. Bulu-bulu dikakinya bangkit ‘Wesssewessewesss…wesewesssewe sss… Dik saya merasakan penolakan mulai muncul, saya akan sedikit menekan, kalau ada apa-apa jangan ditahan, mudah-mudahan bisa lepas’ sambil berkomat-kamit Ridwan memberi aba-aba. Bila tadi hanya sekedar membalur, sekarang kedua jemari Ridwan melakukan gerakan mengurut, mulai dari atas lutut naik kepangkal pertengahan paha. Ridwan melihat tubuh itu menegang, saat urutan tangannya semakin naik keatas kepangkal paha yang telanjang tidak tertutup kain. Ridwan memindahkan urutannya paha sebelah, gadis itu mulai mendesah ‘Hhhh…’ tubuhnya menggelinjang pelan. ‘Wesewessewesss’ Diremasnya dengan perlahan tapi kuat, sambil diurut. Licinnya minyak melipatgandakan efek kenikmatan, urutan telapak tangan Ridwan disekujur paha yang telanjang. ‘Ahhh…’ Tara mulai mengeluh menahan deraan birahi. Sensasi paha telanjangnya diurut dukun sakti dengan tangan kasar berbalur minyak menghantarkan gadis itu ke angan-angan binalnya. Tubuhnya menuntut lebih. ‘Adik, eee yang tidak tertutup kain sudah, eee tinggal yang ditutup kain, eee gimana yahh, saya malu juga nih, soalnya tidak pernah sampai harus kontak fisik’ ‘Hhh… terus saja pak…jangan ragu…’ Tara membuka matanya melihat sesosok tubuh lelaki duduk disisinya menggaruk-garuk kepala dengan wajah kebingungan. Dalam diri Tara sudah bercampur antara ambisinya sukses di Jakarta dengan hausnya pemenuhan birahi’

(Penulis: kalau ada juri piala oscar, Ridwan pasti dapat nominasi karena kehebatan aktingnya’ ‘Eeee..malu dik…’ ‘Jangan pak, kasihan saya dong kalau sampai pengasihannya gagal’ Tara menangkap keraguan dukun ini, dibukanya lilitan sarung didadanya diturunkannya sampai keperut. Tuiiinggg, tersembullah sepasang bukit kembar, menjulang menantang. Bukit kembar mulus seputih salju dengan dihiasi puncak kemerahannya yang sudah menegang sedari tadi. Bukit kembar gadis muda yang nyaris tidak pernah disentuh lelaki, dengan bentuk yang sungguh sempurna. Sekuat tenaga Ridwan menahan dirinya untuk segera menyosor tubuh telanjang itu, bahkan dia pura-pura melengoskan mukanya sambil memejamkan mata. Tara sudah yakin 100% kealiman dukun ini, diraihnya tangan sang dukun, dengan sinyal jangan ragu-ragu. Sambil melengos dan memejamkan mata, Ridwan kembali menuangkan minyak ketangan, mulai membalurkan disekujur bukit kenyal yang indah. ‘Hhhhh….’ Tara tersentak merasakan jemari kasar membalurkan minyak dipayudaranya, birahinya meledak dengan intensitas semakin kuat. Tubuhnya menegang, matanya terpejam. Tidak sadar tangannya gemas menggenggam jemari yang sedang menjarah dadanya. Merasakan jemari halus meremas tangannya yang sedang bekerja, Ridwan mengintip dan segera membuka matanya lebar-lebar mengetahui Tara kembali terpejam. Matanya nanar melahap keindahan sepasang payudara gadis cantik ini. Ridwan menghayati perannya, berupaya tangannya hanya melakukan gerakan membalur minyak, ditahannya keinginan untuk meremas dan memelintir pentil keras itu. “Hhhhh….’ Sesak nafas Tara menerima belaian kuat dipayudaranya. Tubuhnya semakin bergelinjang, tak sadar jemari halusnya meremas tangan yang memberinya kenikmatan. Ridwan membalurkan minyak kepayudara sebelahnya, yang semakin menggeletarkan tubuh telentang gadis cantik ini. Kedua belah tangan gadis ini sekarang sudah memegang masing-masing pergelangan tangannya, menahannya untuk pindah membalur ketempat lain. ‘Ohhh….’ Tara sudah mulai mendesah, menginginkan ritual lebih dipayudaranya. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan si supir yang dari tadi sangat nakal menjarah tubuhnya, menekannya kedadanya. Ridwan memenuhi harapan sigadis, kedua tangannya yang dicengkeram sigadis, memulai teknik massage, dengan bantuan minyak telapak tangnnya berputar dan menekan. Baluran minyak diseputar lereng masing- masing bukit kenyal, membuat tubuh si gadis begelinjang keras. “Ohhh…’ Tara mendesah, sepasang kaki yang tadi rapat lurus membujur mendadak kejang, terlipat, seolah menahan derita dera kenikmatan. Paha terangkat dan lutut yang kejang tertekuk rapat keatas memaksa sarung yang tadi menutup sebagian pahanya, melorot, menampakkan semakin banyak ketelanjangan paha dan pangkal pahanya.

Nanar mata Ridwan menerima pemandangan hebat ini, dikomandoi tangan Tara yang mencengkeram masing-masing pergelangan tangannya, Ridwan mulai membantai kedua payu dara itu, balurannya ditekan lebih kuat. Masing-masing telapak tangannya menekan kuat dan memutar bak mengurut masing-masing susu yang berani kurang ajar menjulang dihadapannya. Tangan kiri memutar searah jarum jam, tangan kanan melawan jarum jam, bagai buldozer hendak meratakan bukit kenyal. ‘Ahhhh….’ Tubuh Tara bergetar menerima perlakuan ini, bagian bawah tubuhnya menggelinjang melengkung kejang menahan derita, mencoba merapat ketubuh lelaki yang disisinya. Lututnya yang terlipat berusaha menjangkau sia-sia tubuh dukun yang memberinya derita nikmat. Bagian bawah tubuhnya setengah meringkuk merapat, membuat Ridwan dihadiahi pemandangan ketelanjangan pinggul dan pangkal paha si gadis. Ridwan pura-pura sebelah tangannya hendak beranjak membalur bagian lain, segera ditahan oleh cengkeraman tangan Tara, seolah berkata ‘jangan…, jangan pergi’ ‘Wessewessewsss, Dik semua sudah, tinggal yang itu…’ dengan komat- kamit Ridwan bertanya, sambil memeras ganas kedua susu itu. ‘Ohhh…pak….iya pak…hhh’ Kacau sudah logika sigadis didera birahi nikmat yang ditimbulkan baluran minyak tangan ganas Ridwan yang lihai. Tapi tangannya tidak rela melepas kenikmatan yang mendera susunya, dicengkeramnya agar tidak pindah ke lain hati ..eh.. ke lain tubuh. ‘Wahh kebetulan’ pikir Ridwan, sambil terus memeras kuat tapi lembut, tubuhnya beringsut, beranjak, setengah berlutut, kebagian kaki Tara. Posisi tangannya sekarang menjangkau lurus payudara itu, sambil tetap memeras. Dengan hati-hati saat posisinya sudah OK, sambil kedua telapak tangannya menekan dan memutar susu, kedua pasang ibu jari dan telunjuknya memelintir pentil susu yang dari tadi mangganjal. ‘Ohh…pak..ohh..’ kesekian kalinya Tara mengeluh dan menggelinjang. Dengan lihai kedua siku Ridwan mencongkel kedua belah paha yang terkatup rapat, memaksanya membuka. Paha itu menolak, karena masih kejang menahan derita nikmat, dagu Ridwan turun membantu nyelip di lutut Tara, membongkar lipatannya, telapak tangan dan jemarinya bekerja sama memerah dan memelintir. Terkangkangklah paha itu dihadapan wajah Ridwan yang setengah telungkup dibagian bawah tubuh Tara. Tanpa ba..bu lagi Ridwan segera melumat pangkal kewanitaan sigadis, menuntaskan kegairahan yang sedari tadi ditahannya setengah mati. “aghhh…’ Tara merasakan ledakan nikmat dibagian tubuhnya yang lain, saat lidah Ridwan terasa mencucuk mulut kemaluannya. Kedua tangannya segera mencengkeram kepala yang begitu kurang ajar mejamah daerah kesuciannya.

Kalau sudah begini, Ridwan sangat pede (percaya diri), pelacurpun takluk pada kelihaian lidahnya, apalagi gadis kencur ini. Kedua tangannya sudah diistirahatkan, diselipkan dibawah bokong sigadis, mengganjalnya agar lebih terkangkang, sekaligus membantu sigadis agar lebih mudah menggelinjang. Lidahnya sekarang mulai bekerja. Desahan Tara sudah mulai tak terkendali, kepalanya terhentak kekiri dan kekanan, nafasnya tersengal-sengal.

Santai saja Ridwan menjarah pangkal paha sigadis, santai saja lidah itu menjilati, mengecup, mengulum, mencucuk, bahkan mengemut daerah kewanitaan. Pinggul Tara menggeliat meronta mecoba melarikan diri, setiap saat lidah yang kasar dengan buas menyentuh bagian tubuhnya yang paling intim. Kedua belah tangan Ridwan yang mencengkeram kedua belahan bokong sigadis, membantu Tara mengelinjangkan pangkal pahanya. Bak sedang makan separuh buah semangka yang dibelah, Ridwan sepuasnya melahap hidangan liang kewanitaan Tara. Mulutnya menjilat, mengecap dan menghirup kelaparan, kedua belah tangannya membantu bokong sigadis bergetar-getar. Tara tak berdaya dilanda arus birahi hingga tiba dimuara puncaknya. Tangannya hanya mampu mencengkeram kepala dengan rasa tak tertahan, jepitan pahanya tidak mampu meredakan sedikitpun dera nikmat.

Saat itulah tanpa disadari keduanya, Anton masuk keruangan. Pandangan Ridwan terhalang kedua paha yang menjepit kepalanya, Sedangkan Tara, boro-boro melihat, sadarpun tidak, matanya terpejam terus, kadang terbeliak hanya putihnya saja. Kalau ditanya berapa satu tambah satu, jawabannya pasti ‘terus…ohh teruss’. Dengan diam-diam Anton menggunakan kamera digital perusahaan mengambil beberapa foto adegan menggairahkan tersebut, diupayakannya wajah cantik Tara yang terengah- engah melonjak menahan nikmat, tertangkap jelas kamera digital murahan yang cuma 3,2mega pixel. Selanjutnya diambilnya juga gambar dalam mode movie, sampai kapasitas memorinya habis.

Tak lama kemudian Tara meledak dalam puncak kenikmatannya’ ‘Pak…..arghhhh…ohhh’ , mendesahkan berkali-kali nafas panjang, karena lidah silelaki terus saja dengan santai melumat bagian tubuhnya yang paling peka. Tara merasakan tubuhnya kembali meledak dan meledak, bahkan menggelinjangpun dia tak kuasa. Kedua belah tangan Ridwan senaknya saja memutar-mutar bokongnya, bak tangan ibu menampi beras untuk dimasak. Santai saja Ridwan memutar-mutar bokongnya sesantai lidahnya mengemoti bibir kemaluannya, selama itu Tara lupa diri terbang keawang-awang. Semenit berlalu, puncak nikmat itupun berlalu, meninggalkan jejak nafas tersengal-sengal, dan tubuh lunglai tak berdaya. Tak pernah Tara merasakan kepuasan sedemian intens dan sedemikian panjang. Berapa kali persetubuhan dengan pacarnya, sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan saat ini. Hujaman kejantanan Indro dua hari lalu di puncak air terjun, walaupun banyak memberikan nikmat tapi tidak intens karena bagian dari upayanya menyogok Indro membantunya menggapai ambisi.

Melihat sigadis sudah lunglai, dengan penuh kepuasan, Ridwan menghentikan siksaannya, dia berpikir menganalisa, untuk langkah selanjutnya dia mengikuti saja skenario Anton . Dibaringkannya tubuhnya miring disisi Tara yang lunglai tertelentang telanjang, terpejam. Sarung yang tadi dikenakan kini hanya menutup sebagian kecil perutnya saja. Dikaguminya kedua bukit kembar yang indah menjulang bergetar-getar akibat nafas yang tersengal-sengal. Dirangkulnya tubuh telanjang sigadis, tangannya meraih botol minyak, dituangkannya sedikit di bagian dada yang menantang, kembali dibalurinya dada yang telanjang. Lembut dan penuh kesopanan.

Sekian menit, akhirnya kembali juga Tara kealam sadarnya walaupun masih sedikit, kalau IQ normalnya 105,sekarang mungkin baru 85. Perlahan-lahan dirasakannya baluran lembut minyak di dadanya, ‘ohhh…kok bisa ya ritual berbuah kenikmatan seperti ini?’ Lupa diri didekapnya tubuh sidukun, seolah berterima kasih dan gemas’

Sembari terus melaburi dada dan payudara dengan minyak, Ridwan dengan cermat membaca bahasa tubuh sigadis. “Anu dik…, ilmu saya masih cetek…kayaknya saya tidak mampu membersihkan dengan tuntas, Minyak pengasihannya tidak juga berhasil menyatu sempurna ditubuh adik, mungkin karena masig ada sedikit kekotoran itu yang tertinggal di bagian-bagian sulit.’ ‘Ngg jadi gimana pak…hhh’ kembali nikmat menyentuh dadanya. ‘Ohh bapak ini benar-benar baik, walaupun saya sudah telanjang bulat, dia tidak melakukan apa-apa’ Tara sudah percaya 100% kepada dukun ini. Pacarnya dan Indro sama saja, buru-buru masukin anunya kekewanitaanny, enak sih’.

Ridwan terus melabur, berupaya melenakan kembali sigadis ‘Saya coba lagi, mudah-mudahan berhasil, coba dilepas sarungnya’ Tara mengangkat pinggulnya, memudahkan Ridwan meloloskan sarung itu. Tara merasakan kembali nikmatnya tangan itu melaburi tubuhnya dengan minyak, gairahnya kembali meletik. ‘Mmmmm …’ Tara mendesah kecil Laburan Ridwan semakin bebas, mengarah di segitiga kemaluan naik atas berputar diperut, naik lagi, merambah payudara, memerah keras, menuruni lereng, merambah payudara sebelahnya, memerah keras disana, memelintir mencoba menggusur pentil, turun kebawah, berputar dipusar, menjamah gundukan daging lembut dibawah pusar, ketiga ujung jarinya telunjuk, tengah dan manis, mencongkeli lembut sisi bibir kemaluannya. ‘Shhh…’ Tara menggelinjang Kembali Ridwan mengulangi ritualnya “Shhh…shhh…’ semakin menggelinjang Dengan penuh kesabar Ridwan mengulangi berkali-kali ritualnya.

Kedua tangan tara sekarang dikalungkan dileher sidukun, mendekap,mencari kekuatan menahan dera kenikmatan yang datang kembali, wajahnya dibenamkan dileher. Ridwan membantu mengganjal leher sigadis dengan lengan kirinya, merangkulnya dengan mesra. Tangan kananya bergerilya kemana-mana. ‘Pak…ohhh…ohh’ kembali Tara mengeluh, saat telapak tangan sidukun tidak lagi melaburi, tetapi ketiga jari, telunjuk tengah dan manis, merambah hutan lebat disekitar gua kewanitaannya. ‘Shhhh…hhhh’ Tara menggeliat ketika jemari itu dengan sengaja memutar klitnya dan sesekali memelintirnya

Ridwan mencermati bahasa tubuh sigadis, ‘yesss doi sudah balik lagi gairahnya’ Dengan semakin bersemangat, ketiga jemari Ridwan melaksanakan ritual dengan penuh disiplin. Menghantarkan kembali tubuh sigadis kealam bawah sadarnya. Tubuh telanjang itu kembali menggelinjang-gelinjang. Tapi sekarang tangan Tara sudah bisa memeluk erat tubuh sidukun, melampiaskan dera nikmatnya. Wajah Tara yang terpejam merapat kewajahnya sambil memeluk mesra, seolah dirinya adalah kekasihnya tercinta, disengajanya jari tengah menelusup agak dalam kegua kewanitaan si gadis, yang membuat matanya berkerenyit menerima sentakan nikmat. Tak sadar sigadis melumat bibirnya mencari penuntasan nafsu. Ditariknya kembali sijari dan ditelusupkannya lagi, beberapa kali. Dirasakannya pinggul sigadis menggeliat menggerakkan liang kewanitaannya mengejar selusupan jemari, ‘Pak ohh..ohh..pak…ohh…’ Tara mulai menceracau

‘Wah kayaknya sudah bisa nich’ Ridwan memutuskan untuk melakukan penetrasi Dengan meningkatkan keahlian jemarinya menggusur mulut dan liang kewanitaan, Ridwan berspekulasi ‘Dik jari saya tidak bisa melaburi kotoran yang didalam’ ‘Pak ohh..pak…ohh ter..ohh.terserah ..hhh bapakhhh’ Susah payah Tara menyahut, pasrah 100%, tidak peduli lagi dengan ritual, dirinya kembali terbuai arus birahi.

Dengan sigap Ridwan melepaskan kaus dan celananya, wuihh kalau bisa diukur kecepatannya, barangkali bisa masuk Musium Rekor Indonesia atas kecepatan menelanjangkan diri. Tangan kirinya kembali memeluk leher sigadis, jemari tangannya kembali melakukan pembantaian yang sejenak tertunda di pangkal paha si gadis .

‘Shh …hhh’ hanya kurang dari 7 detik rabaan dikewanitaanya hilang, kerinduan menyesak akan jamahan jemari itu, terpuaskan, lega. Bahkan melipatgandakan intensitas kenikmatan. Seolah memahami kerinduan sigadis, Ridwan semakin sering dan semakin dalam menyelusupkan jemarinya kelubang itu.

‘Adik, jarinya nggak sampai, pakai yang lain yaa..’ Ridwan menelusupkan jarinya lebih dalam ‘Ahhh…pak..ahhh…iya ahhh…iya…’ Hilang kembali kesadaran sigadis. Sambil tetap dengan lembut berulang-ulang menelusupkan jarinya, tangan kiri menggapai botol minyak ‘Dik, mana tangannya …’ dituangkannya sedikit ditangan kiri Tara ‘Nggg..dik laburkan minyak ke anu saya’ kali ini jarinya agak keras menggosok klit

‘Ohh….’ Tara tersentak, seolah mendapat pencerahan tangannya turun kebawah menggapai sesuatu yang hangat mengganjal perutnya, digenggamnya dengan gemas. ‘Laburi dengan minyak dik…’ Ujar Ridwan sembari menelusupkan jarinya agak dalam Yang terjadi tangan Tara membetot agak keras, Bagi Tara yang masih kencur, ukuran penis sikondektur yang sedikit lebih kecil dari kejantanan Indro yang dua hari lalu dinikmatinya, tidak jadi masalah. Dia tidak bisa membedakannya. Seumur hidup Tara belum pernah memegang benda seperti ini, persetubuhannya dulu dengan pacarnya dan Indro selalu dalam kondisi terburu-buru, tancap, genjot dan lemas.

‘Saya coba lagi ya dik…’ Ridwan bertanya dengan menyamarkan maksud pertanyaanya, mulutnya sekarang membantu dengan mengulum sedalam- dalamnya payudara sigadis, dikemotnya kuat-kuat, sembari jarinya menekan kuat klit ‘hhh…iya…hhh pak..shh’ Tara asal sahut, tidak sadar apa yang akan terjadi. Dengan sigap Ridwan mengambil posisi, dkangkangkannnya lutut sigadis, setengah berlutut diposisikan pinggulnya dikangkangang paha, diarahkannya si tongkat keras ke sasaran mulut kemaluan, ditempelkannya, dirasakannya pada kepala meriamnya liang yang basah dan hangat, tanpa tadeng aling-aling ditekannya dengan lembut tapi kuat. Slepp…masuk setengah ‘Yess soraknya dalam hati, memang hebat si Anton, untung bener aku dibuat ****** itu’

‘Ohhhhh….’ Tara mendesah panjang, matanya terbelalak, wajahnya terpana, kalau boleh dibilang melongo, merasakan sesuatu masuk kedalam sanubarinya. Birahi sudah memutar balikan otaknya, membuat seluruh tubuhnya berusaha menggapai kembali kenikmatan birahi. Ridwan menarik tongkatnya perlahan, yang ditimpali Tara dengan cengkeraman keras dipinggulnya, ditekankan kembali perlahan namun lebih kuat, dirinya menemui hambatan lebih kuat, Ditariknya perlahan, sampai kepala meriamnya hampir lepas, ditekannya kembali, slepp, masuk dengan cukup baik. ‘Aduhhhh….’ ‘Saya coba lagi ya.. Tahan sebentar dik, agak sulit letaknya, ‘Ridwan menarik kembali perlahan kejantanannya, sampai hampir lepas, membuat wajah gadis cantik itu terkesima menahan rasa. Kuku jarinya dicengkeram keras ke bokong supir yang telanjang, mencegahnya pergi. Ridwan menekan kembali perlahan tapi lebih keras kali menekan keras sisi bawah liang kewanitaan’ ‘Ahhhhh…pak…’ Tak tahan Tara mendesah melepas nikmat. Dengan sistematis Ridwan menghujamkan kejantanannya perlahan, tapi keras menekan sisi-sisi dinding kemaluan digadis, yang selalu membuat tubuh indah itu menggelinjang-gelinjang diiringi desahan nikmat dan sengalan nafas. Tak lama kemudian menghantarkan Tara ke titik akhir pendakiannya. ‘Shh..shhh…’ tubuh telanjang Tara kelojotan dibawah penindasan kejantanan sang dukun. Tara tak sadar kedua belah kakinya yang terkangkang merangkul pinggang sidukun, menjepit keras, menyuarakan tuntutannya agar hujaman kejantanan itu semakin buas dan buas.

Dengan terkejang-kejang Tara kembali meraih gelombang puncak birahinya. Ridwan sungguh puas menikmati sensasi, tubuh gadis cantik telanjang kelojotan dibawah hujaman kejantanannya. Dihantarnya sang gadis sejauh mungkin melayari dera kenikmatan, melalui tekanan kuat tongkat kerasnya yang perlahan-lahan digesekkan di sisi atas pangkal kewanitaan sigadis. Hingga akhirnya fisik Tara tidak mampu lagi bergelinjang, lemas tak berdaya. Mencoba menanamkan kesan sepositif mungkin, Ridwan menghentikan hujamannya, saat tubuh sigadis sudah lunglai, terlentang, walaupun kejantanannya masih keras menginginkan perlombaan itu dilanjutkan. Ridwan memang tidak menyukai menghantami gedebong pisang, kepuasannya adalah membuat perempuan terlonjak-lonjak. Seolah akan memberi bantuan dorongan hidup, Ridwan dengan tongkat yang masih keras tertancap, menelungkupkan tubuhnya diatas tubuh Tara, merapatkan tubuhnya dengan mengandalkan berat tubuhnya, berupaya memberi semangat dan tenaga. Tara menyambutnya dengan pelukan mesra, seolah-olah menumpahkan kasih sayang demikian mendalam.

Selang beberapa saat, Tara sudah mulai kembali kealam sadarnya, Ridwan melepaskan dekapannya dan bangkit duduk disisi Tara, dengan kaki terjuntai ke lantai. ‘Dik, sisa kekotoran sudah berhasil diserap, maaf ya karena ilmu saya cetek terpaksa harus kontak fisik. ‘Iya pak terima kasih pak’ Tara sangat meyakini kejadian sedari tadi adalah benar-benar ritual pemberian minyak pengasihan Adik harus ingat pantangannya, jangan sekali-kali berhubungan dengan lelaki yang buat adik tidak sah, seperti istri orang. Pengasihannya akan menjadi tidak manjur, kalau dengan pacar tidak masalah, demikian juga dengan duda.’ ‘Iya pak’ ‘Wah adik jangan anggap enteng syarat tersebut, misalnya adik numpang dirumah mbak Hindun, terus Suaminya datang menghampiri dengan janji dimasukkan kerja, bisa tidak menolak, ingat kemarin lusa adik sudah …’ ‘Ooo, terus gimana pak’ ‘Sebenarnya gampang, kalau ada lelaki yang minta hubungan sex, danadik takut menolak ada beberapa trik khusus’ ‘Eee gimana pak? ‘Kalau sudah telanjang dan segera bersetubuh, adik berupaya agar barang lelaki tidak memasuki barang adik, dengan cara kocok saja diluar, kalau sudah puas pasti loyo, aji pengasihannya aman, tanpa dia tersinggung. Bahkan ada kemungkinan semakin senang’ ‘Gimana itu pak, saya kurang jelas’ ‘Wah gimana ya, barangkali lebih jelas dipraktekkan saja’ ‘Betul pak, tolong dong jangan ragu mengajari saya’ ‘Ok” Ridwan kembali membaring badan disisi Tara, kali ini disebelah kiri

‘Ngg gini dik, misalnya bos adik memaksa dilayani, adik tak kuasa menolak, dan adik berdua sudah telanjang seperti kita sekarang, barang bos adik siap masuk, tangan adik kesini…ya…..adik memasturbasi barang ini’ Ridwan meraih tangan Tara untuk menyentuh tongkatnya yang tetap bertahan dalam kekerasannya menunggu penyelesan’ ‘Gini pak’ Tara menggenggam daging panas itu, kenyal keras dan berdenyut. ‘Adik remas dan digosokkan perlahan-lahan, seperti ini’ Tangan RIdwan menuntun jemari halus Tara mempraktekkan ‘Yaa..hhhh…betul’ ‘Remas keras…hhhh…gosok….lepashhh…’ Ridwan sedikit kesulitan menuntun Tara, karena birahinya kembali melonjak-lonjak, setelah diinterupsi sesaat.’ Tara tekun memprakekan seni rahasia ini, gembira dapat bekal baru. “Adik perhatikan reaksinya’ Ridwan menahan nafas’ saat anunya kembali dibetot ‘Apa yang diperhatikan pak?’ ‘Kalau semakin keenakan dan sudah hampir sampai, adik maksimalkan gerakannya’ Ridwan merasakan puncak gairahnya hampir tiba ‘Yang bagaimana itu pak’ ‘Ehhh, sshh… kira-kira kaya begini…adik perhatikan…’ Ridwan menggeliat nikmat ’sshhh…enak dik…shhh’ tubuhnya menggelinjang- gelinjang, paha kanannya ditumpangkan dipaha telanjang sigadis, merapatkan diri. Tara merasakan batang keras kenyal meronta-ronnta dalam genggam tangan kirinya, terasa merapat dipangkal pahanya, panas, “Maksimalkan bagaimana pak gerakaknya?’ Sambil berbaring telanjang dan tangannya membetot-betot kejantanan lelaki yang berbaring rapat disisinya. ‘Ahh..adik pintar…, saya tidak tahan lagi….hhhh…terserah adik’ Ridwan memeluk erat tubuh telanjang dihadapannya, menahan nikmat, kejantanannya dibetot-betot. Tara asal-asalan membetot-betot semakin keras dan semakin cepat, ‘Shhh…dik saya tak tahan, ‘ RIdwan menggeliatkan tongkat kerasnya dipangkal paha telanjang sigadis, terasa sangat nikmat, sekaligus dijepit keras jemari halus ‘Hhhh saya terpaksa mengeluarkan, shhh keko…shhh…toran yang…hhh…tadi terseraphhh, ayo dik…terus…yang keras…” Susah payah Ridwan berakting diujung ejakulasinya Perasaan aneh menyeruak diri Tara merasakan tubuh lelaki telanjang menggelepar telanjang diatas tubuh telanjangnya. Bak Newton menemukan teori apel jatuhnya, Tara menemukan betapa lelaki bisa melonjak- lonjak bila tingkat kerasnya dibetot-betot, oh ilmu baru. Terasa ditelapak tangannya, yang sudah kelelahan meremas dan membetot, daging kenyal keras itu berdenyut-denyut, dan memuntahkan sesuatu yang terasa panas di pangkal pahanya. Ohh pak dukun mendekapnya kuat-kuat, oh betapa mesranya, ohh pahanya keras sekali menekan pahaku. Tak sadar tangannya terus membetot hingga akhirnya batang daging itu mulai lunglai dan semakin lunglai, dan lemas, lunak menyerah digenggaman tangannya.

“Adik maaf yaa, karena mengajari tadi, terus adik pegang, saya tidak tahan, adik mulai pintar. Kebetulan juga saya perlu membuang kekotoran yang tadi saya serap. Jadi kalau nanti ada lelaki yang adik tidak berani menolaknya, lakukan saja seperti tadi’ ‘Ah bapak saya yang harus terima kasih, teknik itu apakah selalu manjur?’ ‘Mudah-mudahan, kalau adik sudah di Jakarta nanti, kalau kebetulan saya pas disana, nanti saya coba periksa apakah pengasihnya masih manjur’ ‘Oh terima kasih pak…terima kasih…budi bapak rasanya sulit sekali terbalas, pertama kesempatan bangku, minyak pengasih, terus jurus tadi. Tapi bagaimana dengan saya dianuin Bang Indro, saya takut Kak Hindun…’ Ridwan bersorak mendengar gadis ini sangat berterima kasih sudah disantapnya, sukses skenario Anton. Kalau sukses Anton janji pacarnya akan di sharing jangka panjang (penulis: buset dah…) ‘Jangan takut nanti saya cari alasan, adik yang penting menyangkal saja pernah digituin sama suaminya, dan juga jangan sampai suaminya ngaku’ ‘Terima kasih pak…’cup Tara mengecup mesra pipi sisupir ‘Gimana balas budinya pak, saya belum punya uang’ ‘Tidak usah adik pikirkan, bagi kami uang tak ada artinya, saya sudah menerawang tadi, adik nanti akan sukses menjadi karyawan dengan kedudukan bagus, kurang dari tiga tahun, asal pantangan tadi dipatuhi. Nah kalo sudah nyetir mobil bagus, gaji besar, bahkan nantinya punya suami baik, ganteng dan kaya, adik tidak boleh lupa sama saya supir bis antar provinsi. Disitu baru adik dituntut imbalannya, itu konsekuensi ilmu ini’ ‘Iya pak, pasti pak’
21.51 | 0 komentar | Read More
 
berita unik