Putri Malu

Putri Malu

Perjalanan Mudik 1

Written By Duniamesum Koplax on Jumat, 28 Maret 2014 | 21.41



Pasangan muda Indro dan Hindun bersama kedua anaknya Hanis yang berusia empat tahun dan Risna enam tahun sedang dalam perjalanan mudik lebaran di dalam bis exekutif ke Sumatera Utara. Keberangkatan mudik kali ini hampir saja gagal karena ijin cuti Indro terhambat penyelesaian tugas yang harus mengejar deadline T minus 3. Setelah lembur 10 hari berturut-turut barulah tugas bisa selesai dan Indro diijinkan cuti.

Hindun pun pada awalnya pasrah akan kepastian keberangkatan mudik ini. Walaupun tiket bis telah dipesan jauh hari tapi sampai menjelang tanggal tiket, Indro belum juga bisa cuti. Mendadak jam 12 siang tadi Indro menelepon dari kantor agar siap-siap berangkat ke terminal bis rawamangun. Dengan tergopoh-gopoh, jam dua siang dengan diantar mobil kantor Indro sekeluarga berhasil masuk ke bis tepat pada waktunya.

Perjalanan ke Pelabuhan Penyeberangan Merak lancar-lancar saja, tetapi menjelang pelabuhan terjadi kemacetan toal akibat terjadi kecelakaan pada salah pelabuhan penyebrangan. Kendaraan harus antri panjang untuk masuk ke feri penyebrangan. Walaupun AC bis cukup baik, kemacetan berjam-jam membuat lelah dan bosan semua penumpang. Hari mulai gelap. Hanis dan Risna sesorean tadi tampak ceria karena jadi mudik, mulai lelah dan mengantuk. Hindun mengatur duduk bersama Hanis, dan Indro bersama Risna. Deretan bangku mereka sebaris ditengah agak kebelakang, dua deret. Saat mengatur sandaran bangku, sentuhan tubuh sang istri memancing kegairahaan Indro. Maklum saja lembur dua minggu terus menerus mengakibatkan kegagalan memenuhi setoran wajib. Suasana remang, supir telah mematikan lampu ruangan besar, hanya menghidupkan lampu ruang kecil dan lampu di lantai. ‘Yang’ Indro berbisik, ‘kepingin nich’ ‘Hushh, ngaco’ sahut Hindun sambil mengatur posisi tidur Risna di samping Indro bapaknya. ‘Ntar saya ke toilet kalau sikon mengijinkan, ta’ miss call’ desak Indro ‘Ahh… jangan, bahaya! ‘Sudah, tenang saja’ ujar Indro sembari bangkit dari bangku dan berjalan kebelakang ke toilet.

Indro telah mempelajari, situasinya memang memungkinkan. Toilet di bis executif ini berada dibelakang dan dalam ruangan yang disekat dengan pintu khusus. Ruangan ini memang sengaja tidak diisi penumpang, karena hanya digunakan bagi para perokok, atau supir serep istirahat. Saat ini, supir dan kenek sedang sibuk berjuang mengatasi antrian masuk ke kapal.

‘Wah aman nich’ pikir Indro setelah masuk toilet. Indro langsung me miss call istrinya. Hindun mengetahui HPnya memanggil, membaca sendernya, Indro. ‘Waduh gimana sih mas Indro, kan bahaya’ Keluh Hindun. Maklum saja Hindun ini cenderung penurut dan sedikit (sedikit sekali introvert). Pekerjaannya sehari-hari hanya ibu rumah tangga, dan pergaulannya hanya sebatas ibu-ibu rt, bisa dikatakan wanita tradisional. Tapi kepatuhannya terhadap sang suami sangat tinggi. Dia menyadari perjuangan suami dua minggu ini menyelesaikan pekerjaan agar bisa mudik, sangat berat dan melelahkan, sehingga tidak sempat berhubungan intim. Setelah memastikan kedua anaknya sudah terlelap, Hindun menyapu pandangannya kepenumpang lain. Walaupun seluruh bangku terisi, tetapi jumlah penumpang yang hanya 26 orang sedang berupaya tidur. Dan yang disampingnya tampak sedang sudah terlelap sejak magrib tadi.

Hindun melangkah kebelakang, membuka pintu sekat ruangan, lalu membuka pintu toilet. Akibat sempitnya ruangan Indro menggeserkan sedikit badannya agar pintu bisa terbuka dan Hindun masuk. Hindun agak kaget melihat Indro sudah menanggalkan celana panjangnya, hanya mengenakan celana dalam dan kaos t shirt. Indro segera merangkul sang Istri ‘Yang, nyoba pengalama baru yuk’ sambil berbisik ditelinga Hindun, dan mengecup belakang telinganya. Daerah itu memang salah satu area peka Hindun. Walaupun demikian toilet yang sedikit bau dan kekhawatirannya membuat gairah Hindun tertahan. Tetapi semangat pengabdian istri yang baik mendorongnya untuk merespon dengan baik. Hindun balas mendekap sang suami. Ikut sajalah pikirnya tenang. Tangan Indro bergerak mengangkat baju terusan panjang sang istri, membelai belai. Mulai dari lutut, bergerak naik perlahan keatas menyentuh celana dalam. Membelai paha kearah dalam berputar-putar, meraba diantara kedua belahan paha. Merasakan hangatnya gundukan bukit yang terhalang secarik kain berenda. Hindun merenggangkan pahanya memudahkan tangan Indro melaksanakan tugasnya. Gairahnya mulai meletik, Hindun menarik wajah sang suami dan mulai melumat bibirnya. Lidahnya menari-nari dimulut Indro, menjelajah dengan mesra. `Hemph..’ mengetahui respon yang baik dari Istrinya Indro mulai bersemangat meraba-raba sembari sesekali mencubit pangkal paha Hindun. Sesekali jarinya menyelip ke belahan paha yang terhalang lipatan celana dalam. Telunjuknya menggosok perlahan bulu-bulu yang terasa mencuat dari lipatatan celana dalam. Hindun mulai mendesah perlahan, tangannya bergerak turun membalas dendam serangan Indro. Dengan mudah tangan Hindun masuk kedalam celana dalam dan menggenggam sang tongkat yang mulai menggeliat bangun. Hindun meraba kebawah membelai pelir sang suami. Hindun tahu hal ini yang sangat disukai suami, belaian pada buah pelir. Sembari membelai sembari memijat, membelai dan memijat buah pelir, sang tongkat sudah terjaga sepenuhnya. Merasakan serangan sang istri, Indro kembali melancarkan serangan lain, kali ini jari tengahnya mulai menelusup bergerilya kedalam lipatan paha setelah menggeser secarik kain yang menghalangi. Jari tengahnya mulai menelusup masuk sembari menggeser pada tonjolan klit yang dikenalinya. Jari tengahnya mulai bekerja dengan giat dibantu telapak tangannya, menekan-nekan gundukan kemaluan Hindun. Indro menggesekkan jemarinya sembari mengulum panjang bibir Hindun. Lidahnya menjalar-jalar dengan ganas, sesekali membelit lidah Hindun. ‘Hemphh ….’ Hindun terjingkat ketika Jemari Indro mulai menyentuh pusat komando pertahanannya. Semakin hindun terjingkat semakin senang jemari Indro menggosok daerah tersebut. Hindun mulai tak tahan, dan segera melakukan serangan brutal.Jemarinya menggenggam keras-keras kejantanan Indro. Mulai menggosok-gosok dan menarik-narik. Terasa dalam genggamannya sang tongkat mulai berdenyut-denyut. Setiap jemari Indro menyerang, Hindun setengah geram setengah mendesah mulai menggosok dengan keras bahkan terkadang membetot sang tongkat. Dalam kondisi normal biasanya Indro segera menelentangkan sang istri untuk membela diri terhadap serangan tersebut, dengan berbagai cara seperti mandi kucing, atau oral sex. Tetapi kondisi toilet tak memungkinkan, mau takmau Indro mulai terdesak, kejantanannya dibetot-betot Hindun. Hindun semakin kejam membetot-betot sang tongkat. Entah berapa kali tangan kanan Hindun bekerja keras, yang pasti mulai terasa lelah. Karena tangan kanannya mulai lelah, tangan kirinya mulai membantu, tangan kiri Hindun ganti membetot-betot, tangan kanan memijat-mijat buah pelir. Indro semakin terdesak tak berdaya, konsentrasinya mulai lepas, serangannya mulai melemah dan terabaikan. Celana dalam Indro sudah melorot jatuh’ ‘Yang ….aduhhh.. yang…..’ Semakin Indro melenguh semakin Hindun galak. ‘Tumben bang Indro agak pasrah kali ini’ pikir Hindun. Biasanya inisiatif serangan selalu ada pada Sang suami, Hindun biasanya hanya melakukan serangan balik, merespon sebaik mungkin. Tapi kali ini Hindun tidak menyadari Indro tidak mungkin menelentangkannya. Hindun tidak menyadari Indro tidak memiliki taktik yang memadai melancarakan serangan diruang toilet yang sempit. Hindun senang sekali bisa terus berinisiatif, genggamannya diperkeras, betotannya sesekali lambat tapi digenggam sekuat mungkin, sesekali digosok cepat tapi diperloggar. Tangan kanan Hindun menggaruk setengah mencakar daerah biji pelir sang suami, sesekali mencubit. Bila Hindun merasakan jemari Indro menggosok klitnya, Hindun langsung bersamaan meremas agak keras kantung kemih sang Suami sekaligus membetot sekeras-kerasnya yang membuatnya langsung terjengkit setengah kesakitan setengah keenakan

‘Yang… uh …uh….’ tangan Indro merangkul leher Hindun mencoba bertahan sekuat tenaga. Hindun tersenyum bahagia, baru kali ini dirinya berhasil memegang insiatif penyerangan setelah tujuh tahun berumah tangga.

‘Yang… lepas ….’ Indro terengah-engah, meminta Hindun melepas celana dalamnya. Hindun melepas celana dalamnya dan meletakkannya di penggiran wastafel. Indro mengangkat baju terusan panjang sang istri, membantu mengangkat sebelah kaki kiri Hindun, dan menumpangkannya ke closet yang tertutup. Indro mulai mencoba memasuki sang istri, agak sulit. Hindun membantu dengan membimbing sang tongkat agar tidak salah arah memasuki liang kewanitaannya. Setelah sedikit masuk, Indro menekan, dan masuk. Agak seret karena posisi kaki Hindun yang terangkat sebelah. ‘Eggh…bangg…’ bisik Hindun mesra. Menyadari Indro telah mamasuki dirinya. Posisi Hindun kesulitan, terpaksa kedua belah tangannya membelit leher Indro memantapkan posisi, setengah mendekap setengah menggantung. Kaki kirinya terjingat dipinggirian closet, terganjal legan kanan Indro yang berpegang kuat didinding. ‘Yang… gimana… bisa??’ sembari bertanya Indro mulai menekan. ‘Ayo bang..ahhh’ Ketika terasa ganjalan sang tongkat mendesak tubuhnya. ‘… terus bang’. Hindun tidak terbiasa posisi ini, tapi pasrah saja menikmati sodokan sang tongkat. Indro langsung menekan tancap gas, maklum saja telah diserang habis- habisan, kejantaanannya sudah menggelegak setelah tadi dibetot-betot oleh jemari Hindun yang lihai. Dorongan dan tarikannya dilakukan secara cepat dan sistematis. Hindun tak berdaya didesak-desak kejantanan Indro, posisinya tidak memungkinkan melakukan gerakan balasan yang dikuasainya. Hindun hanya bisa menahan setiap didesak Indro. ‘Yang… nggak tahan lagi nich’ Indro mencoba bertahan selama mungkin menyetubuhi istrinya. Kayuhannya dicoba seteratur mungkin, tetapi kejantanannya mulai berdenyut-denyut hendak meledak. Pikirannya buntu mencoba mencari alternatif gerakan, tetapi tampaknya kondisi ruangan kurang mendukung fore play, apalagi fisiknya agak lemah setelah lembur terus-terusan. Gempurannya mulai tidak beraturan ‘Nggak apa-apa bang…ayo terus … ahh. ‘ Hindun memang bukan tergolong wanita jaman sekarang yang selalu mencari kepuasan setiap berhubungan intim. Asal bisa memenuhi kewajiban melayani suami, Hindun sudah bahagia. Hindun sangat senang melihat Indro tadi tak mampu membalas betotannya. Indro mulai melepaskan kendalinya, gerakan tubuhnya menghujam mulai bergetar, hujamannya mulai liar, berkali-kali ‘Ohh…ohhh….’ berahi Hindun mulai membara, dihujam sekuat tenaga. Bibirnya hanya bisa mengecup leher Indro dimana dirinya setengah bergantung.

Hunjaman sekuat tenaga menandai muntahan lahar panas. ‘Yang ….’Indro mengulum kuat bibir sang Istri, agak menyesal memahami bahwa dia sampai duluan, dan tidak berdaya untuk melanjutkan perjalanan. Tubuhnya lemas karena posisi hubungan initm yang agak sulit. Semenit berlalu, sang tongkat perlahan-lahan mulai melemas, dalam benaman hangat sang istri. Akhirnya terlepas sendiri. ‘Yang … tunggu lima menit baru keluar, saya duluan’ Ujar Indro sembari memungut dan mengenakan celananya. ‘Iya bang, mungkin agak lamaan’ ‘Oh iya mungkin urusan perempuan’ pikir Indro

Indro melangkah keluar toilet dengan tubuh lemas. Karena gelapnya ruang merokok tidak menyadari sang kenek tengah berbaring dan menongolkan kepalanya dari deretan bangku belakang yang menyembunyikan dipan kecil dibalik deretan bangku paling belakang.

Anton, sang kenek, ketika baru saja berbaring, dan langsung menyadari ada peperangan dibalik toilet, buset dah. ‘Buk…buk…buk…’ getaran halusnya mau tidak mau terasa setiap kali silelaki menghujam. Lama juga kupingnya mendengar getaran ini. Benaknya berpikir keras, sialan nich. Ganggu orang istirahat, apa nggak bisa nyari tempat ngesex ditempat lain. Sialan ntar gue bales ganggu? Wah ada ide….

Ketika Indro membuka pintu ruang sekat dan keluar, Anton bangkit dari dipan kecilnya yang tersembunyi dibalik balik tingginya bangku penumpang, loncat kedereratan bangku belakang dan segera mengetuk pintu toilet. Ketukannya disengaja bernada kode ‘tuk ..dok ..dok, tuk ..dok ..dok..’

Hindun sedang membersihkan dirinya ketika mendengar ketukan tersebut. ‘Wah kenapa bang Indro ini, apa ada yang ketinggalan? Hindun membuka slot pintu dan menggeser badannya membelakangi dan, membuka pintu. `Kenapa bang? Anton masuk dan segera mendapati punggung seorang wanita. Ketika berbalik terlihat dalam keremangan seorang wanita muda berusia 30-an tahun, bertubuh sedang cendrung mungil, berwajah putih halus manis keibuan, sedang memegang celana dalam. Anton segera menyadari wanita ini ibu dari dua anak yang tadi siang datang tergopoh-gopoh. Postur tubuhnya ditutupi baju terusan panjang khas wanita sumatera. Secara keseluruhan berpenampilan menarik. ‘Oh…. anu ……’Hindun kaget menyadari yang masuk bukan suaminya, tetapi sang kondektur yang terlihat jelas dari seragamnya. ‘Ibu ngapain dengan bapak yang tadi?? Tanya Anton dengan sopan tapi tegas. ‘Anu…pak ….’ Hindun gugup terbata-bata, tangannya yang sedang memegang celana dalam segera disembunyikan dibalik tubuhnya. Tapi terlambat menghindar dari tatapan tajam kondektur. ‘Apakah ibu baru berhubungan badan dengan bapak yang tadi? Ayo ngaku saja’ ‘Ehh… iya pak, dia suami saya’ Hindun terpaksa mengaku karena tertangkap basah. ‘Bu sesuai peraturan kami, Ibu sekeluarga harus diturunkan. Perlu ibu ketahui ini bis luar kota jarak jauh. Demi keamanan bis-bis kami selalu dimanterai agar aman dalam perjalanan. Lihat tanda di atas sana, itu simbol mantera kami. Pantangan salah satunya adalah adanya hubungan sex didalam bis selama perjalanan. Ibu harus turun, kami harus memanterai ulang bis ini nanti di Kantor kami di Tanjung karang’ ‘Aduh…jangan pak’ Hindun kaget, dia menyadari sedang ditengah jalan diluar kota, dimusim mudik, sangat sulit mencari bus pengganti. Tiket bus ini saja diperoleh melalui KKN sebulan lalu. ‘Pak… saya ganti uang ssaja yaaa…’ Hindun memelas ‘Tidak bisa, nyawa penumpang terancam dengan tercemarnya bis ini’ ‘Tapi pak … gimana nanti’ “Bukan urusan saya, kami saja sudah pusing harus memanterai ulang nanti, gimana kalo dilihat penumpang lain, bisa berabe’ ‘Pak…tolong pak…’ Mata Hindun mulai memerah, suaranya bergetar. `Saya harus lapor supir tentang kejadian ini, melanggar pantangan mantera berakibat munculnya sial yang luar biasa, hampir dipastikan akan makan korban, seperti ban meletus, tabrakan, nyelonong ke jurang’ `Jangan pak’ Air mata Hindun mulai menitik ‘Tidak bisa!’ ‘Pak… ada cara lain tidak pak? Sambil mulai tersedu-sedu ‘Errr, sebenarnya ada yaitu manteranya ditambal oleh orang yang menciderai mantera tersebut’, Mata Anton berkilat memperhatikan umpannya termakan. ‘Maksudnya, saya yang menambal mantera tersebut? Ujar Hindun harapannya terbangkit. Bagaimana caranya?’ ‘Ehh… nggak ah, nggak bisa… sulit’ Ujar Anton jual mahal. ‘Ayo dong pak dimana caranya’ Hindun termakan bualan Anton ‘Sulit bu…Kata orang pintar kami, perempuan harus mengulang pencemaran yang dilakukan, dan membacakan mantera ulang pada saat puncaknya, dan tidak boleh bersama dengan orang yang menciderai mantera tersebut, yaitu tidak boleh dengan Bapak yang tadi’ Hindun terkesima, mendengar cara tersebut, pikirannya pusing mempertimbangkan konsekuensinya. Selaku perempuan tradisional dari daerah Sumatera, dia sering mendengar cerita-cerita mistis sejenis. Saat ini mau tidak mau dia harus memilih antara percaya atau diusir turun di tengah jalan, saat mudik, malu lagi ketahuan berhubungan intim ditempat umum. ‘Pak tolong bantu dong pak…’ Hindun mencoba memohon ‘Bantu bagaimana….’ ‘Itu…memperbaiki mantera yang rusak’ ‘Ibu ngerti nggak sih, ibu harus mengulangi pencemaran dan pada puncaknya membaca ulang mantera tersebut’ ‘Iya nanti saya baca, saya kan bisa….. errr.. sendiri’ (masturbasi maksudnya) ‘Itulah yang nggak bisa bu!, Memperbaikinya harus sebanding dengan cara tadi merusaknya, dan siapa yang jamin ibu nggak berbohong. Risikonya tidak sebanding karena menyangkut keselamatan seluruh isi bis’ ‘Oooo….’ Hindun berpikir keras, kalau gara-gara hal ini tidak bisa mudik, kasihan nama baik suaminya didepan keluarganya dikampung pasti jatuh, karena selama kawin tidak pernah mudik, walaupun sudah berkali kali diundang. Apalagi kalo dipermalukan didepan umum ketahuan berbuat mesum. ‘Pak…. tolong dong pak, hik…hik….’ Hindun tergugu saat memutuskan untuk menanggung aib terebut. ‘Aduh bu jangan nangis…., gimana saya membantunya? ujar Anton dengan pura-pura bego. ‘Bantu saya mengulangi ?.itu…, nanti saya baca manteranya, bersama bapak’ ‘Wah…saya nggak ngerti bu…, saya nggak ngerti begituan, saya bisanya nyuci bis’ Anton membual, padahal sejak jadi kondektur 8 tahun silam diumurnya yang 24 tahun ini sudah lumayan juga petualangannya. Maklum orang terminal.

‘Kamu nggak pernah berhubungan dengan perempuan? Hindun setengah tidak percaya memandang laki-laki muda bahkan seperti remaja dihadapannya. Tampangnya memang agak imut-imut, tingginya sedang, agak kurus tapi liat. Khas orang bekerja fisik, terlihat seperti belasan tahun. ‘Pacar sih punya dikampung, tetapi ketemu belum tentu 6 bulan sekali paling-paling sun pipi’ Anton menundukkan wajahnya, berusaha keras terlihat malu-malu. Yang tampaknya berhasil.

Ooo anak ini masih kencur, mudah-mudahan tidak apa-apa berhubungan dengan remaja, anggap saja anak sendiri’ Hindun mencoba mencari pembenaran. ‘Mana manteranya’ Hindun memberanikan diri, walaupun suaranya agak bergetar. Anton membuka dompetnya dan menyerahkan tulisan aji-aji pelet yang memang jadi salah satu bekalnya merantau. Anton mengajarkan cara membacanya. ‘Cuman dua kalimat? bahasa apa ini?’ sembari Hindun mengucap ulang perkataan Anton. Kertas itu diletakkan di pinggir wastafel. ‘Nama adik siapa? tolongin kakak yaaa, ‘ Ucap Hindun semanis mungkin, sambil meraih tangan Anton, merasa bahwa dirinya jauh berpengalaman diatas remaja ini. ‘Anton bu…’ pura pura grogi ketika tangannya di pegang ibu manis dihadapannya. ‘Anton? Jangan panggil ibu dong… kakak lebih pantes..’ sembari mendekapkan tangan Anton didadanya’ ‘Err…iya…iya…bu..ehhh kak’ Anton pura-pura gemetar membiarkan tangannya ditekankan jemari halus di bukit kenyal perempuan manis dihadapannya. ‘Ton…ee …kenapa? kok malu…’ Ujar Hindun memerah sendiri mukanya saat mendekapkan lebih erat tangan Anton didadanya. Meyakini keluguan remaja dihadapannya, keberaniannya semakin melambung tinggi. Hindun semakin berani menekan-nekan telapak tangan Anton dipayudaranya. Saat menekan-nekankan tangan remaja ini di dadanya, tak terasa gairahnya kontak kembali, seolah-olah kembali membara setelah tadi terpaksa mati mendadak.

‘Anu…kak…anu….’ Anton pura-pura menunduk dan melengos buang muka. Hindun dengan gerakan yang indah, tanpa melepas baju terusannya, melepas sendiri kaitan bhnya, membiarkannya merosot sampai keperut. ‘Kak …ehh… kak…’Anton berusaha menahan tawa saat berpura-pura sangat lugu ketika tangannya dibimbing Hindun masuk dari bawah baju terusan untuk disentuhkan dipayudaranya. ‘Ayo Ton, remas….’ Hindun berbisik saat membimbing tangan Anton menangkup bukit payudaranya. ‘Aduh kak …gimana ini…’ Ujar Anton terbata-bata pura-pura ragu- ragu meremas payudara lunak dibalik baju terusan Hindun. Hati Anton bersorak merasakan daging kenyal hangat membara ditelapak tangannya. Pentil susu tampaknya sudah tegang dari tadi, sangat terasa menyenangkan mengganjal telapaknya saat meremas payudara indah itu. ‘Ahhh Anton…ya… ya begitu’ Berahi Hindun sudah kembali menyala tersentuh kulit kasar tangan pria remaja yang diyakininya masih lugu ini. ‘Ton.. tekan lebih keras lagi Ton..’ Hindun mulai mendesah payudaranya diremas-remas. Wah anak ini sudah mulai berani, harus semakin didorong keberaniannya pikir Hindun, mulai dirayapi berahi yang membara. Tangan Anton mulai meremas sesekali membelai. `Sebelahnya Anton?mmm?ya begitu’ Hindun menikmati remasan hangat. Tangan kanan Anton tidak lagi dibimbing sudah bisa meremas sendiri. ‘Lumayan juga ini anak’ pikir Hindun sambil mendesah.

Kedua Tangan Hindun meraih tangan kiri Anton membimbingnya kepangkal pahanya’. Digosokkannya tangan anton dipangkal pahanya. Hindun tersentak sendiri saat kakasaran telapak tangan Anton menjamah bulu-bulu halus kewanitaannya. Dibimbingnya tangan Anton menggosok pangkal paha dan seputar kemaluannya. ‘Kak….. eh ….kak… sakit??? Anton berpura-pura lugu memandang Hindun yang merem-melek menahan rasa nikmat. Oh Memang nikmat masturbasi dibantu tangan lelaki beneran, Mata Hindun terpejam menikmati gosokan tangan Anton yang di bimbingnya sendiri.

‘Ahh…enggak Nton… terus…iya… begitu…aduh…’ Giginya menggigit bibirnya sendiri saat Anton mulai memelintir pentil payudaranya. ‘Begini kak….’ Tangan kiri Aton sudah berdikari menggosok-gosok pangkal paha Hindun.

Hindun merasa lemas, dan mulai merangkul leher Anton mencari pegangan yang mantap. ‘Ohh Anton…iya… terus… aduhh..ohh’ Pinggulnya mulai bergerak mengejar arah gosokan keras telapak tangan Anton. Mata Hindun sudah terpejam menikmati keindahan bara api yang menjalari seluruh tubuhnya. Tubuh Hindun mulai bergetar, akibat menikmati sensasi disentuh laki- laki lain. Keremajaan laki-laki ini menggetarkan sensasi Hindun membuka alam pikirannya betapa lugunya dia, rasanya seolah-olah ada misi khusus untuk membimbing remaja ini ke alam kedewasaan. Hindun meresapi bahwa dirinyalah yang wajib menghantarkan remaja ini kepintu gerbang emas kemerdekaannya. Pintu gerbang kewanitaannya berkewajiban membimbing remaja ini, atas kebaikannya menolong keluarganya dari aib, pikiran Hindun dikacaukan oleh berahi yang tadi mendadak padam dan sontak kembali disulut membara. Pikiran menghianati suami, sudah hilang dari tadi digantikan upaya membela nama baik keluarga dan mengamankan tujuan mudik.

`Uhh?uhh?’ Hindun menggelinjang keras ketika Anton mulai mempraktekan teknik jemarinya. Ibu jari dan telunjukkan segera mendapatkan klit Hindun dan mulai memainkannya. Hindun memperat dekapannya. Tanpa disadarinya pinggul Hindun bergetar-getar mencoba menghindar dari sentakan kenikmatan saat pusat komando pertahanannya mulai diserang. Saat klitnya dibelai, Hindun tidak tahan dan pinggulnya mengeliat mencoba melarikan diri, tapi tidak bisa.

`Wah ibu ini boleh juga, gairahnya langsung meledak’ Anton sedikit keheranan menemukan dirinya didekap sekuat tenaga seorang ibu muda alim yang tidak dikenalnya, mendesah-desah dan menggelinjang.’ Tapi pengalamannya membantunya menganalisa situasi,’ Mungkin tadi tidak tuntas dengan suaminya?’

`Oh Anton?.oh?sudah?ohh?Anton..’

Pijatan lembut telunjuk dan ibujarinya pada klit membuat pinggul Hindun mulai melonjak-lonjak, mencoba menggelinjang lari menjauh. Semakin tidak tahan, Hindun mulai menggigit bahu Anton, ketika dekapannya tidak dapat menahan serangan kenikmatan yang membakar dirinya. Nah luh? Anton gembira merasakan ganasnya Hindun menggigit bahunya. Rasaiin nih.`Aduh ?.bu?eh?kak ?kenapa saya digigit?’ seraya dengan agak keras mencobloskan jari tengahnya keliang kewanitaan Hindun, pura-pura reflek ..gituuhh. `Eeghhhh ?..’ Hindun tak mampu menjawab, giginya masih membenam dibahu Anton yang masih terbalut seragam kondekturl. Aduh ini anak? tangannya masuk kesitu?, oh mungkin reflek kesakitan kugigit’ Hindun tak mampu berpikir normal. Pijatan dan coblosan jemari Anton membuat tubuhnya semakin bergetar menuntut pemuasan. `Anton..ohh..sekarang yaaa?ohhh’ Hindun kembali mendesah menerima coblosan’ Pinggulnya mulai menggeliat mengimbangi coblosan jemari Anton. `Sekarang apa kak?..’ Anton menahan senyum mempertahankan kebegoaannya. `Waduh ini anak, bener-bener masih polos’ Hindun semakin terengah- engah menahan kobaran birahi coblosan jemari tangan kiri dikewanitaannya dan pijatan keras jemari tangan kanan dipayudaranya. `Lepas celanamu Anton?’ Ujar Hindun sudah nekat. `Anu kak?.engg’ `Ayo?.’ Hindun Melepaskan diri dan berinisiatif menelanjangi Anton. Agak membungkuk dan tangannya membuka kancing dan menurunkan resleting, dan menanggalkan celana panjang tersebut. Anton berdiam diri saja, tentu saja pura-pura malu. Terpampanglah remaja berkemeja kondektur dengan hanya bercelana dalam. `Kak?.’ Anton menekapkan kedua tangannya di pangkal pahanya, saat tangan Hindun menyosor celana dalamnya untuk dipelorotin. `Udah Nton, tadi kan katanya mau ngebantuin kakak’ Hindun semakin terengah-engah dibakar birahi yang menuntut pemuasan. Tangannya memaksa celana dalam tersebut untuk segera tanggal `Tapi kak?..’ terakhir kalinya mempraktekan jurus pura-pura lugunya dengan kedua tangannya tetap menekan pangkal pahanya. `Anton ayo dongg?tolongin kakak?’ suara Hindun mulai agak serak memohon. `Nanti kapan-kapan kakak yang bantuin Anton kalau dalam kesulitan’ Upaya Hindun menebar janji seperti anggota DPR saat kampanye. `Yesss’ sorak Hindun dalam hati menjumpai tangan Anton tidak lagi bertahan, Tanggalah celana dalam tersebut. Hindun dengan gemas menggenggam sang tongkat, yang ternyata segera mengacung tegak, mengingkari sandiwara majikannya yang pura-pura bego. Wah anak ini belum sunat, pikir Hindun saat memeras batang kemaluan tersebut “Kak ?.hhhh?’Anton menikmati genggaman erat tangan lembut dikejantanannya yang ternyata langsung mengeras. `Yes?’ Anton kegirangan mendapati ibu muda alim ini setengah membungkuk mengerjai kejantanannya. Sebelah tangannya segera meraba bokong sang ibu, menggosok-gosok belahan pantatnya. Waduh ini anak kecil, besar juga anunya? wah lebih besar dari bang Indro.’ Kaget dan agak ragu juga saat Hindun menggenggam barang yang sudah full keras itu. Betotannya berhenti. `Kak? aduh?kak? saya lemes ?.sudah kak.’ Anton kembali bergaya bego menikmati betotan Hindun di kemaluannya. `Tahan Ton?’ reaksi keluguan tersebut menyentakkan kembali betotan Hindun. Keraguannya segera sirna disapu berahi yang semakin menggelegak. Tangan kiri Hindun segera memerah kantung kemih Anton, salah satu dari sedikit keahlian dimilikinya akibat delapan tahun berumah tangga. `Ini anak perlu sedikit diajar?..’ pikir Hindun dengan gemas kembali dengan binal menggosok keras pangkal kejantanan Anton. `Tonn?.’ Hindun terjengkit saat jari Anton menyelip belahan pantatnya dan menyentuh pangkal kemaluannya.

`Ihh Anton?. mulai yahhh’ Sesaat setelah betotan dan urutannya diyakini telah berhasil menyiapkan sang tongkat. `Mulai apa kak.. hhhh’ Dengan baju panjang terusan yang masih terpakai yang sudah dipelorotkan keatas, menampakkan bagian bawah tubuh Hindun. Perut yang rata dan pangkal paha halus yang dihiasi segundukan bukit kecil lembut yang ditumbuhi pepohonan halus. Hindun berniat mengulangi adegan sesaat berselang dengan suaminya. Sebelah kakinya kanannya dinaikkan, dan ditumpukan diwastafel. Agak menjinjit kakinya menumpu kewastafel dengan lutut tertekuk. Anton menampakkan wajah terkesima memandang adegan indah tersebut, bagian bawah tubuh biu muda yang putih mulus, dengan sebelah kaki terangkat, Rambut-rambut halus menutupi gundukan bukit kecil dipangkal pahanya, tampak sudah basah, seperti pepohonan tersiram hujan. `Tangannya sini Ton..’ Hindun meraih tangan kiri Anton dan meletakkannya dibawah tekukan lututnya yang kakinya menumpu diwastaafel’ `Pegang dindingnya Ton?.na begitu’ Tangan kirinya segera meraih sang tongkat yang mulai tak sabar menunggu, diarahkannya kegundukan bukit miliknya sendiri. `’Sini Ton?’ `Iya kak’ Anton segera merapat Terasa kekenyalan sang tongkat saat menyentuh gerbang kewanitaannya. Seperti tersengat listrik `Aduhhh. Gimana yah”’ pikir Hindun kembali ragu membayangkan dirinya akan dimasuki kejantanan lelaki lain yang bukan suaminya. Tetapi sebenarnya ukurannya yang agak lebih besar dari biasanya lah yang memecut keraguan ibu muda alim ini. `Terus gimana kak?’ pertanyaan bego ini mengalihkan pikiran Hindun `Tekan Ton?’ reflek menjawab sembari tangan kirinya mengarahkan batang kejantanan itu. `Ohh?’ Hindun mendesah menjumpai ada sesuatu yang mendesak lubang kewanitaannya. Nyangkut `Ayo Tekan lagi Ton’ Hindun memberikan semangat sembari tangan kanannya merangkul leher si remaja. Birahinya sudah tak tahan menuntut pemuasan `Kak ngilu? (penulis: buset nich anak sandiwaranya keterlaluan) Anton berpura-pura. “Nggak apa-apa, ayo tekan lagi..hhhh,?Anton, tekan Ton?’ `Iya kak’ Anton kembali menekan dengan lebih keras Terasa topi bajanya sudah berhasil menelusup benteng pertahanan musuh. `Kak ngilu..’ `Agghh?’ Hindun agak menggelinjang merasakan ganjalan dimulut rahimmnya. `te?terus Ton..ohh’. Hindun menarik nafas menahan ganjalan tongkat yang kekerasan dan ukurannya lebih dari yang biasa dilayaninya. Blesss, dua pertiga lebih batang kemaluannya masuk ‘ Aduh?,’ tangan Hindun yang tadi memaksakan batang itu masuk secara reflek menahan perut Anton, mencegah hujaman lebih lanjut. Hindun mengkhawatirkan kebesaran kejantanan remaja ini tidak mampu dilayaninya. `Sudah kak? Anton mebiarkan sejenak kejantanannya menikmati kehangatan kewanitaan ibu alim ini. `Iya Ton gitu, hhhh? sebentar Ton?sebentar’ Hindun menarik nafas dalam-dalam, mengatur nafas menahan ganjalan besar dirahimnya, yang seolah-olah menyumbat pernafasannya. Padahal birahinya lah yang telah bergetar menuntut dimulainya perlombaan kenikmatan. Dirinya berjuang keras agar tampak memegang kendali permainan ini. “Sebentar Ton?’ Nafasnya mulai agak mereda `Ahh?’ Hindun menggelinjang merasakan batang kejantanan Anton berdenyut seolah menyentak-nyentak liang kewanitaannya. Ternyata Anton mulai mempraktekan teknik kegelnya, yaitu tanpa menggerakkan badan, mendenyutkan batang kemaluannya, seperti pria menahan kencing. Walaupun seolah-olah Anton diam turut perintah, tetapi batang kemaluannya menyentak-nyentak diharibaan kewanitaan Hindun. Hindun kembali tersengat lemah tak berdaya, mendapai ganjalan keras dirahimnya mendadak menggeliat menyentak-nyentak. Meresapi kenikmatan denyutan sang tongkat, Hondun hanya mampu mendekap sang remaja mencari pegangan. `Aduh kenapa anu anak ini bisa begini’ benak Hindun merasakan geliatan rontaan kejantanan dikemaluannya. `Sudah kak?’ kembali Anton bertanya `Ton nanti tarik sedikit terus tekan lagi yaaa’ Hindun setengah berbisik kembali memberikan komando. Anton mematuhinya menarik perlahan sampai topi bajanya hampir lepas dan kembali menekan pelan tapi kuat `Ugh? iya gitu..’ nafas Hindun kembali tersedak. `Lagi Ton ?ohhh’ Kembali mendesah menahan hujaman Anton `Tekan lagi Ton’ Hindun tidak sabar merasakan lepasnya ganjalan keras untuk dihujamkan kembali. Tubuhnya mulai mampu melayani gempuran Anton, perlahan tapi pasti birahinya yang sangat terpuaskan memampukan kemaluannya meredam geliatan tongkat yang keras itu. Anton mulai mengayuh perlahan tapi kuat, sekitar dua detik selang tiap hujaman dan tarikan. Batang kemaluannya sengaja agak ditekan kedinding kemaluan sang ibu. “Anton?sayang?’ bibirnya mulai ngaco menyuarakan ledakan birahinya `hhh..aduh?ya begitu’. Saat Anton kembali memenuhi hasratnya dengan jelujuran batang keras membeset diding kemaluannya, keras.

Anton sangat senang memandangi wajah terpejam memelas yang ayu ini. Dirinya sangat menikmati pemandangan wajah mengerenyit tersentak- sentak menahan kenikmatan, setiap kali dirinya menghujam keras menekan batang tongkatnya didinding kewanitaan Hindun. Hindun tidak mungkin mengetahui, bahwa Anton termasuk pakar untuk urusan beginian. Kelebihan Anton adalah wajahnya yang sangat baby face dengan tubuh kurus tapi liat. Lumayan banyak wanita penjaga warung, entah itu dia merangkap sebagai wanita penghibur maupun perempuan baik-baik, diberbagai terminal maupun sepanjang ribuan km jalan sumatera jawa yang merindukan wajah remaja yang imut-imut polos. Mungkin akibat sifat natural wanita yang keibuan rindu mengemong bayi dan anak kecil. Ternyata setelah lelah mengemong sang anak, tak disangka membalas budi dengan memberikan kepuasan tak terduga. Anak kecil tetapi memiliki onderdil perkasa yang menyamai kebanyakan lelaki. Anton tidak terlalu terobsesi dengan sex, tetapi sangat menyukai dimanja wanita, dia membalas kebaikan wanita yang memanjanya dengan kejutan pemuasan birahi. Anton lebih menikmati pemandangan wajah-wajah sayu yang kuyu bersimbah keringat, menggeliat diharibaannya, dihajar oleh kejantanannya. Semakin wajah perempuan tersiksa keenakan, semakin dirinya terpuaskan.

“Kakak?kenapa?.’ Ketika kepala Hindun agak terlonjak saat menerima hujaman kesekian kalinya. Seluruh tubuh wanita itu semakin bergelinjang keras. Pinggul Hindun mulai berusaha mengejar dengan liar kemana larinya si tongkat keras. `Sshhhhh?.shhh?.’ Hindun mendesah keras, orgasme mulai menjalari seluruh tubuhnya. Kepalanya terdongak, matanya terpejam, wajahnya sayu. Nafasnya terengah-engah. Mulutnya terbuka lebar menampakkan rongga mulutnya, mencoba menggapai oksigen sebanyak-banyaknya, akibat nafasnya yang terasa tersumbat. Hindun merasa kejantanan Anton sedemian besar mengganjal rahimnya sehingga seolah-olah sampai menyumbat tenggorokan pernafasannya. Kedua Tangannya mencoba bertahan menggayut di leher Anton. Anton tidak perlu bekerja keras, Hindun dengan cepat mulai mencapai titik akhir pendakiannya. Desahannya semakin tak terkendali.

Anton hapal situasi ini, tangan kanannya segera meraih bokong Hindun, membekap kuat-kuat. `Kak?sakit?’ Menekankan bokong Hindun ketubuhnya saat kejantannya kembali menghujam. `Ttt?.hhh?aduhh?’Batang itu kembali menghujam, pinggulnya tak berdaya melarikan diri ditahan tangan kanan Anton,’Tidak Anton ?ohh’ Anton kembali menghujam, stabil. Hanya tangan kanannya semakin keras mencengkeram bokong telanjang Hindun. Disengajanya kuku jarinya menusuk tajam daging kenyal dibelahan pantat wanita itu. Cengkeraman bokong itu dilepas saat tubuhnya menarik diri dari liang kemaluan, Hindun mendesah saat pinggulnya lega berhasil menggelinjang melepaskan diri sejenak dari ganjalan keras. Tetapi bokong itu segera kembali dicengkeram Anton saat kejantanannya kembali menghujam. `Akhh?’ Kepala Hindun tersentak kebelakang, hampir saja membentur dinding bis. Anton mulai merasakan empotan lembut kewanitaan Hindun dibatang kerasnya, saat ibu ini mulai mengarungi saat-saat puncak kepuasannya. Terasa bagian bawah tubuh ibu ini mengejang dan menggelinjang. Mencoba melarikan diri dari sergapan tongkat perkasanya. Dirinya menarik perlahan dan segera menghujam kembali, kali ini lebih perlahan tetapi semakin keras ditekankan kedinding kemaluannya. . Hindun menggelantung lunglai mendekap dileher anak remaja yang tadinya akan di ajarinya kealam kedewasaan. Kewanitaanya kembali dan kembali dihujam kejantanan anak ini, mendorongnya terus mengarungi puncak kenikmatan. Detik detik berlalu, tubuhnya terasa lemas, Hindun sudah lupa diri akan segalanya, pikirannya terbang keawang-awang kepuasan birahi. Bagian bawah tubuhnya mengejang dan kembali mengejang, seiring kedisiplinan Anton menggosok gerbang kewanitaannya dengan tongkatnya yang perkasa. Anton tahu umumnya perempuan alim akan terjaga panjang orgasmenya bila ditopang oleh hujaman kejantanan lambat tetapi bertenaga.

Anton tersenyum puas memandangi wajah kuyu memelas dihadapannya, mengkerenyitkan mata dan mendesah keras setiap kali hujaman kerasnya tiba. Anton senang, karena tahu ibu alim ini sudah lebih dari empat puluh detik mengarungi puncak kenikmatan. Anton berusaha keras menyangga puncak kenikmatan Hindun selama mungkin dengan hujaman lambanta tapi sangat bertenaga. Perlahan menekan-nekan dengan kuat. Dengan mempertahankan disiplin Anton mengayuh terus perlahan namun bertenaga. “Oh ?Anton?.ohhh?sudah?Anton?ohh’ Hindun menceracau lepas kendali, tersiksa oleh deraan kenikmatan yang kembali dan kembali menghempas seiring kejantanan keras yang menghujam bawah tubuhnya. Lengannya sebisa mungkin begayut dileher Anton. Semenit lebih berlalu pinggul Hindun menggeletar dalam cengkeraman tangan Anton dihantamkan berkali-kali kearah desakan sang tongkat, Lenguhannya tak terkendali menyebut Anton sebagai kesayangannya, padahal belum cukup 15 menit dikenalnya. Anton berhasil memaksa Hindun kembali dan kembali lagi kepuncak kenikmatannya, setiap kali gelinjangan pinggul Hindun mau mereda, Kejantanan pria ini menghujam kembali diiringi cengkeraman keras dibokongnya mendorong kemaluannya menerima hantaman, berhasil memaksa Hindun kembali menggelepar. `Ohh..anton?sudah?Anton ?. Sudah?’ Keluh Hindun dirasuki orgasme berkepanjangan, rasanya sudah tidak tertahankan. Hindun tidak sanggup lagi menerima deraan kenikmatan, lengannya sudah menyerah. Hindun sudah sedemikian lemas, bergelayutan dileher Anton, hampir jatuh. Terpaksa kedua tangan Anton memeluk tubuh mungil ibu ini. Agar tidak jatuh. Tangan kiri Anton membelit dari pundak menyilang ke ketiak Hindun. Tangan kanan Anton kembali mencengkeram pantat telanjang Hindun. Menahannya agar tidak merosot jatuh. Kuku jarinya setengah dicakarkan dibelahan pantat Hindun, dibenamkan dalam dalam pada daging kenyal yang sudah sedemian panas membara. Beruntung tongkatnya yang sedemikian keras, mengganjal kuat, membantu tubuh mungil Hindun tidak merosot

Wah.. ada ide baru, terbersit dalam pikiran cerdas Anton saat mendekap tubuh yang masih bergetar-getar. Tubuh lemas Hindun sepenuhnya dalam dekapan Anak kecil itu. Kemaluannya berdenyut-denyut terengah-engah seusai dipompa kerasnya sang tongkat. Kejantanan Anton yang tidak berkurang juga kekerasannya, terasa demikian mengganjal dikemaluan Hindun. Membantu Ibu muda ini meresapi berlalunya keindahan birahi, Anton kembali berkegel ria. Batangnya didenyutkan sekeras mungkin dalam genggaman kemaluan Hindun yang masih terengah berdenyut-denyut. Tangan kanan Anton memperkeras cengkeraman tangannya di pantat Hindun, menekankan bokong indah itu sekuatnya kekejantanannya. `Kak?.aduh kakk ngilu, ?aduh?’ Anton mulai lagi berpura-pura `Hhhh Anton?.hhh?’Hindun tersentak kembali kesadarannya, mendengar keluhan anak kecil ini, didera penderitaan akibat perbuatannya.’Oh Anton?nggak apa?apa.. Ton..’ `Tapi kak?.ngilu kak?aduhh ?’Anton semakin merengek, memperdengarkan kemanjaan suara remajanya. Tangan kanannya sekeras mungkin mencekeram pantat Hindun, mendorongnya menekan kejantanannya, menunjukkan seolah- olah tidak tahan didera penderitaan akibat perbuatan Hindun, menyiksa dirinya yang sama sekali belum mengerti hubungan suami istri.

Pura-pura tidak disengaja Anton menggigit lembut leher jenjang Hindun, menunjukkan ketidaktahannya didera rasa ngilu. Tangan Hindun meraih wajah baby face itu kewajahnya. `Anton sayang?.mmphhhh’ Mulut Hindun terkulum oleh gerakan tidak sengaja bibir Anton menyentuh bibirnya. Hindun spontan bereaksi membalas ganas sentuhan bibir pria itu, bibirnya segera mengulum keras bibir Anton, menghisap kuat, mengemot mulut tersebut dengan bersemangat. Lidahnya mulai menjelajah kemana- mana. Kedua tangannya menggapai rambut dan menahannya agar bibirnya dapat leluasa mengulum bibir Anton. `Anak ini pasti belum tahu pelajaran ini,’ pikir Hindun semakin bersemangat mengemut dan menciumi mulut Anton. Matanya kembali terpejam menikmati dirinya sedang memberi pelajaran praktek langsung teknik berciuman yang benar, kepada anak kecil ini. Hindun lupa sejenak bahwa dikemaluannya masih ada tongkat keras yang mengganjal. Perhatiannya teralih upayanya menghibur Anton yang tengah tersiksa dengan kuluman yang menggairahkan.

`Ini dia..’ pikir Anton, awalnya Anton tidak merespon kuluman Hindun, tetapi setelah sekian lama Hindun menciumi bibirnya, Anton mulai merespon secukupnya, lidahnya mulai menjalar, bertarung membelit jelujuran lidah Hindun. Anton mulai balas mengemot dan menghisap lembut mulut Hindun, seolah- olah menunjukkan telah bisa mencontoh. Anton mengulum semesra mungkin. `Oh anak ini?cepat pintar, mesra sekali ciumannya’ benak Hindun menerawang meresapi kemesraan yang diperolehnya ini. Anton mulai menunjukkan nafsunya dengan mengulum lebih keras, seraya mendekap tubuh dan bokong Hindun. Hindun terlena oleh kemesraan. Panasnya birahi yang membara yang melelahkan jiwa raganya sekarang seolah-olah disirami air sejuk kemesraan dalam dekapan dan ciuman panas, remaja yang dibayangkannya semesra kasih sayang anaknya sendiri. Hindun semakin ganas mengimbangi ciuman mesra Anton, tangannya sudah mengacak-ngacak rambut Anton, saat lidahnya berusaha mendominasi permainan ciuman tersebut. `Sudah berapa menit yahh?’ benak Anton mencoba mengingat lamanya mereka berciuman mesra. `Nach sekarang saatnya ?’

Anton menganut teknik seks dari Cina ilmu Tao, dimana ejakulasi bukanlah keharusan dalam setiap berhubungan badan. Anton tengah belajar bagaimana bisa orgasme tanpa ejakulasi. Kalau berhasil hasilnya akan luar biasa, penisnya adalah sama seperti anggota badan lainnya, dapat diperintah dari otak. Seperti diketahui penis seringkali bertindak diluar otak. Disenggol dikit sudah bangun, atau selalu muncrat tanpa dapat ditahan..

Anton melepaskan dekapannya, dan menarik lepas perlahan kejantanannya. `Sleppp..’ Hindun shok, tiba-tiba merasakan ganjalan yang tadi sedemikian menyiksa dirinya tiba-tiba menghilang. `”Hhhh?’ Hindun mendesah. Wajahnya sayu menengadah, membuka matanya memandang Anton, yang tengah memancarkan wajah baby face lugunya. Hindun merasa Anton sedang memandang kagum pada dirinya dengan pandangan penuh kasih- sayang seorang anak terhadap ibunya. Terasa diperutnya ganjalan daging keras sang tongkat yang ternyata tetap mengacung keras. Baju terusan panjangnya kembali melorot jatuh.

`Kak.. terus bagaimana?’ Hindun kaget, baru sadar arah pertanyaan anak ini. Dia tadi lupa membaca mantera penambal. Hindun kebingungan, `mantera seharusnya tadi dibacakan, kok lupa…, waduh gimana nih, kok bisa lupa…’ `Ton…’ Hindun kebingungan `Ya kak…’ ujar Anton sepolos mungkin `Kakak tadi lupa baca mantera…’ `Maksud kakak, seharusnya tadi kakak baca mantera? Kapan kak, kok Anton nggak ngerti’ `Mana mungkin anak ini ngerti orgasme perempuan’ pikir Hindun sok tahu meremehkan, `Iya Ton, seharusnya tadi kakak baca waktu, itunya Anton ada didalam sini.’ `Ya sudah masukan lagi, terus kakak baca mantera, yang penting kata orang pintar harus pada puncaknya’ Anton belagak sok tahu mengusulkan upaya penyelesaian masalah. `Tapi Ton, puncaknya sudah lewat..’ Hindun jengah sendiri menjelaskan hubungan suami istri kepada remaja yang dianggapnya anak kecil ini. `Puncaknya kapan? Sudah lewat’ Anton menunjukkan kebingungannya. `Iya Ton’ “wah gimana dong kak, saya jadinya sama dengan Bapak tadi berhubungan dengan perempuan didalam bis, mencemari mantera. Aduhh kak gimana ini, saya bisa dipukuli Bang Ridwan, (supir maksudnya)’ Anton akting setengah menangis. `Sabar Anton’ Hindun membujuk `Kalo dipukuli saja nggak apa-apa, bisa sembuh, tapi kalo dipecat tidak boleh ikut kerja, saya harus kemana. Anton yatim piatu tidak punya siapa-siapa’ Suaranya diupayakan sepilu mungkin. `Gimana kalau kita ulangi sebentar lagi’ ucap Hindun cemas, karena menyadari hal itu semakin menyalahi pantangan’ `Ya nggak mungkin kak, kan harus dengan lelaki yang lain kakak menambal manteranya. Waduh kak, bis ini dalam bahaya sewaktu-waktu bisa tertimpa kesialan, pasti makan korban. Saya sudah sering lihat kak. Orang pintar kami sangat sakti, itu sebabnya kenapa bis kami hampir tidak pernah kecelakaan. Peraturan kami keras’ `Ohh…’ sirna harapan Hindun `Kak sungguh kak, saya harus segera lapor supir bang Ridwan agar dia bisa mengambil langkah pencegahan’ `Ohhh…’ sebersit ide tak genah muncul. Bagaimana kalau dengan sang supir. Ini masalah bis, tentu supir harus bertanggung jawab. Hindun panik mencari solusi. `Kak saya lapor ya kak? Anton meraih celana dalamnya dan mengenakannya. Hindun terpana kebingungan Anton kembali meraih celana panjangnya yang tadi dilepas Hindun, mulai mengenakannya perlaha-lahan, menantikan umpannya dimakan wanita muda ini. `Kayaknya berhasil nehhh’ soraknya dalam hati.

(Penulis: sebenarnya apa sih niat anak ini?)

Hindun terdiam lama sampai Anton selesai merapihkan kemejanya dan memasang resleting celanyanya. Anton menepak-nepak kemeja mencoba meluruskan yang kusut, suatu upaya yang sia-sia. Kemejanya telah kusut akibat dijadikan arena pertarungan dua manusia dewasa. `Anton…’ Hindun menggapai lengannya `Pak supir bisa dimintaiin tolong tidak?’ `Maksud kakak, seperti tadi? Nanti kakak lupa lagi, bisa semakin cilaka’ `Iya…’ Wajahnya langsung memerah `Mudah-mudahan tidak… Kakak akan lebih hati-hati’ `Wah nggak tahu yah, Bang Ridwan mau nggak yah. Bang Ridwan tidak seperti supir lain yang punya pacar disetiap kota, dia sangat takut istri. Tapi dia punya kelemahan pernah saya pergoki dipeluk cewe di pool bis, kalo diancam dilaporin keistrinya pasti dia takut.’ `Iya Ton, coba bujuk pak supir mudah-mudahan dia mau’ Mendengar uraian anak kecil ini, Hindun mendapat kesan positif terhadap sang supir yang seingatnya tadi agak gemuk tapi ramah, membantunya menyimpan barang bawaan kedalam bagasi bis’ `Nanti saya bicara dengan supir, kakak kembali duduk saja nanti segera kita ketemu di belakang membicarakan hasilnya. Saya keluar duluan kak. `Iya Anton’ Hindun berharap-harap cemas.

`Gimana bang macetnya, ohh tinggal dikit lagi tinggal satu kapal lagi’ Anton menguap menjatuhkan badannya dikursi samping Pak Supir. “Enak kamu tidur, lumayan juga lama karena macet’ Sahut Ridwan, pria agak gemuk berusia 42 tahun berperawakan sedang, dengan seragam sama dengan Anton. `Bang, Anton punya kenalan ibu alim, keren bang, putih mulus, cantik banget’ `Semua cewe bisa aja kenalanmu’ Ridwan mencemooh `Ini lain bang, emangnya Abang aja yang jago perempuan’ “Ah kau ngomong besar doang’ Selama ini memang Ridwan selalu memamerkan kehebatannya menaklukan wanita, dalam obrolan pornonyanya sepanjang perjalanan. Sebenarnya bukan untuk pamer tetapi pengisi waktu mencegah rasa bosan dan ngantuk mengemudi. `Bener bang, bahkan saya bisa minta dia melayani abang, tapi ada syaratnya’ `Maksud kau bagaimana? kalau pelacur mah gampang aja tinggal kau bayar, beres’ “Dijamin seratus persen, ibu alim terhormat, kalau tidak potong gaji enam bulan’ `Buset nih anak,’ Ridwan setengah tidak percaya?’ Kenapa tidak kau saja yang mainin dia? `Anu bang, saya kan nggak pengalaman, pengen belajar langsung dari Abang jagonya’ Cuping hidung Ridwan mengembang bangga `Maksudmu, syarat tadi apa? `Syaratnya dua, pertama saya diijinkan menonton abang main perempuan, mmm itu dengan si Wita tetangga di pool Medan, terus, setelah saya menimba ilmu saya boleh praktek dengan salah satu cewe abang. Tapi abang harus bilang kemereka untuk ngajarin dengan sungguh-sungguh’ `Oo gitu. Syaratnya, masuk akal juga’ Ridwan segera menjawab `Ok’ karena dia yakin tidak mungkin ini anak kecil menemukan perempuan baik-baik yang bisa seenaknya disuruh melayani lelaki lain. `Bener nich bang? Janji….sumpah…’ `Sumpah supir, kalau ingkar kena musibah. Awas kalau nggak bener, hilang gajimu enam bulan’ Janji Ridwan, sambil membayangkan Anton kalah, dan gajinya dipotong, lumayan buat beliin Wita motor bekas. `Begini bang, nanti…’ “Nanti ….’ Buset nih anak, Ridwan kaget `Iya nanti, waktu didalam kapal saat bis parkir didek, kan semua penumpang naik kekabin, Abang bisa tinggal di bis, nanti ada Ibu keren kenalan saya yang pasti mau melayani abang. “Bener nihhh’ Ridwan mencoba mengingat-ingat ke dua puluh enam penumpangnya, memang ada beberapa ibu-ibu muda dan cantik. `Ok bang’ `Ok…ok..”

Anton melangkah kebelakang, menyusuri gang bis yang remang-remang

Hindun seusai merapihkan dandanannya kembali kebangku, `Kok lama Ndun..’ Indor menggeliat menoleh kebelakang menyadari Istrinya telah kembali duduk. “Anu bang, airnya habis, terpaksa agak repot, abang sih nakal. Hindun berbisik `Ooo…’ “Nanti mau kebelakang lagi, tadi kehabisan tisu’ Hindun membuka tasnya mencari-cari. Hindun memandang kedepan, dilihatnya dalam keremangan dua sosok lelaki didepan, supir dan kenek terlibat dalam pembicaraan serius, entah pembicaraan apa. Dadanya tak terasa kembali berdebar keras. Membayangkan berbagai kemungkinan. Indro kembali mencoba tidur, kelelahan, dua minggu lembur dan usai melakukan setoran wajib.

Selang beberapa saat dilihatnya tubuh kerempeng si kenek kembali melangkah kebelakang, saat melewati bangkunya menyentuh lengannya, memberikan kode. Selang beberapa saat Hindun menyusul kebelakang.

“Kak, hampir habis saya tadi, untung banyak penumpang kalo tidak saya pasti digebukin. Pak supir bersedia tapi saya kena hukuman berat, antara lain potong gaji dan puasa 14 hari’ “Ohh sukurlah” bisik Hindun dengan muka merah, menyadari kejadian apa yang akan terjadi sesuai permintaannya. Tapi niat membela aib keluarga cukup kuat memenangkan pertarungan batinnya. `Gimana caranya…’ “Gini kak sebentar lagi bis masuk kapal, seluruh penumpang harus turun. Kakak maksa tinggal saja di bis, bikin saja alasan, jaga barang kek, pusing kek, tangganya tinggi, kek. Disitu kesempatan satu- satunya. Nanti kalau semua penumpang sudah turun kakak sembunyi diruang ini, duduk saja disini. Tunggu, dan jangan lupa manteranya.’ `Terima kasih Ton,…memmmphhh’ Hindun merangkul remaja ini menghadiahinya dengan kecupan panjang yang mesra. Didekapnya tubuh kurus itu dengan tumpahan kasih sayang seolah-olah dia anaknya yang hilang selama ini. Luar biasa perasaan Hindun terhadap Anton. ‘Kak jangan lupa supir kita orangnya alim, dia sangat terpaksa setelah saya ancam lapor keistrinya sedang dipeluk cewe lain’ “Kakak tidak akan pernah lupa kebaikan Anton’ Hindun sedikit lega mengetahui lelaki lain yang akan menganukannya lelaki baik-baik, sampai harus diancam. ‘Makasih ya sayang’ jemarinya mencubit mesra hidung Anton

Keduanya kembali kembali kedepan, selang saat yang aman.

Ridwan yang mengintip dari spion gerakan keduanya mau tidak mau percaya `Ehh apa yang kau bilang sama ibu itu…’ bisik Ridwan `Tenang aja bang, yang penting nanti saat semua penumpang naik keruang vip, kalau abang menjumpai ibu itu diruang rokok, itu artinya ok, santap saja bang’ `Masa sih…’ `Pokoknya ingat dua syarat tadi, atau mau batal, mendingan saya aja nanti dengan ibu itu’ `Ok..ok,…’ terburu-buru menyanggupi didorong rasa rasa ingin tahunya, setengah percaya setengah nafsu. Membayangkan menyetubuhi wanita baik- baik adalah sensasi luar biasa. Dirinya sudah bosan menyetubuhi pelacur-pelacur yang bisanya akting terpuasi. Padahal dia menyadari gimana pelacur bisa puas, wong sudah dikerjai banyak lelaki sebelumnya. `Tapi gini bang, ingat saat ibu itu orgasme, abang ejakan kalimat ini –la paloma la paladi pajene makari….’ `Apa pula itu…’ `Iya itu kondisinya, jangan-jangan abang nggak mampu menakluki perempuan’ Anton mencemooh. `Sialan kau, apa tahumu.., ya sudah.. gimana tadi – la palo,,,,. Ok gampang’

`Para penumpang silahkan turun, mengikuti bapak kondektur menuju ruang vip di atas. Disana lebih nyaman. Dilarang tinggal di dalam bis karena mesin bis harus mati sehingga ac ikut mati’ Ridwan mengumumkan setelah bis terparkir dengan baik di dek kapal feri. Para penumpang perlahan-lahan mulai turun, lega bisa meluruskan kaki setelah sekian jam terjebak macet.

`Bang Indro, gimana nih bang, ditas ini ada banyak barang berharga, kalau di bawa tasnya besar berat lagi, saya jaga dibis saja deh’ `Tapi kata supir nggak boleh’ `Sebodo amat, barang kan punya kita, lagi pula Hindun agak sakit, gara-gara abang tadi’ Bisik Hindun sambil mencubit pinggang suami dari belakang.

`Pak kondektur saya bisa tinggal dibis yah, saya agak pusing kalau naik tangga’ Hindun menjamah baju kondektur. “Tidak bisa ibu, nanti di bis pengap, acnya mati’ Anton berpura-pura `Ah nggak apa-apa’ Hindun memaksa didengar Indro `Yah terserah ibu, ayo pak ajak anaknya ikut saya. Ridwan dibawah bis mengarahkan penumpang ke tangga. Anton melewatinya dan berbisik,’ beres bang, laksanakan tugas dengan baik, jangan lupa bacaannya’ `Ya..ya..ya…’ Jakunnya tak terasa naik turun menelan ludah.

Setelah semua penumpang menghilang di balik tangga lantai atas, Ridwan kembali kedalam bis, dan mengunci pintunya. Tangannya menggapai dashboar dan menyentuh panel mematikan seluruh lampu. Bis semakin kelam, walaupun masih diterangi lampu ruang kapal dan sesekali sorot kendaraan lain yang sedang parkir. Dia melangkah kebelakang perlahan dan berdebar-debar `setengah percaya setengah berharap’ Eh benar saja, ketika membuka pintu sekat ruang rokok, dirinya mendapati sosok perempuan muda, yang kulit wajahnya halus, putih bercahaya dikeremangan malam. Cantik sekali dimata Ridwan. Ibu itu duduk tegang dideretan bangku belakang. Disamping pintu toilet. Ridwan gugup mau bilang apa… Hindun yang sudah grogi dari tadi semakin grogi.

Bagai kucing takut ikan curiannya lepas, Ridwan segera menghampiri Hindun, duduk disampingnya memandang tajam wajah yang manis. Dalam kegelapan dan sisa cahaya seadanya Ridwan mengagumi wajah keibuan yang segera tertunduk malu dengan muka kemerahan. `Waduh rejeki nomplok, pikir Ridwan’ Takut kalau salah ngmong tangan kiri Ridwan merangkul pundak Hindun, tangan kanannya meraba tangan Hindun yang saling menggenggam erat dipangkuannya menahan gugup. ‘Wah hebat si Anton’ Bibirnya mengecup lembut pipi halus dihadapnya. Tangan kirinya merasakan pundak itu bergetar gemetar. `Waduh bener- bener ibu baik-baik nehh’ sorak Ridwan. Kecupannya bergeser ke belakang telinga Hindun, menyapukan nafas panasnya disana. Hidungnya disapukan sepanjang leher, seusai tangan kirinya menyibak gelombang rambut indah Hindun. Diemutnya cuping telinga bawah, yang sontak membuat perempuan itu menggelinjang geli. Kedua tangannya yang tadi saling berpegang tangan, di pangkuannya kaget lepas, sebelah mencari pegangan dikursi, sebelah lagi menahan tubuh pria yang mulai mendekap. Ridwan segera menyadari tangannya tidak lagi menjamah tangan ibu ini tapi jatuh kepangkuannya, digundukan pangkal paha yang tertutup baju terusan panjang. `Ehh aneh juga ibu ini, diam saja barangnya tersentuh… atau memang, si kunyuk itu benar-benar berhasil membujuk’ Sembari menjilat leher dan sesekali menggigit kecil kuping yang harum itu, Hindun kegelian, baru menyadari tangan kanan Ridwan mulai membelai dan menekan keras pangkal pahanya. `Yess….’ Sorak Ridwan menyadari tidak ada reaksi perlawanan dari sang wanita. `Wah kalo begini tancap saja boo…’ Benak Ridwan berputar. Hindun semakin jengah merasakan tangan lelaki ini di daerah terlarangnya. Pikirannya buntu menganalisa situasi, ohh ini akibat perbuatan kami sendiri, beginilah akibatnya.

Semakin berani, Jemari Ridwan mencari-cari kancing atau pengait baju ibu itu, satu satu berhasil dilepas, sembari lidahnya menjelujuri belakang telinga dan leher jenjang Hindun. Serangan Ridwan yang tidak sengaja pada daerah utama kepekaan Hindun mulai menyulut bara gairahnya. Hindun mulai tersengal, sangat gugup membayangkan apa yang akan terjadi. tangan kirinya meremas jok bangku disampingnya akibat serangan geli. Tangan kanannya seolah tidak berani menyentuh tubuh pria yang mendesaknya. Tanpa disadari Hindun sebagian besar kancing bajunya sudah lepas. Ridwan menariknya berdiri dan memelorotkan baju terusannya. Hindun pasrah melakoni apa yang sudah dibayangkanya akan terjadi. Terpampanglah tubuh mulus indah, kontras putih dalam keremangan malam, berbalut celana dalam dan bh berenda warna cream. Tubuhnya gemetar telanjang dihadapan lelaki lain. Tangan kirinya yang bebas reflek mencoba menutupi wilayah sucinya, tapi terlambat. Kalah sigap. Tanpa basa-basi Ridwan langsung memelorotkan celana dalam cream tersebut, yang segera memapangkan keindahan pangkal paha yang seharusnya pantang dilihat lelaki lain kecuali suaminya. Kaget ditelanjangi mendadak, Hindun tak sengaja membantu dengan menggeser dan melangkahkan kaki melepas celana dalamnya. Kuping Rindwan menggesek bukit lembut saat melakukan gerakan itu. Hindun hanya bisa memegang rambut pria tersebut agar badannya tidak jatuh.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik